NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Bab 23

Dari kejauhan, di batas antara rerimbunan dan langit yang tampak pucat, Nash dan Hanoon berdiri seperti dua bayangan yang tertinggal. Mereka tidak ikut berjalan, hanya memperhatikan—diam, tapi tidak benar-benar tenang.

Di depan mereka, tiga sosok menjauh perlahan.

Bumi, Pam, dan Nuri.

Seragam hitam yang mereka kenakan tampak menyatu dengan lanskap suram di sekitar, seperti potongan malam yang berjalan di siang hari. Kain itu sedikit berkilau saat terkena cahaya, seperti menyimpan lapisan perlindungan tak kasat mata.

“Itu cukup kuat buat nahan limbah,” kata Nash tadi, sebelum mereka berangkat. Suaranya yakin, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar perhitungan teknis.

Sekarang, kata-kata itu terus terngiang di kepala Bumi.

Langkah mereka mantap saat memasuki hamparan pantai yang luas. Pasirnya tidak lagi putih bersih seperti cerita masa lalu, melainkan abu-abu kusam, seperti abu yang tertiup angin selama berabad-abad.

Di sisi kanan, laut membentang.

Airnya gelap. Tidak sepenuhnya hitam, tapi cukup untuk membuat siapa pun ragu menyentuhnya. Ombak datang pelan, tapi suaranya berat, seperti membawa sesuatu yang tidak terlihat.

Di sisi kiri, reruntuhan berdiri.

Bekas resort, taman, hotel.

Bangunan-bangunan itu sekarang hanya kerangka. Dindingnya retak, sebagian runtuh, sebagian lagi tertutup lumut tebal yang tumbuh seperti ingin menelan semuanya kembali ke tanah.

Bumi berjalan di tengah, matanya bergerak ke segala arah.

Sunyi itu terasa terlalu penuh.

“Binatang apa yang paling berbahaya zaman sekarang?” tanyanya tiba-tiba, suaranya memecah keheningan seperti batu kecil yang jatuh ke danau.

Nuri meliriknya, sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Apa yang pernah kamu lihat?” balasnya, nada suaranya seperti tantangan kecil.

Bumi langsung bersemangat.

“Oh, aku pernah hampir dimakan orca!” katanya. “Tapi bukan orca biasa. Siripnya kayak gergaji. Panjang, bergerigi—”

Pam menoleh cepat. “Laut Pasifik?”

Bumi tersenyum bangga. “Iya! Kamu tahu?”

Pam mengangguk kecil. “Pernah dengar.”

Nuri terkekeh pelan.

“Tapi kamu belum pernah ketemu ular yang punya lima puluh taring dan sayap kayak naga, kan?”

Langkah Bumi terhenti.

Pam juga.

“Hah?” mereka berdua menoleh bersamaan.

“Serius?” tanya Pam, matanya sedikit membesar. “Aku bahkan belum pernah lihat yang kayak gitu.”

Nuri menggeleng pelan, tapi wajahnya berubah.

Ada bayangan yang lewat di matanya.

“Jangan,” katanya lirih. “Jangan sampai kalian lihat.”

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat bulu kuduk Bumi meremang.

“Kok bisa ada hewan kayak gitu?” tanya Bumi, lebih pelan sekarang.

Nuri menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan.

“Karena mereka datang,” katanya.

“Siapa?” tanya Pam.

“Alien. Dari bintang Norax.”

Nama itu terasa asing, tapi berat.

“Radiasi mereka… beda,” lanjut Nuri. “Bukan cuma merusak. Tapi… mengubah. Membengkokkan bentuk kehidupan jadi sesuatu yang bahkan alam sendiri nggak kenal.”

Mereka terus berjalan, pasir di bawah kaki terasa panas meski matahari tidak terlalu terik.

“Terus… kamu selamat gimana?” tanya Bumi, suaranya hampir seperti anak kecil yang ingin tahu akhir cerita.

Nuri tersenyum tipis.

“Negosiasi.”

“Hah?”

“Aku kasih mereka teka-teki.”

Bumi mengernyit. “Teka-teki?”

“Iya,” jawab Nuri santai. “Mereka suka sesuatu yang… menantang. Aku buat mereka berpikir. Aku tahan mereka cukup lama sampai akhirnya… mereka terima energi inti bumi, lalu pergi.”

Pam menatap Nuri dengan ekspresi baru—campuran kagum dan tidak percaya.

“Kamu serius?”

Nuri mengangkat bahu. “Kadang, bertarung nggak selalu pakai senjata.”

Bumi langsung mendekat sedikit. “Ceritain dong! Teka-tekinya apa?”

Nuri langsung menggeleng. “Nggak.”

“Kenapa?”

“Kalau semua ini mimpi, baru aku ceritain.”

Bumi mendengus pelan. “Selalu aja gitu.”

Mereka kembali berjalan dalam diam.

Langkah mereka membawa mereka keluar dari pasir dan menuju sesuatu yang dulu mungkin adalah jalan utama.

Aspal.

Atau setidaknya, sisa dari sesuatu yang pernah disebut jalan.

Permukaannya retak, pecah, dan terangkat di sana-sini. Lubang besar menganga seperti mulut yang lapar. Di beberapa bagian, tanah di bawahnya muncul ke atas, membentuk tonjolan tidak beraturan.

“Kayak dunia lagi marah,” gumam Bumi.

“Dunia memang marah,” jawab Pam singkat.

Mereka harus berhati-hati. Kadang melangkah tinggi, kadang melompat, kadang merangkak di bawah potongan beton yang miring.

Keringat mulai mengalir, meski udara tidak terlalu panas.

“Kita istirahat di sini?” tanya Nuri saat mereka melewati sebuah hotel yang masih berdiri setengah, seperti raksasa yang kehilangan keseimbangan tapi belum jatuh.

Pam melirik jam tangannya—perangkat kecil yang berkilau samar.

“Nggak,” katanya. “Belum dua kilo.”

Bumi mengeluh pelan, tapi tetap mengikuti.

Mereka terus berjalan.

Sampai akhirnya—

Sebuah motel tua muncul.

Bangunannya kecil, terpisah dari yang lain. Catnya sudah mengelupas, jendelanya pecah, dan pintunya setengah terbuka seperti mengundang sekaligus memperingatkan.

Mereka masuk.

Lobi itu… berantakan.

Kursi terbalik. Meja patah. Debu tebal menutupi hampir semua permukaan. Bau apek bercampur dengan sesuatu yang tidak ingin dikenali.

Pam menggeser beberapa puing dengan kakinya, membuat ruang kecil di tengah.

“Duduk,” katanya.

Nuri dan Bumi ikut duduk.

Bumi menyandarkan punggungnya ke dinding, menghela napas panjang.

“Apa kita cari kamar aja?” tanyanya.

Pam menggeleng. “Sama aja. Semua bakal kayak gini.”

Ia membuka botol air, minum beberapa teguk, lalu menyimpannya kembali.

Nuri mengikuti. Bumi juga.

Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk.

Mendengarkan sunyi.

“Di dunia kalian… 2026,” kata Pam tiba-tiba. “Teknologinya udah sampai mana?”

Bumi menatapnya, tersenyum kecil.

“Kamu pikir 2026 itu kayak apa?”

Pam mengangkat bahu. “Nggak tahu. Zaman dinosaurus?”

Bumi dan Nuri langsung tertawa.

“Itu jutaan tahun yang lalu,” kata Nuri.

Pam mengernyit. “Oh. Berarti zaman para nabi?”

Bumi menoleh ke Nuri, lalu kembali ke Pam. “Yah… bisa dibilang begitu.”

Pam mengangguk, tampak serius.

“Aku kira zaman nabi itu sama kayak dinosaurus.”

Bumi menahan tawa. “Nggak juga sih…”

Ia melirik Nuri, seperti minta bantuan.

Nuri tersenyum kecil.

“Tahun 2026 itu sudah ada mobil, kereta, pesawat,” jelasnya. “Seperti yang ada di tempat Nash menyimpan kapsulmu. Tapi belum secanggih di sini. Belum bisa terbang bebas seperti di California.”

Pam langsung tertarik. “Kamu tahu California?”

“Sedikit,” jawab Nuri. “Arbuck dan anak-anaknya pernah cerita.”

Bumi menatap Nuri dengan wajah penasaran.

“Kak… jujur deh,” katanya. “Kakak sama Arbuck itu sebenarnya apa sih?”

Nuri langsung melotot. “Kamu jangan aneh-aneh!”

“Aku cuma nanya!”

“Aku jadi ratu bukan berarti jadi istrinya dia!” kata Nuri cepat. “Aku dianggap keturunannya.”

Bumi mengernyit. “Tapi kan kakak bukan anaknya.”

Nuri menghela napas. “Oke. Singkatnya…”

Ia menatap lantai sebentar, seperti mengatur cerita di kepalanya.

“Aku bangun di penjara. Sama sepasang suami istri yang bilang mereka orang tuaku.”

Bumi mengangguk pelan.

“Mereka dianggap mata-mata,” lanjut Nuri. “Tapi sebenarnya… mereka anaknya Arbuck. Mereka pernah pergi ke California, lalu kembali. Tapi dianggap musuh.”

Pam mengangkat alis. “Jadi…”

“Secara teknis,” kata Nuri, “aku bisa dianggap cucunya Arbuck.”

Bumi mengangguk pelan. “Ribet juga.”

“Makanya aku bilang, nanti aku jelasin kalau semua ini mimpi.”

Bumi tersenyum tipis. “Oke.”

Pam berdiri tiba-tiba.

“Cukup istirahatnya,” katanya. “Kita lanjut.”

Bumi mengeluh pelan, tapi ikut berdiri.

Mereka keluar dari motel. Udara luar terasa lebih dingin sekarang. Langit sedikit berubah warna.

“Pam,” panggil Nuri saat mereka berjalan.

“Iya?”

“Kalau Prof Keiko nggak mau bantu kita balik ke 2026… gimana?”

Langkah Pam melambat.

Ia tidak langsung menjawab.

Ada jeda.

“Ya kita cari cara lain,” katanya akhirnya.

“Tapi kalau nggak ada?” tanya Nuri lagi, suaranya lebih kecil.

Bumi menyela, mencoba meringankan suasana.

“Kak, kamu bisa nego sama Arbuck, masa nggak bisa sama Prof Keiko?”

Nuri tidak sempat menjawab.

“Sst!” Pam tiba-tiba berhenti. “Diam!”

Ia langsung merunduk, bergerak cepat ke arah reruntuhan jalan tol yang setengah runtuh.

“Cepat!” bisiknya.

Bumi dan Nuri langsung mengikuti, jantung mereka berdegup lebih cepat.

Mereka bersembunyi di balik beton retak dan akar pohon yang menyusup di antara celah.

Lalu—

Suara.

Dengungan tajam.

Sebuah pesawat kecil melintas di atas mereka.

Bentuknya ramping, seperti jet, tapi lebih kecil. Gerakannya cepat, hampir seperti panah yang dilepaskan.

Bumi menahan napas.

“Mereka ke Nash?” bisik Nuri.

Pam tidak menjawab.

Pesawat itu berputar. Kali ini melintas dari arah berbeda. Lalu lagi. Seperti sedang mencari sesuatu.

“Patroli,” kata Pam akhirnya pelan.

Nuri menghela napas lega, tapi tetap diam.

Bumi merapatkan tubuhnya ke bayangan.

“Kita gimana?” bisiknya.

Pam menatap langit melalui celah kecil.

“Tunggu,” katanya. “Sampai mereka pergi.”

Suara mesin itu masih terdengar. Berputar. Mencari. Dan mereka… hanya bisa diam, seperti bayangan yang berharap tidak pernah terlihat.

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!