Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Mahar di Balik Notulensi
Lantai empat puluh gedung Wiratmadja Tech selalu memiliki cara unik untuk mengingatkanku betapa sepinya puncak dunia. Sore ini, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langitnya berwarna abu-abu pekat, menyerupai noda tinta yang tumpah di atas kanvas kusam. Rintik hujan mulai menghantam kaca jendela kantorku yang membentang luas, menciptakan simfoni monoton yang seolah mengejek kekosongan di hatiku.
Aku menyesap espresso dingin yang sudah kehilangan aromanya sejak satu jam lalu. Pahit. Persis seperti rasa di pangkal tenggorokanku setiap kali aku melihat pigura foto di sudut meja. Di sana, Adrian tersenyum lebar. Foto itu diambil tiga tahun lalu, tepat sebelum kecelakaan merenggut nyawanya dan memaksaku menanggalkan gaun desainer hanya untuk mengenakan zirah kaku seorang CEO.
"Bu Aruna?"
Suara lembut Sarah, sekretaris setiaku, memecah lamunanku. Aku tidak berbalik. Aku masih menatap pantulan diriku di kaca jendela. Seorang wanita berusia tiga puluh dua tahun, dengan riasan bold yang sempurna, rambut yang tertata tanpa cela, namun memiliki mata yang kelelahan.
"Masuk, Sarah. Apa mereka sudah mengirimkannya?" tanyaku datar.
Sarah melangkah ragu. Bunyi sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuranku. Ia meletakkan sebuah map kulit berwarna biru tua di atas meja jati besarku.
"Dewan Direksi baru saja mengesahkannya dalam rapat pleno satu jam lalu, Bu. Pak Lukman sendiri yang memastikan dokumen ini sampai ke tangan Anda hari ini juga."
Aku memutar kursiku perlahan. Map itu tampak seperti bom waktu. Dengan jemari yang sedikit gemetar—yang segera kusembunyikan di bawah meja—aku membukanya.
KLAUSUL MORAL DAN STABILITAS KEPEMIMPINAN.
Mataku menyapu barisan kalimat hukum yang dingin dan tak berperasaan itu. Intinya hanya satu: Dewan Direksi memberikan mosi tidak percaya padaku karena statusku yang masih menjanda tanpa ahli waris. Mereka menggunakan pasal kuno dalam anggaran dasar perusahaan yang menyatakan bahwa CEO Wiratmadja Tech haruslah sosok yang memiliki "stabilitas domestik" untuk menjamin kepercayaan investor jangka panjang.
"Tiga puluh hari," bisikku, suaraku nyaris hilang ditelan gemuruh petir di luar. "Mereka memberiku waktu tiga puluh hari untuk menikah, atau jabatan ini akan diserahkan kepada Lukman."
"Ini tidak adil, Bu," suara Sarah bergetar karena marah. "Anda yang menyelamatkan perusahaan ini saat Pak Adrian tiada. Anda yang begadang di laboratorium saat sistem keamanan kita nyaris jebol tahun lalu. Kenapa status pernikahan menjadi ukuran profesionalisme?"
Aku menutup map itu dengan dentum pelan. "Karena di dunia ini, Sarah, seorang janda kaya dianggap sebagai mangsa atau masalah. Lukman tidak butuh alasan logis, dia hanya butuh celah. Dan statusku adalah celah terbesarnya."
Aku berdiri, berjalan menuju jendela. Lukman Wiratmadja. Paman suamiku itu adalah serigala yang telah lama menunggu di balik bayang-bayang. Baginya, perusahaan ini adalah harta karun yang salah alamat. Bagiku, ini adalah satu-satunya napas terakhir Adrian yang masih tersisa di dunia ini. Aku tidak akan membiarkan tangan kotornya menyentuh apa yang sudah kami bangun dengan keringat dan air mata.
Tiba-tiba, keheningan ruangan itu terganggu oleh bunyi beep yang tajam dari komputer pribadiku. Aku mengerutkan kening. Komputer ini memiliki protokol keamanan militer. Hanya segelintir orang di dunia ini yang bisa mengirim pesan langsung tanpa melalui filter sekretaris.
Aku melangkah ke meja dan melihat layar monitorku berkedip. Sebuah jendela pop-up hitam muncul, menutupi laporan saham yang sedang terbuka.
Anonymous_User:
Uang lembur Divisi Back-end bulan Maret belum cair. Apakah sistem penggajian Anda sedang 'berkabung' atau Anda memang lebih suka melihat kami kelaparan, Bu CEO?
Darahku mendesir. Bukan karena tersinggung, tapi karena keberaniannya. Siapa pun ini, dia baru saja menembus firewall yang harganya jutaan dolar hanya untuk memprotes uang lembur??
"Sarah," panggilku, mataku tidak lepas dari layar. "Siapa yang bertanggung jawab atas sistem payroll di divisi pengembangan bawah?"
Sarah tampak bingung. "Sesuai struktur, harusnya Manajer Operasional IT, Bu. Kenapa?"
"Panggilkan aku data karyawan dari Divisi Back-end. Cari siapa yang memiliki kemampuan enkripsi tingkat tinggi tapi posisi jabatannya paling rendah."
Hanya butuh sepuluh menit bagi Sarah untuk kembali dengan tablet di tangan. "Hanya ada satu nama yang mencolok, Bu. Namanya Bumi Arkan. Dia baru bergabung enam bulan lalu sebagai Junior Programmer. Rekam jejaknya aneh... dia lulusan pesantren, tapi punya sertifikasi keamanan siber tingkat dunia. Dia jarang bersosialisasi dan selalu pulang tepat waktu setelah salat Magrib."
"Bumi Arkan," aku mengeja nama itu. Ada sesuatu yang menarik dari deskripsi itu. "Kenapa dia menembus sistemku?"
"Dari data HRD yang saya akses diam-diam, adiknya baru saja masuk rumah sakit karena gagal ginjal kronis. Sepertinya dia sedang sangat terdesak secara finansial, dan uang lembur itu adalah satu-satunya harapannya."
Aku terdiam. Sebuah rencana gila, nekat, dan mungkin tidak masuk akal mulai berputar di kepalaku. Jika aku mencari suami dari kalangan pengusaha, Lukman akan dengan mudah menyuapnya. Jika aku mencari dari kalangan selebritas, reputasiku akan hancur.
Aku butuh seseorang yang tidak memiliki kepentingan politik. Seseorang yang cerdas, memiliki prinsip, dan yang paling penting... seseorang yang bisa kukendalikan dengan kebutuhan yang sama besarnya dengan kebutuhanku.
"Sarah, suruh Bumi Arkan ke sini sekarang juga. Katakan padanya, jika dia tidak datang dalam lima menit, aku akan melaporkannya ke polisi atas tuduhan peretasan data perusahaan."
Lima menit kemudian, pintu jati ruanganku terbuka.
Pria yang masuk itu tidak tampak seperti seorang peretas ulung yang baru saja membuat jantungku berdegup kencang karena marah. Dia mengenakan hoodie abu-abu yang warnanya sudah memudar dan celana bahan yang tampak sedikit kebesaran. Rambutnya hitam pendek, tersisir rapi meski sedikit basah karena hujan.
Namun, yang paling menangkap perhatianku adalah matanya. Dia tidak menatapku dengan tatapan memuja seperti kebanyakan pria di gedung ini, tidak juga dengan ketakutan. Dia menunduk pelan, seolah-olah lantai marmerku jauh lebih menarik daripada wanita di depannya.
"Duduk, Bumi," perintahku.
Dia duduk di kursi di depanku dengan kaku. Aroma sabun mandi murah dan hujan menguar dari tubuhnya, bertabrakan dengan aroma parfum sandalwood mahalku. Suasananya sangat kontras.
"Anda memanggil saya untuk menyerahkan saya ke polisi?" suaranya rendah, bariton yang tenang namun tegas. Dia akhirnya mengangkat wajahnya, tapi matanya tetap terjaga, tidak menatap langsung ke mataku. Sangat sopan, khas seseorang yang menjaga pandangan.
"Tergantung," jawabku sambil menyandarkan punggung. "Tergantung seberapa masuk akal penjelasanmu tentang peretasan sistem CEO."
Bumi menghela napas panjang. Jemarinya yang panjang meremas ujung hoodie-nya. "Saya tidak bermaksud merusak apa pun. Saya hanya ingin Anda tahu bahwa di bawah sana, orang-orang bekerja hingga pagi bukan untuk memperkaya diri, tapi untuk bertahan hidup. Menahan hak orang lain adalah dosa besar dalam agama saya, Bu."
Aku tersenyum tipis. "Agama? Jadi kau peretas yang religius?"
"Saya hanya manusia yang sedang berusaha jujur, meski caranya mungkin salah," balasnya telak.
Aku memajukan tubuhku, menumpukan kedua sikut di atas meja. "Berapa biaya pengobatan adikmu?"
Pertanyaan itu membuatnya tertegun. Ketahanannya sedikit retak. "Dua ratus juta untuk operasi pertama. Sisanya... saya belum tahu."
"Aku akan memberikanmu dua miliar," kataku tenang.
Bumi mematung. Matanya kini benar-benar menatapku, penuh keraguan dan kecurigaan. "Dua miliar?! Sebagai apa?! Uang tutup mulut?!"
"Bukan itu.Tapi sebagai mahar."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Suara hujan di luar seolah-olah berhenti berbunyi. Aku bisa melihat jakun Bumi naik turun saat dia menelan ludah. Wajahnya yang semula tenang kini tampak pucat.
"Mahar?!" ulangnya dengan nada tidak percaya.
"Aku butuh suami dalam tiga puluh hari untuk mempertahankan perusahaan ini. Kau butuh uang untuk menyelamatkan nyawa adikmu. Kita punya masalah yang solusinya saling bersilangan," jelasku seprofesional mungkin, meski jantungku sendiri berpacu seperti pelari maraton.
Bumi terdiam lama. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, ada luka, tapi ada juga pertimbangan yang mendalam.
"Anda ingin saya menjadi suami kontrak?" tanyanya, suaranya kini terdengar lebih dingin.
"Anggap saja ini sebagai proyek satu tahun. Kau akan mendapatkan kompensasi bulanan, asuransi kesehatan terbaik untuk keluargamu, dan setelah satu tahun, kita bisa berpisah secara baik-baik dengan pesangon yang sangat cukup untuk masa depanmu."
Bumi tiba-tiba berdiri. Kursinya berderit tajam di atas lantai. "Maaf, Bu Aruna. Saya memang miskin, tapi saya tidak menjual pernikahan."
Aku terkejut. "Bumi, pikirkan adikmu—"
"Saya memikirkannya setiap detik!" potongnya, suaranya naik satu oktav. "Tapi dalam Islam, tidak ada nikah kontrak. Menikah adalah ibadah, sebuah janji suci di depan Allah. Jika saya menikahi Anda hanya demi uang, saya tidak hanya membohongi dunia, tapi saya sedang menantang Tuhan saya. Saya tidak bisa."
Dia berbalik, hendak melangkah pergi. Keangkuhanku sebagai CEO seketika runtuh. Aku menyadari bahwa aku baru saja melakukan kesalahan fatal dengan meremehkan prinsip seorang pria yang hidupnya didasari oleh iman, bukan sekadar angka di rekening.
"Tunggu!" aku berdiri, suaraku sedikit memohon. "Bumi, aku tidak memintamu melakukan sesuatu yang haram. Kita akan menikah secara sah. Di depan negara, di depan agama. Aku akan belajar menjadi istri yang baik—setidaknya di depan publik. Aku... aku hanya tidak punya pilihan lain."
Bumi berhenti di depan pintu. Punggungnya yang tegap tampak tegang. Dia berbalik perlahan, menatapku dengan mata yang kini dipenuhi rasa iba—sebuah tatapan yang paling tidak kusukai, tapi saat ini adalah yang paling jujur.
"Anda wanita yang sangat berkuasa, Bu Aruna. Kenapa Anda memilih saya? Seseorang yang bukan siapa-siapa??"
"Karena kau satu-satunya orang yang berani menegurku secara langsung tanpa takut kehilangan pekerjaan. Karena kau jujur. Dan karena... aku merasa kau tidak akan menusukku dari belakang saat aku sedang tidur," jawabku tulus. Untuk pertama kalinya, aku melepaskan topeng CEO-ku.
Bumi terdiam cukup lama. Dia seolah sedang berdebat dengan jiwanya sendiri. Keheningan itu terasa menyiksa hingga akhirnya dia melangkah kembali menuju mejaku.
"Jika saya setuju," ucapnya dengan suara parau, "pernikahan ini tidak boleh hanya di atas kertas. Saya tidak mau melakukan kemaksiatan yang dibungkus dengan status legal. Kita akan tinggal satu atap. Saya akan tetap bekerja, dan saya tidak akan menyentuh harta Anda selain untuk pengobatan adik saya."
Aku mengangguk cepat. "Tentu. Segala kebutuhan pribadimu akan kutanggung, tapi aku menghargai prinsipmu."
"Dan satu hal lagi," Bumi menatapku dengan intensitas yang membuat napas ku sesak. "Jangan pernah merendahkan agama saya. Saya akan menjadi suami Anda, dan itu berarti saya punya tanggung jawab untuk membimbing Anda, meski hanya selama kita bersama. Bisakah Anda menerimanya?"
Aku tertegun. Seorang junior programmer berusia dua puluh enam tahun baru saja memberiku syarat yang lebih berat daripada Dewan Direksi. Tapi, ada rasa aman yang aneh menjalar di hatiku saat menatap keteguhan matanya.
"Setuju," jawabku pendek.
Bumi menghela napas, seolah beban seluruh dunia baru saja jatuh ke pundaknya. "Kapan kita akan melakukannya?"
"Besok," kataku mantap. "Besok pagi kita ke rumah sakit untuk melunasi biaya adikmu, dan sorenya, antarkan aku menemui ibumu. Aku ingin meminta izinnya secara langsung."
Bumi hanya mengangguk pelan, lalu berbalik dan keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Aku kembali terduduk di kursiku. Tanganku dingin. Di luar, hujan mulai mereda, menyisakan aroma tanah yang basah. Aku baru saja membeli seorang suami. Atau mungkin, aku baru saja menyerahkan hidupku pada seorang pria yang belum kukenal sama sekali.
Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Lukman.
“Aruna, jangan lupa kirimkan undangan pernikahanmu minggu depan. Aku ingin tahu siapa pria malang yang berani masuk ke sarang singa sepertimu.”
Aku meremas ponsel itu. Lukman pikir dia sudah menang. Dia tidak tahu bahwa aku baru saja menemukan pelindung yang bahkan tidak memerlukan pedang untuk menjatuhkannya.
Namun, di sudut hatiku yang paling dalam, sebuah tanya muncul: Apakah Bumi Arkan adalah penyelamatku, atau justru dia adalah ujian terbesar yang dikirim Tuhan untuk meruntuhkan kesombonganku?
____________________________________________
Saat Aruna sedang membereskan tasnya untuk pulang, Sarah masuk dengan wajah pucat pasi. "Bu... ada masalah. Lukman baru saja mengirim orang ke divisi IT. Dia sedang mencari tahu siapa 'Bumi Arkan' dan mengapa dia berada di ruangan Anda selama satu jam."
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘