Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu3
Winda mengangkat wajahnya. "Apa yang kamu mau, Dika?"
Dika menatapnya lama. Sangat lama. "Aku cuma mau tahu…" ia berhenti sejenak menatap Winda dengan tatapan tajam. "Kenapa kamu masih bikin aku nggak bisa lupa."
Winda terdiam. Ia tak tau harus menjawab apa.
"Kamu nggak banyak berubah... masih tidak bisa menatap mata ku" ucap Dika.
"Aku bisa!" bantah Winda spontan. Ia langsung mendongak, menantang tatapan itu. Tapi detik berikutnya… dadanya terasa sesak.
Astaga…
mata itu…
Ia berdebat dengan pikirannya sendiri. Lalu cepat-cepat memalingkan wajah. "Nggak…" gumamnya lirih nyaris tak terdengar.
Dika terkekeh pelan. Tawanya dingin. "Kenapa sih nggak pernah bisa natap aku lama?" ia mencondongkan tubuh lebih dekat "Emang tatapan aku pernah buat kamu setakut itu ya?"
Mendengar pertanyaan itu ia spontan kembali menatap Dika. suaranya meninggi "yah itu karena-"
"karena apa?" potong Dika dengan tenang.
"Karena... karena kamu!" Nada Winda kesal, tanpa sadar terlalu keras. Beberapa kepala di sekitar mereka menoleh.
"Kecilkan suara kamu, Winda," ucap Dika datar. "Ini bukan di hutan."
Winda langsung sadar.
Ia melirik sekeliling, wajahnya memanas, ia merasa malu dan kembali menunduk. "mulut ini kok berisik banget sih " batinnya . tangannya bergerak menepuk bibirnya pelan.
Dika menatap Winda tanpa berkedip. Tatapannya terlalu dalam, terlalu menekan. "Kamu sekarang sama siapa?" tanyanya tiba-tiba.
Winda tersentak. "Ha? Maksud kamu?"
Dika sedikit mencondongkan tubuh lagi. "Kamu punya pacar?"
Winda menghela napas pelan. "Itu urusan aku, Dik."
Rahang Dika mengeras. "Dulu kamu juga selalu jawab gitu." Nada suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu yang bergetar di baliknya. "Aku ninggalin kamu karena kamu terlalu dekat sama cowok lain," lanjutnya. "Tapi ternyata… sampai sekarang juga sama."
"Itu namanya punya teman," bantah Winda.
Dika terkekeh singkat. "Dulu juga kamu bilang gitu." Ia menatap Winda tajam. "Aku nggak suka."
Winda mengernyit. "Kalau nggak suka yaudah."
Sunyi.
Dika mengepalkan tangannya. "Aku cuma mau kamu kayak dulu."
Winda berdiri sedikit dari kursinya. "Dika, kita udah bukan siapa-siapa. Dari dulu juga bukannya ada hubungan spesial. Cuma. HTS."
Dika menatap Winda tanpa berkedip. Tatapannya dingin… menusuk. "HTS?" ulangnya pelan. "Lucu. Tapi waktu itu kamu selalu nunggu aku pulang sekolah."
Winda terdiam.
"Kamu marah kalau aku ngobrol sama cewek lain," lanjut Dika. "Tapi sekarang kamu bilang kita nggak pernah ada apa-apa?"
"Itu dulu." potong Winda. "Aku masih labil. Masih remaja."
"Dan sekarang kamu dewasa?" Dika menyeringai tipis."menurut aku enggak." Nada sarkasnya membuat Winda kesal.
"Kamu tuh selalu ngerasa paling ngerti aku," ucap Winda dengan suara bergetar. "Padahal kamu nggak pernah mau dengar."
Dika mencondongkan tubuh. "Karena aku nggak mau dengar alasan."
Winda mengepalkan tangan. "Itu namanya egois!"
"Egois?" Dika terkekeh dingin. "Aku cuma jujur sama perasaan aku." Ia menatap Winda lebih tajam. "Aku nggak pernah berhenti suka sama kamu."
Kalimat itu membuat Winda terdiam. Dadanya bergetar. "Tapi…" suaranya melemah.
Tatapan Dika menggelap. "Tapi aku juga nggak pernah nganggep kamu orang lain."
Winda tercekat. "Yah itu kan kamu. Bukan aku."
"Kamu nikah sama Dirga?" Dika memotong "Itu hidup yang kamu mau?"
Winda tercekat. Pertanyaan itu terlalu dalam. Dan..."Kok kamu tau?.."
Dika menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya tetap dingin. "Tahu." Jawabnya singkat.
Winda membelalak. "Tapi aku nggak ngundang kamu. Kita juga udah lama lost contact."
Dika tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali nggak hangat. "Aku lihat fotonya."
Winda tercekat. "F-foto? dari mana?"
"Dari.. seseorang." jawab Dika datar. "Kamu pakai gaun putih. Dirga di samping kamu. Pakai jas hitam. Ya kan?"
Jantung Winda berdegup keras. "Kamu… nyari tahu tentang aku?"
Dika menatapnya tajam. "Aku nggak pernah berhenti."
Winda terdiam. Tenggorokannya terasa kering.
"Kamu pikir aku bisa lupa gitu aja?" lanjut Dika pelan. "Kita lost contact… tapi aku tetap tahu kamu di mana."
Winda merinding. "Maksud kamu?"
"Tempat tinggal kamu dan orang tua mu setelah pindah dari rumah yang dulu, tempat kerja kamu sebelum nikah. Bahkan rumah yang kamu tempati sama Dirga sekarang ini aku juga tau dimana."
Winda refleks berdiri. "Nggak lucu, Dik."
Dika ikut berdiri. Wajahnya tetap tenang.
"Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja."
"Kamu gilak!" suara Winda gemetar.
Dika mendekat satu langkah. "Tapi aku nggak ganggu hidup kamu." Ia berhenti sejenak. "Tapi aku juga nggak akan pergi."
Sunyi.
Dika menatapnya lama. "Aku harus tahu kamu bahagia atau nggak."
Winda terdiam. ia menatapnya tajam. "Kamu lihat aku bahagia?"
Dika mengepalkan tangan. "Kalau kamu bahagia… aku nggak bakal duduk di sini."
Kalimat itu menghantam keras.
Winda mundur selangkah. Suara Winda meninggi. "Aku udah punya hidup sendiri!"
Dika tertawa kecil. "Lagi-lagi kamu bilang gitu." Ia menatap Winda dalam. "Tapi mata kamu selalu bohong."
Winda terdiam. Dadanya berdebar kencang.
"Kalau dia bener-bener bikin kamu bahagia," ucap Dika pelan. "kamu nggak bakal masih inget aku."
Air mata Winda menggenang. "Itu nggak adil…"
"Aku nggak pernah adil dari dulu," jawab Dika dingin. "Aku cuma cinta kamu dengan caraku."
"Itu bukan cinta, Dik. " Winda menggeleng. "Kamu gila. Dika." lanjut Winda lirih.
Kata itu membuat Dika membeku. "Kamu takut, ya?"
"Iya," jawab Winda jujur. "Aku takut kamu nggak bisa lepas."
Hening panjang.
Tatapan Dika berubah. Lebih gelap. "Kalau aku nggak bisa lepas…" ucapnya perlahan. "Berarti kamu masih punya tempat di hidup aku."
Winda menutup mata. Hatinya goyah.
Takut… tapi juga masih ada sisa perasaan lama.
"Duduk… kita bicarain pelan-pelan," ucap Dika lembut. Nada suaranya tetap tenang, seolah tak ada apa-apa yang baru saja meledak di antara mereka.
Winda menatapnya cukup lama. Dadanya sesak—antara kesal, lelah, dan bingung. Ia ingin marah. Ingin pergi. Ingin menutup semua obrolan ini. Tapi ketenangan Dika....justru membuatnya goyah.
Seolah-olah semua yang tadi mereka bahas hanyalah hal sepele. Seolah-olah perasaan, luka, dan masa lalu itu bisa diselesaikan dengan satu obrolan santai. Itu yang membuat Winda semakin kacau.
Ia menggigit bibir. Ketenangan Dika membuatnya ragu pada dirinya sendiri. Seakan-akan… mungkin ia yang berlebihan. Mungkin ia yang terlalu drama. Padahal hatinya sedang berantakan.
Ia menarik napas panjang. Lalu akhirnya..perlahan… Winda kembali duduk.
Bukan karena ia mau. Tapi karena ia masih belum cukup kuat untuk pergi.
Winda menunduk. Suaranya kecil, hampir patah."Aku nggak cantik, Dik. Aku juga nggak sebaik yang kamu pikir." Ia tersenyum pahit.
"Kamu bisa cari cewek lain. Banyak. Bukan cuma aku." Tangannya mengepal di pangkuan.
"Di luar sana banyak yang lebih cantik…Aku mah… biasa aja. Jelek malah."
Dika langsung menatapnya tajam. "Jangan ngomong gitu."
Winda terkekeh hambar. "Itu kenyataan."
Dika menggeleng pelan. Lalu suaranya turun, dingin tapi tegas."Winda…" Ia menatapnya lurus. "Kamu tau sendiri kan…kamu itu cinta pertama aku."
Kalimat itu menghantam keras. Winda membeku. "Apa?" suaranya lirih.
"Cinta pertama," ulang Dika. "Satu-satunya." Ia tersenyum kecil, getir. "Dari SMP sampai sekarang… nggak pernah berubah."
Winda menelan ludah. Dadanya bergetar. "Itu nggak adil, Dik…Aku nggak seistimewa itu."
"Buat aku, kamu iya." Jawab Dika tanpa ragu. "Semua yang kamu bilang jelek itu…nggak pernah kelihatan jelek di mata aku."
Winda memejamkan mata. Air matanya jatuh pelan. "Kamu bikin aku makin bingung…" ucapnya jujur.
Dika mendekat sedikit. "Nggak usah mikir. Aku di sini."
"Itu justru masalahnya…" Winda berbisik. "Kamu nggak mau pergi."
Dika terdiam. Lalu suaranya jadi lebih dalam. "Aku nggak bisa."
Sunyi.
Hati Winda goyah. Antara takut… dan sisa perasaan lama yang belum mati.
apa Dirga akan ikut meninggal jugaa 🤣🤣🤣🤣🤣 ,,, kalau sampai ending nya Dirga menikah sama Yasmine,, berarti bkn Winda donk tokoh utama cewek nya 🤣🤣🤣,,,kok merasa kurang Seruu yea karena Winda harus di buat meninggal,, harus nya cukup di buat kritis dan koma