NovelToon NovelToon
Setelah Mati karena KDRT, Aku Balas Dendam ke Seluruh Keluarga

Setelah Mati karena KDRT, Aku Balas Dendam ke Seluruh Keluarga

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Reinkarnasi / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:198.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

"Di kehidupan sebelumnya, Siti Aminah meninggal di tangan suami dan keluarganya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke awal pernikahannya. Mengetahui semua pengkhianatan yang akan terjadi, Aminah tak lagi tinggal diam.

Hal yang pertama ia lakukan adalah memberi pelajaran kepada anak tirinya, mempermalukan ibu mertuanya, dan menghajar suaminya hingga masuk rumah sakit. Tak hanya itu, Aminah juga memastikan keluarganya sendiri hancur sebagai bayaran telah menjual dirinya ke dalam pernikahan ini!

Kali ini, Aminah akan memastikan dirinya bahagia di atas penderitaan musuhnya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah seluruh rumah ikut menahan napas. Di balik dinding yang sama, dua arus pikiran yang bertolak belakang bergerak tanpa saling mengetahui. Satu dipenuhi ketenangan, sementara yang lain perlahan menghitam oleh niat tersembunyi.

Di dalam kamar yang tertutup rapat, Aminah tertidur lelap tanpa gangguan. Napasnya teratur, wajahnya damai, seolah semua keributan siang tadi tidak meninggalkan bekas apa pun. Setelah melalui mediasi yang melelahkan, justru pikirannya menjadi lebih jernih, seakan ia telah memahami arah permainan yang sedang berlangsung.

Aminah tidak tahu bahwa di ruang tengah, Andre masih terjaga dengan mata terbuka. Ia duduk diam, tangannya yang dibalut diletakkan di atas meja, sementara sorot matanya terlihat gelap dan dalam. Tidak ada kata-kata, tetapi pikirannya bekerja keras, menyusun sesuatu yang tidak sederhana.

Nenek Shinta duduk di depannya dengan wajah kesal yang belum mereda sejak tadi siang. Amarah yang selama ini ia tahan kini terasa semakin menumpuk, menekan dadanya tanpa ampun. Ia menatap Andre, menunggu sesuatu, seolah berharap anaknya mengatakan hal yang selama ini ingin ia dengar.

“Aku sudah bilang,” ujar Andre pelan, suaranya berat dan dingin, “dia tidak mau hidup rukun dengan kita.” Kalimat itu diucapkan tanpa emosi berlebihan, tetapi justru terasa lebih menusuk. Rahangnya mengeras, menandakan bahwa ia sudah mengambil keputusan dalam hati.

Nenek Shinta langsung mengangguk dengan cepat, seolah mendapatkan pembenaran atas semua keluhannya. Ia mendengus pelan, matanya penuh ketidaksukaan. “Perempuan itu tidak tahu diri,” gumamnya, suaranya sarat kebencian yang tidak lagi ia sembunyikan.

Andre tidak langsung menanggapi, tetapi tatapannya semakin tajam. Ia mengingat bagaimana Aminah bersikap sejak awal, tidak tunduk, tidak takut, dan tidak bisa dikendalikan. Hal itu justru membuat egonya terusik, karena semua yang ia bayangkan sebelumnya tidak berjalan sesuai rencana.

“Dia sudah tahu aku punya anak,” lanjut Andre dengan nada datar, tetapi jelas mengandung penilaian. “Kalau masih mau menikah, harusnya dia tahu posisi.” Kalimat itu terasa seperti vonis sepihak, tanpa ruang untuk bantahan.

Nenek Shinta kembali mengangguk, bahkan kali ini lebih bersemangat. Ia merasa seluruh kejadian ini bukan kesalahannya, melainkan akibat dari pilihan yang salah sejak awal. “Makanya ibu bilang, jangan pilih perempuan seperti dia,” katanya, suaranya mulai meninggi karena emosi.

Andre akhirnya mengangkat pandangannya, menatap lurus ke depan dengan ekspresi dingin. Ia tidak lagi berbicara panjang, tetapi setiap kata yang keluar selanjutnya terasa lebih berat. “Kalau cara biasa tidak bisa,” katanya perlahan, “kita pakai cara lain.”

Nada suaranya berubah, menjadi lebih rendah dan penuh makna tersembunyi. Tidak ada penjelasan rinci, tetapi cukup untuk membuat orang yang mendengar mengerti maksudnya. Nenek Shinta menatapnya, dan dalam sekejap ia memahami arah pembicaraan itu.

“Obat itu?” tanyanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan. Matanya menyipit, menunggu jawaban yang sebenarnya sudah ia ketahui. Andre tidak menjawab secara langsung, tetapi sorot matanya sudah cukup jelas sebagai persetujuan.

Senyum tipis muncul di wajah Nenek Shinta, perlahan tetapi pasti. Amarah yang selama ini ia pendam akhirnya menemukan jalan keluar. “Baik,” katanya tanpa ragu, suaranya kini terdengar lebih ringan, “besok ibu cari.”

Pagi hari datang dengan cahaya yang lembut, menembus sela-sela jendela rumah. Dapur sudah hidup sejak subuh, dipenuhi aroma makanan yang hangat dan menggoda. Nenek Shinta bergerak cekatan, seolah semua emosi semalam tidak pernah terjadi.

Ia menyiapkan bubur tulang dengan hati-hati, memastikan teksturnya lembut dan kuahnya kaya rasa. Di sampingnya, telur teh direbus hingga warnanya meresap sempurna, mengeluarkan aroma khas yang menenangkan. Semua disusun rapi di atas meja makan, terlihat seperti sarapan keluarga yang harmonis.

Namun di antara semua hidangan itu, ada satu yang paling mencolok. Sebuah mangkuk besar berisi tulang dan daging empuk diletakkan tepat di depan kursi Andre. Porsinya lebih banyak, lebih istimewa, jelas diperuntukkan khusus untuknya.

Setelah semuanya selesai, Nenek Shinta menyeka tangannya dengan kain kecil. Ia tidak duduk untuk makan, melainkan langsung mengambil tasnya. Tanpa banyak bicara, ia keluar rumah dengan langkah cepat, seolah memiliki urusan penting yang tidak bisa ditunda.

Tak lama kemudian, Andre keluar dari kamar dengan langkah pelan. Ia duduk di kursinya, menatap meja makan yang sudah tertata rapi. Namun saat itulah, suara langkah kaki lain terdengar dari arah kamar.

Aminah muncul dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya. Pakaiannya sederhana, tetapi bersih dan rapi, rambutnya diikat dengan santai, dan wajahnya terlihat segar. Ia tidak lagi tampak seperti perempuan yang tertekan, melainkan seseorang yang siap menghadapi hari.

Perubahan itu tidak luput dari perhatian Andre. Ia menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu senyum tipis muncul di bibirnya. “Sarapan dulu,” katanya, nada suaranya dibuat seramah mungkin.

Aminah hanya melirik sekilas tanpa menjawab. Sikapnya tetap tenang, seolah ajakan itu tidak terlalu penting baginya. Hal itu justru membuat Andre semakin ingin mengontrol situasi.

“Rudi,” panggil Andre, suaranya sedikit lebih tegas. Anak laki-laki itu menoleh dari sudut ruangan, wajahnya tampak enggan. “Ambilkan alat makan untuk ibumu,” lanjutnya tanpa kompromi.

Rudi tidak bergerak, tubuhnya kaku menunjukkan penolakan yang jelas. Namun sebelum suasana menjadi semakin canggung, Aminah sudah melangkah maju. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung mengambil mangkuk besar berisi tulang dan daging dari depan Andre.

Gerakannya cepat dan tegas, seolah itu adalah haknya. Ia juga mengambil dua butir telur teh tanpa ragu. “Aku makan di kamar saja,” katanya ringan, tanpa menunggu persetujuan siapa pun.

Senyum Andre langsung membeku di tempat. Tangannya mengepal, tetapi ia menahan diri untuk tidak bereaksi. Namun Rudi tidak bisa menahan emosinya.

“Jangan!” teriaknya sambil berlari menghampiri. Ia menarik pakaian Aminah dengan keras, berusaha merebut kembali makanan itu. Namun Aminah hanya menoleh sekilas, lalu menepis tangannya dengan gerakan ringan.

Gerakan itu tidak keras, tetapi cukup membuat Rudi kehilangan keseimbangan. Tubuh kecil itu jatuh ke lantai dengan suara keras. Dalam sekejap, tangisnya pecah memenuhi ruangan.

“Ibuuu!” teriaknya sambil menangis. Ia menunjuk Aminah dengan tangan gemetar, wajahnya penuh kemarahan dan kesedihan. “Dia memukulku! Dia merebut makanan!”

Riki dan Dina yang melihat kejadian itu langsung terpengaruh. Mereka tidak mencoba memahami, melainkan ikut berteriak dengan emosi yang sama. “Kami tidak ingin ibu!” teriak Budi keras.

“Usir dia!” tambahnya tanpa ragu. Siti kecil juga ikut bersuara, meskipun wajahnya tampak lebih ragu dibanding yang lain. Suara mereka bertiga bercampur, menciptakan keributan yang menggema di dalam rumah.

Namun Aminah tidak berhenti atau menoleh lagi. Ia tetap berjalan menuju kamar dengan langkah tenang. Seolah semua teriakan itu tidak memiliki arti baginya.

Di ruang makan, Andre duduk dengan wajah muram. Ia tidak menghentikan anak-anaknya, tetapi juga tidak membela siapa pun. Suasana menjadi canggung dan berat, seolah semua orang menunggu sesuatu yang tidak akan datang.

Di tengah ketegangan itu, Dina kecil menunjukkan sikap yang berbeda. Ia berjalan ke meja, mengambil mangkuk dan sumpit baru, lalu meletakkannya di depan Andre. “Ayah makan,” katanya pelan, suaranya lembut dan lebih dewasa.

Andre menatap anak perempuannya itu tanpa berkata apa-apa. Untuk beberapa saat, ekspresinya sulit dibaca. Namun akhirnya, ia hanya menghela napas panjang dan menunduk.

Sementara itu, di dalam kamar, Aminah duduk santai di tepi ranjang. Ia mulai menikmati makanan yang tadi diambilnya, memakan setiap potong daging dengan tenang. Tidak ada rasa bersalah, hanya ketenangan dan kendali.

Ia menghabiskan semuanya sampai bersih, termasuk telur teh dan kuahnya. Tubuhnya terasa hangat dan bertenaga kembali. Setelah selesai, ia berdiri dan membawa mangkuk kosong ke dapur.

Setelah meletakkannya, ia kembali ke kamar dan mengunci pintu sebentar. Namun tak lama kemudian, ia keluar lagi dengan tujuan yang berbeda. Ia mengambil sepeda di halaman, lalu menaikinya tanpa ragu.

Angin pagi menyentuh wajahnya saat ia mulai mengayuh. Tujuannya jelas—rumah Pak Joko, ayahnya. Senyum tipis muncul di bibirnya, karena ia tahu hari ini akan menjadi lebih menarik.

Dan jika kesempatan itu datang—

Ia tidak akan ragu untuk menambah sedikit api dalam drama yang sedang berlangsung.

1
syska
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ sᴇʀɪᴜs... ᴋᴇʀᴇɴ ᴋᴇʀᴇɴ ᴋᴇʀᴇɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ...
ᴛᴏᴘ ᴍᴀʀᴋᴏᴛᴏᴘ...👍👍
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ ᴋɪsᴀʜ ɴʏᴀᴛᴀ sᴇᴘᴇʀᴛɪɴʏᴀ...
syska
😭😭😭
syska
ᴀᴋʜɪʀɴʏᴀ.... ɢᴏᴏᴅ ᴊᴏʙ ᴀᴍɪɴᴀʜ...👍👍
WHATEA SALA
Beli rumah pake ngomong sih...
Fitrian
yang ini dina yang ono siti🤔🤔🤔
Fitrian
loh 3 anak🤔
katana dina dan siti itukan 2 orang anak perempuan jadi 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan empat orang anak kan 🤔🤔
Rangiku Gin
kerenn 🔥🤭
Rangiku Gin
🔥😈
Rangiku Gin
mantapp 🔥🥰
Rangiku Gin
astagaaa 🔥😈
Rangiku Gin
terharuuuu 😩😩
Rangiku Gin
😩😢
Rangiku Gin
omo 🔥😈
Rangiku Gin
🔥😈
Anifa
kenapa seperti di ulang2 ceritanya, bisa nggak sih bikin cerita 🙄
Anifa
aku skip skip ceritanya kek di ulang2 🙄
Yuyun Zampiet
mohon maaf thor, aku baca nya skip aja, karena sdh bbrp BAB kok ceritanya mutar2 naik turun seperti tidak nyambung, bingung aku 🙏
Yuyun Zampiet
knp gak langsung urus surat cerai aj
Yuyun Zampiet
murah sekali harga rumah, aku juga pengen dpt rumah murah🤣
Yuyun Zampiet
ya ampun, ajaran sesat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!