Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.
Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Berbeda
Matahari perlahan naik di ufuk timur, menerobos kabut tipis yang masih menyelimuti ibu kota Cirland. Sinar keemasannya merayap malas di atas atap-atap rumah yang masih basah oleh embun, menyapa dedaunan yang bergoyang pelan, dan membangunkan dunia dari tidur malam yang panjang.
Ayam jantan mulai berkokok dengan suara serak namun bersemangat, suaranya bergantian dari satu kandang ke kandang lain. Kicauan burung pipit dan gereja terdengar dari pohon-pohon di sekitar halaman, dan sinar matahari mulai menyelip masuk dengan melalui celah-celah tirai kamar keluarga kecil di tepi hutan itu, menciptakan garis-garis emas di lantai kayu.
Kelopak mata Hanz perlahan terangkat, berat oleh sisa-sisa tidur yang masih melekat.
Ia menatap langit-langit kayu yang gelap dalam setengah kesadaran, pikirannya melayang di antara mimpi dan kenyataan, di antara dunia yang ia tinggalkan semalam dan dunia yang harus ia hadapi hari ini. Lalu, ia segera menoleh ke sampingnya.
Di sana, Vesna sedang menatapnya dengan mata yang sudah terbuka sejak lama.
Wajahnya yang cantik diterpa oleh cahaya pagi yang lembut dan keemasan, menyinari kulitnya yang putih bersih. Ia menopang tubuhnya dengan sikunya, rambut hitam panjangnya yang hitam pekat tergerai di atas bantal jerami yang kusut, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya. Senyuman lembut menghiasi bibirnya.
"Pagi, sayang," sapa Vesna, suaranya masih serak dan berat oleh tidur.
Hanz membalas senyumannya dengan senyum. "Hmm... Pagi, Vesna." Ia mengamati wajah istrinya dengan saksama. "Kau terlihat sangat cantik pagi ini. Seperti pertama kali aku melihatmu."
Vesna tertawa pelan. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya dan mencium Hanz sejenak. "Dan kau juga sangat tampan, suamiku. Meski kumismu sudah mulai panjang."
Hanz tersenyum lebar, meski matanya tertutup lagi, menikmati kehangatan momen itu. Ia kemudian meraih Vesna dengan gerakan lembut dan menariknya ke dalam pelukannya yang hangat, membuat tubuh mereka berdekatan dan saling menempel di bawah selimut wol yang tebal. Kulit mereka bersentuhan, kehangatan mereka menyatu menjadi satu, mengusir sisa-sisa dingin malam yang masih tersisa.
"Astaga, Hanz..." Vesna menyenderkan kepalanya di dada suaminya yang bidang, mendengarkan detak jantungnya yang stabil. "Kita sudah lama tak bangun seperti ini, kan? Bersama-sama, tanpa harus memikirkan apa yang harus dilakukan hari ini."
"Kau benar..." Hanz mengelus punggung istrinya, jari-jarinya yang kasar menelusuri lekuk tulang belakangnya dengan gerakan lambat. "Terlalu lama. Aku minta maaf."
Mereka berbaring dalam keheningan yang nyaman dan akrab, hanya ditemani oleh kicauan burung di luar yang semakin ramai dan derit lembut rumah kayu yang mulai hangat oleh sentuhan matahari pagi.
Saat mereka hampir tertidur lagi, Laura yang berada di samping Vesna mulai bergerak gelisah. Gadis kecil itu bergeser perlahan lalu menatap punggung ibunya dengan mata kecil yang setengah terbuka, rambut hitam halusnya berantakan.
"Mmm... Mama?"
Mendengar panggilan itu, Vesna sontak menoleh dengan gerakan cepat. Matanya melebar seketika, senyum canggung dan gugup langsung terpasang di bibirnya. Ia secara naluriah menarik selimut wol tebal lebih tinggi hingga hampir menutupi dagunya, seolah-olah selimut itu bisa menyembunyikan segalanya.
"O-oh, Laura, ada apa, sayang?"
Laura bangkit perlahan dan duduk di atas kasur jerami yang berderak, mengusap matanya dengan kepalan tangan kecilnya yang mungil. Ketika ia menoleh lagi ke samping ibunya, ia melihat ayahnya yang sedang terbaring dengan mata terpejam sementara ibunya menatapnya dengan senyum canggung sambil mengangkat selimut hingga hampir menutupi seluruh wajahnya, hanya menyisakan mata yang berkedip-kedip.
Laura mengamati mereka berdua. Matanya yang masih sayu bergerak dari ibunya yang tampak aneh ke ayahnya yang tiba-tiba tertidur sangat nyenyak di pagi yang cerah, lalu kembali lagi ke ibunya. "Hm? Kenapa sih... mama dan papa tidak pakai baju? Apa tidak dingin?"
"H-haha..." Vesna menoleh sekilas ke arah Hanz yang masih "tertidur lelap" dengan mata terpejam, meski sudut bibirnya berkedut-kedut. "Kami... kami kegerahan, Nak. Malam tiba-tiba panas sekali. Sangat panas."
Mata Laura yang bulat mengamati kedua orang tuanya dengan kebingungan murni. "Memangnya malam tadi gerah?"
"Y-ya! Sangat gerah!" Vesna mengangguk-angguk cepat. "Sampai tidak bisa pakai baju sama sekali karena panasnya."
"Begitu, ya..." Laura kembali mengusap matanya dengan kepalan tangan kecilnya. Ia menguap lebar dan panjang.
"Kamu masih ngantuk, ya, sayang?"
Laura hanya mengangguk lemah, matanya yang berat mulai tertutup lagi, ditidurkan oleh kantuk yang belum sepenuhnya hilang dari tidurnya yang terganggu.
"Tidur lagi saja dulu, sayang." Vesna mengulurkan tangannya dari balik selimut, mengelus pipi putrinya yang mulus dan hangat. "Mama akan bangunin nanti kalau sarapan sudah siap, oke?"
"... Oke, Ma." Tanpa banyak protes, tanpa pertanyaan lebih lanjut, Laura langsung menjatuhkan tubuh mungilnya kembali ke kasur jerami yang empuk, berbalik menghadap ibunya dengan mata yang sudah setengah tertutup, dan memeluk boneka kelincinya yang sudah kusut dan pudar warnanya. Dalam hitungan detik yang singkat, napasnya kembali teratur.
Vesna menghela napas panjang. Ia menghadap Laura sepenuhnya, menopang kepalanya dengan satu tangan di atas bantal, sementara tangan lainnya dengan lembut merapikan rambut putrinya yang berantakan. Dengan penuh kasih, ia menyisir rambut hitam halus itu dengan jari-jarinya yang lentik.
Akhirnya, dengan enggan yang berat, Vesna menyingkirkan selimut wol tebal yang menutupi tubuhnya. Udara pagi yang sejuk dan segar langsung menyentuh kulitnya yang hangat, membuatnya sedikit menggigil dan bulu kuduknya berdiri.
Ia bangkit dari kasur dengan gerakan perlahan, tubuhnya meregang secara naluriah setelah semalaman berbaring—lengan diangkat tinggi ke atas, punggungnya melengkung, sendi-sendinya berbunyi pelan.
Lantai kayu yang dingin berderit lembut di bawah telapak kakinya yang telanjang saat ia berjalan menuju kursi kayu di sudut kamar. Ia memunguti pakaian Hanz yang berserakan di lantai semalam, melipat sekadarnya saja, lalu menaruhnya di kursi kayu yang sudah usang. Kemudian ia meraih chemise-nya, gaun tidur putih polos yang tadi tergeletak di samping kasur, dan mengenakannya kembali.
Saat ia membuka pintu kamar dengan pelan dan hendak melangkahkan kakinya ke luar, ia berhenti di ambang pintu.
Ia menoleh ke belakang, menatap kasur jerami yang menjadi pusat dunianya. Di sana, suami dan anaknya masih tertidur lelap di pagi yang cerah ini. Hanz berbaring telentang dengan nyaman, satu tangannya diletakkan di atas dadanya, napasnya teratur, wajahnya yang tegang semalam kini terlihat damai. Laura meringkuk di sampingnya, tubuhnya yang kecil naik turun perlahan mengikuti napasnya yang tenang.
Inilah yang selama ini aku inginkan, pikirnya dengan mata yang mulai basah. Keluarga ini. Mereka berdua. Ini saja sudah cukup.
Akhirnya, dengan berat hati yang tak terkira, ia memutuskan kontak matanya dari pemandangan yang menghangatkan hati itu dan melangkah ke dapur yang masih sunyi untuk menyiapkan sarapan.
Dapur rumah mereka sederhana. Peralatan dapur dari kayu dan tanah liat yang sudah mengilap karena sering digunakan tersusun rapi di rak-rak dinding yang terbuat dari papan pinus. Di sudut, tungku perapian dari batu bata masih menyisakan abu hangat dari semalam, sedikit asap tipis masih mengepul dari bara yang hampir padam.
Dari rak papan di dinding, Vesna meraih roti gandum hitam bundar besar. Kulitnya sudah mengeras dan mengering oleh waktu, berwarna cokelat tua yang hampir hitam di beberapa bagian. Ia meletakkannya di atas meja kayu, lalu mengambil pisau dapur besar dari gantungannya di dinding. Dengan gerakan terampil, ia memotong tiga irisan tebal, masing-masing selebar dua jari, tebal dan padat.
Untuk Hanz, ia memberi dua potong. Sementara untuk dirinya dan Laura, masing-masing satu potong.
Ia mengoleskan lemak babi yang didinginkan semalam di atas setiap irisan roti dengan pisau mentega. Lemak putih yang sudah membeku itu langsung melumer sedikit saat bersentuhan dengan roti yang lebih hangat, meresap perlahan ke dalam pori-pori gandum hitam yang kasar.
Di samping setiap potong roti, ia menambahkan sepotong keju asin yang keras dan beberapa siung bawang bombay muda.
Di samping setiap piring kayu, ia menuang bir kecil dari tempayan tanah liat ke dalam tiga cawan timah yang sudah kehilangan kilapnya. Bir pagi yang encer dan sedikit asam.
Saat ia sibuk mengatur piring-piring di meja makan yang sempit, tiba-tiba dua lengan yang kuat dan berotot melingkari pinggangnya yang ramping dari belakang.
Vesna tersenyum tanpa perlu menoleh. Ia sudah tahu siapa itu, sudah mengenal sentuhan itu sejak bertahun-tahun lalu, sejak pertama kali mereka berdua masih muda dan polos.
Kepala Hanz bersandar dengan nyaman di pundaknya yang kecil, dagunya bertengger di lekukan lehernya yang jenjang. Senyum tipis terukir di wajahnya yang kecokelatan, dan matanya yang masih sedikit berat oleh tidur menatap sarapan yang telah disiapkan istrinya.
"Kamu sudah bangun," Vesna menempelkan bibirnya di pipi Hanz.
"Iya." Hanz membalas dengan mencium leher Vesna sebelum akhirnya menarik diri dengan enggan. Ia masih telanjang dada. "Aku ingin mandi dulu."
Ia berjalan tanpa baju menuju kamar mandi di belakang rumah, langkahnya santai, tanpa beban.
"Oke, sayang. Cepat, ya. Sarapannya sudah siap, nanti dingin."
Setelah memastikan semuanya siap di meja, Vesna melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Ia merangkak naik ke atas kasur dengan hati-hati, duduk di samping putrinya, dan dengan lembut mengelus punggung kecilnya yang hangat.
"Laura... ayo bangun, Nak. Sarapan sudah siap."
Kelopak mata Laura perlahan terangkat. Untuk beberapa detik yang terasa lama, matanya kosong, belum sepenuhnya sadar di mana ia berada. Lalu ia melihat wajah ibunya yang tersenyum di atasnya. Laura tersenyum lalu mengangguk pelan.
Mereka berjalan beriringan menuju dapur lalu duduk di kursi masing-masing—Laura di satu sisi meja yang pendek, Vesna di sisi yang lain, berhadapan. Meja kayu yang sempit itu hanya cukup untuk memuat tiga piring, tiga cawan, dan sepotong lilin bekas yang sudah hampir habis.
Tidak lama kemudian, Hanz keluar dari kamar mandi di belakang rumah. Rambutnya yang cokelat masih basah dan meneteskan air ke pundaknya, dan ia kini sudah mengenakan celana panjang serta kemeja linen longgar berwarna krem. Ia duduk di samping Vesna, tepat sebelum Laura kembali dari kamar mandi.
Akhirnya, mereka bertiga duduk bersama di meja sarapan yang sederhana.
Untuk beberapa saat yang panjang, tidak ada yang berbicara. Hanya suara kunyahan yang pelan dan denting cawan yang sesekali terdengar.
"Mmm, enak sekali..." ucap Laura. Ia mengunyah dengan lahap dan penuh semangat.
"Benarkah?" Vesna tersenyum lebar, menatap anaknya itu. "Bukankah kita sudah sering makan ini, Laura?"
"Iya sih, tapi..." Laura menelan kunyahannya lalu menoleh ke arah Hanz yang sedang sibuk mengunyah rotinya dengan tenang di sampingnya. Ia tersenyum lebar. "Mungkin karena Papa sudah kembali ke rumah. Jadi semuanya rasanya jadi lebih enak."
Hanz yang sedang mengunyah langsung tersenyum dan menatap Laura. Namun di balik senyum yang hangat itu, ada sesuatu yang lain. Ada kerutan halus di dahinya, ada kekosongan di matanya.
Setelah tersenyum cukup lama menanggapi anaknya, Hanz kembali menatap piringnya yang sudah setengah kosong. Matanya yang tadi segar setelah mandi kini terasa berat lagi, meski ia tidak mengeluh.
Tangannya yang memegang roti berhenti sejenak di udara.
Aku... Aku sudah membunuh Yang Mulia Eldras, pikirnya dengan hati yang berdebar. Apa lagi? Apa lagi yang diinginkan pria tua itu?! Sial!
Jauh dari momen kehangatan keluarga yang rapuh itu, suasana pagi di Gereja Cahaya terasa sangat berbeda, sangat kontras, seperti dua dunia yang terpisah oleh tembok yang tak terlihat.
Bangunan putih megah yang menjulang itu berdiri anggun di bawah sinar matahari pagi yang semakin tinggi. Kebun-kebun dan taman di sekitarnya terawat dengan sempurna. Para biarawan dan biarawati dengan jubah abu-abu bersih sudah mulai beraktivitas sejak subuh, menyiram tanaman dengan kaleng-kaleng tembaga yang mengilap, membersihkan jalan setapak dari daun-daun kering, atau sekadar berjalan perlahan sambil membaca kitab suci dengan suara yang merdu.
Namun di ruang latihan para prajurit elit yang terletak di sayap barat bangunan, jauh dari taman yang indah, suasananya sama sekali tidak damai.
"Hei, semuanya!" Suara Thorne menggema dengan keras, memantul dari dinding batu ke dinding batu lainnya. Pria botak berbadan besar itu berdiri di tengah ruangan, satu lengannya yang berotot merangkul bahu Otto yang diam membatu di sampingnya. "Setelah kita resmi menerima Steve sebagai saudara baru kemarin malam, bagaimana kalau kita adakan latihan tanding kecil-kecilan? Untuk menyambut anggota baru dengan cara kita?"
Para prajurit elit yang berkumpul di ruangan itu saling bertukar pandang dengan cepat. Jumlah mereka ada tujuh orang hari ini—termasuk Lavernus yang absen sejak ditahan.
Seorang prajurit dengan rambut hitam panjang yang diikat ke belakang dengan tali kulit akhirnya angkat bicara dari sudut ruangan. Ia tersenyum sinis, bahunya terangkat acuh tak acuh. "Apa kau yakin, Thorne? Aku tidak mau bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu pada anak baru ini." Ia menyandarkan punggungnya ke dinding batu yang dingin. "Kau tahu sendiri, para penasihat tua itu akan menghukum kita kalau prajurit barunya terluka parah di hari pertama latihan. Apalagi jika ia adalah prajurit pilihan mereka yang istimewa."
"Dia benar, Thorne," sahut yang lain, seorang pria dengan rambut merah gelap yang mencolok. Matanya menyipit menilai Otto dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Dan katanya Steve ini tidak punya sihir sama sekali, kan?" Ia mengangkat sebelah alisnya dengan sinis. "Orang biasa tanpa sihir, diadu dengan kita? Dia bisa mati dalam satu tebasan, Thorne. Itu bukan latihan, itu eksekusi."
"Tak punya sihir?" Yang lainnya ikut berbicara—seorang pria botak dengan bekas luka panjang di pelipis kirinya yang membentang hingga ke alis. Ekspresinya pura-pura terkejut. "Wah, wah, wah. Lalu bagaimana caranya dia bisa masuk ke tempat ini? Apa para penasihat sudah kehabisan kandidat sampai merekrut orang biasa?"
"Hei, ayolah, kalian ini terlalu sombong." Thorne tertawa keras, merangkul Otto semakin dekat hingga badan pemuda itu sedikit miring ke arahnya karena tekanan. "Lihat, dia keren, bukan? Meski kalian mengejeknya di depan mukanya, dia hanya diam."
"Kami tidak mengejeknya, Thorne," kata pria berambut merah itu. "Kami hanya menyampaikan fakta. Orang tanpa sihir di antara kita yang semuanya memiliki sihir? Itu fakta yang aneh, bukan ejekan."
"Fakta, ya?" Thorne tertawa pelan, lengannya masih melingkar erat di bahu Otto. "Kalau begitu, kenapa kalian semua terlihat takut?"
"Huh? Kau ini idiot atau pura-pura idiot, Thorne?" Pria berambut merah itu akhirnya mendekati Thorne dan Otto. "Kami tak ingin Gereja Cahaya akan marah besar jika si Topeng Kelinci ini terbunuh oleh kami. Bukan karena kami takut padanya, jelas?"
"Oh, ya?" Suara Thorne merendah tiba-tiba, berubah menjadi bisikan. "Kau yakin bisa membunuhnya semudah itu, Draven?" Ia mengangkat alisnya. "Pikirkan baik-baik. Para kedua belas penasihat tidak merekrut orang sembarangan, apalagi orang biasa tanpa sihir. Pasti ada sesuatu yang spesial dari bocah ini."
Otto, yang selama ini berdiri diam seperti patung, akhirnya bersuara dengan suara yang pelan namun cukup jelas di ruangan yang tiba-tiba hening itu.
"Anu... maaf mengganggu." Suaranya pelan, namun di ruangan yang mendadak sunyi, semua orang bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Semua pandangan langsung beralih ke arahnya. "Saya ingin bertemu dengan pria yang kemarin ditangkap karena berteriak di upacara penyambutan. Apa kalian tahu di mana dia sekarang?"
Para prajurit elit itu memasang ekspresi kebingungan yang bermacam-macam—semua kecuali Thorne, yang sedang berusaha keras menahan tawa dengan menutup mulutnya.
"Steve, temanku," kata Thorne, masih berusaha mengendalikan dirinya yang hampir meledak, suaranya sedikit tercekat. "Kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu dengan orang gila itu? Apa hubungannya dengan latihan?"
"Yah, itu..." Otto terdiam sejenak. "Saya hanya penasaran... kenapa ada orang yang sebodoh itu. Berteriak di tengah upacara resmi yang dijaga ketat. Mungkin dia punya alasan yang menarik."
Sesaat, ruangan yang luas itu hening total. Hening yang menegangkan.
Lalu, tiba-tiba, semua orang tertawa terbahak-bahak bersamaan.
Suara tawa mereka menggema dengan keras, memantul dari dinding batu ke dinding batu. Thorne tertawa paling keras di antara mereka, menepuk-nepuk punggung Otto berulang kali dengan keras hingga pemuda itu terhuyung maju beberapa langkah. Bahkan Draven, prajurit rambut merah yang ikut tertawa, meski pelan.
Maafkan saya, Master, batin Otto di tengah gemuruh tawa yang memekakkan telinga. Master tidak bodoh. Sayalah yang bodoh.
"Oke, oke, cukup, cukup," ucap Thorne di sela-sela tawanya yang tersengal-sengal. "Sebenarnya aku tahu di mana dia ditahan, Steve. Pria teriak-teriak itu. Serius."
Otto segera menegakkan tubuhnya yang sempat membungkuk karena tepukan. "Benarkah? Tolong beritahu saya di mana."
"Ya, aku tahu. Tapi..." Thorne tersenyum lebar. "Ada satu syarat yang harus kau penuhi. Kau harus bertanding melawan si rambut merah itu. Satu lawan satu. Kau setuju dengan syarat itu?"
Otto terdiam sejenak.
Draven yang disebut langsung tersenyum sinis, tangannya sudah memegang erat gagang pedangnya yang masih tersarung di pinggang. "Hei, lihat dia, Thorne. Dia diam saja sekarang. Takut, mungkin?" Ia tertawa kecil. "Sudahlah, kasihan nanti. Bisa-bisa dia mati ketakutan sebelum pertandingan dimulai."
Otto menarik napas dalam-dalam. "Sebelum saya setuju untuk bertanding..." Ia melepaskan diri dari rangkulan Thorne. "Bisakah Anda memberi saya petunjuk sebagai jaminan? Di mana orang itu ditahan? Agar saya tahu bahwa Anda memang tahu dan tidak hanya menggiring saya ke dalam perangkap."
Alis Thorne yang tebal terangkat tinggi. Lalu senyumnya melebar semakin lebar. "Oh, sangat pragmatis, bukan?" Ia mengangguk-angguk. "Kupikir ini alasannya para penasihat tua itu merekrutmu. Baiklah, sebagai jaminan, pria itu sedang ditahan di sel bawah tanah. Penjara bawah tanah Gereja, di koridor paling ujung."
"Sel bawah tanah?" Otto mengulang pelan.
"Ya. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa mereka memperlakukan orang gila itu sampai segitunya." Thorne mengangkat bahu acuh. "Mungkin dia memang benar-benar gila dan berbahaya."
Otto diam sejenak.
Kemudian, dengan gerakan yang perlahan, ia berbalik dan menghadap Draven sepenuhnya. Postur tubuhnya yang tadinya membungkuk kini tegak lurus.
Draven, yang tadinya bersandar santai dengan senyum sinis, kini sedikit mengubah posisi tubuhnya secara tidak sadar. Tangannya yang tadi hanya memegang gagang pedang dengan santai, kini mencengkeramnya lebih erat.
"Baiklah," ucap Otto dengan suara yang datar. "Hanya melawan dia satu lawan satu, kan?"
Semua mata di ruangan itu membelalak lebar tak percaya. Para prajurit yang tadinya tertawa terbahak-bahak, kini terdiam seribu bahasa. Mereka saling bertukar pandang dengan cepat. Lalu, bisik-bisik mulai terdengar di antara mereka. Beberapa dari mereka tersenyum.
Thorne akhirnya bertepuk tangan dengan keras, lalu tertawa lebih keras dan lebih puas dari sebelumnya. "Ya, benar! Itu semangat, Topeng Kelinci! Kasih paham orang sombong itu bahwa penampilan tidak selalu mencerminkan isi!"
Mendengar tantangan terbuka itu, tangan Draven mengepal erat di gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang tadinya santai menyipit tajam, alisnya berkerut, dan rahangnya mengeras.
tapi karena di pf ini didominasi sama novel kultivasi atau fantim, novel ini jadi sepi. sayang sekali, padahal novel ini punya potensi besar.
novel ini saya kasih rating 9/10 lah. paling masalahnya itu pacing di 5 bab pertama. itu cukup lambat dan mungkin para pembaca ada yang langsung gak betah dan kabur.
tapi percayalah, kalau kalian sanggup membaca 5 bab pertama, kalian pasti akan ketagihan.