Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Aku Akan Membuatmu Ingat
"Selamat pagi Mikaila..."
Vivi dibuat terkejut karena pagi-pagi sekali, Tiba-tiba saja Althan sudah berada di depan kontrakannya.
"Pagi, Oom..." Mikaila menyambut sambil melambaikan tangan dan tersenyum cerah.
"Althan, kamu ngapain di sini?" Berbeda dari dua orang itu yang tampak senang, Vivi justru malah dibuat panik sendiri. Ia sibuk celingak celinguk ke sana kemari melihat sekeliling. "Gimana kalau ada yang liat kamu?"
"Aku kesini mau nganterin anakku sekolah lah," Althan menjawab pertanyaan pertama Vivi sambil mengangkat Mikaila dalam gendongannya. "Aku sudah pakai penyamaran sedemikian rupa, mana mungkin ada yang mengenali?"
"Althan, sudah aku bilang jangan pakai penyebutan seperti itu untuk Mikaila. Hasilnya masih belum pasti," Vivi memprotes.
"Ya.. ya.. ya.." Althan menjawab acuh tak acuh. "Terserah kalau kamu nggak mau ikut mengantarkan Mikaila, aku saja yang berangkat sendiri,"
"Eh, ya jangan dong!" Vivi buru-buru menyusul putirnya yang sudah dimasukkan ke mobil. Tapi sebelum itu, Althan sudah menutup pintu belakang dan menghadangnya.
"Kamu duduk di depan," ujar Althan.
"Nggak, aku mau nemenin Mikaila,"
"Duduk depan atau tidak sama sekali," ancam Althan, yang membuat Vivi hanya bisa berdecak kesal, lalu tanpa bisa berbuat apa-apa akhirnya menuruti keinginan Althan. Althan yang merasa senang hanya bisa tersenyum lebar.
"Wah, mobilnya wangi ya om!" celetuk Mikaila saat di perjalanan menuju ke sekolahnya.
"Mikaila suka? Itu om siapkan khusus untuk Mikaila. Oh ya, di sebelah Mikaila itu ada kotak. Coba kamu buka deh,"
Mikaila menatap kotak besar yang ada di sebelahnya. Ia tampak ragu sejenak, menatap ke arah Vivi meminta persetujuan. Vivi sebenarnya merasa keberatan, tapi demi melihat wajah berharap Sang putri, ia tak punya pilihan lain selain mengangguk.
Senyum Mikaila mengembang saking senangnya. Dengan gembira, ia pun membuka kotak hadiah itu. Di sana, terlihat ada tiga buah boneka Barbie. Seorang wanita, pria, dan seorang anak kecil perempuan.
"Wah, cantiknya!" Mikaila mengangkat ketiga boneka itu dengan mata berbinar. "Mama, lihat! Ini Mama barbie, Papa barbie, sama anak barbie!"
"Wah, iya, cantik sekali ya sayang," Vivi tersenyum. "Mikaila suka?"
"Suka banget! Ini seperti kita! Ini Mama, Mikaila, dan Om Althan! Keluarga bahagia!"
Vivi terkesiap mendengar ucapan Mikaila. Hatinya langsung mencelos saat mendengar celotehan anaknya yang terlihat sangat bahagia itu.
"Om Althan! Boleh Mikaila panggil Om, papa?"
Ckiitttt!
Mobil Althan seketika terhenti. Tubuh Vivi dan Mikaila sontak maju ke depan, untungnya mereka tertahan oleh sabuk pengaman.
"Astaga, Althan! Ada apa?! Mikaila, kamu nggak papa sayang?" Vivi reflek mengecek keadaan putrinya.
"Nggak papa, Mama. Mikaila okey kok,"
"Syukurlah," Vivi menghela napas lega. Ia sontak menoleh ke arah Althan. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba ngerem mendadak? Apa ada masalah?"
"Ah... maaf, aku benar-benar nggak bermaksud mencelakai kalian..." Althan tampak menutup mulutnya. "Aku hanya terlalu senang,"
"Hah?"
Althan menatap Vivi dan Mikaila dengan mata berbinar. "Rasanya, seperti mendapatkan keluarga yang utuh,"
Vivi terdiam mendengar ucapan Althan. Dan hatinya kembali mencelos saat melihat wajah bahagia pria itu. Sesenang itu kah kamu, Althan? Apa keputusanku selama ini salah?
"Mikaila," Althan meraih tangan kecil Mikaila. "Tentu saja kamu boleh panggil Om, Papa,"
"Nggak," Vivi menggeleng tegas. "Jangan seperti itu, Althan. Kamu memberikan harapan yang tidak pasti pada Mikaila. Padahal belum tentu Mikaila itu anakmu,"
"Astaga, Vivi," Althan menghela napas frustasi. "Bisa tidak kamu jangan merusak suasana? Sekarang kita sedang bahagia, jangan marah-marah terus,"
"Aku juga nggak akan marah kalau kamu nggak berulah, Althan. Aku kan sudah bilang berulangkali untuk tidak berkata macam-macam. Lagipula hasilnya belum keluar, jangan berasumsi sendiri,"
Althan lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang, sambil kembali melajukan mobilnya. "Kenapa sih kamu setidak suka itu? Apa kamu benar-benar sudah tidak punya perasaan padaku?"
Vivi terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Althan.
"Kamu benar-benar sebenci itu padaku, Vivi?"
Vivi menutup mulut rapat-rapat. Dia tidak kuasa menjawabnya.
Alhasil, perjalanan sampai ke sekolah berakhir dengan keheningan. Mikaila yang semula ceria pun akhirnya hanya bisa diam sambil memeluk ketiga bonekanya. Ia takut kalau mamanya akan marah lagi.
Tak berselang lama, mobil Althan berhenti di dekat taman bermain. Vivi yang meminta agar kedatangannya tidak kelihatan mencolok. Ia masih takut orang-orang akan mengenali Althan setelah kejadian tempo hari.
"Oke, aku akan tunggu di sini," katanya.
"Tidak usah, aku akan pergi sendiri naik taksi,"
"Vivi, bisakah kamu nggak mengajak aku bertengkar di depan Mikaila? Nurut aja, please. Lagipula ada yang mau aku bicarakan juga,"
Vivi melirik ke arah Mikaila yang tampak ketakutan. Ia langsung menepuk jidatnya sendiri karena merasa bersalah. Benar, tidak seharusnya ia memperlihatkan sisi seperti ini di depan Mikaila.
"Sini sayang, nggak usah takut," Vivi turun dari mobil dan membuka pintu belakang. Mikaila langsung memeluknya.
"Mama jangan marah marah sama Om Althan. Mikaila janji, Mikaila nggak akan panggil dia Papa,"
"Iya, maaf ya sayang. Tadi Mama terlalu sensitif. Mikaila nggak usah takut, oke? Kita ke kelas sekarang yuk. Bonekanya Mama bawain aja ya, takutnya rusak kalau nanti dipinjem ke teman-teman,"
"Iya," Mikaila menurut, kemudian ia menoleh ke arah Althan. "Bye bye, Om Althan,"
"Bye bye sayang," Althan balas melambaikan tangan. Setelah itu Vivi dan Mikaila pun berjalan menuju ke sekolah.
Sepuluh menit kemudian, Vivi kembali ke mobil. Wanita itu tampak menghela napas berkali-kali sebelum membuka pintu, seolah sedang berusaha meyakinkan diri sendiri.
"Nanti antarkan saja sampai ke halte bus, aku—"
Tanpa menunggu Vivi menyelesaikan ucapannya, Althan sudah telebih dulu tancap gas.
"Astaga, Althan! Hati-hati! Kalau kamu tidak ikhlas, lebih baik turunkan aku sekarang!'
Althan tak menjawab, tak juga menghiraukan seruan protes Vivi.
Pria itu terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
" Hei, Althan! Kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju salonku! Hei, Althan! Kamu sudah gila?!"
Althan tetap konsisten menyetir hingga mobilnya berhenti di depan sebuah hotel bintang lima.
"Apa-apaan ini? Kenapa kita kesini?" Vivi kembali protes. "Kalau tau begini, lebih baik aku—"
Kata-kata Vivi tertelan di tenggorokan sedetik kemudian, karena tiba-tiba saja Althan sudah meraih kepalanya, lalu menyatukan bibir mereka.
Vivi hanya bisa terbelalak.
Althan seolah tak memberinya waktu untuk terkejut, karena pria itu kemudian melahap bibir Vivi dengan rakus, seolah hal itu adalah apa yang selalu ia nantikan selama ini.
"Althan, astaga!" Vivi mendorong Althan sekuat tenaga, berusaha membebaskan diri. "Kamu gila, ya!"
"Kamu benar, aku sudah sangat gila sekarang, Vivi," Althan menatap Vivi seperti seekor singa yang sedang kelaparan. "Aku tidak percaya kamu sudah tidak suka aku lagi. Aku rasa kamu cuma lupa. Maka sekarang aku akan membuat kamu ingat, bagaimana rasanya saat kita masih saling mencintai seperti dulu,"
semoga aj althan atau Roni tau kelakuan Selina ,,
yg sengaja bikin vivi pergi waktu itu ,,
Vivi² itu selina si ular kadut, dia mengeruk keuntungan banyak dari althan jadi artis. harusnya kamu gak usah mau di ajak ngomong sama selina pergi dan abaikan
rasanya pengin aku guyur aja mukanya selina sama air got😤