NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: MIMPI YANG MATI

Maya tidak tidur.

Pukul satu dini hari, dia masih duduk di tepi ranjang, menatap jendela gelap. Hujan reda sejak jam sebelas, tapi langit masih kelabu, tanpa bintang. Di lantai bawah, rumah sunyi. Ardi mungkin sudah tidur di kamar tamu, atau mungkin masih duduk di ruang keluarga.

Tidak penting.

Dia berdiri, berjalan ke meja rias, duduk di kursi kecil. Lampu meja redup, menerangi setengah wajahnya. Di cermin, wanita yang sama seperti tiga tahun lalu. Rambut panjang, wajah oval, mata yang dulu penuh harapan. Sekarang kosong.

Maya membuka laci, mengeluarkan buku sketsa.

Sampul berdebu, sudut mengelupas. Halaman pertama: sketsa galeri impian. Ruangan kecil dengan jendela besar menghadap taman. Dinding putih, lantai kayu, lukisan tergantung rapi. Di sudut, sofa bekas yang akan dilapisi ulang. Di luar jendela, pohon rindang, cahaya matahari masuk, menciptakan bayangan lembut.

Dia menggambar itu lima tahun lalu, saat masih kurator di galeri kecil Kemang. Gaji kecil, hutang menumpuk, tapi setiap malam dia duduk di kamar kos sempit, menggambar galeri impian.

Tiga tahun lalu Bram datang. Pria tua kaya yang membawanya ke rumah besar di Menteng, memberi hidup nyaman, berjanji membantu mewujudkan mimpinya. Tapi Bram sibuk. Selalu sibuk. Mimpi itu tertunda, menjadi sketsa usang.

Maya membalik halaman.

Sketsa kedua. Galeri sama, detail lebih banyak. Rak kayu jati, meja resepsionis marmer putih, lampu gantung kristal kecil. Dia menggambar itu dua tahun lalu, setelah Bram memberinya kartu kredit platinum. Tapi Bram bilang, "Tunggu dulu, aku masih sibuk. Nanti kita bicarakan."

Nanti tidak pernah datang.

Sketsa ketiga. Galeri yang sama, mulai pudar. Garis tidak lagi tegas, ragu-ragu. Dia menggambar itu setahun lalu, ketika Ardi mulai sering di rumah. Waktu itu, mimpi galeri terasa jauh. Yang dekat hanya Ardi, dengan mata kosong dan tangan hangat.

Maya menutup buku.

Angin menderu pelan, membawa dedaunan kering menempel di jendela.

Dia berdiri, berjalan ke lemari, mengeluarkan koper kecil dari rak paling atas. Koper itu sudah lama tidak dipakai. Di dalamnya bukan pakaian. Hanya kenangan.

Maya membuka koper.

Foto-foto lama: bersama teman di galeri, bersama kurator lain, bersama seniman. Tiket pesawat ke Bali, Yogyakarta, Singapura. Buku catatan kecil berisi daftar seniman yang ingin diajak kerja sama, kolektor yang mungkin tertarik.

Semua hanya kertas usang.

Maya duduk di lantai, menatap isi koper. Tangannya gemetar mengambil satu per satu, membaca, lalu meletakkan kembali. Tidak ada air mata. Matanya kering.

Dia ingat pertama bertemu Bram. Di pameran seni, Bram datang dengan setelan mahal, sendirian, menatap lukisan abstrak yang tidak dia mengerti. Maya mendekat, menjelaskan makna di balik goresan. Bram tersenyum, bilang, "Kau cantik saat bicara tentang seni."

Malam itu Bram mengajaknya makan malam. Lalu malam-malam berikutnya, Bram terus datang, membawa hadiah, berjanji akan membantu mewujudkan galeri impian. Maya tidak jatuh cinta pada Bram—tapi pada janji itu.

Dan hidupnya berubah. Tapi tidak seperti yang dia bayangkan.

Maya menutup koper, mendorongnya ke sudut lemari.

Dia kembali ke meja rias, mengambil buku sketsa, membuka halaman terakhir. Kosong. Dia mengambil pensil, mulai menggambar.

Garis pertama. Dinding putih.

Garis kedua. Jendela besar.

Garis ketiga. Lantai kayu.

Dia menggambar dengan gerakan lambat, tidak yakin. Setiap goresan terasa berat.

Setengah jam kemudian, sketsa selesai.

Galeri yang sama. Tapi kali ini tidak ada cahaya matahari. Jendela gelap, taman di luar buram. Di dalam ruangan, tidak ada lukisan, tidak ada kursi. Hanya ruang kosong, dingin, sunyi.

Maya menatap sketsa itu lama. Ruang kosong di kertas terasa seperti hatinya sekarang.

Dia meletakkan pensil, menutup buku. Perlahan, tanpa ekspresi, dia memasukkan buku sketsa ke dalam laci, di bawah tumpukan kertas lain. Bukan menyembunyikan. Mengubur.

Angin berhenti. Rumah lebih sunyi dari sebelumnya.

Maya berjalan ke jendela, membuka tirai. Halaman belakang gelap, kolam ikan tidak terlihat, hanya bayangan pepohonan. Di kejauhan, lampu kota berkedip redup.

Dia menempelkan kening ke kaca, merasakan dingin merambat ke tulang. Pikirannya melayang ke Ardi. Mungkin dia sedang tidur di kamar tamu dengan wajah lelah. Mungkin dia juga tidak bisa tidur.

Tapi Maya tidak lagi peduli.

Bukan karena tidak sayang. Tapi karena lelah. Lelah memikirkan masa depan tidak pasti. Lelah menjadi pilihan yang tidak pernah diumumkan. Lelah menunggu Ardi mengambil keputusan.

Dia ingat kata-katanya sendiri di dalam mobil: "Kau takut kehilangan perusahaan. Kau takut Bram marah. Kau takut Sari membenci kita. Kau takut semua orang tahu."

Dan Ardi tidak membantah.

Maya menutup tirai, kembali ke ranjang, duduk di tepi. Ponsel tergeletak di meja samping, layar gelap.

Dia berbaring, menarik selimut hingga ke dagu, menatap langit-langit gelap. Lampu kota yang masuk lewat celah tirai menciptakan bayangan samar di dinding.

Maya menutup mata.

Di dalam gelap, galeri itu muncul lagi. Dinding putih, jendela besar, lantai kayu. Tapi tidak ada lukisan. Tidak ada kursi. Tidak ada cahaya. Hanya ruang kosong yang dingin.

Dia membuka mata, mengambil ponsel. Pesan dari Sari masuk beberapa menit lalu.

Kak, maaf ganggu malem-malem. Aku bingung. Ardi jadi aneh akhir-akhir ini. Dia menghindar. Kakak tahu kenapa?

Maya menatap pesan itu lama. Jari di atas kolom balasan, mengetik aku tidak tahu, lalu menghapus. Mengetik mungkin dia sedang bingung, lalu menghapus lagi.

Akhirnya: Maaf, Sari. Aku juga tidak tahu harus bilang apa.

Pesan terkirim. Sari tidak membalas.

Maya mematikan ponsel. Langit mulai berubah warna, dari hitam pekat menjadi abu-abu gelap. Subuh akan datang. Hari baru akan dimulai. Tapi bagi Maya, tidak ada yang baru. Hanya hari yang sama, dengan rahasia yang sama, dengan mimpi yang mati.

Dia menarik napas panjang, menahannya, lalu menghembuskan perlahan.

Pukul setengah enam, dia masih terjaga. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya kosong.

---

Pagi datang dengan langit kelabu.

Yuni sudah di dapur. Bau kopi dan roti bakar memenuhi ruangan, tapi Maya tidak lapar.

“Selamat pagi, Bu.”

“Pagi.”

Maya duduk di meja, menuang teh hangat. Di seberang, kursi Ardi kosong.

Yuni meletakkan sepiring roti bakar. “Sarapan, Bu.”

“Makasih, Yuk.”

Maya memegang roti itu, tidak menggigit. Hanya menatapnya.

Langkah kaki di lorong. Ardi turun dengan wajah pucat, mata sembab, rambut tidak disisir. Hanya kemeja putih kusut.

Maya menatap sekilas, kembali ke tehnya.

“Pagi.”

“Pagi.”

Ardi duduk di seberang, menuang kopi. Tangannya gemetar.

“Kamu tidak tidur?”

“Tidak.”

“Aku juga.”

Diam. Yuni sibuk di dapur.

“Maya.”

“Hm?”

“Aku minta maaf.”

Maya mengangkat wajah. “Maaf untuk apa?”

“Untuk semuanya. Tadi malam. Aku tidak tahu.”

Maya tersenyum. Senyum yang sudah dilatih. “Kau tidak perlu minta maaf. Kau hanya menjadi dirimu sendiri.”

Ardi menunduk. Jarinya menggenggam cangkir, memutih.

“Aku akan bicara dengan Bram. Hari ini. Aku akan bilang tentang kita.”

Maya menatapnya. “Kau yakin?”

“Tidak. Tapi aku harus.”

Dia tidak menjawab. Hanya menyesap teh yang sudah dingin.

Di luar, langit mulai terang. Tapi matahari tidak terlihat. Awan kelabu masih menggantung rendah.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra screet love
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!