Istriku terlalu boros, sementara selingkuhan ku sangat cantik dan pandai menabung, tapi ku tak sangka istriku berubah sangat drastis tanpa uang dariku. apakah dia memiliki simpanan yang menopang hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 31
"Aaaaa.... "
Sania berteriak dan langsung ambruk di tanah, Sania tidak sadarkan diri di jalur dua itu.
Andre mendengar suara teriakan langsung berlari begitu juga dengan rombongan mereka, ternyata Andre setelah Sania turun, mengitrupsi agar anggotanya makan dengan cepat agar mereka segera menyusul Sania, karena cuaca memang tidak kondusif, angin bertiup kencan di sertai kabut tebal.
Mereka menemukan Sania pingsan di jalur dua, memang jalur yang paling keramat di gunung itu, konon katanya kalau salah satu jalur itu menuju pasar setan.
Andre langsung mengangkat Sania setelah mengecek denyut nadinya masih ada, hujan turun di trek itu akhirnya mereka memutuskan menggotong Sania pakai tandu.
Andre menggedong Sania sambil menutupinya dengan jaket tebal yang dia bawah dalam tasnya. Sambil terus menepuk-nepuk wajah Sania.
"Kak, Sania, bangun kak, kak... Kak..." pangil Andre dengan suara agak kencang.
"Andre sebaiknya kita gosokan minyak kayu putih di kaki dan tangannya serta botol minyak kayu putih ini di dekatkan di hidungnya." kata Wira.
"Kita ini semua cowok, gak ada cewek." kata Andre dengan ragu.
"Kita tidak ada pilihan lain, di sini tidak ada orang selain kita, ini cara satu-satunya cara agar dia sadar." jawab Wira.
"Tapi... "
"Jangan tapi-tapian Andre kamu sadar nggak sih posisi kita ini jumlahnya ganjil, kamu tau kan kalau ke gunung tidak boleh jumlahnya ganjil." potong Wira.
Mereka terus berdebat, sampai kedua temannya kembali dengan pohon kecil yang mereka tebang.
Tapi karena perdebatan mereka akhirnya Sania terbangun dari pingsannya.
"Kak Sania sudah bangun, kak ingat aku kan." tanya Andre.
Sania hanya mengangguk, sebenarnya Sania sudah sadar sedari tadi, hanya saja tidak enak mengganggu perdebatan keduanya.
"Alhamdulillah, kak Sania, kak minum dulu kami kwatir kaka pingsan di sana." kata Wira.
Wira menujuk jalur 2 yang keramat itu, Sania bersalah kepada mereka, namun hari akan semakin gelap mereka berusaha untuk turun, jam menunjukan jam 1 siang tapi di gunung begitu gelap.
"Kak jumlah kita ganjil, sebaiknya segera turun, kami takut terjadi yang lebih berbahaya dari pada ini." kata Andre menambahkan.
"Apa pendaki lain yang diatas sudah turun juga?" tanya Sania.
Mereka saling pandang dengan raut wajah menegangkan.
"Sudah kok." jawab Wira berbohong.
Sebab mereka tidak melihat ada pendaki lain yang bersama mereka di puncak bahkan semenjak mendaki hanya mereka berlima saja.
"Kak pake mantel aku saja, jangan tunggu hujan redah."
Setelah semuanya berdoa dengan keyakinan masing-masing, dan saling mengingatkan.
"Kita tidak boleh jalan berjauhan ya, harus mepet, jangan pernah ada yang melihat kebelakang, apapun yang terjadi, jangan saling panggil nama, kita saling memanggil dengan inisial nama." kata Wira.
Wira jalan paling belakang sementara Andre dengan Sania paling depan, Sania berada tepat di belakang Andre.
Jalan licin, hawa dingin semakin membuat suasana tak nyaman, kabut sudah menghilang setelah meninggalkan trek yang keramat itu.
Sesampainya di pos tiga mereka singgah di pondok tempat berteduh di sana, benar-benar sepih, karena Wira ingin BAB.
Mereka makan snack yang di bawa Sania berubah kue dan roti, untuk mengisi tenaga mereka, Sania tak henti-hentinya bersyukur, karena bersama mereka, kalau tidak ada mereka entah apa yang terjadi.
Setelah tiga puluh menit istirahat mereka kembali melanjutkan perjalanan, perjalanan kali ini cukup landai, di temani hamparan rumput yang indah.
"Larangan di gunung ini yang harus di ingat setiap pendaki, di larang keras mengambil apa pun dari gunung ini."
Setelah sampai di pos satu akhirnya hembusan napas legah itu terdengar dari mereka berlima termasuk Sania. Mereka melihat jam tepat lima sore.
"Alhamdulillah kita sudah sampai di sini." kata Sania.
Mereka tersenyum penuh, karena sepanjang jalan ada gangguan yang membuat mereka lemas.
"Sebelum kita meninggalkan gunung ini mari kita berdoa sekali lagi, untuk keselamatan pulang ke rumah dan penghuni gunung tidak meneror kita." kata Wira.
Akhirnya mereka minta maaf pada penghuni gunung yang tak kasat mata, apa bila kehadiran mereka membuat terganggu di wilayahnya, karena gunung juga ada pemiliknya.
Setelah mereka berdoa akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing, mereka langsung ke pelebuhan, Sania langsung pulang ke rukonya setelah dengan jarak 19 km.
Sania sepanjang jalan membalas chat Ana dan ketring selama pendakian berjalan aman saja, Sania mengunggah fotonya bersama Andre di media sosial.
"Terimakasih teman baik, kalau tanpa kalian aku tak tau harus bagaimana." caption Sania.
Ternyata foto tersebut langsung banyak komentar dan like, termasuk dua pria yang di hindari Sania selama ini.
"Jadi wanita kok gak jaga diri, masa ke gunung bermalam sama cowok. Cowoknya masih di bawa umur." @User122.
"Pantas saja kamu menghilang, ternyata ke gunung ya, kenapa kamu sembarang mengenal cowok, dia hanya morotin uangmu." @user563B.
Membaca komentar itu Sania langsung memblokir ke duanya, menurutnya hidupnya tidak perlu orang lain yang mengaturnya.
"Apaan sih, saya kalau tidak suka nggak usah lihat." gerutunya dalam hati.
Ternyata sopir taxi melihatnya dari kaca diatasnya. "Kalau ngambek teriak saja, kebetulan ini masih sepih." kata taxi online itu.
"Gak kok pak," kata Sania.
Akhirnya sopir taxi itu memutar musik kesukaan Sania, setelah melewati berbagai medan jalan akhirnya Sania sampai juga di ruko miliknya, rumah makan sudah tutup.
Sesampainya di ruko Sania langsung memastikan stoknya belanjaan, semua menu makanan semakin banyak walaupun tutup jam lima sore, tetap saja makanan habis.
Ketring tidak ada untuk besok, Sania hanya mengorder bahan masakan untuk parsmanan.
Pagi ini suasana berbeda, Sania bangun kesiangan, mungkin efek Pendakiannya, akhirnya Sania memilih jadi kasir menggantikan Ana yang sedang sibuk mencatat bahan pokok yang masuk dan lain-lain.
"Kamu punya pacar baru?" kata seseorang yang mengagetkan ku.
Ya Arya berdiri di sana tapi tidak sendiri, wanita yang bersamanya siapa lagi kalau bukan Ratu yang memerkan cincin yang di jari manisnya.
"Mau pesan apa pak, bu." jawabku
Saya sengaja mengalihkan pembicaraan, karena dia bukan siapa-siapa lagi menurutku.
"Saya bukan ibu, aku ini cantik, kamu biasakan panggil sis sama saya." cerocos Ratu.
Dia tidak terima dengan ucapanku barusan, Arya hanya diam.
"Maaf ya pak bu, jika anda tidak memesan apa pun, silakan keluar." kata ku.
"Saya datang khusus untuk mu, siapa pria yang bersama mu di gunung, dia itu bukan pria baik-baik kelihatannya." jawab Arya dengan tegas.
Tapi saya juga tidak peduli, itu urusan pribadiku, tidak etis jika orang lain ikut campur.
"Silahkan pak, di sana pintu keluar." saya menunjuk pintu dengan daguku.
Arya tidak mau pergi, saya pun hendak memanggil Ana agar menelpon pak Baron, salah satu keamanan dalam lingkungan kami ini.
Tiba-tiba Arya memegang tanganku dengan erat.
"Sania, kenapa kamu berubah, saya tunangan dengan dia karena ada sesuatu yang tak bisa di jelaskan." kata Arya.
Saya menghempaskan tangannya, jijik juga melihat seorang pria yang tidak cukup dengan satu wanita.
sesuatu untuk puyuh mu...
ngeles aja...dasar Casanova
kok genre nya jadi horor yaa 🥹🥹🫣
km bkal ketemu dg jodoh mu yg pas Dan di waktu yg pas juga ,,
masa jeruk makan jeruuuk 🤭🤭🤭🤣🤣🤣,,
makiin seruuu cerita ny😁😁
meuli Tempe , endog , cengek , minyak goreng jeung beas oge geus sabaraha ,, ni di titah jeung sabulaneun ,, di fikir pamajikan maneh makan angin unggal Poe ,, 😒😒😒😒
aku sekali nongkrong sama temen bisa habis ratusan ribu,ini seratus untuk sebulan, gila aja lu
uweeeek ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
kk suka salah sebut nama tokoh🤭🤭🙏🙏 ,,
semangat trus ya kak nulis ny 😁
ad yx model laki2 kayak kerupuk begini ,, 😒😒😒😒