Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEO Nyasar di Pasar Senen: Misi Menjadi Nana yang Chill dan Santuy
"Justru itu, Bu! Di sanalah Ibu bisa menemukan pakaian yang unik, tidak terlalu mahal, dan yang paling penting, tidak membuat Ibu terlihat seperti CEO jutawan," Dimas bersikeras. "Riton, kan, kenal Ibu yang bergelimang kemewahan. Kita harus menunjukkan sisi 'Nana' yang mandiri, kreatif, dan tidak terlalu peduli dengan brand."
Ekantika terdiam sejenak. Dimas ada benarnya. Ini adalah bagian dari peran. Jika ia ingin Riton percaya pada "Nana," ia harus merangkul gaya hidup "Nana" seutuhnya. Meski itu berarti mengorbankan egonya sebagai Ekantika Asna, CEO Garuda.
"Baik," katanya, dengan nada pasrah. "Kapan kita pergi?"
"Sekarang, Bu," jawab Dimas, matanya berbinar. "Saya akan siapkan mobil yang tidak terlalu mencolok."
*
Malam itu, Ekantika menemukan dirinya berada di sebuah gang sempit di daerah Blok M, jauh dari kemewahan pusat perbelanjaan favoritnya. Udara pengap dan berbau aneh, perpaduan antara asap rokok, parfum murah, dan kelembapan kain-kain tua. Lampu neon remang-remang menerangi deretan toko yang menjual pakaian bekas, dari jaket denim pudar hingga gaun-gaun vintage yang entah sudah dipakai berapa kali.
Ini neraka, pikir Ekantika, hidungnya mengerut. Ia mengenakan masker dan topi baseball yang Dimas pinjamkan dari supirnya, berusaha menyembunyikan wajahnya. Siapa tahu ada paparazzi atau karyawan yang mengenalinya.
"Ini dia, Bu! 'Senja Raya Thrift Shop'," Dimas menunjuk sebuah toko kecil dengan tulisan tangan yang nyaris tak terbaca. "Konon di sini banyak barang bagus, Bu. Harus punya mata jeli."
Ekantika melangkah masuk, menginjak karpet lusuh yang terasa lengket di bawah sepatunya. Dinding toko dipenuhi gantungan pakaian yang berjejal, warnanya campur aduk tak beraturan. Bau apek semakin menusuk indra penciumannya. Ia merasa out of place, bagaikan berlian yang jatuh ke tumpukan sampah.
"Cari oversized t-shirt, Bu. Atau hoodie polos. Celana jeans yang tidak terlalu ketat," Dimas memberinya instruksi. "Warna-warna netral atau sedikit earth tone."
Ekantika dengan canggung mulai menyentuh kain-kain yang tergantung di sana. Ada kemeja flanel bekas, celana kargo yang robek di sana-sini, dan kaos band yang sudah pudar. Aku bahkan tidak tahu band-band ini, pikirnya miris. Di usianya yang 35 tahun, mengenakan pakaian seperti ini terasa konyol.
"Bu, itu lihat! Jaket denim vintage itu cocok, Bu!" Dimas menunjuk sebuah jaket yang tergantung di sudut.
Ekantika mengambilnya. Kain denimnya tebal, sedikit usang di bagian siku, tapi potongannya lumayan bagus. Tidak terlalu buruk, untuk barang bekas, pikirnya. Ia memegang jaket itu, membayangkan dirinya memakainya. Ia terlihat... berbeda. Lebih muda, lebih santai. Tapi juga terasa seperti seseorang yang bukan dirinya.
"Ini berapa, Dimas?" tanyanya, melirik Dimas.
"Harganya tertera, Bu. Lima puluh ribu," Dimas menunjuk tag kecil yang tergantung di jaket.
Ekantika hampir tersedak. Lima puluh ribu? Tas tangan termurah di lemarinya saja harganya puluhan juta. Ini harga yang bahkan tidak bisa ia bayangkan untuk sehelai pakaian. Perasaan aneh muncul di benaknya. Antara jijik dan... kagum. Betapa mudahnya hidup Nana dengan anggaran segini.
Mereka menghabiskan hampir dua jam di toko itu. Ekantika mencoba berbagai outfit, dari celana jeans yang ukurannya terlalu besar hingga sweater rajut yang terasa gatal. Setiap kali ia melihat pantulannya di cermin toko yang kusam, ia melihat sosok asing. Sosok yang lebih muda, lebih riang, tapi juga... hampa.
"Ini, Bu," Dimas menyerahkan sebuah blouse katun longgar berwarna krem dan celana culottes hijau army. "Ini terlihat bagus di Ibu. Tidak terlalu 'muda', tapi juga tidak terlalu 'tua'. Effortless casual."
Ekantika memandangi pakaian itu. Effortless casual. Slogan itu terasa ironis, karena untuk mencapai effortless casual ini, ia harus berusaha keras. "Baiklah. Ini saja. Dan satu pasang sneakers putih. Yang termurah."
Setelah membayar tumpukan pakaian yang totalnya tidak sampai dua ratus ribu rupiah, mereka kembali ke mobil. Ekantika merasa campur aduk. Ada rasa lega karena tugasnya selesai, tapi juga rasa hampa yang membayangi.
"Sekarang, Bu, latihan bahasa gaul!" Dimas berkata ceria, menyalakan mesin mobil. "Riton itu anak Gen Z, Bu. Dia pasti pakai slang."
Ekantika mendengus. "Aku ini CEO, Dimas. Aku berbicara dengan investor dan dewan direksi, bukan selebgram."
"Tapi Nana, 'kan, freelance designer yang gaul, Bu. Jadi harus bisa. Coba: 'Ton, chill aja kali. Santuy.' Gimana?"
Ekantika mencoba meniru, tapi suaranya kaku. "Ton, chill aja kali. Santuy."
Dimas menggeleng. "Terlalu formal, Bu. Coba lebih luwes. Lebih... mager."
"Mager? Apa itu?"
"Malas gerak, Bu," Dimas menjelaskan, tertawa. "Nana pasti sering pakai. Terus, ada 'gabut', 'cie', 'mantul'."
Sisa perjalanan pulang diisi dengan les bahasa gaul dadakan. Ekantika merasa otaknya berasap. Kata-kata aneh itu terasa asing di lidahnya. Mengapa aku melakukan ini? Semua ini demi apa? Hatinya menjawab: Demi Riton. Demi kesempatan untuk dicintai tanpa label.
*
Keesokan harinya, Ekantika menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin apartemennya. Blouse katun krem itu terasa longgar, celana culottes menggantung santai di pinggulnya. Ia memakai sneakers putih yang baru ia beli, yang terasa aneh di kakinya yang biasa memakai heels. Riasannya minim: BB cream, sedikit blush on, dan lipstik warna nude. Rambutnya ia biarkan tergerai, sedikit bergelombang alami.
Ini bukan aku, pikirnya, menatap pantulan dirinya. Tapi, ia harus menjadi Nana. Nana yang berusia 26 tahun.
"Nana," ia mencoba memanggil dirinya sendiri. Suara itu terasa asing di telinganya.
Ia melirik jam. Sudah waktunya. Dengan napas berat, ia meraih tas kecilnya yang berisi ponsel dan kunci. Ia meninggalkan apartemennya yang megah, menuju mobil Dimas yang sudah menunggu di bawah.
Perjalanan ke Tebet terasa seperti memasuki dimensi yang berbeda. Jalanan sempit, kafe-kafe kecil dengan desain unik, mural di dinding, dan keramaian anak muda yang memenuhi trotoar. Aroma kopi dan rokok berpadu di udara. Ini adalah dunia yang sangat jauh dari kantornya yang steril dan megah.
Dimas mengantarnya sampai di depan sebuah kedai kopi kecil bernama "Kopi Senja." Jantung Ekantika berdebar kencang. Ini dia. Momen yang ia tunggu-tunggu dan takutkan.
"Semangat, Bu! Ingat, chill aja!" Dimas berbisik, memberinya semangat.
Ekantika mengangguk, lalu turun dari mobil. Ia berdiri sejenak di depan kafe, menarik napas dalam-dalam. Lalu, ia melangkah masuk.
Suasana di dalam kafe hangat dan ramai. Musik indie mengalun pelan. Matanya langsung tertuju pada seorang pria yang duduk membelakangi pintu, di sebuah meja pojok dekat jendela. Punggungnya tegap, bahunya lebar. Rambutnya hitam, sedikit berantakan. Riton.
Riton.
Sebuah gelombang emosi menghantam Ekantika. Gugup, takut, tapi juga... bahagia. Ia merasakan sensasi ringan di dadanya yang sudah lama tidak ia rasakan. Jauh dari tekanan direksi, rapat, dan angka-angka. Hanya ada dia, Nana, dan Riton.
Ia melangkah perlahan mendekati meja Riton, kakinya terasa berat sekaligus ringan. Otaknya sibuk mengingatkan, Jangan bicara seperti CEO. Jangan tunjukkan kalau kamu Ekantika Asna.
Hampir saja ia tergelincir, bibirnya sudah siap melontarkan, "Riton, kenapa kamu tidak menghubungiku—" sebelum ia sadar itu adalah nada seorang atasan yang khawatir. Ia tersentak. Bukan. Aku Nana.