Sheryl Adelia Adhyaksa, merupakan anak yatim piatu, kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan tunggal saat akan melakukan perjalanan bisnis.
Daren Abellard Danadyaksa, tidak mempunyai saudara, anak tunggal yang mewarisi seluruh kekayaan keluargannya serta jenius yang berhasil membangun dan mengembangkan perusahaannya sendiri.
Peristiwa kecelakaan membuat Daren terjebak di desa dan pertemuan mereka menjadi awal dari keterikatan keduanya.
Tepatnya saat ada seseorang yang dengan sengaja membuat berita bohong dan berakhir mereka berdua harus menjadi pasangan yang terikat dalam pernikahan.
Akankah keduanya bisa saling mencintai dan melalui berbagai rintangan yang ada di hadapan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TYMK 33
Happy reading semuanyaaa...
...****************...
Menghabiskan waktu dua hari ini untuk berjalan-jalan, Daren dan Sheryl sangat menikmati kebersamaan mereka ini.
Mereka memang tidak pernah pergi terlalu jauh, hanya di sekitaran hotel yang memang terdapat pantai juga semacam alun-alun daerah.
Daren sengaja memilih untuk menyegarkan pikiran dengan melihat keindahan alam, sebelum nantinya dia akan jujur pada Sheryl.
Jujur saja selama hampir sembilan bulan meninggalkan kewajibannya sebagai pemimpin, sudah pasti akan banyak sekali berkas yang menumpuk dan harus segera dia periksa.
Untung saja dia mempunyai dua asisten yang sangat bisa di andalkan, jadi Daren tidak terlalu khawatir.
Sebenarnya jika Daren masih sendiri, dia hanya memerlukan waktu kurang dari satu bulan untuk membumihanguskan orang-orang yang berkhianat itu.
Tenang saja, Daren sangat-sangat mencintai Sheryl. Bahkan tidak ada niat untuk mengakhiri atau meninggalkan Sheryl dengan alasan apapun.
...----------------...
Terhitung tiga hari mereka menginap di hotel bintang 3 itu.
Jika mau di hitung, total menginap mereka baru 19.500.000 saja. Belum sampai angka 50.000.000, jadi santai. /Daren/
Hari ini Daren bilang ingin menghabiskan waktu berdua saja sebelum anak mereka lahir. Jadi Daren memutuskan untuk tidak pergi kemana pun hari ini.
"Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Daren sebagai awalan.
Mereka baru saja selesai sarapan, dan sekarang sedang duduk di atas ranjang dengan tubuh menyandar pada kepala ranjang.
Kedua tangan mereka saling bertautan, Sheryl menyandarkan kepalanya pada lengan kiri Daren.
"Apa?" tanya Sheryl dengan mata fokus pada film yang sedang mereka lihat.
Daren terdiam sejenak, menimang-nimang apakah jika dia jujur akan mempengaruhi emosi Sheryl? Apalagi sedang dalam keadaan mengandung kan.
Merasa Daren tidak juga memberi jawanan, Sheryl mengalihkan tatapannya dari arah Tv menuju ke arah Daren.
"Serius ya?" tanya Sheryl setelah kedua mata mereka saling menatap.
Daren mengangguk dengan wajah yang terlihat em? Entahlah sulit di baca.
Sheryl jadi ikut terdiam, menunggu Daren mengeluarkan suaranya.
Tv yang masih menayangkan film itu pun di biarkan begitu saja, tanpa ada yang memperhatikan.
Fokus keduanya sudah teralihkan pada pembicaraan yang seperti kata Sheryl, serius.
"Begini," Daren menghela napas sejenak sebelum memberanikan diri untuk bicara.
"Sebenarnya aku tidak hilang ingatan." ucap Daren sebagai awalan, dengan terus memperhatikan perubahan wajah Sheryl.
Hening beberapa saat, sampai suara Sheryl terdengar mengudara.
"Lalu?" tanya Sheryl seolah tidak mempermasalahkan.
"Apa kamu tidak bertanya alasannya?" tanya balik Daren.
"Em, aku tidak tahu. Tapi perasaanku mengatakan kamu masih belum selesai berbicara," ucap Sheryl mengedikkan bahu.
Daren memejamkan mata sejenak sebelum kembali menatap wajah Sheryl.
"Ya. Kamu benar, ada banyak hal yang harus ku ceritakan." ucap Daren.
"Tapi aku tidak tahu bagaimana memulainya," tambah Daren.
"Bagaimana kalau dengan identitas?" saran Sheryl.
Jujur saja, Daren merasa aneh karena Sheryl menanggapi kalimat pertamanya dengan begitu santai.
"Hah. Baiklah," helaan napas Daren sedikit kasar, dengan kepala yang mengangguk.
"Aku Daren Abellard Danadyaksa," ucap Daren sebagai awal.
Kening Sheryl mulai mengkerut mendengar nama itu. Seperti pernah mendengar, tapi dia juga tidak ingat dimana.
"Orang tuaku bernama Arthur Danadyaksa dan Lavender Abellard Danadyaksa. Kakekku bernama Archer Danadyaksa." jelas Daren memperhatikan setiap perubahan wajah istrinya itu dengan seksama.
Mata Sheryl melotot kaget begitu mendengar nama-nama yang Daren sebutkan.
"HAH!? Jadi Tuan Archer itu Kakek kamu?!" ucap Sheryl cukup kaget mendengarkannya.
Daren sebenarnya ingin tersenyum, karena merasa gemas dengan tingkah Sheryl yang tadinya bersikap santai dan dewasa.
Namun lihat sekarang mata yang seperti hampir keluar itu sudah seperti anak kecil yang takut ketahuan makan permen.
Tapi Daren menahannya karena tidak ingin merubah mood Sheryl yang sedang baik ini. Pembicaraannya masih belum selesai.
Anggukkan Daren berikan sebagai jawaban, membiarkan Sheryl mengatakan isi hatinya.
"Bentar bentar, terus nama orang tuamu? Apa mereka yang kemarin datang ke rumah?" menarik dan menghembuskan napas demi menetralkan rasa terkejutnya, Sheryl seakan teringat dengan nama pasiennya beberapa hari lalu.
"Iya," sekali lagi Daren mengangguk dengan di sertai senyum tipisnya.
"Aaaaaa... Jahat! Kamu jahat banget!" kesal Sheryl tak terima, kedua tangannya bahkan memukuli dada bidang Daren.
Tidak keras memang, tapi bukannya Daren yang merasa sakit, malah tangannya yang kebas.
"Hey... Jangan seperti ini, nanti tanganmu sakit," ucap Daren mengambil kedua tangan Sheryl untuk di usap.
"Hmp! Kamu tuh nyebelin banget soalnya!" ucap Sheryl menggembungkan pipinya dan tangan bersidekap dada.
"Aku tuh malu tahu, Kak!"
"Kemarin tiba-tiba menginap di rumah Tuan Archer. Terus ada orang tua datang, tapi malah akunya gak bisa nyapa langsung,"
"Terus-terus waktu nginap itu berarti kamar kamu?" ucap Sheryl beruntun.
"Hm, iya." angguk Daren.
"Tuh kan! Pantas aja aku lihat ada beberapa foto dari kecil sampai remaja. Terus mirip kamu semua. Aku takut salah lihat jadi diam aja." gerutu Sheryl tak habis-habis.
Napas Sheryl sudah ngos-ngosan tidak beraturan. Belum lagi rasa kesal dan malu yang teringat terus.
Kalian juga pasti pernahkan mengingat hal memalukan secara terus-menerus? nah, itu yang Sheryl rasakan sekarang.
Mana kemarin di rumah Tuan Archer dia sedang di gendong, udah gitu lagi manja sama Daren, gimana gak bikin kepikiran!
"Minum dulu," ucap Daren sembari menyodorkan gelas.
Sheryl menerima tanpa banyak protes. Tenggorokannya cukup kering, jadi dia langsung menghabiskan satu gelas air mineral itu.
"Sudah?" tanya Daren yang di balas anggukkan kepala dari Sheryl. Maksudnya itu sudah bicaranya ya.
"Aku akan lanjutkan dulu semua ceritaku." ucap Daren setelah menaruh gelas kosong di sampingnya.
.
.
.
Tbc...
terimakasih dukungannyaaa❤❤❤