NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:26.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Cerita Dewasa‼️

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Siapa Sarah?

Esok paginya, Bagas memilih merenung di kantor. Kantor kejaksaan pagi itu masih cukup sepi. Bagas memang sengaja berangkat lebih pagi untuk menenangkan hatinya yang gundah—merasa belum mampu bertatap muka apabila tiba-tiba bertemu dengan si pembantu baru.

Segala perkataan, jeritan, dan tindakan Thalia tadi malam, sungguh menggetarkan hatinya, membuatnya merasa bahwa ada yang salah diantara mereka.

Tapi apa?

Ya, Bagas sangat tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan—dosa besar karena melakukan hubungan intim tanpa status yang jelas. Namun, daripada itu, Bagas merasa bahwa ada tali tak kasat mata yang secara erat mengikat mereka berdua. Ada sebuah kisah yang sepertinya Bagas lupakan.

Tapi apa?

Bagas terus bertanya-tanya sendiri, memutar segala memori. Bolpoint di tangannya ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk meja, dahinya mengernyit samar—pertanda ia sedang berpikir keras untuk menemukan jawaban.

Tetapi pada akhirnya, nihil. Walau terasa dekat, namun juga mustahil.

Dalam kegamangan, dan kesendirian, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Bagas tahu siapa itu. Pasti sang asisten yang memang sudah waktunya untuk menjelaskan jadwalnya hari ini.

"Masuk."

Pintu terbuka pelan, Raska disana melongokan kepala sejenak, lalu masuk dengan sopan dengan langkah berhati-hati. Pria itu takut, jika pagi ini sang bos sedang berada pada mood yang tidak baik.

Bukan tidak menyadari, tetapi memang setelah kehadiran mantan istri bos-nya yang menyamar sebagai pembantu baru kediaman Aryanaka, membuat pria yang sedang duduk pada kursi kebesarannya itu menjadi seperti wanita PMS setiap harinya.

Marah-marah, kesal, bahkan permintaannya aneh-aneh.

Sungguh Raska ketar-ketir dibuatnya.

Maka dengan postur tubuh yang sengaja ditegakkan, Raksa mendekat. "Saya izin membacakan jadwal Bapak hari ini Pak," ucap Raska meminta izin.

"Ya."

Singkat, padat, dan ketus.

Entah apa yang kembali merasuki atasan-nya itu. Wajahnya juga terkesan datar dan sayu.

"Galau lagi pasti," tebak Raska dalam hati.

Selanjutnya Raska pun menjelaskan jadwal Bagas panjang lebar. Termasuk disana terkait kasus Diharja Group. Belum reda pikiran pria itu akan ancaman dari calon ayah mertuanya—tetapi dengan bodoh ia malah menambah masalah dengan menyelinap ke kamar Thalia, menyentuh perempuan itu, berdebat, dan berakhir stress sendiri seperti ini

Sial.

"Sekian Bapak. Apakah dari jadwal yang sudah saya bacakan, dapat dimengerti pak? Atau mau ada perubahan? Akan segera saya sesuaikan Pak," terang Raska setelah selesai membacakan jadwal Bagas Aryanaka.

Sejenak Bagas terdiam, masih belum terlalu fokus dengan apa yang dibicarakan oleh sang asisten. Pikirannya masih melalang buana pada kejadian beruntun tadi malam. Sungguh memenuhi kepala, dan perlahan menyiksanya.

Raska yang melihat bos-nya sedang tidak fokus pun berusaha mengerti dan memilih menunggu. Namun, ketika waktu telah berjalan 10 menit lamanya, ternyata belum ada jawaban dari Bagas Aryanaka. Mau tidak mau Raska pun berusaha menyadarkan Bagas, karena kakinya sendiri sudah merasa kebas terlalu lama berdiri.

"Ehmm, Maaf Bapak. Bagaimana?"

Bagas yang sedari tadi melamun, kemudian tersentak, tersadar dari keruwetan yang ada di dalam otaknya.

"Oh, ehmm. Ya atur saja Raska. Tidak ada masalah."

"Baik Pak, kalau begitu saya permisi," pamit Raska setelahnya.

Bagas hanya mengangguk singkat. Tetapi, belum juga Raska sampai di depan pintu, Bagas tiba-tiba saja memanggil—menyuruhnya kembali mendekat.

"Ada apa Pak Bagas? Ada yang Bapak butuhkan lagi?" tanya Raska.

Bagas menggeleng, "Tidak, saya cuma mau tanya tentang kemarin. Saya sudah suruh kamu hubungi Soleh 'kan? Hari ini, jam berapa dia bisa menemui saya?"

Seketika, tubuh Raska berubah menjadi patung—tidak bisa digerakkan karena saking merasa was-was.

Bagaimana ia bisa menghubungi Soleh, ketika berkas yang pria itu minta sudah Raska sabotase—ia ambil dan simpan sendiri atas perintah Nyonya Suratih.

Menelan ludah gugup, dengan lidah nan kelu, Raska mencoba mencari alasan. "Soleh ya Pak? Kemarin sudah saya hubungi. Tapi katanya dia sedang ada di luar negeri, jadi belum bisa datang dan laporan langsung ke Pak Bagas."

Mendengar ucapan Raska, Bagas mengangkat alisnya, "Oh ya? Tumben sekali. Memang ke mana dia? Ada urusan apa?"

"Mampus, bohong gimana lagi ini?," Raska membatin resah.

Namun benar kata orang, otak bisa berjalan dengan cepat apabila sedang berada di situasi terdesak. Begitu pula dengan Raska, yang dengan gesitnya kembali melancarkan kebohongan.

"Anu pak, Soleh katanya ke Islandia, ada sanak keluarganya yang sedang sakit. Iya begitu."

"Keluarga di Islandia? Tapi setahu saya orang tuanya semua asli Sunda. Kenapa tiba-tiba jadi Islandia?" tanya Bagas penasaran.

"Aduh udah napa sih pak. Gak usah kepo-kepo terus ih. Gue yang pusing ini," jerit Raska dalam hati.

Walaupun sekujur tubuhnya gelisah, namun Raska mencoba untuk tetap tenang dan terkendali. Ia tidak boleh sampai berperilaku mencurigakan. Atau bisa-bisa si Bos yang sangat teliti itu berhasil mengendus kebohongan-nya.

"Semangat Raska!" seru Raska memberikan afirmasi positif dalam pikirannya sendiri.

"Mohon maaf Bapak, saya pun juga kurang paham, Soleh hanya menjelaskan bahwa dia harus cepat - cepat ke Islandia menjenguk keluarganya yang sedang sakit. Mungkin saja keluarga jauh Pak," pungkas Raska mencoba terlihat meyakinkan.

Kembali Bagas hanya mengangguk singkat. Meskipun masih merasa ada yang janggal dengan keterangan yang Raska berikan.

"Ya sudah. Kalau memang dia lama disana, suruh laporan terakhir yang saya minta, kirim via email saja," pinta Bagas pada akhirnya.

"Baik Pak, siap laksanakan!"

Setelah terjebak dalam situasi menegangkan, Raska pun berjalan cepat keluar dari ruangan sang Bos. Lelaki itu akhirnya bisa bernapas lega. Untung saja Bagas tidak mencecarnya kembali. Tidak tahu saja, kaki Raska sedari tadi sudah gemetaran menahan takut apabila tertangkap basah.

Untuk perintah Bagas tadi, sepertinya lagi dan lagi Raska akan berbuat curang. Ia akan membuat email dengan nama Soleh saja, lalu memberikan laporan palsu kepada atasannya itu.

Ya, semua lancar terkendali.

Raska tersenyum senang, kemudian berjalan santai menuju ruangannya sendiri. Tanpa tahu bahwa kesenangan itu hanya sesaat. Karena setelah ini, kariernya pun terancam tidak selamat.

...****************...

"Raska, tolong nanti meeting jam dua sudah harus siap ya. Saya mau makan siang dulu," kata Bagas di depan pintu ruangan Raska yang terbuka.

Sontak saja, Raska berdiri. "Siap Pak. Bapak ingin ditemani atau mau saya belikan saja makan siangnya?" tawar Raska mencoba bersikap inisiatif.

Bagas menggeleng singkat dan mengangkat telapak tangan, "Tidak usah. Saya ingin makan sendiri di Rumah Makan Padang langganan saya."

"Oh begitu, baik Pak."

Bagas langsung saja pergi meninggalkan kantor. Berjalan ke mobilnya dan meminta sopir untuk mengantar ia pergi makan siang.

Jalanan siang ini tampak tidak terlalu padat, namun terik panas matahari cukup menyengat—membuat Bagas sedikit berkeringat. Untung saja mereka cepat sampai, Bagas pun dengan cepat turun dari mobilnya setelah pintu mobil dibuka oleh sang sopir.

Beberapa langkah sebelum memasuki Rumah Makan Padang langganan-nya, Bagas seketika terdiam, sedikit terkejut dengan apa yang ia temui di depan sana.

Dapat ia lihat sosok Soleh yang sebelumnya ia dan Raska sempat bicarakan tadi pagi. Pria besar itu sekarang tampak sedang memesan makanan dengan santai—bukan sedang berada di Islandia seperti yang dikatakan Raska kepadanya.

Bagas yang merasa penasaran, mendekat ke tempat Soleh. Ia tepuk pundak pria itu, "Soleh!"

Soleh menoleh kaget, "Loh, Pak Bagas? Bapak disini juga? Selamat siang Pak," sapa Soleh dengan sopan.

"Kata Raska kamu sedang pergi ke Islandia karena keluarga-mu sakit. Kenapa sekarang malah disini? tanya Bagas dengan raut bingung.

"Islandia teh dimana itu Pak? Saya aja gak tahu. Keluarga saya mah ori peranakan Sunda semua atuh," jelas Soleh sambil menggaruk belakang kepalanya.

Bagas memejamkan mata, merasa kesal dengan perkataan Raska yang sepertinya telah berbohong.

"Awas nanti kamu Raska!"

Sedangkan di lain tempat, Raska yang sedang menjadi bahan perbincangan, tiba-tiba saja bersin dengan cukup keras.

Hacuhh

"Ini kenapa jadi bersin sih? Apa ada yang ngomongin gue ya?" gumam Raska sambil terus menggaruk hidungnya yang terasa gatal.

Kembali ke tempat dimana Bagas dan Soleh bertemu, kini keduanya sudah berada di tempat duduk untuk menyantap hidangan yang telah mereka pesan.

Namun sebelum itu, Bagas kembali bertanya, "Kamu berarti gak kemana-kemana 'kan Soleh? Lalu kenapa kamu tidak bisa menemui saya hari ini?"

"Bapak ada nyuruh saya ketemu? Apa mau bahas laporan tentang Nona Sarah Pak? tebak Soleh panik.

Bagas pun mengerutkan dahi, "Sarah? Siapa Sarah?"

1
partini
waa
partini
Bagas gelo,2 th loh ngab
partini
dua tahun Weh lama banget sandiwara nya ,,agak" deh gas
partini
ayo usaha betul" Sarah biar dia ingat udah boring ini masa ga ingat"
partini
hilang ingatan Ampe tamat ini cerita kah Thor,,masa lama permanen kah
Lady Matcha: Sebentar lagi kok kak. Ditunggu ya, jangan lupa terus ikuti cerita ini, karena bakalan ada plotwist mencengangkan nanti 🤫
total 1 replies
anonim
di tunggu up nya
Ela Sari Kamaruddin
klw bisa up yg banyak2 kk
Ela Sari Kamaruddin
bgus kk
Siti Amalia
udah baguss kaaa
partini
good story
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!