NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Jam Makan

Suara dentingan logam yang beradu antara sendok, garpu, dan nampan besi terdengar bergema di sepanjang lorong. Suara itu bukan melodi yang indah, melainkan simfoni kematian yang mengerikan. Bau menyengat langsung menyerang indra penciuman Arga. Campuran aroma daging yang terbakar, lemak yang sudah membusuk, dan bau amis darah memenuhi udara hingga membuat perutnya terasa mual dan ingin muntah.

Lintang tidak memberi waktu untuk berpikir. Ia menarik lengan seragam Arga dengan paksa, menyeretnya berbelok tajam tepat saat bayangan bayangan raksasa mulai muncul merayap keluar dari balik dinding.

"Kita tidak bisa lewat jalan biasa ke asrama!" teriak Lintang di tengah deru angin kencang yang tiba tiba bertiup. "Jalan utama sudah ditutup rapat oleh The Hunger. Kita harus memutar dan menembus lewat area kantin!"

"Kau gila?!" Arga berteriak membalas, hatinya mencelos. Ia teringat jelas pada Peraturan Nomor Tiga yang baru saja dibacanya. Jangan makan di kantin setelah jam dua belas malam. "Aturannya bilang tempat itu terlarang!"

"Aturannya bilang jangan makan, bukan dilarang lewat!" sahut Lintang ketus sambil terus berlari. "Tetap berada tepat di belakangku. Gunakan senter ungu itu untuk menerangi lantai. Dan yang paling penting, jangan sampai kau menginjak tumpahan cairan apa pun yang ada di sana!"

Tak lama kemudian mereka sampai di depan pintu ganda besar menuju kantin pusat. Kaca pintu yang biasanya bening kini tertutup uap tebal berwarna kemerahan dan bercak lemak yang kental dan lengket. Dengan satu tendangan kuat, Lintang membuka pintu itu lebar lebar.

Apa yang terlihat di dalam adalah manifestasi nyata dari mimpi buruk terburuk.

Ruang kantin yang luas itu dipenuhi oleh ratusan sosok makhluk. Mereka semua mengenakan seragam sekolah dari berbagai zaman. Mulai dari model putih abu abu modern hingga seragam bergaya kolonial yang sudah sangat kuno. Namun tidak ada satu pun di antara mereka yang memiliki wajah utuh dan normal. Beberapa memiliki rahang bawah yang menjuntai panjang hingga ke dada. Yang lain memiliki lubang besar menganga di tengah perut mereka yang seolah tidak pernah bisa ditutup.

Di atas meja meja panjang, tersaji hidangan hidangan yang membuat pandangan mata Arga ingin segera terpejam. Bukan nasi goreng atau bakso seperti kantin biasa. Yang ada di sana adalah gundukan daging mentah yang masih terlihat berdenyut, gumpalan rambut hitam yang terendam dalam cairan hitam pekat, serta mata mata manusia yang ditata rapi di atas piring porselen seolah olah itu adalah manisan buah.

"Jangan menatap makanan itu," bisik Lintang dengan suara sangat rendah namun tegas. "Fokuskan pandanganmu ke lantai dan langkah kakimu sendiri. Jika ada yang menawarkan sesuatu padamu, jangan bicara sepatah kata pun. Cukup gelengkan kepala sebagai jawaban."

Arga berjalan dengan tubuh yang kaku. Sepatu kanvasnya terasa lengket dan berat saat menginjak lantai yang dilapisi lapisan lemak tipis. Di tengah ruangan, berdiri seorang wanita tua yang mengenakan baju koki yang sangat kotor dan berlumuran noda. Ia memegang sendok sayur raksasa yang terbuat dari tulang manusia. Itu adalah Ibu Kantin. Namun wajahnya bukan wajah manusia biasa. Di sana hanya ada satu mulut raksasa yang penuh dengan deretan gigi gigi tajam dan runcing.

"Murid baru... kau terlihat sangat kurus... pasti lapar bukan?" suara wanita itu terdengar serak dan kasar seperti gesekan kayu kering. Ia berjalan mendekati Arga dan menyodorkan sebuah mangkuk besar berisi cairan merah kental. Di dalamnya terlihat sesuatu yang bentuknya sangat mirip dengan jari jari manusia. "Ambillah nak... ini gratis khusus untuk anak yang sedang masa pertumbuhan."

Tiba tiba Arga merasakan dorongan aneh yang sangat kuat. Ada keinginan luar biasa untuk menerima mangkuk itu dan meminum isinya. Perutnya terasa melilit dan sangat lapar, rasa lapar yang tidak wajar seolah ada lubang hitam di dalam lambungnya yang menuntut untuk segera diisi. Tangannya mulai bergerak sendiri tanpa sadar mendekat ke arah mangkuk tersebut.

"Arga! Ingat lencanamu!" hardik Lintang pelan namun sangat tajam.

Suara itu seperti tamparan keras yang menyadarkan Arga. Ia segera merasakan lencana perak di dadanya menjadi sangat panas hingga terasa seperti membakar kulitnya. Rasa sakit itulah yang berhasil mengusir sihir kelaparan yang sedang mempengaruhi pikirannya. Dengan cepat Arga menggelengkan kepalanya kuat kuat dan memalingkan wajahnya menjauhi mangkuk mengerikan itu.

"Saya... saya sudah kenyang, Bu," jawab Arga dengan suara parau dan gemetar.

Ibu Kantin itu mendesis panjang. Suaranya persis seperti ular yang sedang marah. Gigi gigi tajamnya bergemeretak menandakan rasa tidak sukanya. "Sombong sekali kau ini... tapi tenang saja... kau pasti akan kembali. Semua orang akan kembali saat mereka sadar bahwa di sekolah ini, kamilah yang menjadi hidangan utamanya."

Mereka terus melangkah membelah lautan meja dan kursi. Di sekeliling mereka, para hantu siswa itu sedang menyantap hidangan mereka dengan lahap dan beringas. Arga melihat salah satu sosok sedang mengunyah buku pelajaran yang direndam dalam cairan merah. Yang lain lagi sedang saling berebut dan memperebutkan sepotong organ tubuh yang masih mengeluarkan uap panas.

Tiba tiba, seorang siswa hantu yang duduk di pojok ruangan berdiri. Sosok itu tidak memiliki tangan, namun di dadanya tersemat sebuah lencana yang sudah berkarat dan tua. Mata hantu itu menatap Arga dengan tatapan penuh kesedihan yang mendalam.

"Tolong... beritahu Ibu... aku tidak pulang karena... aku tertahan di kelas tambahan..." bisik hantu itu lirih sebelum akhirnya kembali menelungkupkan wajahnya ke atas meja.

Hati Arga terenyuh. Ia ingin berhenti, ingin menghibur atau mengatakan sesuatu. Namun Lintang segera mendorong punggungnya agar terus berjalan cepat.

"Jangan terjebak rasa simpati, Arga," bisik Lintang cepat. "Itu semua adalah jebakan emosi. Jika kau berhenti hanya untuk satu arwah, kau akan terjebak bersama mereka selamanya dan tidak bisa keluar lagi."

Mereka sudah hampir mencapai pintu keluar di sisi seberang. Namun tiba tiba saja lampu lampu neon yang menggantung di langit langit meledak satu persatu secara bersamaan.

Prang! Prang! Prang!

Kegelapan total langsung menyelimuti ruangan. Hanya tersisa cahaya ungu redup dari senter yang dipegang Arga. Di bawah pancaran cahaya itu, Arga melihat pemandangan yang jauh lebih mengerikan. Bayangan bayangan para hantu itu tidak lagi menempel pada tubuh mereka. Bayangan bayangan itu terlepas sendiri dan mulai merayap di lantai menuju ke arah mereka berdua seperti genangan tinta hitam yang hidup.

"The Hunger! Mereka lapar!" teriak Lintang panik. "Lari ke pintu darurat! Sekarang juga!"

Mereka berlari sekuat tenaga menembus kegelapan. Di belakang mereka, suara derap langkah ratusan kaki terdengar sangat kencang mengejar. Suara kursi yang terlempar dan teriakan teriakan histeris memenuhi seluruh ruangan. Arga merasakan ada sesuatu yang sangat dingin menyentuh pergelangan kakinya dan mencoba menariknya ke bawah. Ia segera menyorotkan senter ke lantai dan melihat puluhan tangan tangan hitam bermunculan dari balik bayangan untuk menangkap kakinya.

Dengan sekuat tenaga mereka akhirnya sampai di depan pintu darurat. Lintang langsung menarik tuas besi pembuka pintu itu. Namun sayang, pintu itu terkunci rapat dari luar.

"Sialan! Reno bilang pintu ini harusnya sudah terbuka!" Lintang memukul pintu besi itu dengan frustrasi.

Di saat kritis itu, mata Arga tertuju pada kunci perak kecil yang ada di genggamannya, kunci yang ia dapatkan dari kelas X-A tadi. Mungkin kunci ini bukan hanya untuk ruang arsip, pikirnya cepat. Tanpa pikir panjang ia segera memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci pintu darurat.

Klik.

Suara itu terdengar sangat jelas. Pintu terbuka! Mereka langsung melompat keluar secepat kilat dan Lintang membanting pintu itu kembali hingga tertutup rapat. Dari balik pintu besi itu terdengar bunyi hantaman yang sangat keras dan suara cakaran kuku yang mencoba menembus logam.

Arga jatuh terduduk di atas rumput halaman asrama. Rumput itu terasa tajam dan dingin seperti jarum jarum es yang menusuk kulit. Ia menarik napas panjang dan rakus, berusaha menghilangkan rasa mual dan jijik yang masih tertinggal di kerongkongannya.

"Kau... kau menggunakan kuncinya..." Lintang menatap Arga dengan pandangan berbeda. Ada rasa kaget bercampur rasa hormat di sana. "Kunci itu bisa bereaksi sesuai dengan keinginan pemiliknya. Itu artinya kau mulai bisa terhubung dengan energi sekolah ini. Itu bagus supaya kau bisa bertahan hidup, tapi sangat buruk bagi jiwamu sendiri."

Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap tangannya sendiri yang masih gemetar hebat. Ia baru saja melewati neraka kantin itu. Dan anehnya, rasa lapar aneh yang ia rasakan tadi belum sepenuhnya hilang. Itu adalah benih benih kegelapan yang mulai tumbuh dan bersemayam di dalam dirinya.

Di depan mereka, Gedung Asrama Sayap Barat berdiri kokoh dan angkuh. Jendela jendelanya yang gelap tampak seperti mata mata yang terus mengintai setiap gerak gerik mereka. Di salah satu jendela lantai tiga, Arga bisa melihat jelas sebuah siluet hitam seseorang yang berdiri tegak mematung sedang memperhatikannya dari jauh.

Itu adalah kamar nomor 303. Kamar lama milik kakaknya, Raka.

"Ayo kita masuk," ajak Lintang. Suaranya kini terdengar lebih lembut. "Misteri yang sesungguhnya ada di dalam sana. Dan kuharap kau sudah siap mental untuk melihat apa yang sebenarnya ditinggalkan oleh saudaramu."

Arga perlahan berdiri. Ia menepuk nepuk debu yang menempel di celananya lalu menatap lencana perak di dadanya. Lencana itu kini warnanya tampak sedikit lebih gelap dan pekat daripada sebelumnya. Dengan langkah tegas ia melangkah maju menuju pintu asrama, siap menghadapi apa pun yang menunggunya di kamar 303. Meski ia tahu, harga yang harus dibayar untuk kebenaran itu mungkin adalah kewarasannya sendiri.

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!