NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Seorang pria muda, yang menyukai wanita lebih tua darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Di lantai dua, Sasa duduk sendirian di meja makan. Saat melihat Arif melangkah mendekat, dia mengangkat tangan dan berbicara, "Sayang, sini," ucapnya cukup keras disertai senyuman lebar.

Arif melangkah mendekat dan duduk di kursi tepat di samping Sasa. "Bukannya mau ketemu sama seseorang, Sayang?" tanyanya.

"orangnya Lagi di jalan, Sayang."

"eumm gitu ya, Aku minta tolong sesuatu, boleh kan?"

"Mau minta tolong apa?"

"Nanti teman aku mau ke gedung PixelGroup. Kamu bisa bantu kan? Dia pengin melihat dari ketinggian."

Sasa menatap lekat. "Mau ngapain, Sayang? Dia mau bunuh diri?" tanyanya curiga.

"Bukan, Sayang. Dia mau ngevlog. Bisa kan bantu aku?"

"Oh, bisa, Sayang. emang Kapan?"

"Nanti malam. Tapi jangan bilang kalau kita pacaran, ya. Takutnya nanti malah jadi pertanyaan kalau aku pacaran sama yang kamu."

"Kenapa sih diprivasiin? Lagian bagus kalau teman kamu tahu juga, biar hubungan kita enggak rahasia."

"Sayang, aku enggak mau kalau sampai dikeluarkan dari sekolah," ucap Arif dengan tatapan sayu.

"Yaudah, enggak apa-apa. Aku bakal jaga hubungan kita." Sasa tersenyum menatap Arif yang wajahnya mulai berseri-seri.

"Makasih, Sayang," ucap Arif membalas senyuman itu. "aku ke toilet dulu, ya," ucapnya kembalo sambil berdiri.

"iya, Jangan lama-lama."

"Enggak lama, kok," jawab Arif lalu melangkah pergi menuju toilet.

Sasa tetap duduk sambil menatap kepergian Arif. Tak lama, dari arah tangga, terlihat seorang wanita cantik berkulit putih bersama seorang pria. Mereka adalah tamu yang ditunggu Sasa.

Kedua orang itu melangkah mendekat dengan wajah berseri-seri, tatapan mereka tertuju pada Sasa. Di depan meja, wanita muda itu menyapa, "Halo, Mbak Sasa. Kok sendirian saja sih?" tanyanya sambil menghentikan langkah.

"Eh, Mbak Nesa. Sama siapa nih?" tanya Sasa melirik pria di sampingnya.

"Kenalin, calon suami aku," ucap Nesa sesekali menatap pria tersebut.

Pria itu mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Salam kenal, Tante. Saya Yuda," ucapnya lembut.

"Sasa," ucapnya singkat lalu melepaskan jabat tangan itu. "Mari Mbak Nesa, silakan duduk."

Setelah mereka berdua duduk, Nesa kembali bertanya, "Kenapa Mbak Sasa enggak sama pasangannya?" tanha

"Barusan lagi ke toilet. Oh iya, Mbak Nesa sama Mas Yuda mau pesan makan dulu?"

"Enggak, Mbak. Soalnya aku enggak bisa lama-lama. Kita langsung ke intinya saja. Gimana, Mbak Sasa, apa tertarik dengan tanah yang mau saya jual?" tanya Nesa

"Saya tertarik sama tanahnya. Lokasinya strategis. Tapi untuk harga, apa bisa kurang dari 250 juta?" ucap Sasa dengan tenang.

"Saya sih penginnya 250 juta. Oh iya ini, Mbak, surat tanahnya. Dilihat-lihat dulu saja." Nesa membuka tas dan mengeluarkan dokumen tersebut.

Sasa menarik surat tanah yang diletakkan di atas meja, membuka, lalu memeriksa luas serta nama pemiliknya.

"Sebelumnya sih ada yang nawar 300, tapi saya tolak karena waktu itu lagi enggak butuh uang. Tapi kalau sama Mbak Sasa, saya lepas 240 deh," ucap Nesa dengan wajah tersenyum.

"Baik, uangnya mau ditransfer atau tunai?" tanya Sasa setelah mendapat potongan harga 10 juta.

"Saya minta tunai saja, Mbak. Lagian saya lagi butuh uang sekarang," ucap Nesa.

Sasa mengambil tas kotak dari bawah meja. Dia meletakkannya di atas meja lalu membukanya. Di dalam tas terlihat tumpukan uang dengan jumlah 245 juta. Sasa mengambil lima gepok agar jumlahnya menjadi 240 juta, lalu menggeser tas itu. "Silakan dihitung dulu, takutnya kurang," ucapnya.

"Saya percaya sama Mbak kalau uangnya pas. Kalau gitu saya tanda tangan dulu, ya. di surat pernyataan ini."

Sasa menggeser surat dan pena ke hadapan Nesa. Dokumen itu sudah tertulis dan ditandatangani oleh Sasa, kini giliran Nesa yang membubuhkan tanda tangannya.

Setelah selesai, Sasa menarik kembali surat itu lalu mereka bersalaman. "Terima kasih banyak, Mbak. Kalau begitu saya langsung pamit," ucap Nesa sambil melepas jabatan tangannya.

"Iya," jawab Sasa sambil menganggukkan kepala.

Nesa dan calon suaminya berdiri lalu pergi membawa tas berisi uang.

Sementara itu, di dalam toilet, Arif berdiri menatap cermin sambil menempelkan telepon di telinganya.

"Jadi lo tunggu di depan gedung. Nanti kita ketemu. Gue udah minta izin sama pemiliknya. Lagian pemilik gedungnya teman papa aku," ucap Arif dengan wajah tersenyum.

"Oke, Rif. Nanti gue jam tujuh ke sana. Jangan lupa kabari gue, gue mau siapin dulu barang-barang," suara Haikal terdengar dari seberang telepon.

"Siap," jawab Arif. Dia menjauhkan ponsel dari telinga, menatap layar sebentar, lalu mengakhiri panggilan.

Dia memasukkan telepon ke saku, sesaat terdiam menatap cermin, lalu menyalakan keran air untuk mencuci tangan dan membasuh muka. Setelah mengeringkan wajah dengan tisu, dia terlihat lebih segar. Arif kemudian melangkah keluar untuk kembali menemui Sasa.

Di meja makan, Sasa menatap surat di depannya sambil tersenyum. Dia berencana membangun PixelResto di lokasi baru itu.

Arif duduk di kursinya. Sasa mengalihkan perhatian padanya. "Sayang, kamu mau makan dulu enggak?" tanya Sasa.

"Enggak deh, Sayang. Kamu pegang surat apa itu?" tanya Arif menatap dokumen di tangan Sasa.

"Ini sertifikat tanah. Rencananya buat bangun restoran," jawab Sasa dengan senyuman.

"Eum, memang lokasinya di mana?"

"Di Jalan Sekarwangi, di depan taman. Lokasinya strategis banget. Kamu mau ikut bantu mengembangkan restoran baru aku enggak?"

"Boleh."

"Hitung-hitung kamu belajar juga. Kalau begitu kita ke apartemenku, ya. Lagian udah sore, nanti keburu malam."

"Iya, ayo Sayang," jawab Arif tersenyum.

Mereka berdua berdiri dari meja makan lalu melangkah menuju tangga untuk turun ke lantai bawah. Sampai di lantai bawah, mereka langsung menuju pintu keluar. Namun, di depan restoran, langkah Sasa terhenti.

"Kenapa, Sayang?" tanya Arif heran.

"Aku mau chat Mila dulu," jawab Sasa sambil mengambil ponsel.

"Siapa Mila?" tanya Arif penasaran karena merasa orang di sekitar Sasa kebanyakan adalah wanita.

"Sopir. Dia yang bawa mobil aku tadi. Takutnya dia jalan-jalan dulu." Sasa mengetik di ponselnya, mencari nomor Mila.

Setelah menemukan nomornya, Sasa langsung menelepon. Saat tersambung, dia menempelkan telepon ke telinga. "Halo," ucap Sasa terhenti karena Mila langsung berbicara,

"Mbak, saya di parkiran." suara Mila terdengar jelas. Sasa mengalihkan pandangan ke area parkir dan melihat mobil dengan pelat nomor miliknya.

"Iya," jawab Sasa singkat lalu mematikan panggilan dan mengantongi ponselnya kembali.

Sasa menarik tangan Arif menuju mobil. Mereka berlalu masuk dan duduk di kursi belakang.

"Mila, antarin saya ke apartemen ya," Ucap Sasa menatap ke depan,

"Baik, Mbak," jawab Mila. Dia menyalakan mesin, memundurkan mobil perlahan, lalu melaju keluar dari area parkir.

Dari kursi belakang, Arif mengeluarkan teleponya, Sasa yang memperhatikan langsung bertanya, "Sayang, lagi apa?" tanyanya

Arif mengalihakan tatapanya ke Sasa, "Aku mau chat teman, takutnya dia udah nungguin," ucapnya kembali fokus ke layar ponsel.

"Yaudah." Sasa tersenyum lalu mengalihkan pandangan ke arah jalanan di depan.

Mila yang fokus mengemudi merasa penasaran dan memberanikan diri bertanya, "Mbak Sasa, sekarang, udah punya pacaran, ya?" ucapnya dengan wajah berseri-seri.

Sasa melirik ke arah Arif. Dia bingung harus menjawab apa, sementara Arif tampak sangat fokus pada ponselnya sampai tidak menyadari pertanyaan Mila.

Mila kembali berbicara, "Apa jangan-jangan Mbak Sasa sudah tunangan?" ucapnya di sertai senyumanan.

"Semoga secepatnya," jawab Sasa singkat sambil tersenyum.

1
Haikal Nto
suka,,,jadi penisirin
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!