Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Ruang ujian University of Melbourne terasa hening.
Hanya suara gesekan pena dan ketukan halus yang terdengar, berpadu dengan detak jantung Medina yang berusaha tetap stabil.
Matanya fokus pada lembaran-lembaran soal di hadapannya.
Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri.
“Aku pasti bisa,” bisiknya pada diri sendiri.
“Aku harus dapat nilai terbaik.”
Semua rasa sakit, rindu, dan luka ia simpan rapat-rapat. Untuk saat ini, hanya ada ujian—dan masa depan yang sedang ia kejar. Dalam hati, Medina berjanji, setelah ujian selesai… ia akan pulang.
—
Sore hari, di koridor kampus yang ramai, Alyssa berlari kecil menghampirinya sambil membawa sebuah kotak kecil berbalut kertas krem dan pita merah.
“Med! Ada kiriman nih!” serunya.
Medina menghentikan langkah.
“Kiriman? Dari siapa?”
“Entah. Kepala penjaga gerbang tadi yang ngasih ke gue. Katanya ini buat elu.”
Alis Medina berkerut. Ia menerima kotak itu dengan ragu, lalu perlahan membuka pita merah yang melingkar rapi. Di dalamnya, terselip sebuah surat kecil.
Ia membaca dalam diam.
Semangat belajarnya. Perjalananmu masih panjang.
Panggil aku saat kau butuhkan.
Good luck, Miss Medina.
~ Tn. Hacker
Jari Medina mengepal pelan, matanya menunduk menatap tulisan itu lebih lama dari yang ia sadari.
“Dari siapa, Med?” Alyssa menyikut lengannya penasaran.
Medina tersenyum tipis. “Teman.”
“Wahhh… udah punya temen aja lu. Cewek apa cowok?” goda Alyssa, matanya berbinar penuh selidik.
“Adalah pokoknya. Kepo!” jawab Medina cepat.
“Si anjir! Ditanya baik-baik malah jawab gitu. Gue timpuk nih!” Alyssa pura-pura mengangkat tangan.
“Lah, marah-marah mulu. Kayak lagi PMS,” Medina tertawa kecil.
“Bukan PMS lagi sih… tapi telat di TF,” jawab Alyssa dramatis.
Medina terkekeh. “Pantes emosi mulu. Ya udah, ayok gua traktir deh.”
“Beuh… yang sultan mah beda,” Alyssa menyeringai. “Hmm…”
“Lah, masih ada sembilan naga. Aku mah apa atuh?” sahut Medina santai.
Alyssa langsung bernyanyi keras-keras sambil berjalan,
“Kalau adaaa sembilan nagaaa~
Mau duitnya sajaa semuanyaaa~
Ini dadaa isinya duit semuaaa~
Alamaak… inikah jatuh cintaaa~”
“Hahaha!” Alyssa tertawa sendiri.
“Lah malah nyanyi, ni bocah,” Medina menggeleng geli. “Udah yuk, balik ke asrama.”
Medina tersenyum sepanjang jalan.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia mulai menyadari satu hal—mungkin kini saatnya ia fokus pada dirinya sendiri. Pada ibadahnya, pada masa depan dan kemandirian finansialnya. Agar suatu hari, ia tak lagi bergantung pada siapa pun… termasuk lelaki yang dulu ia cintai sepenuh hati.
—
Di sebuah kamar hotel yang menghadap ke jendela besar, Exel berdiri sambil menatap langit senja Melbourne. Koper sudah rapi di sudut ruangan. Penerbangannya kembali ke Amerika tinggal hitungan jam.
Ia menghela napas panjang.
“Medina,” gumamnya pelan.
“Aku harap kau memilih jalan terbaik untuk hidupmu.”
Sorot matanya redup, namun hangat.
“Kau berhak bahagia, Med. Kau bukan wanita yang pantas disakiti.”
—
Flashback on
Sebuah kafe kecil.
Medina duduk berhadapan dengannya, menyesap kopi dengan tenang.
“Miss Medina,” ucap Exel kala itu. “Anda benar dari Indonesia?”
Medina mengangkat alis. “Kenapa? Sepertinya Anda meragukan itu?”
“Tentu saja tidak,” jawabnya cepat. “Hanya saja… wajahmu, bukan seperti wajah WNI.”
Ia tersenyum tipis. “Itu wajah… gadis Palestina.”
Medina terdiam sejenak.
“Are you from Palestine?” lanjutnya tanpa sadar.
Bola mata hazel Medina menatap lurus ke arahnya. Indah dan dalam.
Tatapan yang sejak saat itu, tanpa permisi, terus mengganggu pikirannya.
Flashback off
Exel tersenyum pahit, lalu menutup tirai jendela.
“Good luck, Miss Medina,” bisiknya.
.
.
Ujian telah usai. Hari-hari yang di lalui selama ujian sungguh melelahkan. Kini Medina tengah mengepak beberapa pakaian untuk pulang ke Indonesia.
Yasmin dan Ardan akan menjemputnya di bandara. Lalu Rendra, ah pria itu membuat membuat Medina berpikir sejenak.
"Hahh... kalo nanti ketemu mas Rendra, aku harus ngomong apa?"
Medina duduk di tepi ranjangnya. "Kata Alyssa aku gak boleh baper, apapun yang dikatakan ataupun di lakukan mas Rendra terhadapku."
Di bandara
Medina berlari kecil dengan menarik kopernya. Ia memeluk bunda Yasmin yang telah menunggu nya. Juga mencium tangan ayah Ardan.
Dan saat wajahnya menoleh ke belakang, matanya tertuju pada sosok pria yang ingin ia hindari tapi harus ia hadapi.
Ardan dan Yasmin hanya mengagguk pelan saat Medina menatap mereka berdua.
Medina berjalan perlahan, dan berdiri di hadapan Rendra. Pandangan nya yang awalnya menunduk, kini mulai ia angkat wajahnya dan memberanikan diri menatap Rendra.
Medina menarik tangan Rendra yang gemetar untuk ia cium. Mau bagaimana pun, Rendra masih suami Medina. Walau sudah ada jarak yang ia ciptakan untuk suaminya.
"Bagaimana kabar mu sayang?" lirih Rendra.
"Alhamdulillah, baik mas."
"Sudah, ayo kita pulang! Bunda sudah memasak sup ayam untuk kamu nak." ucap Yasmin yang langsung melepaskan genggaman tangan Rendra pada Medina.
Yasmin menarik Medina pelan, dan berjalan menuju tempat dimana mobil mereka berada.
Rendra menghela nafas panjangnya. Tatapan rindu, masih memuncak untuk istrinya.
"Rasakan saja Ren. Bunda mu masih marah. Ayah juga, tapi sebagai seorang pria, tidak di pungkiri ayah juga bisa merasakan kesepiannya dirimu tanpa Medina di sisi mu setiap malam." ucap Ardan menepuk pundak putranya.
"Kalau kau memang ingin semua nya kembali, kau harus tunjukkan perubahan mu!"
"Iya, ayah." jawab Rendra lemas.
Di rumah
Suasana hangat di meja makan, kini Medina sudah mau makan bersama di meja makan bersama keluarga.
Dulu ia masih menolak, dimana ada Rendra disana, dia tidak ingin makan satu meja dengan suaminya.
Canda tawa riang menyelimuti makan malam itu. Hati Rendra trenyuh melihat senyum Medina yang kembali terukir.
'kamu cantik, sangat cantik sayang. hingga rasanya dada ini ingin meledak saking banyaknya menahan rindu untuk melihatmu.' triak Rendra dalam hati.
Di suatu malam, Medina merasa kehausan, ia berjalan ke arah dapur mengambil segelas minuman.
Namun, gerakan sebuah tangan kekar mengagetkan dirinya. Pelukan hangat yang merengkuh tubuhnya dari belakang, membuat tubuhnya meremang.
"Mas sangat merindukanmu..." bisik pria itu tepat di telinga Medina.
...----------------...