Orion terperanjat, Putri (8 tahun), anak semata wayangnya tiba-tiba saja membawa seorang wanita yang akan menjadi ibu sambungnya sendiri. Sudah lebih dari 7 tahun Orion penyandang status sebagai duda pasca di tinggalkan untuk selamanya oleh istrinya tercinta.
Apakah Orion akan menikahi wanita yang di bawakan oleh putrinya setelah anak itu terus saja merengek-rengek ingin memiliki seorang ibu sama seperti anak lain seusianya? Atau, dia telah memiliki calon ibu sambung lain untuk sang putri?
Di baca perbab jangan lupa like ya, Reader.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISUP bab 33
"Inalillahi wa innailaihi rodziun, waktu kematian pasien pukul 17.45 Waktu Indonesia Barat," ucap sang Dokter lalu menutup bagian wajah Diana dengan selimut yang semula hanya membalut separuh tubuhnya.
"Tidak! Oma tidak mungkin meninggal 'kan, Mom, Dad?" rengek Putri tangisnya seketika pecah.
Tania segera memeluk tubuh Putri erat. Dia tahu kepergian Diana membuat sang putri syok karena wanita paruh baya itu terlihat baik-baik saja sebelumnya. Buliran bening kian deras mengalir dari pelupuk mata seorang Tania. Tangisan tanpa suara, tapi menyisakan rasa sakit yang tiada tara di dalam lubuk hati seorang Tania.
Sementara tangis Putri terdengar menggelegar layaknya seorang anak kecil yang baru saja kehilangan. Hal yang sama pun diperlihatkan oleh Orion Dirgantara. Tangisnya benar-benar pecah tak terbendung, dia bahkan membuka kembali selimut yang menutup bagian wajah ibunya.
Orion menatap lekat wajah sang ibu yang benar-benar memucat. Laki-laki itu mengecup keningnya secara berkali-kali untuk yang terakhir kalinya. Rasanya sakit, sangat sakit. Luka terbesar seorang anak adalah ketika kehilangan orang tuanya untuk selama-lamanya.
"Semoga Ibu beristirahat dengan tenang di alam sana. Maafkan saya putramu, karena belum sempat membahagiakan Ibu," lirih Orion mengusap ke dua sisi wajah sang ibu, "Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar minta maaf ..." lirihnya lagi kembali memeluk kepala sang ibu seraya menangis sesenggukan.
Setelah puas melakukan hal itu. Setelah puas menatap wajah tanpa roh wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Setelah puas meratapi kepergian sang ibu yang terasa menyesakan dada, yang terasa meruntuhkan dunianya, Orion kembali menutup bagian wajah Diana.
'Brengsek, saya harus mencari si Beny. Kalau perlu, saya akan menghabisi dia dengan ke dua tangan saya sendiri,' batin Orion.
Dia pun mengusap wajahnya secara berkali-kali. Membersihkan buliran air mata yang terus saja bergulir tanpa terasa, ke dua tangannya mulai mengepal sempurna. Wajahnya pun memerah penuh dengan amarah, dia berjalan keluar dari dalam ruangan dengan rahang yang mengeras.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Tania seraya mengurai pelukan Putri, tapi suaminya itu sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya, "Putri sayang. Kamu tunggu sebentar di sini ya, Mommy mau mengejar Daddy-mu dulu," pinta Tania dan hanya di jawab dengan anggukkan oleh gadis itu.
Tania keluar dari dalam ruangan dengan setengah berlari. Dia segera menyusul suaminya seraya memanggil namanya. Namun, lagi-lagi Orion tidak mengindahkan panggilannya. Langkah kakinya kian lebar meninggalkan istrinya di belakang.
"Mas Rion, tunggu aku, Mas! Kamu mau ke mana?" teriak Tania semakin mempercepat langkah kakinya hingga dia dapat menyusul suaminya dan segera menarik pergelangan tangannya erat.
Grep!
Tania memeluk tubuh Orion erat membuatnya sontak menghentikan langkah kakinya, "Tenang, Mas. Aku mohon jangan seperti ini. Sebenarnya kamu mau ke mana?" tanya Tania dadanya kian terasa sesak.
"Lepaskan saya, Tania. Saya mau mencari si brengsek itu, saya akan menghabisi dia dengan ke dua tangan saya sendiri," jawab Orion tegas dan penuh penekanan di tengah air matanya yang terus saja bergulir, "Si Beny! Dia yang telah menyebabkan Ibu meninggal, Tania. Saya--"
"Cukup, Mas. Aku mohon kendalikan emosi kamu, apa kamu lupa ada Putri yang sedang membutuhkan kamu," lirih Tania semakin erat dalam memeluk tubuh suaminya, "Kasihan dia, Mas. Putri pasti syok sekali sekarang. Dia membutuhkan kamu, dia membutuhkan kita."
Tubuh Orion seketika melemas. Suara tangisnya pun mulai lirih terdengar, pergelangan tangannya seketika melingkar di punggung istrinya juga menjatuhkan kepalanya di pundak sang istri.
"Ya Tuhan, kenapa saya sampai melupakan Putri," lirihnya dengan nada suara lemah, "Saya benar-benar egois, saya hanya memikirkan perasaan saya sendiri. Saya lupa kalau ada Putri yang juga merasakan kesedihan yang sama seperti saya."
Tania mengusap punggung suaminya lembut. Dia mencoba untuk terlihat kuat meskipun hatinya teramat sangat terluka dengan kepergian ibu mertuanya, walau bagaimanapun Diana sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Namun, suami dan putri sambungnya merasakan lebih dari sekedar rasa sakit yang sedang dia rasakan saat ini. Luka yang mereka rasakan berkali-kali lipat sakitnya dari yang dia rasakan.
"Lebih baik kita kembali ke kamar, kasihan Putri sendirian di sana," pinta Tania mengurai pelukan.
Ke dua telapak tangannya pun seketika naik mengusap rahang Orion Dirgantara yang benar-benar membanjir.
"Kamu harus kuat, Mas. Aku yakin kamu pasti kuat, ikhlaskan Ibu. Ibu sudah tenang di alam sana."
Orion hanya menganggukkan kepalanya samar dengan dada yang terlihat naik turun. Raut kesedihan terlihat jelas dari wajahnya. Kepergian sang ibu adalah pukulan terbesar di dalam hidup seorang Orion Dirgantara.
Mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan menuju kamar VVIP di mana Putri dan jenazah sang ibu berada. Putri nampak sedang menangis dengan di temani oleh satu orang Perawat.
"Daddy!" teriak Putri segera berlari menghampiri ayah serta ibunya.
Orion merentangkan ke dua tangannya lalu memeluk tubuh Putri erat, "Maafkan Daddy, Nak. Maaf karena Daddy sudah ninggalin kamu di sini," lirih Orion.
"Oma sudah meninggal, Dad. Oma sudah gak ada," rengek Putri seraya menangis sesenggukan, "Kenapa Oma pergi secara tiba-tiba, Dad? Mengapa Oma meninggalkan aku."
Orion mencoba untuk menahan suara isak-nya sedemikan rupa, "Oma sudah beristirahat dengan tenang di alam sana, Putri. Kamu harus ikhlas, raga Oma memang sudah tidak bersama kita lagi, tapi Oma akan selalu berada di dalam hati kita."
"Tapi aku sayang sama Oma. Aku gak mau Oma pergi," rengek Putri.
"Dengarkan Daddy, sayang. Setiap manusia yang bernyawa pasti akan di panggil oleh Yang Maha Kuasa. Setiap manusia pasti akan mendapatkan gilirannya nanti, termasuk, Oma, Daddy, Mommy Tania juga. Jadi, kita harus mengikhlaskan kepergian Oma," lirih Orion seraya memejamkan ke dua matanya.
Dada Orion kian terasa sesak. Tubuhnya seakan melemas, tenaganya pun seolah habis terkuras. Namun, dirinya harus kuat demi sang putri. Putri satu-satunya yang dia miliki, putri yang sangat dia sayangi.
'Daddy berjanji akan menemukan si Beny. Kalau hukum tak dapat menjeratnya, maka Daddy sendiri yang akan menghukumnya dengan ke dua tangan Daddy sendiri,' batin Orion penuh tekad.
BERSAMBUNG