Pergolakan bathin , antara dendam dan kebenaran seorang anak manusia di masa itu.
Dengan segala kelemahan nya yg membuat diri nya terasa begitu di rendahkan oleh orang sekelilingnya.
Bahkan tanpa kemampuan apa pun , ia amat begitu menderita.
Hingga pada waktu nya , diri nya menemukan keberuntungan yg tidak terhingga,.
Apa yg selanjut nya terjadi ,,..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakaria Faizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3 Prajurit Pilihan.
Sebenar nya di dalam hati Danurwedha ada keengganan untuk melaksankan perintah dari Lurah Baruna tersebut.
Akan tetapi selaku seorang prajurit ia harus menjalankan nya sebab kalau tidak ia akan di nyatakan sebagai pembangkang terhadap perintah dari atasan nya.
Sehingga ia pun menuruti nya dengan agak malas , Danurwedha pun meninggalkan pos penjagaan itu.
Sambil tetap melihat ke arah depan, anak muda itu memandangi sekitar tempat itu, walaupun sebenar nya ia sudah sangat mengenal lingkungan dari kediaman Tumenggung Wira Pralaya ini.
Ketika kedua orang yg tengah di ikuti nya itu menghilang di balik tikungan , Danurwedha pun mempercepat langkah kaki nya.
Hehm, kemana mereka itu ?
Bertanya di dalam hati nya Danurwedha.
Ia pun celingukan mencari kedua nya karena tidak mendapati mereka lagi.
Di dalam hati nya Danurwedha pun menjadi cemas.
Kemana pergi nya ?, tanya nya dalam hati.
Disaat seperti itu, ia pun mendengar ada suara yg berbicara agak keras di sebelah kanan nya.
Apakah itu mereka ?
Buru-buru Danurwedha pun menuju ke tempat tersebut.
Hahh !
Anak muda asal Kademangan Prambanan ini pun menjadi sangat terkejut.
" Cepat !, lepaskan dia !"
Suara Raden Pabelan terdengar mengguntur keras, karena pada saat yg sama, ada seorang lelaki yg bertubuh tinggi besar tengah menahan Sekar Wandari , putri dari Tumenggung Wira Pralaya itu, bahkan leher gadis cantik ini di kalungi oleh sebuah senjata , berupa golok.
" Ha, ha, ha, kali ini ia akan ****** bila kau tidak menyerahkan senjata mu itu kepada ku, karena tidak ada guna nya untuk melawan ku , ha, ha, ha, !"
Lelaki tinggi besar dengan banyak bekas luka codet pada bagian wajah nya terlihat sangat garang dengan di temani oleh seorang lagi yg juga telah siap dengan senjata nya.
" Kalian lah yg harus menyerah !, karena kalau tidak keris ku ini lah yg akan menghunjam ke jantung mu !" balas Raden Pabelan.
Putra Tumenggung Mayang itu pun mencabut senjata nya, sebilah keris yg memiliki pamor cukup menyilaukan mata.
" Kakang!, ternyata memang benar , pemuda itu memiliki sebuah senjata pusaka yg baik sekali " ucap laki-laki yg berada di sebelah lelaki besar tersebut.
" Hehh!, benar apa yg kau katakan itu adi Sujiwo, kita harus merebut nya " balas lelaki tinggi besar tersebut.
Sambil ia menekan lebih keras lagi senjata golok nya pada leher Sekar Wandari, lelaki itu pun berseru keras,
" Sebaik nya kau serahkan senjata mu itu , atau,..nyawa perempuan ini sebagai taruhan nya , hahh !"
Aaakhh !
Lelaki itu bicara keras , berusaha lebih untuk menjatuhkan nyali Raden Pabelan.
Dan benar saja, pemuda itu pun agak ragu untuk menyerang kedua orang yg telah menahan Sekar Wandari itu.
Apalagi ia mendengar jeritan tertahan dari Sekar Wandari sendiri.
" Cepat !, berikan kepada kami senjata mu itu, kalau nyawa perempuan ini ingin selamat !" seru lelaki tinggi besar ini dengan keras sekali.
Raden Pabelan tampak bingung, ia memang tidak bisa bertindak, bila tidak nyawa Sekar Wandari lah sebagai taruhan nya.
Akhir nya ia pun setuju dengan mempergunakan isyarat tangan nya ia akan menyerah dan memberikan senjata yg ada di dalam genggaman nya.
" Cepat adi Sujiwo, ambil keris itu !"
Lelaki tinggi besar ini memberikan perintah kepada teman nya sambil menggerak kan kepala nya.
Teman nya itu pun tanggap, dengan cepat ia pun melangkah menuju ke arah Raden Pabelan yg telah meletakkan keris nya di atas tanah.
Di saat beberapa langkah lagi ia akan tiba pada keris itu,
Dhiegh!
" Aaaaakhh !"
Hahhh !
" Ciaaat "
Terdengar suara dari lelaki tinggi besar itu berteriak sangat keras , bahkan ia pun sampai jatuh terjerembab di atas tanah, Sekar Wandari pun terlepas dari sekapan nya , dan langsung berlari mendekati Raden Pabelan.
Sebuah hantaman tendangan yg sangat keras dari arah belakang lelaki tinggi besar ini lah yg telah menjatuhkan nya, dan nampak sesosok anak muda yg telah berdiri tegak di hadapan nya yg tiada lain adalah Danurwedha.
Sementara itu, Raden Pabelan bertindak dengan sangat cepat begitu mengetahui ada seseorang yg telah membantu nya.
Ia pun dengan sangat baik nya mengambil senjata nya dan langsung memberikan satu pukulan yg sangat keras ke arah orang yg baru datang ini.
Hantaman kepalan tangan kanan nya pun mendarat telak pada bagian wajah orang tersebut.
Dan orang tersebut pun harus jatuh tersungkur.
Terjadi lah dua lingkar pertarungan, karena kedua orang tersebut berusaha melawan, melihat kedua lawan nya itu hanya lah anak muda yg biasa saja.
Meskipun pada saat itu, Danurwedha tengah menggunakan seragam keprajuritan Pajang, tetapi memang ia terlihat sangat muda sekali.
Nyali kedua nya pun bangkit dan menyerang dengan mempergunakan senjata nya.
Lelaki tinggi besar yg banyak codet nya ini menyerang dengan golok nya ke arah leher Danurwedha.
Dengan cukup sigap, Danurwedha pun menghindari nya, sambil ia berusaha untuk melakukan serangan balasan pada waktu yg tepat.
Heahhh !
Dhieghh !
Begitu serangan yg di lancarkan oleh lelaki itu tidak mengenai nua kaki Danurwedha pun bergerak sangat cepat ke arah bagian belakang lelaki tersebut.
Dan hasil nya pun kembali mengejutkan., tubuh lelaki itu pun harus tersungkur untuk kedua kali nya.
Debu pun mengenai wajah nya.
Ia berusaha bangkit , walaupun punggung nya masih terasa sakit.
Hehh!, tenaga bocah ini sangat kuat sekali, berkata ia di dalam hati nya.
Senjata nya masih berada di dalam genggaman nya.
Sedang di tempat lain, Raden Pabelan berhasil.menguasai jalan nya pertarungan, ia dengan begitu gesit nya berhasil mempecundangi lawan nya itu dengan beberapa kali melakukan serangan yg mengenai tepat di tubuh lawan nya ini.
" Menyerah lah Kisanak, tidak ada guna nya kalian melawan !" seru Danurwedha sambil menatap ke arah lawan nya yg telah bangkit ini.
Agak ragu juga lelaki tinggi besar ini begitu mata nya saling bertatapan langsung dengan mata anak muda ini.
" Kau lah yg seharus nya menyerah bocah, hiyyah !"
Lelaki itu pun kembali menyerang dengan golok nya yg terayun mendatar , menyasar ke arah perut Danurwedha.
Hufhh !
Danurwedha yg telah bersiaga sedari tadi , berusaha menghindari nya dengan melompat ke belakang beberapa tindak, baru selanjut nya balas menyerang.
Heahhhh !
Gerakan nya sangat ringan dan cukup cepat, saat ia telah menjejak kan kaki nya lagi di atas tanah, kembali pemuda itu mengemposi tenaga nya dan balik menyerang ke arah lelaki tinggi besar ini dengan satu jurus yg sangat tak biasa.
Ia mempergunakan sebuah jurus yg meniru sikap seekor monyet baru kemudian di lanjutkan dengan sebuah cakaran tangan nya yg terbuka meniru gaya seekor macan.
Karena serangan nya itu sangat cepat, lelaki tinggi besar ini pun terlambat menghindari nya.
Aaakhhh !
Ia pun menjerit tertahan, dan pada bagian leher nya menjadi koyak akibat cakaran dari tangan Danurwedha tersebut hingga mengeluarkan darah.
Untuk selanjut nya lelaki itu pun berusaha menjauhi lawan nya ini, akan tetapi Danurwedha terus saja memburu nya hingga.
Hiyyyahh !
Dhìeghh !
Jangan lari !
Satu tendangan maut pun kembali menjatuhkan lelaki itu sehingga ia pun tersungkur sulit untuk bangkit lagi.
Danurwedha segera meraih senjata nya yg terlepas dan meodongkan nya ke arah bagian belakang leher nya.
Mau tidak mau , lelaki itu pun akhir nya menyerah dengan mengangkat kedua tangan nya.
Sedangkan Raden Pabelan sendiri sudah menuntaskan pertarungan nya dengan cukup singkat , ia berhasil membuat pingsan lawan nya itu.
" Sebaik nya kita bawa saja ke rumah Kanjeng Tumenggung !" ujar Danurwedha kepada Raden Pabelan.
Sedangkan putra Tumenggung Mayang ini hanya diam saja.
Ia sempat terpana dengan sikap pemuda yg lain daripada yg lain dari anak muda seusia nya itu.
Karena memang Danurwedha berambut gimbal dengan kulit cukup gelap.
Tetapi prajurit Pajang ini tidak terlalu peduli atas sikap yg di tunjukkan oleh Raden Pabelan ini.
Ia pun lantas menggiring lelaki tinggi besar itu seraya memerintahkan nya untuk menggendong teman nya yg sedang pingsan tersebut.
Tidak terlalu lama, rombongan ini pun tiba di kediaman dari Tumenggung Wira Pralaya.
Lurah Baruna sangat kaget mendapati ada dua orang yg telah di giring oleh Danurwedha.
'' Siapa mereka ?" tanya nya kepada Danurwedha.
" Aku tidak tahu Ki Lurah, tadi mereka berdua telah menyerang Raden pabelan dan juga putri Sekar Wandari !" jawab Danurwedha.
Ia pun menyerahkan kedua nya kepada pimpinan nya ini.
Lurah Baruna pun langsung bergegas membawa mereka ke dalam , menuju ke tempat Tumenggung Wira Pralaya yg masih menerima tamu nya itu.
Tumenggung Wira Pralaya pun sangat heran begitu mendapati laporan dari pemimpin pengawal nya ini.
" Lalu bagaimana dengan putri ku , juga raden Pabelan ?" tanya nya kepada Lurah Baruna.
" Mereka berdua selamat kanjeng Tumenggung, berkat bantuan dari adi Danurwedha " sahut Lurah Baruna.
jalan menuju menjadi prajurit...
pasti jadi prajurit mataram
walaupun autornya banyak karya yg lain minimal jangan terlalu lamalah updatenye.
selebihnya saya ucapkan semangat berkarya.