"Belum ketemu juga!? Kalian akan mati jika tidak menemukannya!" Bentak Rafanda Airen, mengacaukan acara pertunangannya sendiri.
"Rafa, semua orang---" Kalimat Titania disela.
"Aiyue menghilang. Jadi jangan menggangguku dengan acara konyol ini." Pemuda yang melangkah hendak meninggalkan area ballroom.
"Dia hanya sekretaris! Asisten! Pembantu! Aku calon istri yang setara denganmu!" Teriak Titania, memegang jemari tangan Rafanda, bersamaan dengan beberapa pengawal yang menghalanginya pergi.
"Bukan! Aku yang memberinya nama Aiyue, sedangkan namaku Airen." Rafa tertawa dalam tangisannya mengeluarkan senjata api dari dalam jasnya.
Dor!
*
Bagaimana tentang seorang anak berusia 7 tahun, yang tersenyum dengan sengaja memilih bayi mungil untuk menemani hidupnya. Memberinya nama Giovani Aiyue, serupa dengan namanya Rafanda Airen.
Mengendalikan hidupnya bagaikan boneka, Aiyue adalah boneka kecil dalam kendalinya. Boneka yang pada akhirnya retak meninggalkannya,karena telah memiliki hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Pengaruh
"Sa...saya akan menuruti apapun yang diinginkan nona." Ucapnya benar-benar parah wanita jadi-jadian ini. Menyelipkan rambut di belakang telinganya, suaranya halus, lemah lembut.
Ukuran bagian depan wanita yang dipakai Bianca mungkin 36 D, mungkin Rafa tidak sengaja mengambil yang seukuran dengan milik Aiyue. Kesan wanita dewasa seksi dengan pakaian formal tertutup benar-benar terlihat. Makhluk berbatang yang menahan malunya.
Ingin rasanya Yoshida tertawa berguling-guling. Tapi tidak bisa, dirinya harus memendam perasaannya. Memastikan makhluk jadi-jadian ini dapat menjaga adiknya sementara waktu.
"Catat baik-baik apa yang disukai adikku. Dia baru saja tinggal di rumah ini. Jadi belum begitu diterima." Yoshida menghela napas kasar.
Hingga seseorang melintas, mengernyitkan keningnya memincingkan matanya."Rafanda Airen!" teriaknya tidak tahu situasi. Siapa lagi kalau bukan Hidan.
"Sial!" batin Rafa berusaha untuk tersenyum malu-malu.
"Maaf, mungkin anda salah mengenali orang karena wajah saya pasaran. Nama saya Bianca..." Ucapnya tersenyum mengeluarkan aura semanis mungkin. Senyuman bagaikan malaikat dari seorang pria cantik.
"Tidak! Aku tidak mungkin salah mengenali! Kamu si br*ngsek Rafanda Airen. Orang yang sempat memisahkanku dengan adikku, hanya karena kami tidak sengaja tertidur bersama." Hidan menunjuk-nunjuk ke arah Bianca.
Dirinya tidak mungkin salah mengenali pria sial ini. Pria yang membuat adiknya tersayang patah hati.
"Tidak! Dia Bianca, mungkin hanya mirip saja, dalam CV dan ijazahnya sudah jelas. Ini asli." Dusta Yoshida.
"Benarkah?" Hidan memincingkan matanya. Mengamati terlihat lebih curiga lagi, mereka bertiga tumbuh bersama kecil kemungkinan dirinya salah mengenali orang.
"Boleh aku bicara secara pribadi denganmu?" tanya Bianca, menarik tangan Hidan keluar dari ruang tamu, menuju area halaman.
Segera setelah mereka pergi untuk bicara, Yoshida tertawa kencang hingga berbaring di atas sofa. Berguling-guling terjatuh di lantai, kembali tertawa memegangi perutnya. Benar-benar cantik, seperti foto model. Tapi ternyata memiliki batang di balik celana panjangnya.
Siapa yang sangka pria keren, menghancurkan pertunangannya sendiri. Menembakkan tembakan peringatan ke udara, bahkan menodongkan senjata apinya, tanpa ekspresi akan bersikap manis, membuang harga dirinya, menyamar menjadi wanita.
Menghela napas kasar mungkin ini lebih baik daripada Ryu Kimura. Ryu masih fokus pada tujuannya untuk memasukkan nama Aiyue ke dalam keluarga ini. Tidak memikirkan perasaan Aiyue sama sekali, masalah terbesar. Jika adiknya marah dan memutuskan pergi, diam-diam menghubungi Rafanda Airen untuk membawanya. Karena itu lebih baik Rafanda Airen ada di tempat ini, dalam pengawasannya.
Yoshida mengernyitkan keningnya, penasaran bagaimana cara Rafanda Airen untuk membuat Hidan tutup mulut.
*
"Kamu Rafanda Airen! Aku tau jelas, lubang hidungmu bagaikan dapat mengatakannya!" Bentak Hidan emosi.
"Aku hanya ingin minta maaf pada Aiyue dan membawanya kembali. Kemudian menikahinya, aku memutuskan membatalkan pertunanganku." Kalimat Rafanda Airen terus terang.
"Tidak bisa begitu! Kamu tukang selingkuh, menukar adikku, dan---" Kalimat Hidan disela.
"Itulah intinya, jika bukan karenaku kamu tidak akan bertemu dengan Aiyue kan?" Kalimat degan logika tidak masuk akal.
"Ka...ka...karenamu aku tidak dapat bertemu dengan adik kandungku?" Hidan terbata-bata melihat pemuda ini masih begitu tenang.
"Lalu? Kesimpulan yang dapat aku ambil dari perkataanmu, kamu lebih menyayangi adik kandungmu dibandingkan dengan Aiyue yang sudah mendukungmu selama 23 tahun. Ingat siapa yang bekerja keras padaku hingga dapat melunasi hutang investasi bodong? Aiyue yang melakukannya. Aiyue-ku yang malang, ternyata Hidan lebih menyayangi adik kandungnya." Mempengaruhi orang dengan kata-katanya, membalikkan menjadi rasa bersalah dalam dirinya. Hingga melupakan kesalahan lawan bicaranya. Itulah Rafanda Airen, terlalu ahli dalam negosiasi.
"A...aku lebih menyayangi Aiyue..." Hidan mulai tertunduk.
Bianca mendekat kemudian berbisik."Tidak, kamu tidak menyayanginya. Bahkan saat Aiyue hampir dilecehkan gurunya, jika aku tidak melindunginya, entah apa yang terjadi. Aiyue kecil yang selalu minta maaf saat kamu melakukan kesalahan yang menyinggungku. Tapi kamu malah lebih menyayangi adik kandung yang bahkan tidak pernah bertemu denganmu, dibandingkan dengan Aiyue kecil yang kita ajari berjalan bersama."
Kalimat demi kalimat yang membuat Hidan menangis. Mengingat segalanya bagaimana Aiyue yang baru tumbuh dua gigi belajar berjalan.
Rafa ada di sisi sebelah kiri sedangkan dirinya ada di sisi bersebrangan. Aiyue yang manis belajar berjalan, terjatuh beberapa kali. Namun bangkit lagi, berusaha berjalan ke arahnya. Kemudian berjalan ke arah Rafa.
Benar! Walaupun tidak memiliki hubungan darah, bagaikan dirinya dan Rafa yang sudah membesarkan Aiyue. Walaupun ada baby sitter tapi Rafa selalu meletakkan tas sekolahnya sembarangan, membuat susu, menyuapi bayi kecil dengan kulit putih kemerahan.
"Aku menyayanginya!" Bentak Hidan tanpa fikir panjang. Seharusnya dirinya marah dan memberikan pelajaran pada Rafanda Airen.
Tapi kini, hatinya menjadi berpetualang ke masa kecilnya. Dimana Rafa selalu memberikan susu terbaik untuk adiknya Aiyue, mainan yang bagus, pakaian bersih, segalanya bagaikan terjamin. Tidak dipungkiri bahkan biaya sekolah Hidan segalanya ditanggung oleh keluarga Rafa.
"Bagus, bukankah kita sama-sama menyayanginya? Secara logika aku yang mempertemukan kita dengan Aiyue. Merawat dan membesarkannya bersamamu. Apa kamu rela setelah dia dewasa, ada keluarga lain yang ingin merebutnya?" Tanya Rafa bagaikan rekan seperjuangan, menepuk bahu Hidan, seseorang yang paling gampang dipengaruhi.
"Tidak! Dia adikku! Aku yang menyuapinya." Bentak Hidan.
"Aku sebagai orang yang dulu sering menyingkirkan pup-nya juga tidak setuju. Susah payah aku membesarkannya. Penuh perjuangan dan air mata, tapi tiba-tiba ada keluarga lain yang ingin merebutnya. Bahkan mengatakan anak pengganti Aiyue sudah meninggal. Jadi mereka ingin bertukar tapi tidak memiliki sesuatu untuk ditukarkan?" Rafa sedikit melirik ke arah Hidan, yang mulai terprovokasi.
"Kita menyuapi Aiyue dengan makan-makanan sehat. Membawanya yang pemalas untuk berolahraga setiap hari, bahkan aku mencarikan guru privat agar dia menjadi wanita karier yang cerdas. Setelah dewasa malah ditukar dengan mayat dalam makam Aya Himawari? Aku tidak tau denganmu, tapi aku tidak dapat terima..." Bagaikan sebuah bisikan setan, mempengaruhi mental dan emosi Hidan.
"Ta...tapi aku tidak dapat melarikan diri dari sini." Ucap Hidan tertunduk, mengingat ancaman pembunuhan pada dirinya jika melarikan diri dengan Aiyue.
"Karena itulah, aku! Rafanda Airen ada disini! Tujuan utamaku adalah menyelamatkan Aiyue! Monster kecil yang 23 tahun lalu setiap jam 2 siang selalu aku bersihkan pup-nya. Aku pergi ke tempat ini untuk membebaskan kalian dari mereka. Juga membatalkan pria brengsek dari keluarga Kimura, menyentuh Aiyue yang kita rawat dengan baik!" Seru Rafa bagaikan penyelamat.
"Wah! Tolong kami..." Ucap Hidan bagaikan melihat malaikat yang akan membawa dirinya dan Aiyue pergi dari tempat mengerikan ini.
"Tapi, maaf setelah ini aku harus menikahi Aiyue. Tidak ingin ada pria lain yang merebut Aiyue yang kita besarkan." Rafa tertunduk, bagaikan penuh rasa bersalah."Ini sepenuhnya demi menyelamatkan Aiyue, bukan karena napsu. Aku membatalkan pertunanganku juga karena tidak ingin Aiyue hidup menderita bersama orang yang salah." Dustanya, yang sudah merindukan istri kecilnya.
"Sangat mengharukan! Kamu rela membatalkan pertunanganmu karena mencemaskan Aiyue." Hidan terisak.
Tiga makhluk protektif yang menyayangi Aiyue. Hidan, tidak begitu pintar, tapi akan melakukan apapun untuk adiknya. Yoshida, ingin membahagiakan adik kandung yang selama 23 tahun dianggapnya hidup menderita.
Satu lagi, pria yang terlalu sempurna. Membuang seluruh ego dan rasa malunya, untuk satu kata."Istri kecilku! Aku akan memanggul mu pulang!"
masa tamat begitu aja🙄😭😭😭
but
aku puas banget,Rafa ketulah sama omongannya sendiri ya ttg bapaknya
nice ending
beautiful story'
love full buat othorrrrr
aku makin padamu
malah jadi takut kita
aku suka keributan ini
kuaci udah abis Ama othor,CK
bentar lagi farell Dateng
makin serruuuu
tapi kalau mang dr sana nya kau setia
ada 1001 alesan buat kau setia
hidup itu pilihan bukan,sekali lagi?
biasa pada celap celup sama bini orang apa
kok kyk gitu di normalisasi kan