Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Abu yang Menjadi Akar
Matahari pagi akhirnya menyembul sepenuhnya, menyinari puing-puing galangan kapal dengan cahaya keemasan yang kontras dengan noda darah dan oli. Tim medis dan satuan khusus mulai menguasai keadaan. Baskoro telah dibawa pergi dengan pengawalan ketat—sebuah akhir yang memuaskan namun terasa hampa bagi Liana.
Arkan duduk di tepi ambulans, seorang petugas medis sedang membalut luka tembak di bahunya secara lebih profesional. Wajahnya pucat, namun tatapannya tak lepas dari Liana yang berdiri beberapa meter darinya, menatap laut lepas.
"Tuan Arkan," seorang pria bersetelan rapi dari Badan Intelijen Pusat mendekat.
"Sesuai kesepakatan, Anda harus ikut kami untuk memberikan kesaksian penuh. Mengingat peran Anda sebagai informan kunci selama tiga tahun ini, hukuman Anda akan diringankan, namun prosedur tetap harus berjalan."
Arkan mengangguk pelan. Ia berdiri dengan susah payah, lalu berjalan menghampiri Liana.
"Liana," panggilnya lirih.
Liana berbalik.
Rambut pendeknya berantakan, wajahnya penuh jelaga, namun matanya kini terlihat lebih "hidup" daripada saat ia pertama kali menginjakkan kaki di mansion.
"Aku harus pergi. Mungkin untuk waktu yang lama," ucap Arkan. Ia merobek selembar kertas kecil dan menuliskan sesuatu. "Ini alamat sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Itu atas namamu. Bukan uang dari The Void, tapi tabungan ibuku yang berhasil kuselamatkan sebelum ia tiada. Hiduplah di sana. Mulailah toko bungamu kembali."
Liana menerima kertas itu, jemarinya bersentuhan dengan tangan Arkan. "Kau pikir dengan memberiku rumah, semua dosamu lunas?"
Liana. Aku tahu itu. Tapi setidaknya, aku ingin tahu kau aman. Selama sepuluh tahun aku melihatmu dari jauh, memastikan kau punya cukup uang untuk sekolah tanpa kau tahu siapa pengirimnya. Sekarang, aku ingin kau benar-benar bebas. Bukan dariku, tapi dari bayangan masa lalu kita."
Liana menatap kertas itu lama. "Kenapa kau tidak pernah muncul saja dan meminta maaf?"
"Karena aku pengecut," jawab Arkan jujur. "Aku takut jika aku muncul, aku akan melihat api di matamu lagi. Dan aku tidak sanggup melihatnya."
Petugas intelijen memberi isyarat bahwa waktu Arkan sudah habis. Arkan berbalik, hendak melangkah menuju mobil tahanan khusus, namun suara Liana menghentikannya.
"Arkan!"
Pria itu menoleh.
Aku belum memaafkanmu," ulang Liana, suaranya sedikit bergetar. "Tapi... aku akan menunggumu menjelaskan secara langsung, tanpa rekaman suara, tanpa perantara. Di toko bunga yang kau janjikan itu."
Mata Arkan membelalak. Sinar harapan yang paling terang dalam hidupnya baru saja menyala. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk dalam dengan senyum yang akhirnya mencapai matanya.
Satu Tahun Kemudian...
Sebuah toko bunga kecil bernama "The White Bloom" berdiri manis di sudut jalan yang tenang. Aroma mawar dan lili menyambut siapa pun yang masuk. Liana sedang menata beberapa rangkaian bunga matahari saat lonceng di pintu berdenting.
Ia mengira itu pelanggan biasa, namun langkah kaki yang berat dan berirama itu terasa sangat akrab di ingatannya. Liana membeku. Ia perlahan berbalik.
Ambang pintu, berdiri seorang pria mengenakan kemeja putih sederhana. Lengannya yang penuh tato kini tertutup kain, dan wajahnya tampak lebih segar, meski bekas luka di sudut bibirnya masih ada. Ia tidak lagi terlihat seperti penguasa kegelapan.
"Aku dengar toko ini butuh pelayan yang kuat untuk mengangkat pot-pot besar," ucap Arkan dengan nada jenaka yang canggung.
Liana meletakkan gunting bunganya. Ia menatap Arkan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hatinya yang dulu penuh abu kini terasa seperti tanah subur yang mulai ditumbuhi tunas baru.
"Syaratnya berat," balas Liana, mencoba menahan senyumnya.
"Kau harus berjanji tidak akan pernah menyentuh korek api lagi di dekatku."
Arkan melangkah mendekat, berhenti tepat di depan meja kayu tempat Liana berdiri. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya—bukan pistol, bukan pula uang. Itu adalah sebuah kalung perak dengan liontin kecil yang dulu Liana jatuhkan di rumah yang terbakar.
Aku menyimpannya selama sepuluh tahun, berharap suatu hari bisa mengembalikannya pada pemiliknya yang sah," Arkan menyerahkan kalung itu.
Liana menerima kalung itu, air mata haru jatuh di pipinya. Dendam itu benar-benar telah padam, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat.
"Selamat datang kembali, Arkan," bisik Liana.
Arkan menarik Liana ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya, tidak ada bau asap, tidak ada bau darah. Hanya ada aroma bunga dan janji akan masa depan yang lebih cerah.
Pov liana :
Fajar menyingsing di cakrawala pesisir utara, membiaskan warna oranye kemerahan yang memantul di atas permukaan laut yang tenang—kontras dengan pemandangan di belakang mereka.
Galangan kapal itu kini menyerupai kuburan besi yang berasap. Liana berdiri mematung di dermaga, membiarkan angin laut yang dingin menusuk tulang dan menerbangkan rambut pendeknya yang kotor oleh debu mesiu.
Di sampingnya, Arkan terduduk lesu di tepi pintu ambulans yang terbuka. Seorang petugas medis sedang membersihkan luka tembak di bahu kirinya. Arkan meringis, bukan karena perihnya alkohol yang menyentuh kulit, melainkan karena rasa hampa yang tiba-tiba menyerang saat melihat ayahnya, Baskoro, diseret masuk ke dalam mobil tahanan dengan pengawalan berlapis.
Tuan Arkan," seorang pria bersetelan gelap dari Badan Intelijen Pusat mendekat dengan langkah tegap.
"Waktu kita terbatas. Sesuai kesepakatan tertulis yang Anda tanda tangani tiga tahun lalu sebagai informan Deep Asset, Anda harus ikut kami sekarang. Kesaksian Anda adalah paku terakhir untuk peti mati The Void."
Arkan mengangguk pelan. Ia berdiri dengan sisa kekuatannya, menepis tangan petugas medis yang mencoba menahannya. Ia berjalan perlahan menghampiri Liana. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia membawa beban dosa sepuluh tahun terakhir di pundaknya.
"Liana," panggilnya. Suaranya serak, nyaris habis karena asap dan teriakan.
Liana berbalik.
Tatapannya masih tajam, namun ada kelembutan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Kebencian yang dulu menjadi satu-satunya alasan ia bernapas, kini telah menguap bersama asap ledakan kapal tadi.
"Kau akan pergi?" tanya Liana datar, meski ada getaran kecil di ujung suaranya.
Aku harus mempertanggungjawabkan semuanya," Arkan merogoh saku celananya yang robek dan mengeluarkan selembar amplop cokelat kecil yang sudah lusuh. "Di dalamnya ada sertifikat rumah di pinggiran kota, jauh dari kebisingan masa lalu kita. Itu dibeli dengan tabungan sah ibuku, bukan uang haram organisasi. Aku menyiapkannya sejak lama... untuk hari di mana aku mungkin tidak bisa kembali."
Liana menerima amplop itu. Tangannya bersentuhan dengan tangan Arkan yang kasar dan penuh bekas luka. "Kau pikir rumah ini bisa menggantikan rumahku yang kau bakar?"
Arkan menunduk, menatap tanah berlumpur di bawah kaki mereka. "Tidak akan pernah bisa, Liana. Aku tidak sedang mencoba membeli maafmu. Aku hanya ingin memastikan kau memiliki tempat di mana kau bisa tidur tanpa perlu menyembunyikan pisau di balik bantalmu lagi."
Pria intelijen itu memberi isyarat bahwa mobil sudah siap. Arkan menatap Liana untuk terakhir kalinya, seolah ingin merekam setiap detail wajah gadis itu di ingatannya.
Sepuluh tahun aku hidup sebagai bayanganmu, membiayai sekolahmu secara anonim, dan memastikan tidak ada bajingan yang menyentuhmu. Sekarang, tugasku selesai. Kau bebas, Liana. Benar-benar bebas," bisik Arkan.
Saat Arkan berbalik untuk masuk ke mobil tahanan, Liana merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Ia menyadari satu hal: meskipun Arkan adalah orang yang menyulut api itu, dia juga orang yang selama sepuluh tahun ini menjaga sisa-sisa hidup Liana agar tidak benar-benar hancur.
"Arkan!" teriak Liana sebelum pintu mobil tertutup.
Arkan berhenti, menoleh dengan tatapan sayu.
"Aku belum memaafkanmu. Mungkin tidak akan pernah," Liana melangkah maju satu langkah. "Tapi jika kau bisa keluar dari penjara itu hidup-hidup... cari aku di alamat ini. Aku akan membuka toko bunga, dan aku butuh seseorang untuk mengangkat pot-pot yang berat."
Sebuah senyum kecil—senyum tulus pertama yang pernah Liana lihat—muncul di wajah Arkan. "Aku akan belajar cara merawat bunga, Liana. Aku janji."
Mobil itu melesat pergi, meninggalkan Liana sendirian di dermaga. Ia membuka amplop cokelat itu. Di dalamnya, selain sertifikat, ada sebuah foto kecil yang sudah menguning. Foto Liana saat masih kecil, sedang tertawa di depan rumahnya yang dulu. Di balik foto itu, ada tulisan tangan Arkan yang rapi: "Hiduplah untuk dirimu sendiri, bukan untuk dendammu."
Liana memeluk amplop itu di dadanya, menangis sejadi-jadinya di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangat. Api dendamnya benar-benar telah padam, dan di atas abunya, sebuah harapan kecil mulai berakar. Ia akan membangun kembali hidupnya, bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang berhasil menundukkan takdirnya sendiri.