Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Diri
Udara di gerbang masuk desa Oakhaven seolah membeku. Kehadiran Julian, pemuda jenius dari ibu kota, memberikan tekanan yang sangat berbeda dibandingkan tekanan yang diberikan oleh Gort sebelumnya. Jika Gort adalah seekor anjing yang menggonggong dengan keras, maka Julian adalah seekor singa yang baru saja mengasah cakarnya. Kilauan emas pada jubah putihnya seolah mengejek kondisi Arlan yang kotor, basah, dan berlumuran darah binatang sihir.
Arlan menatap ujung pedang Julian yang sedikit keluar dari sarungnya. Dia tahu bahwa di dunia ini, kasta ditentukan oleh seberapa besar berkah yang diterima seseorang dari dewa. Julian adalah seorang bangsawan dengan berkah Dewa Pedang, sementara Arlan hanyalah anak dari keluarga pengkhianat yang dicap tidak memiliki bakat. Secara logika, Arlan seharusnya gemetar ketakutan. Namun, jiwa Adit di dalam dirinya justru merasa muak. Dia sudah pernah melihat orang-orang seperti Julian di kehidupan sebelumnya, orang-orang kaya yang merasa memiliki dunia hanya karena mereka lahir dengan sendok emas di mulutnya.
"Aku akan mengulangi perkataanku sekali lagi, bocah," ucap Julian dengan nada bicara yang sangat tenang namun penuh ancaman. "Berlutut dan minta maaf kepada paman Gort. Aku tidak suka mengulang perintah. Harga diri seorang bangsawan tidak boleh dinodai oleh sampah sepertimu."
Arlan menarik napas panjang. Dia merasakan paru-parunya masih terasa panas akibat latihan di hutan tadi. Dia tahu bahwa jika dia bertarung sekarang, peluangnya untuk menang sangat kecil. Julian memiliki mana yang sangat stabil dan senjata yang berkualitas tinggi. Sedangkan Arlan hanya memiliki tubuh seorang anak berusia tujuh tahun yang sedang mengalami kelelahan otot yang parah.
Namun, Arlan tidak menggerakkan lututnya sedikit pun. "Harga diri bukan sesuatu yang bisa dipaksakan dengan pedang," jawab Arlan dengan suara yang lantang. "Kamu menuntutku meminta maaf atas kesalahan yang tidak aku lakukan. Jika kamu merasa menjadi bangsawan memberimu hak untuk menindas yang lemah, maka kamu tidak lebih dari seorang pengecut yang bersembunyi di balik nama besar keluargamu."
Mendengar jawaban itu, orang-orang desa yang menonton dari kejauhan menarik napas secara serentak. Mereka tidak percaya Arlan berani membalas perkataan Tuan Muda Julian. Gort, yang berdiri di samping Julian, tampak tersenyum licik. Dia sengaja memprovokasi Julian agar pemuda itu menghancurkan Arlan sepenuhnya.
"Berani sekali kamu!" bentak Gort. "Tuan Muda Julian, lihatlah betapa sombongnya anak pengkhianat ini. Dia tidak menghormati hukum kerajaan sama sekali!"
Julian tidak langsung marah. Dia justru tersenyum, namun senyumnya tidak mencapai matanya. Matanya tetap dingin dan tajam. "Menarik. Kamu punya keberanian, tapi keberanian tanpa kekuatan hanyalah cara cepat untuk mati. Karena kamu menolak untuk berlutut secara sukarela, maka aku akan membuatmu berlutut dengan kekuatanku sendiri."
Julian menggerakkan tangan kanannya ke arah gagang pedang. Dalam sekejap, aura berwarna putih keperakan menyelimuti tubuh Julian. Itu adalah Mana elemen pedang yang sangat tajam. Bahkan dari jarak beberapa meter, Arlan bisa merasakan kulitnya terasa perih seolah olah ada ribuan jarum kecil yang menusuknya. Ini adalah perbedaan nyata antara pengguna berkah tingkat tinggi dan orang biasa.
Arlan segera mengaktifkan Gerbang Pertama di dalam tubuhnya. Dia tidak punya pilihan lain. Dia membuang kantong daging yang dibawanya ke tanah dan memasang kuda-kuda rendah. Meskipun tangannya kosong, Arlan memusatkan seluruh energi internalnya ke arah telapak kaki dan tangan. Dia harus menggunakan kecepatan dan teknik pengalihan jika ingin bertahan hidup dari serangan Julian.
"Mati kau!" seru Julian sambil mencabut pedangnya.
Gerakan Julian sangat cepat. Dia hanya melangkah satu kali, namun jarak tiga meter di antara mereka seolah hilang dalam sekejap. Pedang panjang Julian mengayun secara horizontal, mengincar leher Arlan. Ayunan itu sangat bersih dan akurat, menunjukkan bahwa Julian memang mendapatkan latihan yang sangat disiplin sejak kecil.
Arlan merendahkan tubuhnya hingga dadanya hampir menyentuh tanah. Dia merasakan hembusan angin tajam dari pedang Julian yang lewat hanya beberapa milimeter di atas kepalanya. Tanpa membuang waktu, Arlan menggunakan kedua tangannya untuk menumpu di tanah dan menendang ke arah pergelangan kaki Julian.
Julian sedikit terkejut melihat refleks Arlan. Dia menarik kakinya dengan lincah dan melakukan putaran di udara, lalu kembali mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah. Arlan berguling ke samping, menghindari tebasan itu yang langsung membelah tanah tempat dia berada sebelumnya.
Duar!
Tanah di gerbang desa itu retak sedalam sepuluh sentimeter hanya karena satu ayunan pedang Julian. Para penonton bersorak kagum melihat kekuatan tersebut. Bagi mereka, itu adalah bukti keagungan berkah dewa.
Arlan bangkit berdiri dengan napas terengah-engah. Setiap kali dia bergerak, ototnya menjerit kesakitan. Dia menyadari bahwa dia tidak bisa terus menerus menghindar. Dia harus melakukan serangan balik yang bisa memberikan celah. Namun, Julian tidak memberikan kesempatan itu. Julian terus menghujani Arlan dengan tebasan-tebasan cepat.
"Hanya bisa lari? Di mana kesombonganmu yang tadi?" ejek Julian sambil terus menekan.
Arlan tetap tenang. Di kehidupan sebelumnya, saat perusahaannya sedang diserang oleh kompetitor, dia belajar untuk mengamati pola serangan lawan. Julian memang kuat, tapi dia memiliki satu kelemahan dia terlalu percaya pada kekuatan pedangnya. Setiap serangannya selalu mengandalkan jangkauan pedang, namun Julian tidak pernah mengira bahwa musuhnya akan berani masuk ke zona berbahaya di mana pedang tidak bisa digunakan secara maksimal.
Saat Julian kembali melakukan tebasan vertikal yang kuat, Arlan tidak menghindar ke samping. Sebaliknya, dia justru melompat maju ke arah Julian.
Julian terbelalak. Dia tidak menyangka Arlan akan mendekat saat pedangnya sedang mengayun ke bawah. Karena posisi pedangnya sudah terlanjur meluncur, Julian tidak bisa menariknya kembali dengan cepat.
Arlan menggunakan momen itu untuk menghantamkan bahunya ke dada Julian. Dia menggunakan teknik "Benturan Gunung" yang baru saja dia latih di dalam pikirannya selama perjalanan pulang tadi. Seluruh energi Gerbang Pertama dipusatkan pada bahunya.
Bugh!
Julian terhuyung ke belakang. Napasnya terhenti sejenak karena hantaman itu mengenai ulu hatinya. Meskipun Julian memakai zirah kain yang berkualitas tinggi, getaran dari serangan Arlan menembus langsung ke organ dalamnya.
"Sialan!" Julian menggeram. Dia merasa sangat malu karena berhasil disentuh oleh seorang anak yang dia anggap sampah. Kemarahannya kini benar-benar meluap. Dia mengabaikan rasa sakit di dadanya dan mulai mengalirkan mana yang jauh lebih besar ke pedangnya. Pedang itu kini bersinar sangat terang, mengeluarkan aura yang sangat panas.
"Aku akan mencincangmu menjadi potongan daging!" teriak Julian.
Tepat saat Julian akan melepaskan serangan pamungkasnya, sebuah batu kecil terbang dengan kecepatan tinggi dari arah hutan dan menghantam sisi pedang Julian.
Ting!
Suara denting logam yang sangat keras bergema di seluruh gerbang desa. Kekuatan hantaman batu itu begitu besar hingga membuat pedang Julian terlepas dari genggamannya dan tertancap di sebuah pohon besar di dekat sana. Tangan Julian gemetar hebat karena getaran dari hantaman batu tersebut.
"Siapa?! Siapa yang berani mencampuri urusanku?!" teriak Julian sambil menoleh ke arah hutan dengan wajah penuh amarah.
Seorang kakek tua dengan pakaian compang camping berjalan keluar dari balik bayangan pepohonan sambil mengorek telinganya dengan santai. Dia masih membawa kantong apel di tangannya.
"Anak muda zaman sekarang benar-benar tidak tahu sopan santun," ucap kakek itu dengan nada bicara yang malas. "Seorang remaja lima belas tahun menggunakan pedang sihir untuk melawan anak kecil berusia tujuh tahun yang sedang kelelahan? Jika berita ini sampai ke ibu kota, nama keluargamu akan menjadi bahan tertawaan selama tujuh turunan."
Julian terdiam. Dia bisa merasakan aura yang sangat mengerikan dari kakek tua ini, meskipun kakek itu terlihat seperti gelandangan. Julian bukanlah orang bodoh. Dia tahu bahwa orang yang bisa melempar batu dengan kekuatan seperti itu bukanlah orang sembarangan.
"Siapa kakek ini? Apakah kakek adalah pelindung anak pengkhianat ini?" tanya Julian dengan nada yang sedikit lebih rendah, meskipun masih terdengar angkuh.
"Aku hanya seorang pengembara yang tidak suka melihat ketidakadilan," jawab kakek itu sambil menatap Arlan yang sekarang sudah jatuh terduduk karena kelelahan. "Bocah ini sudah memberikan perlawanan yang adil. Jika kamu ingin melanjutkan, silakan. Tapi kamu harus melewati aku terlebih dahulu."
Gort yang melihat situasi berubah menjadi tidak menguntungkan segera membisiki Julian. "Tuan Muda, kakek ini terlihat aneh. Sebaiknya kita tidak mencari masalah di sini. Kita bisa mengurus anak itu nanti saat kakek ini sudah pergi."
Julian mengepalkan tangannya. Dia mengambil pedangnya yang tertancap di pohon dengan kasar. Dia menatap Arlan dengan tatapan yang penuh dendam.
"Anggap dirimu beruntung hari ini, Arlan," ucap Julian. "Tapi ingat, ujian masuk akademi kerajaan akan diadakan tiga bulan lagi di wilayah ini. Semua anak berusia tujuh tahun wajib ikut, termasuk keluarga pengkhianat sepertimu. Di sana, tidak akan ada kakek tua yang bisa melindungimu. Aku akan memastikan kamu memohon kematian di depan semua orang."
Julian kemudian berbalik dan berjalan pergi diikuti oleh Gort dan para pengawalnya. Orang-orang desa juga mulai membubarkan diri, merasa takut dengan kehadiran kakek tua misterius itu.
Arlan mengatur napasnya yang tidak stabil. Dia menatap punggung Julian yang menjauh. Tiga bulan. Dia hanya punya waktu tiga bulan untuk menjadi cukup kuat agar bisa bertahan di akademi kerajaan. Dia tahu bahwa ujian itu sebenarnya adalah jebakan untuk melenyapkan keturunan keluarga Vandermir secara sah.
Kakek tua itu menghampiri Arlan dan memberikan sebuah apel. "Kamu terlalu nekat, bocah. Jika aku tidak datang, dia mungkin sudah memotong tanganmu."
Arlan menerima apel itu dan menggigitnya. "Aku tidak akan pernah berlutut padanya. Lebih baik aku mati daripada harus merendahkan diriku pada orang-orang seperti mereka."
Kakek itu tertawa pelan. "Sifat keras kepalamu itu akan membunuhmu suatu hari nanti, atau justru akan membawamu ke puncak dunia. Tiga bulan bukanlah waktu yang lama. Jika kamu ingin menang di akademi nanti, kamu harus membuka Gerbang Kedua."
"Gerbang Kedua?" tanya Arlan.
"Gerbang Istirahat," kakek itu menjelaskan. "Jika Gerbang Pertama memberikanmu kekuatan fisik, Gerbang Kedua akan memberikanmu stamina yang tidak terbatas dan kemampuan penyembuhan diri yang cepat. Tapi untuk membukanya, kamu harus berlatih di tempat yang lebih ekstrem dari hutan ini."
Arlan berdiri dengan susah payah. Dia menatap kakek itu dengan mata yang penuh tekad. "Aku siap. Bawa aku ke mana pun, selama itu bisa membuatku cukup kuat untuk menghancurkan mereka semua."
Malam itu, di bawah sinar rembulan, Arlan menyadari bahwa musuhnya kini bukan lagi sekadar kepala desa. Dia telah menantang seorang bangsawan tinggi. Namun, bukannya merasa takut, Arlan justru merasa jantungnya berdegup kencang karena kegembiraan. Dia merasa hidup kembali. Kehidupan keduanya baru saja dimulai, dan dia akan memastikan bahwa setiap orang yang meremehkannya akan membayar harga yang sangat mahal.