NovelToon NovelToon
TAK AKAN KUKEMBALI PADAMU

TAK AKAN KUKEMBALI PADAMU

Status: tamat
Genre:Obsesi / Cerai / Penyesalan Suami / CEO / Janda / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:74.7k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Lucia Davidson hidup dalam ilusi pernikahan yang indah hingga enam bulan kemudian semua kebenaran runtuh. Samuel, pria yang ia percaya sebagai suami sekaligus cintanya, ternyata hanya menikahinya demi balas dendam pada ayah Lucia. Dalam sekejap, ayah Lucia dipenjara hingga mengakhiri hidupnya, ibunya hancur lalu pergi meninggalkan Lucia, dan seluruh harta keluarganya direbut.

Ketika hidupnya sudah luluh lantak, Samuel bahkan tega menggugat cerai. Lucia jatuh ke titik terendah, sendirian, tanpa keluarga dan tanpa harta. Namun di tengah kehancuran itu, takdir memertemukan Lucia dengan Evan Williams, mantan pacar Lucia saat kuliah dulu.

Saat Lucia mulai menata hidupnya, bayangan masa lalu kembali menghantuinya. Samuel, sang mantan suami yang pernah menghancurkan segalanya, justru ingin kembali dengan mengatakan kalau Samuel tidak bisa hidup tanpa Lucia.

Apakah Lucia akan kembali pada Samuel atau dia memilih cinta lama yang terkubur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33. ANCAMAN

Pagi tiba dengan sinar matahari yang menembus tirai tipis kamar penthouse. Aroma kopi segar tercium samar dari dapur, bercampur dengan harum roti panggang. Suasana yang menenangkan itu membuat Lucia membuka mata perlahan, tubuhnya terasa sedikit lebih segar dibanding malam sebelumnya.

Ia menoleh, mendapati ranjang sebelah kosong. Evan pasti sudah bangun lebih dulu, pikirnya. Ingatannya melayang pada malam tadi, suara Evan yang menenangkannya, genggaman tangannya yang hangat, hingga dirinya bisa tertidur kembali setelah dihantui mimpi buruk. Hati Lucia terasa menghangat, meski masih ada bayang-bayang takut yang belum sepenuhnya hilang.

Pelan, ia bangkit dari ranjang. Tubuhnya masih lemah, namun keinginan untuk tidak sepenuhnya bergantung membuatnya berusaha melangkah ke meja kecil di sudut kamar. Di atasnya, ia menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan Evan yang rapi.

'Aku pergi sebentar untuk bertemu Deren dan menyiapkan beberapa dokumen penting. Jangan khawatir, aku akan kembali segera. Tolong istirahat.'

Lucia menyentuh tulisan itu dengan jari gemetar, seolah ingin merasakan kehangatan dari setiap huruf. Ada rasa bersalah menyelinap, sebab kehadirannya seakan menyeret Evan ke dalam pusaran masalah Samuel. Namun ada pula rasa syukur, karena ia tahu, ada seseorang yang tidak menyerah untuk tetap berada di sisinya.

Di ruang kerja sementara di pusat kota, Evan bertemu Deren. Meja penuh dokumen, laptop terbuka dengan deretan grafik, angka-angka, dan nama-nama investor potensial.

"Kita kehilangan investor utama, tapi masih ada peluang dengan beberapa perusahaan lain," ujar Deren sambil menunjuk layar. "Masalahnya, mereka pasti sudah mendengar rumor tentang Samuel. Kita harus bergerak cepat, meyakinkan bahwa proyek ini masih kuat."

Evan mengangguk, matanya tajam. "Kita jadwalkan pertemuan. Aku akan bicara langsung dengan mereka."

Deren menatapnya cermat. "Evan, kau yakin siap? Samuel bukan hanya bermain di ranah bisnis. Dia memanfaatkan nama Lucia. Itu bisa jadi senjata untuk menjatuhkan reputasimu."

Evan mengepalkan tangan di atas meja. "Biarkan dia mencoba. Selama aku jujur dan proyek ini berdiri di atas fondasi yang jelas, aku tidak takut. Aku tidak akan biarkan permainan kotor menghentikan langkah kita."

Ada keteguhan dalam suaranya, meski di dalam dada, Evan tahu tantangan ini lebih berat daripada yang terlihat.

Di penthouse, Lucia berjalan perlahan ke ruang tamu. Tubuhnya masih letih, tapi ia tidak ingin hanya berbaring. Pandangan matanya tertuju pada rak buku besar di sudut ruangan. Ia menyusuri judul-judul di sana, sebagian besar buku tentang bisnis, arsitektur, dan manajemen. Di sela-selanya, ia menemukan beberapa novel klasik yang warnanya sudah pudar.

Ia tersenyum tipis, membayangkan Evan membaca buku-buku itu di tengah kesibukan. Sosok yang tampak tegas dan dingin di luar, rupanya menyimpan sisi lain yang lembut dan penuh rasa.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Ponsel Lucia yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar. Layar menampilkan nomor tak dikenal. Hatinya berdegup kencang, firasat buruk menyergap. Dengan ragu, ia mengangkat.

"Lucia ...," suara di seberang membuat darahnya membeku. Itu suara yang terlalu dikenalnya; suara Samuel.

"Kau pikir kau bisa bersembunyi dariku di balik dinding kaca itu?" suara Samuel rendah, penuh ancaman. "Kau milikku, Lucia. Tidak peduli berapa kali kau mencoba lari, aku akan selalu menemukanku jalan kembali padamu."

Tangan Lucia bergetar hebat. Napasnya memburu, dada sesak. "Jangan hubungi aku lagi, Samuel. Aku ... aku bukan milikmu lagi," kata Lucia.

Tawa dingin terdengar dari seberang. "Kau salah, Lucia. Kau hanya sedang dipinjam pria itu untuk sementara. Tapi aku akan menjemputmu kembali. Cepat atau lambat. Kita akan kembali bersama seperti dulu."

Klik. Sambungan terputus.

Lucia terdiam, ponsel nyaris terlepas dari genggaman. Seluruh tubuhnya gemetar, rasa takut menelan habis sisa tenaga yang ia miliki. Ia ingin menjerit, tapi suaranya tercekik di tenggorokan.

Ketika Evan pulang sore itu, ia mendapati Lucia duduk di sofa dengan wajah pucat pasi.

"Lucy?" Evan segera menghampiri, keningnya berkerut. "Ada apa? Kau terlihat ... sangat ketakutan."

Lucia mengangkat wajah, air matanya menetes. "Dia ... Samuel ... dia menelponku."

Mata Evan langsung menggelap. "Apa yang dia katakan?"

"Dia bilang aku masih miliknya. Dia bilang akan menjemputku kembali," jawab Lucia.

Amarah menyambar dada Evan, panas seperti api. Ia menggenggam bahu Lucia, menatap matanya dengan penuh keyakinan. "Dengar aku, Lucy. Dia tidak punya hak lagi atas dirimu. Tidak sekarang, tidak selamanya. Selama aku ada, aku tidak akan biarkan dia menyentuhmu. Jangan pernah takut dengannya. Kau jauh lebih kuat daripada yang kau pikirkan."

Lucia terisak, lalu memeluk Evan erat-erat. "Aku takut, Evan."

Evan mengusap punggungnya, menenangkan dengan sabar. "Jangan takut. Biarkan aku yang menghadapi dia. Kau tidak sendirian lagi."

Di dalam hatinya, Evan tahu, Samuel bukan hanya ancaman di dunia bisnis, tapi juga bayangan gelap yang akan terus menghantui Lucia. Dan jika ia tidak mengambil langkah, bayangan itu bisa saja masuk dan merusak segalanya.

Namun di saat yang sama, semakin besar pula tekadnya. Samuel mungkin punya kelicikan, tapi ia punya satu hal yang Samuel tidak pernah miliki: cinta yang tulus. Dan itu akan menjadi kekuatannya untuk bertahan, apapun yang terjadi.

Malam kembali datang. Lucia berbaring di ranjang, matanya masih menyimpan sisa ketakutan. Evan duduk di sisi ranjang, tidak pergi kemana pun.

"Tidurlah," katanya lembut. "Aku akan berjaga di sini."

Lucia menatapnya, lalu mengangguk. Perlahan matanya terpejam, menemukan sedikit damai di bawah lindungan Evan.

Di luar jendela, kota berkilau tak peduli pada kisah manusia yang terluka di dalam ruangan itu. Tapi di hati Evan, janji telah terucap: ia akan melawan badai ini, melindungi Lucia, dan memastikan bahwa bayangan bernama Samuel tidak lagi mencuri cahaya hidup mereka.

Malam telah larut. Kota masih berkilau, tapi penthouse terasa hening. Di kamar, Lucia akhirnya tertidur dengan napas yang lebih tenang, meski sesekali wajahnya mengerut seperti masih dibayang-bayangi mimpi buruk.

Evan duduk di kursi kerja kecil di dekat ranjang, memandanginya. Ada rasa haru yang menekan dadanya: perempuan itu tampak rapuh, namun ia tahu di balik kerentanannya ada keberanian yang besar. Keberanian untuk meninggalkan masa lalu yang kelam, meski bayangan itu terus mencoba menariknya kembali.

Ia bangkit perlahan, menyelimuti Lucia lebih rapat, lalu berjalan ke ruang kerja. Lampu meja dinyalakan, berkas-berkas terbuka di hadapannya. Namun malam ini, bukan angka-angka atau grafik yang memenuhi pikirannya, melainkan wajah Samuel yang terbayang dengan seringai penuh kemenangan.

Evan mengepalkan tangan. Dia pikir bisa menghancurkan aku hanya dengan menarik investor? Dia pikir bisa mengendalikan Lucia dengan ancaman? Tidak. Aku tidak akan biarkan.

Telepon kembali ia angkat. Kali ini bukan Deren, melainkan kontak pribadi seorang mitra lama yang pernah ia bantu dalam proyek terdahulu. Suara di seberang terdengar akrab, hangat, seolah waktu tak menghapus hubungan yang dulu terjalin.

"Evan! Sudah lama sekali. Kudengar proyek barumu besar sekali," ujar suara itu dari seberang telepon.

Evan tersenyum tipis, meski ada lelah di wajahnya. "Benar. Dan justru karena besar, aku butuh mitra yang bisa dipercaya. Aku tidak akan berputar-putar, apakah kau bersedia mendengar penawaranku?"

Percakapan itu berlangsung lama, penuh strategi, penuh angka yang dipaparkan dengan lugas. Evan menekankan kekuatan proyeknya, potensi pasar, dan tim yang solid. Ia tidak menyebut Samuel secara langsung, tapi dalam setiap kata, ia menegaskan bahwa proyek ini akan berdiri meski ada pihak yang berusaha menjatuhkannya.

Ketika telepon berakhir, ada secercah harapan. Mitra itu meminta waktu untuk mempertimbangkan, tapi nada suaranya menunjukkan ketertarikan yang serius.

Evan menutup ponsel, lalu bersandar di kursinya. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru semakin jernih. Ia tahu jalannya tidak akan mudah. Samuel akan terus mencoba merongrong, mencari celah, mungkin bahkan menyerang lewat cara-cara yang lebih kejam. Tapi ia juga tahu: ia tidak sendirian.

Ada Deren, yang selalu setia mendukung. Ada tim yang menaruh kepercayaan padanya. Dan yang terpenting, ada Lucia, alasan terkuat yang membuatnya tidak boleh menyerah.

1
Syalari sholeh
luce= lucy?
Syalari sholeh
lah brti sama kek samuel mo hancuirnn keluarga lucy walaw sdh merubah target
Ellis Singerita
B...aja... tetap semangat 👍👍👍👍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐧𝐥𝐣𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐚𝐮 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐢 𝐤𝐦𝐛𝐫 𝐚𝐠𝐤 𝐦𝐥𝐚𝐬 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐧𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐡𝐞𝐡𝐡𝐞𝐡𝐞 𝐤𝐥𝐨 𝐫𝐚𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐛 𝐭𝐩 𝐨𝐧 𝐠𝐨𝐢𝐧𝐠 𝐦𝐬𝐡 𝐠𝐩𝐩 𝐬𝐨𝐚𝐥𝐧𝐲𝐚 𝐧𝐠𝐞𝐣𝐚𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐜𝐦 𝟏/𝟐 𝐛𝐚𝐛 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐡𝐞😁😁😁
Archiemorarty: Asli pasti mual kalau tahu soal kelakuan gila manusia2 gx waras kayak mereka itu
total 5 replies
Siti Masitah
lucia harus bahagia..semangaat
Siti Masitah
lucia semangat jgn menyerah
tyta betyta
Bagus
Gintania nia
bagus seperti biasanya
Sativa Kyu
👍👍
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
mimief
semangat songsong hidup baru lu
mimief
tapi...emang ya
terkadang kalau kita terlalu lama ada di situasi yg selalu memaksa kita untuk diam,pasrah dan ga boleh membantah
pasti otak juga Pun mendoktrin untuk ga bisa bergerak

pun ....kalau ygpernah merasa kembali ke masa lalu trus diaberubah
karena dia pernah ngerasain yg nama nya kematian. mknya langsung berubah
jadi buat kalian yg bilang lemah,mau coba jadi dia ga
sehariii aja,baru komen deh
🤭
mimief: ekekkekek...ada yg kesel
di-bully Mulu yaa🤭🤣🤣
total 2 replies
mimief
bawa pulang ke rumah lu Van
jgn ke apartemen itu,udah ga aman
mimief
bersyukur ada mereka
mimief
wah..ikutan deg degan
mimief
hahhh...nyesek aku tu
mimief
aku hadir lagi disini Thor
Archiemorarty: Nggak gantung, cuman ya gitu. kurang greget ceritanya
total 3 replies
Ruk Mini
oh..sgt menguras jiwa thorr..alur yg singkat namun sarat akan makna, sgt menghibur tq thor sdh menyuguh kn kisah yg epik, kehidupan yg nyata mmg kdg sgt pahit tpi hidup hrs trs berjalan, d tgg karya" mu lgi tq thorr🙏👍👍👍
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak semoga menghibur waktu senggangnya 🥰
total 1 replies
Ruk Mini
buah jesabaran
Ruk Mini
legaaaaa
Ruk Mini
ayooo donk luc..ms evan aja yg berjuang
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya🙏.

Kaka, Jika ada waktu luang, boleh coba baca karya ku yang berjudul "PARTING SMILE" ya,

Berkisah tentang penyanyi religi yang terjerat pernikahan kontrak dan cinta masa lalunya yang sangat rumit. Ditambah dia tipe yang gengsian dan menyebalkan, hiih dah lah.

di tunggu ya ☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!