Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.
Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.
Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.
Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Kedua
Halimatus Sakdiyah. Perempuan asal Semarang, Jawa Tengah. Bukan dari golongan ningrat, pengusaha maupun kaum elit. Hanya orang biasa. Dari keluarga petani biasa.
Ketika dewasa dia dinikahkan dengan seorang pemuda asal Jakarta. Setelah menikah lalu bersama-sama merantau ke Lombok. Si suami bekerja pada lahan perkebunan. Sayang, pernikahan hanya berlangsung tak lebih dari setahun. Si suami mencurigai istrinya berselingkuh. Menurut Halimah, suaminya tak punya bukti atas perselingkuhan dirinya sehingga besar kemungkinan itu hanya akal-akalan si suami yang justru berselingkuh dan sedang berupaya menutupi kesalahannya.
Pasca bercerai dengan suami, Halimah mengontrak sebuah rumah kecil di Kediri, dia tak dapat pulang ke Semarang karena biaya tak cukup. Di samping itu ia ingin menenangkan hatinya terlebih dahulu. Hidup sendirian tanpa saudara tanpa suami tanpa kenalan satu pun, tentu menyedihkan.
Nasibnya berubah ketika melamar kerja di rumah Romo Djani. Saat itu Romo sedang ada di luar. Halimah disambut baik oleh Rukmini, istri Romo Djani. Awalnya Halimah meminta pekerjaan di lahan tanaman kosmetik yang merupakan usaha pertama Romo Djani. Disana banyak perempuan uang bekerja sebagai pekebun. Sekedar bersih-bersih pun Halimah bersedia.
Romo Djani memperkerjakan Halimah di dapur karena merasa kasihan dan ragu akan kemampuannya di kebun. Awalnya Romo Djani belum membutuhkan pekerja ataupun pembantu karena sudah cukup banyak yang bekerja padanya. Namun Rukmini memiliki pendapat lain. Menurutnya, usaha Romo akan dimudahkan jika mau memudahkan orang lain. Dengan alasan itulah Halimah diterima.
Sebulan berjalan, sudah terlihat kepiawaian Halimah dalam mengurus dapur. Sungguh suaminya yang tak tahu diri, dia pasti menyesal melepas perempuan sebaik itu, pikir Rukmini. Beberapa pekerja laki-laki ada yang menyukai Halimah. Memang dia cantik, hidungnya mancung, kulitnya sawo matang tapi bersih serta bibirnya tebal. Dengan sedikit saja polesan bedak sudah sangat cantik. Tak heran banyak pekerja yang naksir.
Saat Rukmini hamil, orang pertama yang diberi tahu bukannya Romo Djani, tetapi justru Halimah. Halimah merawat Rukmini dengan baik. Saat Rukmini membawa resep dari dokter mengenai konsumsi makanan yang dianjurkan untuk menguatkan janinnya, Halimah mampu menyediakan dengan rasa yang enak tanpa mengurangi khasiatnya. Selama beberapa minggu Rukmini sangat bergantung pada Halimah. Meskipun Rukmini memiliki pelayan setia, Naning dan keponakannya, Marni.
Suatu ketika, Rukmini keguguran. Sesaat Halimah dituduh melakukan tindakan meracuni Rukmini, tetapi tak terbukti, lagipula Rukmini tidak percaya jika Halimah melakukan itu. Menurut Rukmini, kegugurannya karena dia terjatuh dari atas ranjang saat tertidur.
Sampai peristiwa itu terjadi. Malam itu hanya ada satu saksi, anak yang masih kelas dua SMP. Dia melihat Halimah berbincang dengan Romo Djani di suatu lorong. Tetapi tak terdengar apa uang dibicarakan. Romo Djani terlihat aneh karena jalannya sempoyongan. Apakah Romo sedang mabuk? Tetapi Romo dikenal sangat memegang teguh ajaran agama meski tak terlalu alim. Mana mungkin dia mabuk. Anak SMP itu melihat keduanya masuk ke dalam ruangan. Tetapi anak itu tak berani bercerita pada siapapun.
Selang tiga bulan entah bagaimana prosesnya, Romo menikahi Halimah. Kata para pelayan, Nyonya Rukmini sudah tidak bisa hamil sehingga dengan berbagai pertimbangan akhirnya Romo harus menikah lagi. Dipilihlah Halimah sebagai istri kedua. Hari itu adalah hari patah hati bagi para pelayan lelaki yang selama ini naksir Halimah.
Semua orang percaya jika pernikahan itu adalah hasil musyawarah Nyonya Rukmini dan Romo Djani. Tapi yang sebenarnya, tak banyak yang tahu. Bahwa semua berasal dari peristiwa malam itu. Anak SMP bernama Marni yang tahu kejadian itu. Dan pelayan setia Rukmini yang mendengar pengakuan Romo Djani kepada isterinya. Jadi benarlah malam itu dia mabuk hingga akalnya tak mampu berpikir waras.
Halimah yang dinikahi oleh Romo Djani sudah dalam keadaan mengandung hampir tiga bulan. Sebelum perut Halimah semakin membesar, Rukmini meminta suaminya untuk segera melangsungkan akad nikah. Lagi-lagi semua demi kehormatan keluarga.
Bersamaan dengan pernikahan Romo Djani dan Halimah, dokter menemukan kejanggalan dalam kasus keguguran Rukmini. Ada sisa racun penghancur janin di gelas yabg dipakai terakhir oleh Rukmini. Setelah diusut cukup lama, ditemukanlah tersangka yang mengarah pada Naning. Motifnya jelas, posisinya digantikan oleh Halimah dan akhirnya berusaha menyingkirkan Halimah dengan cara meracuni kandungan Rukmini agar Halimah yang dijadikan pelaku.
Atas kasus itu, Naning dipecat dan tidak diketahui keberadaannya hingga kini. Tinggallah keponakannya, Marni seorang diri di rumah ini. Tetapi Marni adalah sosok anak yang terampil. Ia bisa dengan mudah memahami pekerjaan yang dibebankan padanya.
Dua bulan menjalani pernikahan poligami, Rukmini tak kuat. Ia mengalami pendarahan hebat. Disinyalir itu adalah luka kuret pasca keguguran yang belum sempurna. Akibat pendarahan itu, Rukmini harus menjalani operasi pengangkatan rahim. Seminggu setelahnya, Rukmini wafat.
Sepeninggal Rukmini, Romo mengalami depresi. Dia tidak mengurus usahanya sama sekali. Bahkan istri keduanya pun seperti tak diakui keberadaannya. Kerjanya hanya melamun, dan menghabiskan waktunya di pusara istri pertama.
Menjadi istri orang kaya seperti Romo Djani, bukannya membuat Halimah senang, bahagia, dan nyaman, tapi justru membuatnya seperti pajangan semata. Kamarnya terpisah dari kamar Romo. Romo tak pernah sekalipun bicara padanya. Jika ditanya, Romo hanya menjawab seperlunya. Benar-benar cuek.
Tak hanya Romo, sebagian besar pelayan juga tak menganggapnya sebagai majikan. Tentu saja mereka ogah diperintah orang yang dulu adalah sama-sama pelayan dan sekarang tiba-tiba diangkat menjadi ratu. Mereka tak sudi melayaninya.
Perutnya sudah semakin membesar. Tetapi Halimah masih harus menyiapkan perlengkapan melahirkan sendiri. Romo, seperti biasa hanya melamun dan mengurung diri di kamar. Sekali keluar ia akan ke pusara Rukmini dan berjam-jam di sana tak pulang-pulang.
Sampai akhirnya Halimah melahirkan. Melihat bayi kecil tak berdosa itu, Romo mulai luluh. Selama bertahun-tahun ia menantikan hadirnya seorang anak, namun tak kunjung tercapai. Kini ia mendapatkannya. Ia kini seorang ayah.
Perlahan otaknya kembali bekerja. Hatinya kembali bangkit. Diberilah nama pada bayi itu, Mehmed Ajyad Bahuwirya. Nama itu adalah impian Rukmini saat diketahui Rukmini hamil. Saking bahagianya, Rukmini telah menyiapkan nama bayi laki-laki dan perempuan untuk calon anaknya.
Halimah mulai diakui, Romo mulai menganggapnya ada. Dimulai dari kamar yang asalnya terpisah, kemudian menjadi satu. Kemudian sering menemani istrinya memeriksakan kesehatan ibu dan anak secara berkala. Hal ini membuat para pelayan juga berubah sikap. Yang awalnya tak begitu menyukai Halimah, kini mulai menghormati Halimah.
Kehidupan Halimah mulai berubah. Dari gadis desa yang berjuang mempertahankan hidup, kini hidup bergelimangan harta. Didampingi oleh Halimah, Romo Djani semakin melebarkan sayap bisnisnya. Dari perkebunan, merambah ke hotel, tempat peristirahatan, jual beli tanah, jual beli mobil hingga jual beli vila.
Seiring berjalannya waktu, Halimah sudah benar-benar menjadi istri Romo Djani. Rukmini perlahan-lahan menghilang dari ingatan Romo Djani. Bagaimana yang hidup harus tetap menjalani hidupnya.
Halimah, istri kedua yang memberikan keturunan bagi Djani Bahuwirya. Kini urusan seluruh rumah menjadi urusan Halimah. Harus diakui Halimah adalah seorang perempuan yang keibuan, piawai dan cekatan. Dialah yang kemudian menjadi ratu di rumah ini dengan segala tanggung jawabnya.
***
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕