Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Aku kembali ke kubikelku dengan perasaan yang sulit didefinisikan. Seharusnya aku senang karena "Zirah Besi" yang kuinginkan akhirnya diakui oleh Danendra. Bukankah ini yang kuminta? Menjadi asing? Menjadi sekadar atasan dan bawahan?
Namun, ketenangan yang kuharapkan ternyata tidak pernah datang. Sebagai gantinya, Danendra benar-benar menepati kata-katanya. Ia menjelma menjadi sosok "Pak Danendra" yang jauh lebih mengerikan dari bayanganku.
Baru sepuluh menit aku duduk, sebuah notifikasi email masuk.
From: Danendra Aditama
Subject: Dokumentasi Teknis Tambahan
"Azzalia, saya butuh rekapitulasi data material selama tiga bulan terakhir, bandingkan dengan stok vendor di Kota K dan proyeksi penggunaan bulan depan. Kirimkan draf pertamanya sebelum jam istirahat."
Aku mengerutkan kening. Itu pekerjaan yang biasanya memakan waktu seharian. Baru saja jemariku menyentuh keyboard, Bagas datang menghampiri mejaku dengan tumpukan map tebal yang nyaris menutupi wajahnya.
"Zal, sori banget. Ini titipan dari Pak Danendra langsung," ucap Bagas dengan wajah segan. "Katanya ini berkas mentah operasional tahun lalu yang perlu diinput ulang ke sistem pusat. Beliau minta selesai sore ini."
Aku menatap tumpukan berkas itu dengan nanar. "Sore ini, Gas? Banyak banget ini."
Bagas hanya bisa meringis sambil menggaruk tengkuknya. "Gue juga nggak tahu, Zal. Pak Danendra lagi dalam mode killer. Tadi Pak Hanan saja kena tegur gara-gara typo sedikit di memo. Semangat ya, asisten teknis!"
Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Aku mulai bekerja, membenamkan diri dalam angka-angka yang seolah menari mengejekku. Aku tidak sempat lagi mengobrol dengan Nesha, bahkan untuk sekadar menyesap kopi yang sudah mendingin di sudut meja.
Pukul satu siang, saat semua orang mulai kembali dari kantin dengan wajah segar, Danendra melintas di depan kubikelku. Ia berjalan tegap, aroma wood-scent itu masih ada, namun kehadirannya kini terasa seperti es yang membekukan udara di sekitarku.
Ia berhenti sejenak di depan mejaku. Aku mendongak, bersiap mendengar protesnya.
"Mana laporan rekapitulasinya?" tanyanya datar, matanya tertuju pada layar monitorku tanpa melirik wajahku sedikit pun.
"Sedikit lagi, Pak. Sedang sinkronisasi data," jawabku sekaku mungkin.
"Lima menit lagi ke ruangan saya. Saya tidak suka asisten yang lamban bekerja hanya karena terlalu banyak melamun," ucapnya dingin, lalu melangkah pergi tanpa menunggu pembelaanku.
Nesha yang melihat kejadian itu dari mejanya langsung mengirim pesan singkat.
Nesha: "Zal, lo habis ngelakuin dosa apa sama si Bapak Pusat? Gila, dia kayak lagi ngebalas dendam lewat tumpukan kertas itu!"
Aku tidak membalas. Aku hanya bisa meremas pulpen di tanganku. Inilah Danendra saat dia benar-benar berhenti menjadi "rumah" bagiku. Dia tidak lagi memaksaku makan, dia tidak lagi menyelimutiku dengan jaket, dia bahkan tidak peduli jika aku melewatkan jam makan siang demi tumpukan laporannya.
Dia memberiku apa yang kupinta: Jarak. Dan anehnya, jarak yang diciptakannya sekarang justru membuat dadaku terasa jauh lebih sesak daripada saat dia memaksaku masuk ke mobilnya tempo hari.
Aku meraih sisa berkas dan berjalan menuju ruangannya. Aku harus kuat. Ini hanya urusan pekerjaan. Tapi saat aku memegang gagang pintu ruangannya, aku menyadari satu hal yang menyakitkan: ternyata, kedinginan Danendra jauh lebih menusuk daripada kedinginanku sendiri.
Aku menarik napas panjang, menenangkan gemuruh di dada yang entah kenapa terasa perih. Aku memejamkan mata sejenak, menetralkan semua emosi yang sempat mengabur, lalu memasang wajah sedatar mungkin. Zirah besi ini memang sempat hancur di Kota K kemarin, tapi hari ini, di depan pintu ruangannya, aku terpaksa memunguti serpihannya dan merekatkannya kembali dengan sisa kekuatan yang kupunya.
Biarkan saja dia dengan sikapnya ini, batinku menguatkan diri. Ini lebih baik. Ini yang aku inginkan, bukan? Tidak ada perhatian yang membingungkan, tidak ada tarikan paksa ke masa lalu. Hanya profesionalitas yang kaku.
Aku mengetuk pintu dua kali dan langsung masuk tanpa menunggu sahutan.
Danendra sedang duduk di balik meja besarnya, sibuk menanda-tangani beberapa berkas. Ia tidak mendongak sedikit pun saat aku berdiri di hadapannya. Kesunyian di ruangan ini terasa begitu tebal, hanya diiringi suara gesekan pulpen di atas kertas dan deru AC yang menusuk tulang.
"Ini draf rekapitulasi data material dan input operasional tahun lalu yang Anda minta, Pak," ucapku kaku, meletakkan tumpukan map itu di sisi meja yang kosong.
Danendra berhenti menulis, namun ia masih enggan menatapku. Ia menarik tumpukan berkas itu, membolak-baliknya dengan gerakan cepat namun teliti.
"Kamu yakin angka di poin logistik ini sudah sinkron dengan sistem pusat?" tanyanya tanpa ekspresi. Suaranya terdengar sangat asing, datar, dan begitu jauh.
"Sudah, Pak. Saya sudah cek tiga kali," jawabku mantap.
Ia akhirnya mendongak. Namun, sorot mata yang biasanya memancarkan kerinduan atau luka yang dalam, kini benar-benar kosong. Ia menatapku seolah aku hanyalah salah satu inventaris kantor yang sedang melaporkan tugas.
"Bagus. Kalau begitu, lanjut input data vendor yang ada di map biru itu. Saya butuh semuanya terintegrasi ke sistem sebelum jam kantor berakhir," ia menggeser sebuah map tebal lainnya ke arahku. "Jangan ada alasan kelelahan. Kamu yang bilang sendiri, di sini kita hanya bekerja."
Aku tertegun melihat tumpukan baru itu. Itu pekerjaan manusia normal untuk tiga hari, tapi dia menuntutnya selesai dalam hitungan jam.
"Baik, Pak. Saya permisi," sahutku singkat. Aku segera meraih map itu, berbalik, dan melangkah keluar secepat mungkin.
Begitu pintu tertutup di belakangku, aku bersandar sejenak di dinding koridor yang dingin. Tanganku gemetar meremas map tebal itu. Rasanya luar biasa melelahkan. Ternyata, menghadapi Danendra yang kejam sebagai atasan jauh lebih menguras energi daripada menghadapi Danendra yang memaksaku makan protein di kantin.
Aku kembali ke mejaku, mengabaikan tatapan iba dari Nesha dan Bagas. Aku kembali membenamkan diri dalam layar komputer, mencoba meyakinkan hatiku bahwa kedinginan Danendra adalah jawaban yang selama ini kucari. Namun, jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, ada sebuah suara kecil yang berbisik: Apakah ini benar-benar yang kamu inginkan, Azzalia?
Detik demi detik merayap lambat, namun ritme pekerjaanku justru dipaksa melesat liar. Jam di sudut layar komputer terus berganti angka, menit ke menit seolah mengejek jemariku yang mulai kaku karena terus mengetik dan membolak-balik kertas. Berkas laporan yang diserahkan Danendra benar-benar tak ada hentinya, seperti arus air bah yang siap menenggelamkanku kapan saja.
Aku harus mengerjakan data yang sama berulang kali, mencocokkan angka yang sebenarnya sudah sempurna, hanya karena dia menuntut presisi yang tidak masuk akal.
"Zal... ini lagi. Sori banget, gue cuma disuruh Pak Danendra," bisik Bagas dengan wajah yang semakin tidak enak hati. Ia meletakkan dua map merah tebal di atas tumpukan berkasku yang belum selesai.
Belum sempat aku menjawab, Mbak Selly menyusul di belakangnya. "Zal, yang ini juga ya. Data inventaris lima tahun terakhir. Pak Danendra minta diringkas jadi draf presentasi buat rapat besok pagi. Dia bilang kamu asisten teknisnya, jadi kamu yang paling paham."
Aku menatap tumpukan map itu dengan pandangan kosong. Mbak Selly dan Bagas selalu memberiku setumpuk map baru setiap kali mereka keluar dari ruangan Danendra. Ruangan di ujung lorong itu kini terasa seperti pabrik yang memproduksi beban tanpa henti, dan Danendra adalah mesin penggeraknya yang paling kejam.
"Ini gila, Zal," Nesha kembali memutar kursinya, suaranya pelan penuh amarah yang tertahan. "Lo itu manusia, bukan robot. Kenapa lo nggak protes? Itu kerjaan satu departemen ditumpuk ke lo semua! Si Bapak Pusat itu bener-bener mau 'ngebunuh' lo ya?"
Aku hanya menggeleng lemah, mataku tetap terpaku pada monitor yang mulai terlihat berbayang karena kelelahan. "Nggak apa-apa, Nesh. Kan gue yang minta profesional."
"Profesional nggak kayak gini, Azzalia! Ini mah penyiksaan!" desis Nesha frustrasi.
Aku tidak menyahut lagi. Punggungku terasa sangat pegal, dan mataku mulai terasa panas. Aku tahu apa yang sedang Danendra lakukan. Dia sedang mengujiku. Dia sedang memberikan apa yang kuminta—sebuah jarak yang sangat jauh dan dingin—namun ia membungkusnya dengan beban kerja yang membuatku tidak punya waktu bahkan untuk sekadar menarik napas panjang.
Dulu, dia mengejarku dengan kehangatan yang membuatku sesak. Kini, dia menghimpitku dengan kesibukan yang membuatku mati rasa.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang. Aku tidak boleh menyerah. Jika dia ingin melihat seberapa kuat zirah besiku menahan gempurannya, maka aku akan menunjukkannya. Aku akan menyelesaikan semuanya, meski harus sampai pagi sekalipun. Karena bagiku, lebih baik hancur karena kelelahan bekerja daripada hancur karena harus kembali menghadapi perasaan yang seharusnya sudah mati.
Tepat pukul lima sore, saat staf lain mulai bersiap untuk pulang, sebuah memo internal muncul kembali di layar komputerku.
From: Danendra Aditama
"Semua berkas yang saya berikan sore ini harus sudah ada di meja saya dalam bentuk hardcopy sebelum kamu meninggalkan kantor. Saya tunggu."
Tanganku meremas pinggiran meja. Dia benar-benar tidak berniat membiarkanku pulang dengan tenang.
Oke, baik Danendra," desisku pelan di depan layar monitor yang cahayanya mulai terasa menyakitkan bagi mataku. "Kalau ini cara kamu buat bikin aku menyerah, kamu salah orang."
Aku akan mengerjakan semua ini. Aku akan menyelesaikannya malam ini juga. Sebelum jarum jam menyentuh angka sembilan, semua tumpukan kertas ini akan mendarat di mejanya dalam kondisi sempurna. Aku tidak akan membiarkan dia punya satu pun celah untuk mengasihani—atau lebih buruk lagi—meremehkanku.
Aku berdiri sebentar, merasakan sendi-sendiku yang berderit kaku. Dengan gerakan cepat, aku mengikat rambutku asal ke atas agar tidak mengganggu pandangan. Aku menggulung lengan kemeja kerjaku hingga siku dengan sentakan kasar, seolah sedang bersiap untuk maju ke medan perang.
Sebelum benar-benar berperang dengan ribuan sel data lagi, aku melangkah ke arah pantry. Kantor sudah mulai sepi, hanya menyisakan aroma kopi yang menguar dan suara langkah kakiku yang menggema di lantai marmer yang dingin. Aku menyeduh kopi hitam kental tanpa gula. Pahit. Persis seperti suasana hatiku saat ini. Aku butuh kafein dosis tinggi untuk memaksa otakku tetap sadar dan mengabaikan rasa nyeri yang mulai menjalar dari tengkuk hingga ke punggung bawah.
Kembali ke meja kubikel, aku menaruh cangkir kopi itu di samping laptop. Aku menarik napas panjang, menyesap sedikit cairan hitam yang panas itu, lalu kembali memfokuskan pandangan. Jemariku mulai menari lagi di atas keyboard dengan kecepatan yang meningkat.
Data material, integrasi sistem, draf presentasi—semuanya aku lahap satu per satu. Fokusku menjadi sangat tajam, menutup diri dari dunia luar. Aku tidak lagi mendengar bunyi telepon kantor yang sesekali berdering di kejauhan, atau suara petugas kebersihan yang mulai mengosongkan tempat sampah di ujung lorong. Bagiku saat ini, hanya ada aku, angka-angka ini, dan ambisi untuk tidak kalah di tangan Danendra.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Nesha sempat mampir ke mejaku sebelum benar-benar pulang.
"Zal, lo gila ya? Ini udah jam tujuh. Gue temenin ya?" tanyanya cemas melihat penampilanku yang sudah sangat berantakan dengan rambut mencuat di sana-sini.
"Nggak usah, Nesh. Lo balik aja. Gue udah hampir selesai," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Tapi, Zal..."
"Gue oke, Nesh. Pulanglah."
Begitu Nesha pergi, sunyi kembali menguasai. Cahaya di ruangan staf dipadamkan sebagian, menyisakan lampu di atas mejaku dan satu lampu terang dari ruangan di ujung lorong sana. Ruangan Danendra. Aku tahu dia masih di sana. Mungkin sedang menatap ke luar jendela, atau mungkin sedang tersenyum puas membayangkan aku yang sedang menderita di balik kubikel ini.
Sembilan malam, Danendra, batinku sambil menekan tombol print untuk berkas kesepuluh. Tunggu saja.