Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU KOMENTAR
Tiga hari setelah pembukaan, Suara Asing mengunggah sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.
Bukan episode baru. Bukan surat yang dibacakan. Hanya satu foto dan satu kalimat.
Foto: interior galeri di Cikini — diambil dari sudut yang menangkap dua ruang sekaligus, dengan cahaya yang hangat dan orang-orang yang berdiri membaca panel surat Raka. Tidak ada wajah yang jelas di foto itu. Hanya ruang dan orang-orang di dalamnya.
Kalimat di bawah foto:
"Ini yang terjadi ketika kata-kata yang tidak pernah terkirim akhirnya menemukan tempat untuk tinggal."
Dalam dua jam, posting itu dibagikan empat puluh ribu kali.
Dalam enam jam, ada yang berhasil mengidentifikasi lokasi galeri — dan antrian di luar galeri yang seharusnya sudah lebih terkontrol di hari ketiga malah lebih panjang dari hari pertama.
Tapi yang paling mengubah segalanya adalah komentar.
Bukan satu komentar — ratusan, ribuan. Orang-orang yang sudah datang ke pameran bercerita tentang pengalaman mereka. Orang-orang yang belum datang bertanya bagaimana caranya. Orang-orang yang tidak bisa datang karena jarak meminta apakah akan ada versi online.
Tapi di antara semua itu, ada satu komentar yang berbeda.
Akun dengan nama asli — bukan anonim, bukan username acak. Nama asli, foto profil wajah nyata, dan komentar yang panjangnya tidak biasa untuk kolom komentar Instagram:
"Saya Langit yang sesungguhnya. Bukan Dito — saya tahu tentang Dito dari keluarganya minggu lalu setelah melihat pameran ini. Saya Langit yang lain. Seseorang yang pernah mengenal Raka di tempat yang berbeda, di waktu yang berbeda, dan yang juga diberi nama itu.
"Raka memberi nama itu kepada dua orang. Saya tidak tahu tentang Dito. Dito tidak tahu tentang saya. Tapi kami sama-sama menerima nama yang sama dari seseorang yang rupanya memberikan yang terbaik dari dirinya kepada orang-orang yang ia percayai.
"Saya tidak akan menulis lebih banyak di sini. Tapi saya ingin pemilik Suara Asing tahu: ada surat yang Raka kirimkan langsung kepada saya. Bukan yang di kotak. Satu surat yang berbeda, dari waktu yang lebih awal, yang sudah saya simpan empat tahun.
"Kalau Anda ingin membacanya — ia bilang boleh siapa saja yang menemukan namanya nanti. Itu yang ia tulis di surat itu. 'Boleh dibagikan kepada siapa saja yang menemukan namamu nanti, karena artinya mereka yang tepat.'
"Saya pikir kalian adalah yang tepat."
---
Wren membaca komentar itu di studionya. Lalu membacanya lagi. Lalu memanggil Arsa.
Arsa tiba dua puluh menit kemudian — masih dengan jaket karena langsung dari luar — dan membaca komentar itu di layar laptop Wren.
Ia duduk diam cukup lama.
"Raka memberikan nama Langit kepada dua orang," katanya akhirnya.
"Ya."
"Dito yang fotografi langit — yang passion-nya tentang langit secara harfiah." Arsa menarik napas. "Dan seseorang yang lain, yang diberi nama itu karena alasan yang berbeda."
"Kita tidak tahu alasannya."
"Belum." Arsa menatap komentar itu. "Wren — ini artinya ada satu surat lagi. Surat yang benar-benar terkirim. Satu-satunya yang Raka kirim langsung."
Wren menatapnya.
Satu surat yang berbeda. Yang sudah saya simpan empat tahun.
"Raka berhasil," kata Wren pelan. "Setidaknya sekali. Setidaknya kepada satu orang, ia berhasil mengirimkan apa yang ingin ia katakan."
Kalimat itu mendarat di antara mereka dengan cara yang tidak ringan tapi juga tidak menghancurkan — lebih seperti sesuatu yang sangat dibutuhkan, yang sudah lama absen, yang kehadirannya membuat sesuatu di dalam dada berubah dari sesak menjadi lapang.
Arsa menutup mata sebentar.
Setidaknya sekali. Setidaknya kepada satu orang.
"Kita perlu menghubungi mereka," kata Arsa.
"Saya sudah membalas komentar itu." Wren memutar laptop ke arahnya. "Mereka sudah memberikan kontak."