Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali
"Nggak ada satu pun dari kami yang berniat untuk menyembunyikan Aliya dari kamu, Bas!" kata Saraswati.
"Terus, kenapa kalian sekarang baru bilang? kenapa kalian nggak pernah jujur kalau ternyata Aufar dan Aliya tinggal di daerah yang sama?"
"Itu karena Aliya yang minta," jawab Ikhsan. "Aliya yang masih belum mau ketemu kamu. Ngerti?"
Kini, Ibas terdiam. Amarah yang semula berkumpul didalam dadanya mendadak reda. Jika benar Aliya yang meminta itu, lantas Ibas harus bersikap bagaimana?
"Aliya belum bisa maafin aku, ya?" lirih Ibas.
"Aliya sudah memaafkan kamu. Hanya saja, ada beberapa hal yang nggak mau Aliya ulang lagi dengan kamu."
Ibas masih tak percaya jika Aliya sudah benar-benar melupakannya. Dia ingin mencoba lagi. Aliya sudah pernah berusaha dan sekarang adalah gilirannya.
Sudah saatnya, Ibas membuktikan keseriusannya. Bahkan, jika harus bersaing dengan pria baru yang ada disamping Aliya pun, Ibas sudah siap.
Tak akan ada hasil tanpa perjuangan. Ibas mulai memahami makna sebenarnya dari kata-kata itu.
"Bas, sebaiknya kamu fokus kerja dulu! Ayah nggak mau, kerjaan kamu jadi terganggu. Kamu baru naik jabatan. Kalau kamu cuti sekarang, nggak enak sama karyawan lain. Ayah nggak mau dibilang pilih kasih hanya karena kamu anak Ayah."
Rupanya, tantangan yang berhasil dia menangkan dari sang Ibu malah membawa Ibas pada tantangan baru yang menuntut pertanggungjawabannya sebagai seorang penerus dari sang Ayah.
Ibas tak bisa cuti seenaknya. Dia harus mematuhi peraturan yang sudah diterapkan oleh sang Ayah khusus untuk dirinya.
"Jadi, lagi-lagi aku harus menunda keinginan aku untuk bertemu Aliya?" tanya Ibas sambil tersenyum miris.
"Maaf, Bas," lirih Ikhsan. "Tapi, ini semua demi kebaikan kamu."
"Jadi, kapan tepatnya Ayah akan mengizinkan aku untuk ketemu Aliya?"
"Tiga bulan lagi."
Tiba-tiba, Ibas tertawa. Giginya tampak bergemeletuk.
"Ayah, tiga bulan terlalu lama," ucapnya dengan suara yang keluar dari sela-sela giginya.
"Maaf!"
Ibas berusaha menarik napas dalam-dalam. "Semoga aja, Ayah memang nggak kasih izin ke aku murni karena kerjaan. Bukan karena Ayah sama Bunda sengaja mengulur waktu agar aku nggak pernah bisa dapat kesempatan kedua dari Aliya."
"Ibas..."
Terlambat! Ibas sudah melangkah pergi dengan perasaan kecewa. Pria itu tak mau lagi dengar alasan apapun.
******
Tiga bulan kemudian...
Setelah bekerja keras selama tiga bulan penuh, Ibas akhirnya mendapatkan cuti yang dia mau. Dua belas hari. Ya, hanya dua belas hari waktu yang dia miliki untuk meyakinkan Aliya agar wanita itu kembali padanya.
Begitu menginjakkan kakinya di kota Aliya, Ibas tampak tersenyum lega. Udara di kota ini memang berbeda.
Jauh lebih segar dengan aroma laut yang menenangkan.
"Aku harus cari hotel dulu terus lanjut cari alamat Aliya ," gumam Ibas senang.
Berdasarkan informasi dari Google Maps, dia berhasil menemukan sebuah hotel yang akan menjadi tempatnya untuk menginap selama beberapa hari tinggal di sana.
"Hotel, udah. Sekarang, waktunya cari Aliya,"
Dengan bersemangat, Ibas mengemudi mencari tempat tinggal Aliya. Suasana hatinya sedikit membaik saat membayangkan ekspresi senang Aliya saat melihatnya.
Selang lima belas menit, alamat yang dicari Ibas pun akhirnya ketemu. Ia turun dari mobil sambil membawa sebuah boneka beruang dan juga sekotak cokelat.
Tapi, langkah pria itu mendadak terhenti saat tak sengaja menemukan sosok pria yang tak asing sedang berbincang akrab dengan seorang wanita.
Ya, Ibas tahu siapa pria itu. Dia Aufar, sepupu Ibas sendiri.
Dan, saat mengenali siapa perempuan yang sedang berdiri bersama Aufar, jantung Ibas mendadak berdetak cepat. Tawa wanita itu berhasil membuatnya benar-benar merasa terkejut.
"Aliya..." panggil Ibas bersemangat.
Tubuh Aliya menegang. Suara itu terdengar tidak asing. Hanya saja, Aliya tidak menyangka jika akan bertemu kembali dengan sosok pria pertama yang berhasil mematahkan hatinya di tempat ini.
"Mas... Ibas?" lirih Aliya.
Mata Ibas mulai berkaca-kaca. Tanpa pikir panjang, dia langsung berlari ke arah Aliya lalu memeluk perempuan itu dengan erat.
"Al... Akhirnya kita ketemu lagi," lirih Ibas.
Tubuh Aliya semakin membeku. Otaknya terlalu lamban dalam mencerna hal yang sedang terjadi.
Reflek, Aliya menoleh ke arah Aufar. Dan, pria itu balas menatapnya dengan ekspresi sedih.
👍😮👍👍👍💪
Jangan sampai Aliya balikan sama Ibas.Seperti memperlakukan barang untuk uji coba, setelah dengan mantannya tidak enak mau coba istri yang telah dibuang dan dihina seperti barang dagangan dengan satu milyar, Alhamdulillah Aliya hanya mengambil 200 juta.
untung mantan istri cintanya tulus dan mulus jadi gampang rujuknya