"Apa?! Menikah dengan orang gagap itu? Aku tidak mau!"
"Menikah dengan kakak ipar mu, atau pergi dari rumah ini!"
Aline terpaksa menikah dengan kakak iparnya yang gagap karena keponakannya dan juga kondisi keuangan keluarganya yang bergantung pada kakak iparnya. Sedangkan Aline sendiri sebenarnya memiliki kekasih yang sangat dicintainya.
Apakah Aline bisa mempertahankan rumah tangga yang tidak di landasi rasa cinta?
Ataukah perlahan akan mencintai pria gagap yang dari awal tidak disukainya?
Yuk, simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Di Usir
Roni mengepalkan kedua tangannya. Mana mungkin dirinya melepaskan satu-satunya peninggalan wanita yang di cintainya. Malaikat kecil yang sudah terlanjur disayangi dan dicintainya seperti dirinya menyayangi dan mencintai Vivi. Apalagi kalau harus melepaskannya pada ayah biologisnya yang jelas-jelas tidak punya akhlak.
Roni sudah menyelidiki si Roni pengki, karena sempat berprasangka bahwa kecelakaan yang menimpa Vivi adalah skenario Roni pengki. Namun nyatanya si Roni pengki tidak ada kaitannya sama sekali dengan kecelakaan yang di alami oleh Vivi. Kecelakaan itu murni karena kelalaian pengguna jalan lainnya. Yang artinya, semua adalah skenario dari Tuhan.
Dari penyelidikan tersebut, Roni mengetahui bagaimana bejatnya si Roni pengki dan Sarah. Dulu Roni tidak menyelidiki secara detail tentang mantan pacar istrinya itu. Tapi, karena kecelakaan Vivi kemarin, Roni menyelidikinya lagi dengan detail dan mengetahui semua hal tentang Roni pengki.
Bahkan Roni tahu tentang Sarah yang suka mencari kesenangan di luar sana dengan para berondong bayaran. Entah rumah tangga macam apa yang dijalani si Roni pengki dengan Sarah saat ini.
Setelah mengetahui bagaimana sepasang suami-isteri itu menjalani hidup mereka, mana mungkin Roni menyerahkan Giyan pada mereka.
Ruslan menghela napas panjang menatap Roni. Menantu kebanggaan yang dihormati dan disayanginya.
"Kami sangat bersyukur mendapatkan menantu seperti Roni. Kami sudah menganggap Roni seperti anak kami sendiri. Jika Roni tidak bersedia menikahi Aline, Nak Fina jangan memaksa Roni lagi," ujar Ruslan yang melihat Roni terdiam.
"A..a.."
"Palk"
"Aku akan menikahi Aline," ucap Roni cepat setelah di tepuk lengannya oleh Fina.
Ruslan dan Nuri nampak terkejut mendengar jawaban dari Roni. Mereka tidak menyangka, jika Roni bersedia menikahi Aline. Sepasang suami-isteri itu spontan langsung memeluk Roni. Tanpa terasa air mata mereka menetes karena merasa bahagia.
"Terimakasih,"
"Terimakasih,"
Ucap Ruslan dan Nuri bersamaan sambil memeluk Roni. Sedangkan Fina menghela napas lega.
"Akhirnya rencana kami berhasil juga. Semoga, ini adalah awal yang baik," gumam Fina dalam hati.
Sedangkan roh Vivi yang ternyata mengikuti mereka nampak menangis dalam senyuman.
"Terimakasih, kakak mau menikah dengan Aline untuk mempertahankan Giyan. Aku harap, Aline bisa menjadi istri yang baik bagi kakak. Semoga kakak bahagia bersama Aline dan bisa merelakan aku," ucap Vivi yang tidak bisa di dengar oleh siapapun.
Vivi hanya bisa menatap orang-orang yang di cintainya. Menatap darah dagingnya yang tumbuh sehat. Namun hanya bisa menatap mereka tanpa bisa berinteraksi dengan mereka sama sekali. Vivi meninggalkan ruangan itu dengan wajah tertunduk.
Sedangkan Fina, Roni dan kedua orang tua Vivi pun mengakhiri pembicaraan mereka, setelah Roni setuju menikahi Aline. Roni menebus obat Ruslan, lalu mengantarkan mertua dan juga anak tirinya pulang. Roni sudah berencana, sesampainya di rumah Ruslan akan langsung putar balik, karena harus kembali ke kantor.
Dengan.langkah gontai Vivi kembali ke ruangan tempat tubuhnya berada. Menatap tubuhnya sendiri yang sudah terbaring di ruangan itu selama satu bulan.
"Apakah tubuhku belum juga mati, karena aku belum rela meninggalkan kak Roni? Aku sudah berusaha merelakan kak Roni. Tapi, aku tidak bisa. Aku masih ingin bersamanya. Apakah aku egois? Jika ada kesempatan kedua, aku ingin berjumpa lebih awal dengan dia. Aku ingin menua bersamanya. Apakah bisa?" gumam Vivi dengan air mata berlinang merasa tidak berdaya.
*
Hari sudah sore. Roni langsung menuju rumah sakit setelah pulang kerja. Roni melangkahkan kakinya menuju ruangan Vivi. Pemuda itu bahkan lebih dulu membersihkan tubuhnya sebelum menyentuh Vivi.
Seperti saat masih hidup, Vivi selalu menyambut Roni dengan senyuman lebar. Ada kebahagiaan dalam hati Vivi saat pemuda yang di cintainya itu masuk ke ruangan rawatnya.
Roni mengecup kening Vivi dengan penuh cinta. Pemuda itu duduk di kursi yang ada di samping ranjang tempat Vivi berbaring.
"Sayang, maafkan aku. Aku terpaksa menduakan mu. Aku akan menikahi Aline demi putra kita. Aku tidak ingin Giyan di ambil ayah biologisnya. Hanya dia kenangan yang aku miliki setelah kamu pergi. Maafkan aku, karena tidak setia padamu. Tapi percayalah, di dalam hatiku masih tetap mencintaimu," ucap Roni dalam bahasa isyarat.
Pemuda itu meraih jemari tangan Vivi dan menciuminya. Air matanya menetes membasahi jemari tangan Vivi.
"Kakak.." ucap Vivi yang juga menangis.
Tangan Vivi terulur ingin menyentuh pria yang di cintainya itu, namun sayangnya tidak bisa. Dua orang beda alam yang masih saling mencintai. Namun takdir tidak menghendaki mereka untuk bersama lebih lama lagi.
*
Seperti biasanya, Ruslan, Nuri dan Aline makan malam bersama. Setelah makan malam, Ruslan dan Nuri mengajak Aline bicara di ruangan keluarga.
"Ayah dan ibu ingin bicara apa? Kenapa kelihatannya serius sekali?" tanya Aline setelah mereka duduk di ruang keluarga.
"Aline, kamu tahu, 'kan, sekarang ini tulang punggung keluarga kita adalah kakak iparmu? Yang membayar pengobatan kaki ayah setiap check up pun kakak iparmu. Bahkan untuk biaya kuliahmu dan susu formula Giyan pun yang memberikan adalah kakak iparmu," ujar Ruslan mengawali pembicaraan.
"Aku tahu," sahut Aline menghela napas panjang. Aline yakin, jika kedua orang tuanya pasti akan menceramahi dirinya yang selalu menghindari Roni.
"Kakakmu hanya bisa berbaring di rumah sakit dan tidak akan pernah bangun lagi. Dia hanya bisa bernapas dengan bantuan alat penunjang kehidupan. Jika alat itu di cabut, saat itu juga kakakmu tidak akan bernapas lagi dan jantungnya tidak akan berdetak lagi. Dan saat itu pula, kita tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan kakak iparmu. Selain dia sebagai suami almarhum kakakmu,"
"Saat hal itu terjadi, tidak mungkin kita mengharapkan uang dari kakak iparmu lagi. Sedangkan kamu tahu sendiri, ayah belum bisa bekerja. Ibumu juga tidak bisa bekerja karena harus merawat Giyan. Selain itu, Giyan juga memerlukan sosok seorang ibu. Jadi, ayah dan ibu ingin kamu menikah dengan kakak iparmu," ujar Ruslan membuat Aline membulatkan matanya.
"Apa?! Menikah dengan orang gagap itu? Aku tidak mau!" tolak Aline dengan suara lantang.
"Aline, kita tidak punya pilihan lain selain kamu menikah dengan kakak iparmu. Jika kamu menikah dengan kakak iparmu, kita tidak perlu memikirkan uang untuk kehidupan kita," bujuk Nuri dengan lembut.
"Bu, aku tidak menyukai dia, apalagi mencintai dia. Aku tidak mau menikah dengan dia! Aku sudah memiliki pacar dan aku mencintai pacarku," tegas Aline menolak keinginan kedua orang tuanya.
"Apa cinta bisa membuatmu kenyang? Bisa membuatmu kuliah? Apa pria yang kamu cintai itu mau menikahi mu dan menanggung biaya hidup kita seperti kakak iparmu? Tidak, 'kan?" tanya Ruslan menatap Aline lekat.
"Tapi itu bukan alasan untuk menikahkan aku dengan orang gagap itu, Yah!" bantah Aline yang masih tetap keras kepala.
"Hanya ini cara satu-satunya untuk bertahan hidup, Lin. Mengertilah keadaan kita! Kamu jangan egois! Lagi pula, kakak iparmu itu orang baik dan bertanggung jawab. Wajahnya juga tampan. Sulit mencari laki-laki yang bertanggung jawab seperti kakak iparmu, Lin," bujuk Nuri mencoba memberikan pengertian pada Aline.
"Tapi tetap saja dia gagap, Bu! Mau ditaruh di mana mukaku? Jika teman-temanku tahu aku menikah dengan orang gagap yang bahkan usianya jauh lebih tua dariku, mereka semua akan menertawakan aku, Bu," sahut Aline mengemukakan alasannya.
"Kakak iparmu hanya gagap, Lin. Selain itu, sebagai seorang pria dia sangat sempurna. Lagipula, kenapa kamu harus peduli dengan pemikiran orang lain? Mereka tidak akan memberimu makan, jika kamu lapar. Tidak akan membiayai kuliah kamu, apalagi membiayai kebutuhan keluarga kita," ujar Ruslan yang memang benar adanya.
"Ayah dan ibu jangan mengorbankan aku demi keluarga ini. Aku punya cita-cita sendiri," tegas Aline masih keras kepala.
"Kami tidak mengorbankan kamu. Ini semua kami lakukan untuk kebaikan kita bersama. Dan cita-cita? Cita-cita mana yang bisa kamu gapai jika kita tidak memiliki apa-apa selain rumah warisan ini? Kita tidak punya pilihan lain, selain kamu menikah dengan kakak iparmu," tegas Ruslan yang tetap pada pendiriannya.
"Pasti ada jalan lain ayah. Kita bisa menggadaikan rumah ini untuk modal usaha," cetus Aline yang tetap tidak mau menikah dengan Roni.
"Modal usaha? Modal usaha apa? Ayah tidak bisa bergerak terlalu cepat karena kaki ayah belum sembuh total dan ibumu harus merawat Giyan. Kamu sendiri harus kuliah. Usaha apa yang akan kita buat?" tanya Ruslan.
"Apa saja. Pasti bisa. Jualan kue atau makanan apa gitu," sahut Aline asal.
"Siapa yang akan membantu membuat dan menjualnya? Kamu? Kamu pikir hidup itu seperti di sinetron? Hanya dengan modal kecil jualan jalabria bisa kaya?" ketus Ruslan kesal dengan sikap keras kepala Aline.
Jalabria adalah kue yang dibuat dari tepung ketan berbentuk seperti donat yang bolong di tengahnya yang diberi gula dan digoreng. Kue ini adalah jajanan tradisional khas dari daerah Majalengka, Jawa Barat.
Mengurus rumah dan Giyan saja sudah membuat Nuri lelah. Apalagi kalau harus berjualan. Sedangkan Ruslan tidak bisa banyak membantu Nuri. Lagipula, saat baru berjualan harus mencari pelanggan. Kecil kemungkinannya sekali jualan langsung laris manis. Sedangkan kebutuhan hidup mereka tidak kecil. Itulah yang di pikirkan Ruslan.
"Pokoknya aku tidak mau menikah dengan orang gagap itu!" tolak Aline tegas.
"Menikah dengan kakak ipar mu, atau pergi dari rumah ini!"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
roni dpt vivi itu anugrah, tp roni punya bini c aline sptnya musibah
org macam kmu hrs ditampar keadaan dulu baru sadar diri