Kata siapa lahir di keluarga tentara itu menyenangkan? Tidak sama sekali!
Aku, Anjali Geraldyn ingin sekali kabur dari rumah karena peraturan ketat yang ada di dalam rumah.
Bahkan aku harus menikah dengan seorang tentara yang usianya jauh dariku! Aku benar-benar membenci hal ini!
Apakah lambat laun Anjali akan mencintai suami tentaranya itu?
Cerita ini di buat hanya untuk penghibur semata, tidak ada niat untuk menyinggung orang, pangkat dan pekerjaan sama sekali✌🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khintannia Viny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMUDAH ITU?
Setelah kepergian Calvin, Anjali langsung menatap ke arah Radit dengan tatapan yang dingin.
“Jangan liatin aku terus, kenapa abang tiba-tiba ada di sini?” tanya Anjali yang membuyarkan lamunan Radit.
“Eh? S-saya di telfon sama tante Claudia tadi, katanya ada yang mau dia omongin sama saya.” Jelas Radit menjawab pertanyaan Anjali.
Mendengar jawaban dari Radit membuat Anjali menghela napas panjang, dia yakin bundanya pasti sengaja menyuruh Radit untuk datang agar Calvin melihat dan mengetahui semuanya tentang dia dan Radit.
“Masuk dulu bang, biar aku panggilin bunda.” Ucap Anjali yang di balas anggukan oleh Radit.
Anjali berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu, di ikuti oleh Radit di belakangnya, Anjali menyuruh Radit untuk duduk lebih dulu barulah dia naik ke atas untuk memanggil sang bunda.
Tapi, belum sempat sampai di lantai dua, Claudia sudah mau menuruni tangga dengan pakaian rapih membuat Anjali mengerutkan keningnya penasaran.
“Loh, bunda mau ke mana?” tanya Anjali.
“Eh Jeli, bunda mau ke café dulu ketemu sama temen bunda yang anaknya mau di jodohin sama abang kamu.” balas Claudia.
“Loh, jadi bunda mau pergi? Terus gimana sama bang Radit? Bunda ngapain manggil bang Radit ke sini kalo bunda mau pergi?” tanya Anjali kembali.
“Ya ampun, bunda lupa kalo bunda tadi nyuruh Radit ke rumah, terus dia di mana sekarang?” tanya Claudia pura-pura lupa kalau tadi dia memanggil Radit ke rumahnya.
“Ih bunda yang bener aja deh! Bunda pasti sengaja kan? Iya kan?” Anjali mulai kesal karena bundanya berlaku seenaknya.
“Bunda ga sengaja kok Jel, bunda juga lupa kalo ternyata bunda ada janji mau ketemu sama temen bunda, ini masalah masa depan abang kamu loh.”
“Tapi bun…”
“Udah kamu di sini aja, temenin dulu Radit sebentar, kalo sampe satu jam bunda belum pulang ya suruh pulang dulu aja dia.” Ucap Claudia memotong ucapan Anjali.
Claudia segera melangkahkan kakinya sebelum Anjali kembali mengoceh, dia berjalan sedikit cepat hingga tiba di lantai bawah dan melihat Radit yang sedang duduk menunggu dirinya.
“Duh, nak Radit gimana ya? Tante lupa ternyata tante ada janji hari ini sama temen tante, padahal tante mau ngobrol-ngobrol sama kamu.” ucap Claudia pura-pura merasa menyesal.
“Ga apa-apa tante, mau saya anter sekalian aja? Sekalian pulang juga.” Ucap Radit menawarkan diri untuk mengantar Claudia.
“Eh, ga usah nak Radit, tante monta tolong titip Anjali aja ya di rumah, sampe abangnya atau ayahnya pulang aja, setelah itu kamu boleh pulang, ga apa-apa kan nak Radit?” tanya Claudia.
Mendengar ucapan Claudia membuat Radit tidak langsung menjawab, dia hanya diam sambil menatap ke arah Anjali yang saat ini sedang menatap tajam ke arah bundanya.
“Bunda, apa-apaan sih?! Jeli ini bukan anak kecil yang butuh di jagain!” protes Anjali.
“Kamu diem deh! Akhir-akhir ini tuh rawan banget orang jahat masuk ke rumah dengan cara hipnotis, kalo kamu terhipnotis terus ada yang mau nyolong gimana?” tanya Claudia.
“Udah nurut aja sama bunda, cuma sampai abang atau ayah pulang aja kok, mereka kan akan pulang sebentar lagi!” tegas Claudia.
Kalau Claudia sudah berbicara dengan tegas seperti itu, tentu saja Anjali sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia hanya bisa diam sambil mengendus kesal.
“Nak Radit, kamu ga apa-apa kan kalau jagain Anjali dulu di sini? Kamu lagi ga bertugas kan?” tanya Claudia.
“I-iya tante, hari ini Radit kebetulan libur jadi bisa aja nemenin Anjali di sini sampai Arnold atau om Andre pulang.” Balas Radit.
“Makasih banyak ya nak Radit, nanti habis dari café tante mau mampir rumah sakit juga mau ketemu sama mama kamu.” ucap Claudia.
Setelah berpamitan kepada Anjali dan Radit, Claudia pun segera berjalan keluar rumah dan segera menaiki mobil yang sejak tadi sudah menunggu di depan bersama supirnya.
“Abang mau minum apa?” tanya Anjali.
“Hemm, apa aja boleh deh.” Balas Radit.
“Oke!” ucap Anjali yang tidak banyak tanya dan segera melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambilkan minuman.
“Mbak, ini kan mbok udah selesai semua, mbak Jeli juga udah ada calonnya, ga apa-apa kan kalo mbok tinggal dulu non? Soalnya anak mbok baru di terima kerja, jadi cucu mbok di rumah sendirian.” ucap ART rumah Anjali.
“Oh, iya mbok ga apa-apa kok, kan kerjaan mbok udah selesai, seperti biasa mbok bisa pulang.” Balas Anjali sambil tersenyum ramah.
“Makasih ya mbak, kalo gitu mbok pulang dulu.”
Anjali hanya diam melihat ART nya pulang, setelah itu dia langsung kembali mengambilkan jus jeruk dari dalam kulkas dan menuangkannya ke gelas yang akan dia sajikan untuk Radit.
"Adanya ini bang, di minum dulu." ucap Anjali sambil memberikan gelas yang ada di tangannya.
"Makasih ya.. Kalo adanya ini kenapa tadi nanya mau minum apa?" tanya Radit mencoba untuk bercanda.
"Ya kan jus jeruk sama air putih gelasan noh di depan abang!" balas Anjali yang masih terkesan dingin.
Radit hanya menganggukkan kepala sambil meminum jus jeruk yang ada di tangannya lalu kembali menaruh gelas tersebut di meja yang ada di hadapannya.
Suasana menjadi hening seketika, Radit menatap Anjali dengan tatapan mengagumi sosok perempuan yang ada di hadapannya ini.
Anjali yang merasa kalau dirinya sedang di tatap menjadi kikuk, seketika tubuhnya terasa panas karena salah tingkah, dia tidak nyaman di tatap seperti itu apa lagi oleh seorang laki-laki.
"K-kenapa abang liatin aku kayak gitu sih? Ga nyaman tau!" ucap Anjali yang akhirnya protes.
"Sorry.." ucap Radit.
"Tadi itu pacar kamu?" tanya Radit kembali.
"Hemmm, mantan sih lebih tepatnya." balas Anjali.
"Yang tadi kamu omongin itu beneran?" tanya Radit membuat Anjali menoleh ke arah Radit.
"Yang tadi? Yang mana?" tanya Anjali pura-pura tidak mengerti tapi kenyataannya saat ini badannya sedang terasa panas dingin.
"Kamu bilang kamu akan menikah dengan saya? Terlebih kamu akan menikah sebelum kamu masuk kuliah?" tanya Radit.
"Yah, aku nolak juga ga bisa kan? Orang tua kita akan terus menggunakan segala cara agar kita menikah, jadi lebih baik segera saja menikahnya." jelas Anjali
"Kamu benar, tapi pernikahan bukan hanya tentang status, benar kata mantan kamu tadi, pernikahan itu tidak semudah yang kamu pikirkan." ucap Radit.
"Aku tau, aku tau menikah itu tidak mudah bang, tapi kita bisa membuatnya jadi mudah, setelah menikah aku akan sibuk dengan kuliah ku, magang, mengurus banyak pasien dan lain-lain." ucap Anjali.
"Abang juga akan sibuk dengan pekerjaan abang kan? Kita akan menjalani kehidupan masing-masing sampai kita sama-sama bisa saling menerima satu sama lain." lanjutnya.
Radit menghela napas panjang, dia tidak bisa berkata-kata lagi karena Anjali memang masih belum banyak mengerti apa yang di maksud dengan pernikahan.
Tapi Radit tidak ingin mengatakan apa-apa lagi, menikah dengan Anjali saja sudah cukup baginya, bisa menjadi bagian terpenting dari hidup Anjali saja sudah sangat membahagiakan untuknya.