NovelToon NovelToon
LINGKARAN PARA PENGHIANAT

LINGKARAN PARA PENGHIANAT

Status: tamat
Genre:Obsesi / Pelakor / Poligami / Cerai / Selingkuh / Tamat
Popularitas:78.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
​Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
​Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Bik Siti, yang sejak tadi setia menunggu di samping Karin, seketika tersentak saat melihat jemari Karin bergerak perlahan. Ketika mata Karin mulai terbuka meski masih sayu, perasaan senang tak terkira membuncah di hati Bik Siti.

"Alhamdulillah, Non... Non Karin sudah sadar!" seru Bik Siti penuh syukur. Ia kemudian menoleh ke arah pintu dan berteriak memanggil sang majikan, "Tuan! Tuan Sanjaya! Non Karin sudah sadar, Tuan!"

Mendengar teriakan Bik Siti, Pak Sanjaya bergegas masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya terasa berat sekaligus lega saat melihat putri semata wayangnya benar-benar telah sadar.

"Karin, kamu sudah siuman, Nak?" tanya Pak Sanjaya lembut, suaranya bergetar menahan haru.

"Iya, Pah..." jawab Karin dengan suara yang sangat lirih, nyaris seperti bisikan.

"Ah, syukurlah! Ya sudah, Bik Siti, cepat panggil dokter sekarang! Minta dia memeriksa kondisi Karin lagi," perintah Pak Sanjaya dengan sigap.

"Baik, Tuan!"

Bik Siti segera berlari keluar ruangan dengan tergesa-gesa, . Tak lama kemudian, ia kembali bersama seorang dokter dan dua orang perawat.

Pak Sanjaya memberikan ruang bagi tim medis untuk memeriksa Karin. Dokter mulai memeriksa denyut nadi, pupil mata, serta memantau monitor yang terhubung ke tubuh Karin.

"Kondisinya cukup stabil, Pak Sanjaya," ujar dokter setelah menyelesaikan pemeriksaan.

 "Kesadarannya sudah kembali penuh, meskipun tubuhnya masih sangat lemas akibat syok dan luka-luka itu. Kami akan terus memantau perkembangannya selama 24 jam ke depan. Saya mohon, jangan biarkan Ibu Karin memikirkan hal-hal yang berat dulu karena beliau masih dalam masa pemulihan."

"Baik, Dok. Terima kasih banyak," jawab Pak Sanjaya sambil mengangguk paham.

Setelah dokter berpamitan dan keluar dari ruangan, Pak Sanjaya segera mendekati Karin dan mengusap lembut dahi putrinya.

"Sayang, kamu jangan takut ya. Ada Papa di sini," ucapnya menenangkan.

Karin tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan dengan tatapan yang masih terlihat letih.

Pak Sanjaya kemudian menoleh ke arah Bik Siti yang berdiri tak jauh dari sana. "Bik Siti, tolong suapi Karin makan dulu ya. Saya harus keluar sebentar, ada urusan sangat penting yang harus saya selesaikan segera."

"Siap, Tuan," sahut Bik Siti sigap.

Pak Sanjaya kembali menatap putrinya dengan tatapan teduh.

"Karin, Papa keluar sebentar ya. Nanti Papa segera kembali ke sini."

Pak Sanjaya melangkah keluar dari lobi rumah sakit, diluar Joni dan beberapa rekan satpam lainnya masih berdiri gelisah, menunggu kabar. Melihat sang majikan datang dengan aura dingin, mereka langsung berdiri tegak dengan perasaan was-was.

​"Joni, ke sini kamu!"

​"I-iya, Pak... saya, Pak," jawab Joni sambil melangkah maju dengan kepala menunduk.

​"Joni, saya mau kalian cek rekaman CCTV di rumah sekarang juga. Detik ini juga! Saya ingin tahu siapa orang yang sudah berani berbuat jahat kepada anak saya," ucap Pak Sanjaya tegas, matanya menatap tajam satu per satu dari mereka.

​"Baik, Pak! Akan segera kami laksanakan!" sahut Joni sigap.

​Pak Sanjaya menyipitkan mata, mengingat detail kejadian malam itu.

"Satu lagi. Orang yang kalian bilang memberi kopi itu... apa kalian masih ingat ciri-cirinya?"

​Joni menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya terlihat kebingungan. "Aduh, maaf banget, Pak. Saya teh benar-benar lupa. Soalnya malam itu setelah minum kopi, mata kami langsung ngantuk berat, Pak. Benar-benar pengaruh obat tidurnya kuat pisan."

​"Masa kalian sama sekali tidak ingat? Tidak ada satu pun detail yang membekas?" tanya Pak Sanjaya, suaranya naik satu oktaf.

​"Iya, Pak, beneran! Suer tekewer kewer deh, Pak! Pikiran saya langsung blong kayak ban kempes," jawab Joni spontan sambil mencoba melawak meski suasananya sedang genting.

​Pak Sanjaya menghela napas panjang, menahan sabar menghadapi tingkah anak buahnya yang satu ini.

"Ya sudah! Cepat kalian pergi dan laksanakan perintah saya tadi. Jangan sampai ada detail yang terlewat di CCTV!"

​"Baik, Pak! Siap laksanakan!" Joni dan rekan-rekannya langsung memberikan hormat sebelum akhirnya bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.

.

.

***************

Dikontrakan Dirga....

Di ruang tamu, Dirga terus berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan. Pikirannya benar-benar tidak tenang, bayangan Karin yang terbaring lemah terus menghantuinya. Laura yang duduk di sofa sambil memperhatikan Dirga mulai merasa muak.

"Mas, kamu bisa diam nggak sih? Dari tadi mondar-mandir , mondar-ma dir terus. Bikin kepalaku pusing tahu nggak!" semprot Laura dengan nada tinggi.

Dirga menghentikan langkahnya sejenak, wajahnya tampak frustrasi.

 "Aku lagi kepikiran Karin, Ra! Aku takut terjadi apa-apa sama dia di rumah sakit."

Laura memutar bola matanya malas, lalu berdiri menghampiri Dirga.

"Duh, Mas, nggak usah kayak anak kecil deh! Di sana itu ada dokter, ada banyak perawat. Pak Sanjaya juga pasti jagain dia. Ngapain sih kamu harus se khawatir itu?"

"Tapi, Ra... aku cuma pengen lihat keadaannya sekali aja," gumam Dirga lirih.

Mendengar itu, tawa sinis keluar dari mulut Laura. "Kamu tuh buta atau gimana sih, Mas? Jelas-jelas tadi malam Pak Sanjaya sudah ngusir kamu terang-terangan! Sekarang kamu masih mimpi mau ke sana lagi? Sadar, Mas! Itu mustahil!"

Emosi Dirga akhirnya terpancing. Ia menatap Laura dengan tatapan tajam.

"Kamu tuh kenapa sih, Ra? Bukannya kasih solusi atau nenangin aku, malah bikin emosi! Nggak bisa ya sekali aja kamu ngertiin perasaan aku?"

Tanpa menunggu jawaban Laura, Dirga langsung menyambar kunci motor di atas meja dan melangkah lebar keluar rumah. Ia tak menghiraukan teriakan Laura yang memanggil namanya.

Brummm!

Dirga menggeber motornya dengan kencang. Ia harus sampai di rumah sakit dan memastikan sendiri kalau Karin baik-baik saja.

“Dasar laki-laki gila. Sudah diusir saja masih ngeyel ingin bertemu,” gerutu Laura.

Mendapat kesempatan itu, Laura justru merasa senang karena bisa menemui Hendra tanpa takut Dirga tahu.

“Sudahlah, daripada pusing memikirkan Mas Dirga, lebih baik aku menemui Hendra sekarang juga,” gumamnya.

Laura bergegas masuk ke kamar. Lemari pakaiannya dibuka lebar, jemarinya memilih gaun yang paling menonjolkan lekuk tubuhnya. Beberapa menit kemudian, ia berdiri di depan cermin, merapikan rambut, mengoleskan lipstik tipis, dan menambahkan sentuhan maskara hingga sorot matanya tampak lebih tajam dan memikat.

Ia memiringkan kepala, menatap bayangannya sendiri, lalu tersenyum puas.

“Nah, sip… aku yakin Hendra pasti bakal klepek-klepek kalau aku dandan secantik ini,” gumamnya penuh percaya diri.

Laura meraih ponselnya di atas meja rias, jari-jarinya bergerak cepat di layar. Tak lama kemudian, notifikasi pemesanan ojek online muncul.

​Hanya butuh waktu beberapa menit ojek online yang ditumpangi Laura untuk sampai di lobi apartemen Hendra. Begitu turun, Laura langsung merapikan rambut dan pakaiannya sejenak sebelum merogoh ponsel dari tas.

​Ia mengirim pesan singkat dengan nada manja. "Ndra, aku sudah sampai nih di lobi. Turun dong, jemput aku sekarang," ucapnya dalam pesan tersebut.

​Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar tanda pesan balasan masuk.

 "Oke, siap sayang. Tunggu ya, aku turun sekarang," balas Hendra.

​Laura tersenyum lebar melihat balasan itu. Ia berdiri dengan penuh percaya diri di lobi dan Laura siap menghabiskan waktu berdua bersama Hendra.

"Hai, Laura," sapa Hendra begitu pintu lift terbuka dan ia melihat Laura berdiri menunggunya.

Matanya tampak tak berkedip menatap penampilan Laura yang begitu cantik dan seksi hari ini.

​"Hendra!" sahut Laura dengan senyum paling manisnya.

​Hendra langsung merangkul pinggang Laura dengan agresif. "Ayo, langsung masuk saja, Ra. Aku sudah nggak sabar pengen berduaan sama kamu," bisiknya di telinga Laura.

​Laura tertawa kecil sambil mencubit pelan lengan Hendra. "Ah, kamu bisa saja sih, Ndra..."

​Mereka berdua pun melangkah masuk ke dalam apartemen Hendra. Begitu pintu tertutup rapat, suasana seketika berubah menjadi lebih intim. Hendra langsung menarik Laura mendekat.

​"Ayo, Ra... Cepat buka, aku sudah nggak tahan dari tadi membayangkan kamu terus," ujar Hendra dengan suara rendah yang serak.

​Laura justru sengaja menarik diri sedikit, menatap Hendra dengan pandangan menggoda dan manja.

"Sabar dong, Sayang... Kamu kok buru-buru banget sih? Kita pemanasan dulu lah, biar lebih asyik," ucapnya sambil melingkarkan tangannya di leher Hendra, menikmati perhatian yang tidak ia dapatkan dari Dirga.

Bersambung........

Jangan lupa like dan vote ya kak😁🙏🙏🙏♥️

1
niktut ugis
tokoh karin terkesan bodoh
Sholawat Nariyah
AUTHOR GUOBLOK..
Sejak kapan sidang perceraian terbuka untuk umum.???!!!!
ros
Dr awal sampai habis x ada kebahagiaan, menyesal baca
Rosita Tumbelaka
yaa kenapa nggk happy endingnya.. Thor...pembaca kecewa...
Rosita Tumbelaka
yaa ... aq paling benci perselingkuhan...
Fitrian
dari mana mereka dapat mobil? katanya mereka di buat miskin oleh karin🤔🖕
Fitrian
jalang yang mau ngejalang bilang astagfirullah 🧠🧠🧠🧠🐽🐽🐽🐽🐽🖕🖕
Fitrian
cuiiiiiihhhhh baru saja keguguran mau nge jalang dia semoga mati waktu ngejalangnya🖕🖕
Fitrian
cuiiiiiihhhhh dasar 🧠🧠🧠🧠🧠🐽🐽🐽🖕🖕
Fitrian
lahh dosa penghianat dan pelakor sahabat sendiri, gitu saja tak sadar 🧠🧠🧠🐽🐽🐽🖕🖕
Fitrian
cuiiiiiihhhhh🧠🧠🧠🐽🐽🐽🐽🖕🖕
Mega Arum
bukanya crta awal Bagas mantan pacar Mona dan ayah Laura y, entah lah crta hampir selesai tp alur awal krg sinkron
Mega Arum
nasib mona manaa....knp laura tdk brtemu mona lagi stlh semua terungkap, alurnya agak2 lompat....maaf yA Thoor jd krg greget
Mega Arum
kok bisa bw mobil.. awal2 mereka hanya jalan kaki deh, wktu Dirga ke kantor juga naik motor.. bgg juga nih
Simba Berry
inilah yg namanya penjahat yg sesungguhnya.dia yg jahat tapi dia malahan yg dendam.sedangkan yg korban seperti karin malahan meratapi dan kasihan melihat musuhnya mati.aneh😄😄😄
Simba Berry
pemeran utamanya lemah cengeng.😄😄😄😄😄
Simba Berry
dosa apa aku ya tuhan?orang stres masih bertanya dosa apa?😄😄😄😄😄😄😄
Rosita Tumbelaka: dosa mu selingkuh..
total 1 replies
falea sezi
endingnya kayak. pret
falea sezi
art satpam. goblok semua
Rismawati Damhoeri
cepat banget matinya tuh pelakor thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!