NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LORONG ICU

PUKUL 00:07. LORONG ICU, RUMAH SAKIT

Wei masih berdiri di depan pintu ICU. Risa duduk diam, menatap lantai, ponselnya tergenggam erat. Nama "Tante Mira Ibu Kirana" masih tertera di layar.

"Gue harus telpon," bisik Risa.

Wei tidak menjawab.

Pikirannya melayang ke beberapa bulan lalu. Bukan ke buku sejarah. Bukan ke halaman yang dirobek. Tapi ke amplop merah.

Wei ingat membuka amplop itu, Isinya bukan uang. Bukan surat. Tapi sehelai rambut hitam panjang. Dan selembar kertas kecil dengan tulisan Mandarin kuno yang tidak bisa mereka baca.

Mereka tidak kenal siapa-siapa di Taiwan yang bisa membantu. Sampai akhirnya seseorang di kampus mahasiswa lokal yang kebetulan setengah Indonesia memberi tahu mereka tentang seorang dukun tua. (biksu) yang masih mempraktikkan ritual-ritual kuno.

Mereka pergi ke sana. Membawa amplop merah itu

"Ini bukan untuk kalian," katanya dalam bahasa Mandarin "Ini undangan. Tapi bukan undangan pernikahan. Ini sebenarnya undangan untuk… menggantikan.

Ritual pengusiran. Tiga hari tiga malam. Kirana harus puasa, tidak boleh keluar rumah, tidak boleh terkena sinar matahari setelah maghrib. Wei dan Risa bergantian menjaganya. Di malam hari ketiga, Kirana harus datang ke pohon beringin tua itu dan mengembalikan amplop itu.

"Sudah selesai," kata biksu itu. "Tapi ingat: dia hanya pergi untuk sementara. Kalau suatu hari kau melihatnya lagi… jangan lawan. Karena dia bukan musuhmu. Dia hanya… penjaga."

Kirana tidak pernah menceritakan kejadian itu lagi. Wei jug tidak. Mereka menganggapnya selesai. Urusan masa lalu yang terkubur.

Sampai malam ini.

Sampai Kirana membuka matanya di ICU dan berbisik: "Li Wei di sini."

"Ris."

Risa mendongak. "Apa?"

"Lo ingat amplop merah itu?"

Risa menegang. Matanya melebar. "Jangan bilang"

"Gue nggak tahu." Wei menggeleng. "Tapi pas Kirana nyebut nama Li Wei tadi… gue langsung ingat. Semuanya. Amplop merah. guru besar ( biksu) Ritual tiga hari itu. Dan apa yang dukun itu bilang."

"Li Wei. Pengantin pria yang mati gantung diri. Dia bukan hantu biasa. Dia penjaga. Penjaga sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang dikurung di bawah pohon beringin tua. Amplop merah ini… adalah panggilan. Seseorang ingin Kirana menggantikan Li Wei. Menjadi penjaga berikutnya."

"Tapi kenapa Kirana?" Wei ingat bertanya waktu itu.

"Karena dia keturunan," jawab guru besar ( biksu ) itu. "Darahnya sama dengan darah yang mengikat Li Wei ke pohon itu. Ayahnya adalah penjaga sebelumnya. Dan sebelum ayahnya, kakeknya. Dan sebelum kakeknya… terus ke atas, sampai ke orang yang pertama kali menggantung Li Wei."

Wei ingat bagaimana Kirana menangis diam-diam malam itu. Bagaimana dia berbisik: "Ayah nggak pernah cerita apa-apa. Kenapa ayah nggak pernah cerita…"

Dan sekarang ayah Kirana sudah meninggal. Serangan jantung mendadak, dua tahun lalu. Membawa semua rahasia itu ke liang kubur.

"Tapi ritualnya udah selesai," Risa memotong lamunan Wei. "Dukun itu bilang dia udah pergi. Kenapa dia balik sekarang?"

Wei tidak menjawab.

Karena dia ingat kalimat terakhir dukun itu. Kalimat yang tidak pernah dia ceritakan ke Risa atau Kirana. Kalimat yang dia simpan sendiri karena dia pikir itu hanya omong kosong orang tua.

"Ritual ini hanya menunda. Bukan membatalkan. Suatu hari nanti, ketika penjaga yang lama sudah terlalu lelah… dia akan kembali. Dan kali ini, Kirana tidak akan bisa menolak. Karena dia sudah dipilih sejak lahir."

Lampu neon di lorong berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dan kali ini

Tidak menyala kembali.

Lorong ICU gelap total. Hanya lampu darurat di ujung lorong yang masih menyala, memancarkan cahaya merah redup.

Dan dalam gelap itu.

Risa menggenggam tangan Wei.

Kencang.

Karena dia melihatnya juga sekarang.

Di ujung lorong.

Di depan pintu darurat.

Berdiri.

Laki-laki tinggi kurus.

Baju pengantin merah.

Menatap mereka.

Dan di tangannya

Sebuah amplop merah.

Amplop yang sama.

Amplop yang seharusnya sudah dibakar dan abunya dilarung ke sungai.

PUKUL 00:12. LORONG ICU.

Sosok itu tidak bergerak.

Hanya berdiri. Diam. Menatap Wei dan Risa dengan rongga mata kosong yang entah bagaimana bisa melihat.

Wei ingin bergerak. Ingin berlari. Ingin berteriak memanggil bantuan. Tapi tubuhnya tidak merespons. Seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang menahannya di tempat, memaksanya untuk melihat. Untuk menyaksikan.

Risa di sampingnya gemetar. Tangannya masih menggenggam tangan Wei, kencang, sampai buku-buku jarinya memutih.

"…Wei…" bisik Risa, suaranya pecah. "…itu apaa?? ? Li Wei?"

Wei tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat.

Sosok itu Li Wei tidak mengancam. Tidak mendekat. Hanya berdiri di ujung lorong, di bawah lampu darurat merah, memegang amplop merah di tangannya. Kepalanya masih miring ke kiri. Lehernya memperlihatkan bekas jeratan yang gelap dan mengelupas. Jubah pengantin merahnya dengan sulaman naga emas di dada lusuh dan robek di beberapa bagian, memperlihatkan kulit pucat keabu-abuan di bawahnya.

Dan kemudian

Li Wei berbicara.

Suaranya bukan suara yang keluar dari mulut. Mulutnya tidak bergerak. Bibirnya yang kehitaman tetap terkatup rapat. Tapi suara itu terdengar jelas di kepala Wei dan Risa. Seperti bisikan yang berasal dari dalam tengkorak mereka sendiri. Bahasa Mandarin kuno, tapi entah bagaimana mereka bisa mengerti.

"Aku tidak datang untuk kalian."

Wei menahan napas.

"Aku datang untuknya."

Mata Li Wei rongga kosong itu beralih ke pintu ICU. Ke ruangan tempat Kirana terbaring.

"Aku sudah mencarinya… sangat lama."

Wei akhirnya bisa bersuara. Serak. Hampir tidak terdengar. "…lu… lu ngapain cari Kirana? Dia bukan siapa-siapa. Dia cuma keturunan penjaga. Dia nggak minta dilahirkan di keluarga itu."

Li Wei tidak segera menjawab.

Kepalanya yang miring ke kiri bergerak sedikit. Seperti sedang memiringkannya lebih jauh. Sudut yang tidak mungkin dilakukan oleh leher manusia normal.

Lalu suara itu datang lagi.

"Keturunan penjaga?"

Ada nada di dalamnya. Bukan nada mengancam. Bukan nada marah. Tapi… sedih. Getir dan pilu.

"Itu yang mereka katakan padanya? Itu yang kalian percayai?"

Wei dan Risa saling pandang dalam gelap. Apa maksudnya?

Li Wei melangkah.

Satu langkah.

Perlahan.

Suara langkahnya tidak terdengar di lantai koridor. Tapi Wei bisa merasakan getarannya. Seperti ada beban berat yang bergeser di atas tanah.

"Dia bukan keturunan penjaga."

Langkah kedua.

"Dia bukan penerus kutukan."

Langkah ketiga.

"Dia adalah…"

Li Wei berhenti. Tepat di depan pintu ICU. Begitu dekat sehingga Wei bisa melihat detail jubahnya benang emas yang sudah kusam, noda-noda gelap yang mungkin dulu adalah darah, dan lipatan-lipatan kain yang tidak lagi rapi setelah lebih dari seratus tahun.

Li Wei mengangkat tangannya dan menyentuh pintu ICU. Jari-jarinya yang panjang dan kurus menempel di kaca buram.

"…Mei,aku datang ....",

Wei tidak mengenali nama itu. Risa juga tidak.

Tapi di dalam ICU, di balik pintu yang disentuh Li Wei

Monitor EKG Kirana tiba-tiba melonjak.

BIP—BIP—BIP—BIP—

Cepat. Sangat cepat. Seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang telah lama hilang.

Dan dalam tidurnya, air mata mengalir dari sudut mata Kirana.

PUKUL 00:15. DALAM MIMPI KIRANA.

Kirana berdiri di bawah pohon beringin.

Lebih tua. Lebih besar. Akarnya menjalar ke mana-mana seperti ular raksasa yang membeku. Batangnya begitu lebar sehingga butuh sepuluh orang dewasa untuk melingkarinya. Dan di salah satu cabang terbesarnya.

Tergantung seutas tali.

Tali tua. Kusam. Tapi masih kuat.

Kirana tahu tempat ini. Meskipun dia belum pernah ke sini sebelumnya. Meskipun tempat ini mungkin sudah tidak ada lagi di dunia nyata. Dia tahu.

Di bawah pohon, seseorang berdiri. Perempuan. Muda. Mungkin seumuran Kirana. Rambutnya hitam panjang, tergerai melewati bahu. Dia mengenakan pakaian sederhana atasan putih dan rok panjang warna gelap pakaian perempuan desa dari zaman yang sangat berbeda. Wajahnya tidak sepenuhnya terlihat, tertutup bayangan dedaunan.

Tapi Kirana bisa melihat matanya.

Mata itu… sama.

Sama seperti matanya sendiri.

Perempuan itu menatap Kirana. Bibirnya bergerak, mengucapkan sesuatu. Suaranya lembut, seperti angin yang melewati celah-celah daun.

"Kau sudah kembali."

Kirana ingin bertanya. Ingin bilang bahwa dia tidak mengerti. Tapi suaranya tidak keluar.

Perempuan itu tersenyum. Senyum yang sedih. Senyum yang sudah menunggu terlalu lama.

"Aku sudah menunggumu… sangat lama. Tapi kau tidak pernah datang. Kau lahir lagi. Dan lagi. Dan lagi. Tapi kau tidak pernah ingat. Tidak pernah kembali ke sini."

Air mata jatuh dari mata perempuan itu. Satu. Lalu deras.

"Dan dia… Li Wei… dia terus mencarimu. Di setiap kehidupanmu. Di setiap tubuh yang kau tinggali. Dia mencarimu. Menunggumu. Menjaga tempat ini agar tetap tertutup, agar sesuatu di bawah pohon ini tidak keluar. Hanya agar suatu hari… kau bisa kembali."

Perempuan itu melangkah mendekat. Semakin dekat. Dan semakin dekat, semakin Kirana bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Dan Kirana tersentak.

Karena wajah itu

Adalah wajahnya sendiri.

"Kau adalah aku," bisik perempuan itu. "Dan aku adalah kau. Kita adalah Mei. Gadis yang dicintai Li Wei. Gadis yang membuatnya menolak perjodohan. Gadis yang membuatnya dibunuh."

Perempuan itu Mei mengulurkan tangannya. Menyentuh pipi Kirana. Sentuhan itu dingin, tapi tidak menakutkan. Seperti disentuh oleh air sungai di musim panas.

"Dan sekarang kau sudah kembali. Dalam tubuh ini. Dalam hidup ini. Li Wei sudah menemukanmu lagi."

Mei menatap mata Kirana. Matanya sendiri. Dan di dalamnya, Kirana bisa melihat ratusan tahun kesedihan. Ratusan tahun penantian. Ratusan tahun cinta yang tidak pernah padam.

"Tapi Kirana… kau harus tahu."

Suara Mei berubah. Lebih serius. Lebih dalam.

"Li Wei tidak mencarimu hanya karena cinta. Dia mencarimu karena sesuatu di bawah pohon ini… sesuatu yang selama ini dia tahan… mulai bangun. Dan hanya kau yang bisa menghentikannya."

"Karena kau bukan hanya kekasihnya."

"Kau adalah kuncinya."

1
afika risty rahmadhan
bagus kak mampirr ke novel ku dong kak.. 😭
CInga@🦁: baik kak langsung mampir
total 1 replies
Rei Nayo
keren
no more dreams
bagus thor
no more dreams
lanjut thor
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CInga@🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!