NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Qingshui Ferry.

Menjelang sore hari kedua setelah meninggalkan Hutan Mosenlin, Shou Wei melihat manusia lain.

Bukan bandit.

Bukan murid sekte berjubah putih.

Melainkan sebuah pemukiman kecil di tepi sungai, berdiri di atas tanah yang lebih tinggi dari permukaan air. Dari kejauhan tampak atap-atap kayu gelap, tiang-tiang tambatan perahu, jemuran kain, dan asap dapur yang naik tipis ke langit pucat. Sebuah papan kayu miring tertancap dekat jalan masuk, tulisannya nyaris terhapus hujan dan angin, namun masih terbaca:

Qingshui Ferry.

Shou Wei berhenti di balik rumpun alang-alang dan mengamatinya cukup lama.

Ia telah berjalan tanpa henti mengikuti aliran sungai ke utara. Dua roti kerasnya tinggal setengah. Batu rohnya tinggal beberapa butir kecil yang ia jaga seperti nyawa. Dalam perjalanan, ia minum dari sungai, memakan buah liar yang ia kenali dari ingatan masa kecilnya, dan dua kali menangkap ikan kecil dengan tangan kosong—lebih tepatnya, dengan refleks baru yang bahkan masih membuatnya terkejut.

Namun semua itu tidak cukup untuk hidup lama.

Ia butuh:

makanan, informasi, pakaian yang lebih layakmungkin senjata yang lebih baikdan yang paling penting, ia butuh tahu bagaimana kultivator hidup di luar sekte dan klan besarQingshui Ferry tampak kecil, tapi justru itu yang membuatnya berbahaya. Tempat kecil sering kali lebih tajam daripada kota besar, karena semua orang mudah saling mengingat. Anak dua belas tahun yang datang sendiri dengan pakaian compang-camping akan segera menarik perhatian.

Shou Wei menunduk memandangi dirinya sendiri. Bajunya masih hasil rampasan dari gudang tambang, terlalu besar di bahu dan terlalu pendek di lengan. Debu tambang masih melekat di sela jahitan. Jika ia masuk begitu saja, siapa pun yang cukup jeli akan tahu bahwa ia datang dari tempat buruk.

Ia berpikir sejenak, lalu berjalan ke tepian sungai.

Dengan air dingin, ia membersihkan wajah, lengan, dan kaki. Ia mengikat rambutnya lebih rapi ke belakang. Sisa darah serigala yang menempel di pisau dibersihkan sampai mengilap lagi. Lalu ia mengambil sedikit lumpur sungai dan menggosokkannya ke bagian kain yang paling mencolok, membuat seluruh pakaiannya tampak seperti pakaian pengembara miskin biasa, bukan pelarian dari pembantaian.

Setelah itu barulah ia bergerak mendekati pemukiman.

Semakin dekat, detail Qingshui Ferry makin jelas. Tempat itu bukan desa murni, tapi juga belum bisa disebut kota. Lebih seperti persinggahan bagi orang-orang yang bergerak di sepanjang sungai. Ada rumah-rumah kayu sederhana untuk penduduk, gudang-gudang kecil untuk barang dagangan, kedai teh, penginapan murahan, dan satu bangunan dua lantai yang tampak paling rapi di antara semuanya. Di samping bangunan itu berkibar kain panjang berwarna biru pucat dengan lambang gelombang air.

Orang-orang keluar masuk dengan langkah lebih waspada daripada warga biasa.

Sebagian besar tampak manusia biasa. Nelayan, pembawa barang, perempuan yang membersihkan jala, pedagang garam, pengantar muatan. Tetapi di antara mereka ada beberapa yang berbeda. Mereka membawa pedang, tombak, atau cambuk di pinggang. Langkah mereka lebih mantap. Mata mereka lebih tajam. Aura mereka tidak sama.

Kultivator.

Rogue cultivators, pikir Shou Wei.

Sekte besar mungkin punya aturan dan jubah seragam. Tapi orang-orang ini tampak seperti hewan liar yang belajar memakai senjata. Tidak ada yang terang-terangan menindas di jalan, namun setiap tatapan selalu seperti mengukur: berapa uangmu, berapa kuatmu, berapa mudah kau dibunuh.

Shou Wei menahan napasnya tetap rata dan berjalan seperti anak kampung biasa yang terlalu lapar untuk takut.

Baru beberapa langkah masuk, ia mendengar dua orang pria di dekat tumpukan peti sedang berbicara pelan.

“Perahu ke utara baru datang besok.”

“Benar, tapi katanya ada orang dari Black Reed Market ikut.”

“Orang pasar gelap itu?”

“Ssst. Jangan keras-keras. Dengar-dengar mereka cari formasi kecil buat gudang dan seal box.”

Shou Wei terus berjalan tanpa menoleh, tetapi kata-kata itu ia simpan.

Formasi kecil. Seal box. Market.

Ia belum tahu seberapa jauh kemampuannya berguna, tapi mendengar kata formasi di tempat seperti ini sudah cukup membuat pikirannya hidup.

Namun sebelum memikirkan uang, ia harus makan.

Bau sup ikan datang dari kedai kecil dekat dermaga. Di depan kedai itu duduk seorang wanita tua bertubuh gemuk dengan kain di kepala, sedang menyiangi ikan sambil memaki dua pemuda yang makan terlalu lama tanpa menambah pesanan.

Shou Wei berhenti di tepi jalan.

Wanita itu melirik sekilas. “Kalau mau makan, masuk. Kalau cuma berdiri dan menelan ludah, pergi dari depan pintuku.”

“Apa yang paling murah?” tanya Shou Wei.

Wanita itu mendengus. “Air panas gratis. Sup ikan satu koin tembaga. Bubur dua koin.”

“Aku tidak punya tembaga.”

“Lalu kenapa bicara?”

Shou Wei melirik keranjang ikan yang baru diangkat dari sungai. “Aku bisa bersihkan ikan. Atau angkat air. Atau cuci mangkuk.”

Wanita tua itu menatapnya lebih lama. “Tanganmu bukan tangan anak dapur.”

Shou Wei diam.

Wanita itu menyipitkan mata, mungkin melihat bekas luka lama dan kapalan aneh di telapak tangannya. Namun ia akhirnya mengangkat dagu ke belakang kedai. “Kalau begitu potong kayu. Dua tumpuk. Jangan curi apa pun. Kalau cepat, dapat bubur.”

Shou Wei mengangguk dan langsung bekerja.

Kayu bakar di belakang kedai tidak terlalu banyak, tetapi batangnya tebal dan keras. Bagi anak biasa, pekerjaan itu akan memakan waktu lama. Namun setelah darah naga bangkit, Shou Wei harus justru menahan tenaganya agar tidak mencolok. Ia membelah batang-batang itu dengan kapak kecil secara teratur, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.

Sambil bekerja, ia terus mendengar suara-suara dari depan kedai.

“Orang-orang dari Iron Ridge lewat tadi pagi.”

“Iron Ridge? Para penempa itu?”

“Bukan, cuma pembawa barang mereka.”

“Kudengar ada beast tamer dari selatan ikut juga. Bawa telur beast.”

“Di Qingshui Ferry?”

“Bodoh. Mereka cuma singgah, lalu lanjut ke pasar utara.”

Setelah selesai, ia diberi semangkuk bubur hangat dan dua potong ikan kecil. Bubur itu encer, tapi jauh lebih baik daripada roti keras dingin. Shou Wei memakannya perlahan di sudut kedai, sambil tetap mengamati orang-orang yang masuk dan keluar.

Dari pengamatan singkat, ia menangkap beberapa hal.

Bangunan dua lantai dengan bendera gelombang tampaknya semacam river exchange hall—tempat pedagang, pengawal, dan rogue cultivators bertukar barang atau kabar. Di luar bangunan itu berdiri dua pria bersenjata tombak pendek. Tidak kuat sekali, tapi cukup untuk menakuti orang biasa.

Di tepi dermaga ada kandang kayu besar berisi tiga binatang aneh seukuran anjing, tapi bertubuh panjang seperti musang dan bersisik kehijauan. Beast kecil. Tidak terlalu kuat, tapi jelas bukan hewan biasa.

Dan yang paling menarik perhatian Shou Wei adalah seorang pria berjubah abu-abu yang duduk sendirian di bawah pohon besar, menjual barang-barang dari kain lusuh di depannya. Ada beberapa buku tipis, belati rusak, batu-batu aneh, dan dua lembar kertas kuning bertulis simbol yang tidak sepenuhnya asing.

Talisman? Atau potongan formasi?

Setelah menghabiskan buburnya, Shou Wei berdiri.

Wanita tua itu memanggilnya sebelum ia pergi. “Hei, bocah.”

Shou Wei menoleh.

“Kau bukan dari sini. Jangan keluarkan batu roh di jalan. Dan kalau ada yang terlalu ramah, curigai lebih dulu.”

Ia menatap wanita itu beberapa detik, lalu membungkuk sedikit. “Terima kasih.”

Wanita itu mendengus dan kembali menyiangi ikan, seolah baru saja mengusir lalat.

Shou Wei berjalan ke arah pedagang berjubah abu-abu.

Pria itu kurus, pipinya cekung, matanya seperti selalu setengah tertutup. Begitu Shou Wei mendekat, ia bahkan tidak langsung menawarkan apa pun.

“Lihat-lihat gratis,” katanya. “Tapi kalau menyentuh dan merusak, kau jual dirimu untuk ganti rugi.”

Shou Wei berjongkok di depan kain dagangan itu.

Dari dekat, ia bisa melihat dua lembar kertas kuning tadi bukan talisman utuh. Salah satunya memang kertas jimat biasa, kualitas rendah. Yang satunya lagi adalah potongan kulit tipis dengan garis-garis sangat samar di permukaannya. Bukan kertas biasa. Bukan simbol tempel biasa.

Itu adalah bagian dari diagram formasi.

Sangat rusak. Sangat kecil. Namun cukup untuk membuat mata Shou Wei menajam.

“Apa ini?” tanyanya sambil menunjuk potongan kulit itu.

Pedagang itu membuka satu mata sedikit lebih lebar. “Kau tahu cara bertanya yang benar?”

Shou Wei tak menjawab.

Pria itu mendengus. “Potongan formasi tua. Tak berguna. Kupungut dari peti rusak orang mati.”

“Kalau tak berguna, kenapa dijual?”

“Karena selalu ada orang bodoh yang suka benda tua.”

Shou Wei menatap pola samar di permukaannya. Garisnya memang rusak, tapi sudut penguncinya masih tampak. Ini bukan formasi besar. Lebih seperti bagian luar dari concealment node atau seal junction. Kalau dipelajari, mungkin bisa memberi petunjuk.

“Berapa?”

“Dua belas koin tembaga.”

“Aku tidak punya tembaga.”

“Kalau begitu lihat saja.”

Shou Wei terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku bisa bantu identifikasi satu barangmu.”

Pedagang itu akhirnya menoleh penuh. Mata pria itu kecil dan tajam, seperti ular rawa.

“Bocah, kau bahkan belum tumbuh jenggot.”

“Aku tidak bilang aku hebat. Aku bilang satu barang.”

Pria itu menatapnya lama, lalu mendorong sebuah batu hitam kusam seukuran telur ke depan. “Kalau begitu, katakan apa ini.”

Shou Wei mengambilnya.

Batu itu dingin. Saat disentuh, ia hampir tak merasakan apa-apa. Tapi ketika ia menempelkan ujung kuku ke garis tipis di salah satu sisi, pola samar di dalam batu itu terasa tidak alami. Ada lekukan yang dibuat tangan manusia, lalu disegel dengan panas.

Shou Wei mengingat pecahan-pecahan simbol dari kitab kuno di goa terdalam. Tidak sama, tapi ada kemiripan fungsi.

“Ini bukan batu biasa,” katanya pelan. “Pernah dipakai sebagai kunci simpul. Mungkin untuk membuka kotak atau ruangan kecil. Tapi strukturnya rusak. Kalau dipaksa, isinya bisa ikut hancur.”

Pedagang itu mendadak diam.

Ekspresinya tidak berubah banyak, tapi Shou Wei bisa mendengar napas pria itu berhenti sepersekian detik.

Jadi benar, pikirnya.

Pria itu mengambil kembali batu hitam tersebut. “Siapa gurumu?”

“Tidak ada.”

“Bohong.”

“Maksudku sekarang tidak ada. Kalau aku punya guru, aku tidak akan berdagang denganmu di pinggir jalan.”

Pedagang itu terkekeh pendek, untuk pertama kalinya tampak benar-benar terhibur. Ia menggosok dagunya yang kurus. “Baiklah. Potongan kulit itu bisa kau ambil. Sebagai gantinya, kau jelaskan satu hal lagi.”

Shou Wei tak langsung menyentuh barang itu. “Apa?”

Pria itu mengeluarkan cincin besi tipis yang pecah di satu sisi. Permukaannya dipenuhi ukiran sangat halus, sebagian besar sudah buram. “Ini.”

Begitu melihat cincin itu, jantung Shou Wei berdegup sedikit lebih cepat.

Itu bukan perhiasan.

Itu adalah ring brace of a minor array structure—semacam penahan formasi kecil, mungkin dipasang di peti, pintu, atau alat tertentu. Ukirannya rusak, tapi bentuk dasar simpulnya masih bisa dibaca.

Ia menatapnya lebih lama dari yang aman.

Pedagang itu menangkap tatapan itu dan langsung menyeringai tipis. “Ah. Jadi kau benar-benar tahu.”

Shou Wei mengangkat kepala, ekspresinya tetap datar. “Itu pengunci luar. Bukan inti. Kalau mau dipakai lagi, harus dipasangkan dengan tiga simpul kecil lain. Tanpa itu, cuma besi hias.”

Pedagang itu menatapnya seolah baru melihat batu sungai bicara.

“Namamu siapa?”

“Tidak penting.”

“Kalau begitu aku panggil kau Little Array.”

Shou Wei tidak suka nama itu, tapi tidak membantah.

Pria itu akhirnya menyerahkan potongan kulit formasi tadi, lalu menepuk kain dagangannya. “Dengar, Little Array. Di tempat seperti ini, pengetahuanmu bisa bikin kau makan... atau bikin kau dibedah. Tergantung pada siapa kau bicara.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kau belum tahu.” Pedagang itu menyelipkan cincin pecah itu kembali ke lengan bajunya. “Kalau kau benar-benar paham garis dan simpul, jangan tunjukkan pada orang yang salah. Beberapa hari lagi ada orang dari Black Reed Market lewat sini. Mereka suka barang langka, tapi mereka lebih suka orang yang bisa dipaksa bekerja.”

Shou Wei menggenggam potongan kulit itu di balik lengan bajunya.

“Black Reed Market di mana?”

Pedagang itu tersenyum miring. “Nah. Itu pertanyaan mahal.”

Sebelum Shou Wei sempat menjawab, keributan terdengar dari arah dermaga.

Teriakan marah.

Suara peti jatuh.

Orang-orang di jalan spontan mundur memberi ruang. Seorang pria tinggi bertubuh kekar, berpakaian rompi kulit binatang, sedang menarik tali yang terhubung ke leher makhluk bersisik di dekat dermaga. Beast kecil itu mengamuk, matanya merah, giginya menyeringai, dan ekornya menghantam tiang kayu sampai retak.

Di depannya berdiri seorang pemuda kurus berpakaian hijau, wajahnya pucat ketakutan.

“Bukan salahku!” teriak pemuda hijau itu. “Aku cuma lewat!”

“Lalu kenapa beast-ku marah saat menciummu?” bentak pria kekar itu. “Kau bawa sesuatu!”

Shou Wei memperhatikan lebih tajam.

Beast itu bukan marah biasa. Ia mencium udara dengan liar ke arah pinggang pemuda hijau itu. Bukan pada orangnya, tapi pada sesuatu yang dibawa.

Pemuda hijau itu tampak hendak lari, tapi dua orang lain sudah menutup jalan. Salah satunya membawa cambuk tulang. Rogue cultivators, jelas.

Orang-orang sekitar menonton, tapi tidak ada yang ikut campur.

Shou Wei menahan diri untuk tidak bergerak. Ini bukan urusannya.

Lalu pedagang abu-abu di sampingnya bergumam, “Bocah itu bodoh. Mencuri beast scent herb dari beast tamer. Ingin mati cepat.”

Beast scent herb?

Shou Wei segera mengerti. Tumbuhan itu mungkin dipakai untuk memancing atau menenangkan beast. Kalau dicuri, wajar beast menjadi liar.

Pemuda hijau itu akhirnya melempar sesuatu dari balik bajunya dan lari ke arah sungai. Sebuah kantong kecil jatuh ke tanah. Beast bersisik itu langsung menerjang benda tersebut. Namun pria kekar tadi malah membuang tali dan melesat mengejar si pencuri.

Cepat. Jauh lebih cepat daripada manusia biasa.

Foundation Establishment? pikir Shou Wei. Atau setidaknya mendekati.

Pemuda hijau itu bahkan belum sempat mencapai dermaga ketika pundaknya dihantam dari belakang. Tubuhnya terpental ke air, memercik tinggi.

Keributan pecah.

Orang-orang makin mundur.

Shou Wei justru maju setengah langkah ke sisi bayangan bangunan, matanya menyapu tanah tempat kantong kecil tadi jatuh. Dalam kekacauan itu, kantong tersebut terlempar ke bawah celah peti kayu dekat tiang.

Tak ada yang melihatnya.

Semua mata tertuju pada perkelahian di air.

Pedagang abu-abu melirik Shou Wei dari sudut mata. Bocah itu tidak bergerak gegabah. Bagus, pikirnya.

Namun beberapa detik kemudian, Shou Wei justru melakukan hal yang lebih cerdas.

Ia tidak mengambil kantong itu.

Sebaliknya, ia berjalan menjauh dua langkah, lalu memanggil salah satu pekerja dermaga yang tampak panik. “Paman, peti di bawah tiang itu hampir jatuh ke sungai.”

Pria itu menoleh kesal, lalu berlari ke arah tiang untuk menyelamatkan barangnya. Saat mengangkat peti, ia melihat kantong kecil di bawahnya.

“Apa ini?”

Pria kekar dari tepi air mendengar suara itu dan menoleh. Dengan dua lompatan, ia sudah kembali ke darat dan merampas kantong tersebut. Wajahnya gelap, tapi tidak lagi segila tadi.

“Aku menemukannya di bawah peti, Tuan!” kata pekerja dermaga itu cepat.

Pria kekar itu menatap sekeliling sekali, lalu mendengus. “Hmph. Setidaknya masih ada orang yang tahu kapan harus tidak mencuri.”

Ia melempar satu koin perak kecil ke dada pekerja dermaga dan kembali menarik beast-nya yang mulai tenang.

Orang-orang pun perlahan bubar.

Pedagang abu-abu di bawah pohon menatap Shou Wei dengan senyum yang kini lebih tipis dan lebih hati-hati dari sebelumnya.

“Kau tidak mengambilnya.”

“Aku tidak bodoh.”

“Kau juga tahu kalau orang lain akan dianggap penemu.”

“Lebih baik begitu.”

Pedagang itu tertawa rendah. “Ya. Kau memang cocok hidup lebih lama.”

Shou Wei menatap dermaga yang kembali sibuk.

Ia baru saja mengonfirmasi sesuatu yang penting. Di dunia luar, kekuatan memang menentukan banyak hal. Tapi kekuatan tanpa kepala hanya menghasilkan mayat lebih cepat. Sementara orang yang tahu kapan maju, kapan diam, dan kapan membiarkan orang lain berdiri di depan... bisa hidup cukup lama untuk menjadi kuat.

Ia menggenggam potongan formasi di lengan bajunya.

Ini baru permulaan.

Qingshui Ferry hanyalah tempat kecil di tepi sungai, dipenuhi manusia setengah lapar dan kultivator setengah jadi. Namun di sinilah Shou Wei pertama kali melihat dunia yang sesungguhnya: dunia di mana informasi bisa dijual, barang rusak bisa bernilai, dan satu langkah salah bisa membuat seseorang tenggelam tanpa nama.

###########

Kultivator Rouge adalah Kultivator lepas tanpa ikatan sekte ataupun clan

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!