Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Tanpa ada yang sadar Miko yang sejak tadi sudah berteriak dibawah memanggil Syela dan penghuni rumah ini pun masuk kedalam Kamar Catherine. Pria itu dengan cepat langsung bertindak kala melihat Catherine hendak menusuk Syela.
Dia berlari dan langsung memukul pergelangan tangan Catherine hingga pisau yang dipegangnya terjatuh kelantai.
"Udah gila kamu Ket!!" bentaknya saat Catherine menatapnya tak terbaca.
"Huahhhhhhhhhhhh" gadis itu meraung sejadi jadinya bersamaan dengan tubuhnya yang terkulai lemas jatuh terduduk dilantai yang dingin itu. Melihatnya Miko pun bisa kembali mengatur napasnya yang tersengal sengal.
Sejenak pria itu berbalik untuk mengecek keadaan Syela. Miko memegang kedua bahunya, "Kamu nggak Papa kan Sel" tanyanya khawatir.
Syela yang tadi sempat terpaku tanpa tau apapun itu menggeleng "I... iya aku nggak Papa" jawabnya pelan masih syok dengan kejadian barusan.
Susi dan Handoko yang melihat keadaan mulai terkendali buru buru mendekati Catherine sang putri angkat kesayangan mereka tanpa bertanya keadaan Syela bagaimana, padahal Ibu Ansel itu terlihat ketakutan juga tadi.
"Catherine" ucap Susi memeluk tubuh Catherine yang lemah sambil menangis hari sedang Handoko menghembuskan nafas lega, lalu mengusap lembut puncak kepala putrinya.
Syela yang melihat hal tersebut membuang wajahnya, sambil mengelap setetes air mata yang dengan lancangnya jatuh tanpa diminta. Sakit, tapi sudah biasa.
Miko sadar akan hal itu dan turut merasakan sakit hati juga, bagaimana bisa orang tua sendiri lebih menyayangi orang lain dibanding anak mereka sendiri. Berhadapan pula, sungguh Miko tak mengerti jalan pikiran orang tua Syela ini.
Usai menenangkan Syela sebentar Miko kembali pada Catherine. "Apa yang akan kamu lakukan tadi Catherine?" tanyanya.
Catherine perlahan mendongak menatap Miko tak terbaca. "A... aku mau Syela ikut mati bersamaku, agar kamu tak bisa memilih antara aku dan dia lagi" jawabnya jujur.
Mendengar alasanya Miko menghela napas berat. "Belum cukup kamu berniat mati sendiri malah ingin mengajak bayiku dan Syela yang tak tau apa apa" ucapnya. "Pikiranmu dimana Catherine" tambahnya bingung.
Catherine menangis dalam diam tak menjawab perkataan Miko.
"Bagiku kamu gadis yang cukup pintar dan ceria, tapi kenapa bisa kamu memikirkan ini semua dan bertindak sesukanya Ket" ungkap Miko tak percaya.
"Itu semua karena kamu, karena kamu tak memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya, bahkan sudah ada bayimu dalam perutku pun kamu tidak memperdulikanku Miko!!!" jawab Catherine dengan nada tingginya.
Dari ucapannya Syela tau jika saat ini akal sehat Catherine sudah kembali, ternyata benar hanya kehadiran Miko lah yang bisa menyadarkannya.
"Aku sudah menunggumu, memohon semua sudah kulakukan tapi kamu tetap mengabaikanku" tambah Catherine lagi.
"Aku memang tak menyukaimu tapi aku tidak mengabaikanmu" jawab Miko jujur.
"Lalu kemana kau beberapa hari ini, kau ingin menghilang dariku iya?!!!" tanya Catherine marah.
Miko terdiam tak menjawab dan keterdiaman itu membuat Catherine tertawa miris. "Ckck benar kan, kau mengabaikanku, kau menghilang karena tak ingin menikah denganku, iyakan jawab aku!!!" teriak Catherine penuh emosi.
"Aku akan menikah" jawab Miko pada akhirnya yang membuat semua orang menatapnya serius.
Sedangkan pria itu sendiri malah menatap Syela yang terpaku, membuat Catherine kembali ingin meronta.
"Aku akan menikah, denganmu Catherine" kata Miko bersamaan dengan tatapannya yang beralih dari Syela lalu kearah Catherine. "Denganmu" tambahnya menatap Catherine dengan serius.
"Ka... Kamu benar benar ingin menikahi Catherine, Miko?" tanya Handoko memastikan lagi dia tak ingin Catherine kecewa untuk kedua kali.
"Iya aku akan menikahinya".
"Kamu bilang tadi kamu tak menyukaiku tapi kenapa kamu mau menikahiku?" tanya Catherine masih tak percaya jika Miko ingin menikahinya.
"Jangan bertanya Catherine, untuk sekarang aku akan menikahiku dan bertanggung jawab untukmu dan bayi kita, masalah perasaan kita urus belakangan" jawab Miko tegas.
Alhasil mendengar ucapan tegas itu, Catherine yang entah dapat kekuatan dari mana tiba tiba berdiri dan langsung memeluk Miko erat. "Terima kasih Miko, terimakasih" ucapnya.
Dan dari samping mereka saling berpelukan, Syela mengembangkan senyuman.
*****
Singkat cerita hari pernikahan pun tiba dan tentu saja sesuai rencana diawalnya, acara itu digelar sangat meriah tanpa semua orang tau jika ada drama fantastis dibaliknya.
Semua orang nampak tersenyum bahagia bahkan Miko yang hampir membatalkan pernikahan ini pun menunjukkan ekpresi yang sama. Catherine lebih lebar lagi senyumnya. Hanya Syela yang memandangi mereka semua dengan tatapan tak terbaca dari kejauhan.
"Syela???".
Mendengar namanya disebut membuat Syela yang larut dalam pikirannya menolehkan kepala, ia melihat ada dua wanita dan satu pria mendekat kearahnya.
"Iyakan kamu Syela kan?" tanya salah satu wanita itu. "Iya bener Syela" jawab wanita satunya lagi.
"Apa kabar?" ujar keduanya bersamaan lalu memeluk Syela yang masih terdiam itu.
"Lama nggak ketemu kamu makin cantik aja Sel, aura mu beda sampai kita hampir nggak kenal" ujar pria teman mereka.
"Stefi, Kikan, Hendra kalian datang?" ucap Syela berbasa basi, padahal hal ini yang dia hindari.
Sengaja dia tak terlalu menampakan diri dan berdiam diri dipojokan aula pernikahan karena tak ingin bertemu dengan kawan kawannya, karena dia tau Catherine mengundang semua temannya termasuk alumni SMA mereka. Bukan karena tak suka, tapi karena tak ingin menjawab pertanyaan yang pasti mengarah ke hal yang tak ingin dibahasnya.
Seperti pertanyaan yang dilontarkan Hendra saat ini. "Bukannya Miko tunangannya sama kamu ya, kenapa nikahnya sama Catherine?".
"Terus orang tuamu jadi wali Catherine yah, makanya mereka berdua duduk disamping pengantin?" ujar Kikan.
"Kamu kenapa malah sendirian disini bukannya ngumpul bareng keluarga inti disana?" Stefi menambahkan.
Syela tertampar kenyataan, sempat terdiam lalu tertawa kecil. "Nanyanya satu satu donk, udah kaya wartawan kalian" ujarnya yang membuat ketiga teman SMA nya itu ikut tertawa.
"Sory Sel, jiwa kepo kita meronta ronta soalnya" jawab Stefi bercanda. "Jadi apa jawaban pertanyaan kita?" tambahnya masih berusaha.
"Aku juga bingung aku jawab apa, ceritanya panjang sampai acara ini selesai pun ceritanya masih bersambung" jawab Syela dengan tawa sumbang.
"Yahhhh kamu Sel, bikin tambah kepo deh" ucap Kikan kecewa, Syela hanya tertawa.
"Udah deh kasian Syela kalian borongi, biarlah kalau memang dia mau rahasiain kita nggak bisa ikut campur juga itu urusan keluarga mereka, yakan Sel" Hendra berucap seperti orang normal.
Syela mengacungkan jempol jarinya. "Tumben omonganmu bener" ucapnya. Mereka kembali tertawa.
Sampai beberapa menit kemudian mereka saling mengobrol membicarakan masa lalu dan masa kini yang nyatanya tak bisa sama lagi. Perubahan akan selalu ada seiring tahun dan musim yang berganti.
"Sudah dulu ya, aku mau ngecek keadaan anakku dulu kalian nikmati makanannya ya" ucap Syela ingin pamit pergi.
"Sel, bentar dulu kamu sudah punya anak, beneran??" tanya Stefi yang terkejut dengan ucapan Syela, kedua temannya juga sama terkejutnya.
Syela tersenyum kemudian berkata "Iya, cowok udah lima bulan" jawabnya jujur. "Udah ya bye" pamitnya benar benar pergi meninggalkan rasa penasaran setengah mati dihati ketiga temannya.