REVISI...!!
Ketika ketiadaanku menjadi angin segar untuk mu maka aku bersedia pergi dari sisi kehidupanmu.
Dan
Ada cerita yang sejak detik itu harus berubah menjadi kenangan.
Nama nya Azura, wanita ini terpaksa menikah dengan laki-laki yang bernama Elvan. Elvan berjanji akan membiayai semua biaya perawatan ibu Azura selama dia menjadi istri nya.
Laki-laki yang awal nya di kenal sangat baik oleh Azura ternyata seorang yang kejam. Wanita ini memutuskan untuk pergi di saat diri nya tahu bahwa Elvan dan ketiga sahabat nya hanya menjadikan nya seorang wanita taruhan.
Jangan Lupa Like Rate Coment And Vote.
Selamat membaca😊😊
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
FB:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.Kau kenapa?
Satu tahun berlalu, Rastra yang sudah genap berusia satu tahun yang sudah mulai aktif. Balita tampan itu tumbuh dengan sangat menggemaskan sehingga membuat siapa pun yang melihat nya akan terpesona dengan Rastra.
Azura menatap anak nya yang sudah bisa duduk itu, balita lucu itu masih sibuk dengan mainan baru nya yang di belikan oleh Daffa.
"Kau kenapa?" tanya Anya yang melihat Azura termenung.
"Kau tahu Anya, hal yang paling menyakitana ketika anak kita mulai bisa berbicara?" tanya Zura tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Entahlah, aku belum menikah dan punya anak."
"Ketika anak yang kau kandung dengan susah payah dan kau lahirkan dengan bertaruh nyawa dan kau mengurus nya sebagai ayah juga ibu. Ketika dia berbicara untuk yang pertama kali nya di mamanggil kata ayah, dan kau tahu Anya? itu sangat sakit untuk ku." tutur Zura.
Anya menghela nafas dalam, "Sabar, sesekali kau harus mempertemukan Rastra dan ayah nya."
Azura menatap tajam Anya, "Bagaimana bisa aku mempertemukan mereka? Elvan sangat jahat pada ku."
"Azura, siapa tahu dia sudah berubah, jangan egois, anak mu butuh seorang ayah."
"Anya, dia memperlakukan ku bagai barang tak berguna." ucap Azura penuh emosi.
"Aku tahu, tapi kau lihat Rastra, jika suatu saat di menanyakan ayah nya di mana dan siapa kau akan menjawab apa? apa pantas hati mu berbohong?"
Azura terdiam, luka yang semula tenggelam kini timbul kembali. Melihat wajah Rastra ia tak bisa melupakan Elvan.
"Kau sangat mirip nak, bunda tidak bisa melupakan ayah mu." batin Zura.
Senja berganti malam, Azura menitipkan Rastra kepada Anya karena ia di ajak pergi oleh Daffa. Sebuah restoran romantis, Daffa mengajak Azura ke sana.
"Kau sangat cantik Zura." ujar Daffa memuji.
"Jangan membuat ku malu, cepat katakan ada apa karena aku tidak bisa lama-lama."
"Hei...santai lah, kan ada Anya." ujar Daffa.
"Aku sudah banyak merepotkan dia," balas Zura.
Daffa menarik nafas dalam lalu mengungkapkan isi hati nya, "Azura, sampai kapan aku harus menunggu mu?" tanya nya dengan serius.
"Kenapa kau menunggu ku?"
"Ayo lah Zura, jangan pura-pura tidak tahu."
"Daffa, aku hanya menganggap mu sebagai teman dan itu tidak lebih."
Daffa menutup mata sejenak, "Lagi-lagi kata itu." ucap nya lirih.
"Carilah perempuan lain Daff, aku masih menikmati kesendirian ku dan mengurus anak ku."
"Tapi sampai kapan?"
"Sudahlah Daff, aku ini masih resmi istri orang," kilah Azura yang mulai malas.
"Kenapa kau tidak minta cerai, bukan kah sudah dua tahun kau meninggalkan nya?"
"Jangan ikut campur masalah ku Daff, aku tidak suka." ujar Azura kesal lalu beranjak dari duduk nya.
"Mau kemana?" tanya Daffa nengehentikan Azura.
"Aku mau pulang, Rastra sudah menunggu ku." ujar Zura.
"Aku antar." ujar Daffa.
Hening, hanya kesunyian yang menemani perjalanan pulang mereka, Azura membuang pandangan nya keluar sedangkan Daffa fokus pada kemudi nya.
Sesampai nya di depan ruko, Azura langsung masuk dan hanya mengucapkan kata terimakasih saja. Daffa hanya menatap pintu yang sudah tertutup rapat, pria itu mulai menata hati setelah di tolak Azura berulang kali.
Azura melempar tas sembarangan, wanita iti kemudian mencuci wajah nya lalu menghampiri Anya yang sedang rebahan di samping Rastra.
"kau kenapa lagi?" tanya Anya.
"Aku bosan, Daffa selalu mengungkapkan perasaan nya.
"Baguslah tu, berarti dia benar-benar mencintai mu."
"Huh, aku sama sekali tidak tertarik." ujar Azura.
Anya hanya menggelengkan kepala nya, ia sudah biasa menghadapi sifat Azura yang kekeh akan pendirian nya.