seorang janda muda yg terpaksa menikah dengan atasannya. dan terlibat cinta segitiga antara dia, suami dan mantan suaminya. siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin Aiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Senja tak percaya Langit tiba-tiba disampingnya, reflek ia mundur sedikit menjauh dari Langit dan mematikan sambungan telponnya dengan Bimo.
"Kapan anda datang, pak?" tanya Senja.
"Cukup lah untuk mendengar percakapan lo sama Bimo." jawab Langit.
Senja diam merasa tak enak.
"Siap-siap sana." kata Langit.
"Tidak usah pak, tidak perlu anda sibuk sibuk mengantar saya." tolak Senja.
"Udah cepet sana.. " Langit mendorong badan Senja masuk ke dalam kamar.
Tak lama Senja berganti baju, akhirnya ia keluar. Langit dan Senja langsung menuju ke garasi.
"Apa benar tidak apa-apa pak anda mengantar saya?" tanya Senja. "Jauh lho pak jaraknya, apalagi nyetir sendiri." kata Senja.
"Buruan masuk!!" kata Langit.
Senja akhirnya masuk ke dalam mobil dengan rasa yang tidak enak ke Langit.
Senja memberitahu Langit untuk ke pantai yang ia mau. Langit mensetting gps di layar monitor mobilnya. Setelah semua oke, barulah ia menjalankan mobilnya.
Perjalanan memang sangat jauh dari kota, kurang lebih memakan waktu dua hingga tiga jam. Sesekali Senja menawarkan diri untuk menyetir, tapi Langit menolaknya.
"Beneran nih lewat hutan kaya gini??" Langit merasa ragu ketika melewati jalan ditengah-tengah hutan kecil.
"Iyaaa, disana pantainya gak begitu ramai pengunjung pak. Bagus pula." kata Senja. "Dulu saya dan Bimo nemuin pak Subagio disini Lho." Senja mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Gue tahu. itu kan cuma akal-akalannya Ayah sama Om Irawan." kata Langit.
"Hah!! akal-akalan??? jadi, pak Subagio gak beneran terluka waktu itu??" Senja gak menyangka.
Langit mengangguk, "Entahlah apa yang ada dipikiran mereka berdua sampai punya ide kaya gitu. Tapi gue akuin, dengan cara itu mereka benar-benar dapat orang yang memang bisa dimintai bantuan."
"Saya??" tanya Senja
Langit mengangguk lagi. "bagaimanapun juga, Ayah harus mempertahankan Actmedia. Kakek dan Ayah memulai perusahaan itu dari Nol hingga sebesar ini. Dan ketika sudah berjaya, banyak banget yang pengen ngakuin."
Senja mengangguk-angguk.
"Kadang gue juga merasa bersalah sama lo, ketika kelak orang tahu bahwa semua aset perusahaan atas nama lo. Lo akan jadi orang yang mereka incar." tambah Langit
"Jadi, saya akan dalam bahaya?? jadi saya menikah dengan anda untuk dijadikan tumbal??" tanya Senja.
ctak!!
Langit menyentil kening Senja, membuat Senja mengusap keningnya.
"Lo kira gue lagi bikin pesugihan??" Sentak Langit
"Gue gak akan biarin itu terjadi, gue harus segera nemuin siapa musuh kita sebenarnya. Gue harus benar-benar memancing mereka keluar."
"Mengerikan sekali ya diatas sana. Saya kira jadi pak Direktur enak, tinggal tanda tangan aja, perintah sana perintah sini." kata Senja
Rimbunnya Hutan mulai hilang, nampak dari kejauhan indahnya pantai berpasir putih. Langit masih mengikuti berakhirnya jalan beraspal.
"Parkirnya disebelah sana pak." Senja menunjuk lahan parkir untuk mobil.
Hanya ada beberapa mobil disana, karena memang tak banyak pengunjung di pantai ini.
Langit dan Senja turun dari mobil, seorang pria memberikan karcis parkir. Langit langsung membayarnya, kemudian melanjutkan jalannya
"boleh anda menunggu saya disini saja?" tanya Senja. Ia menunjuk batang pohon bakau yang bisa dibuat duduk. Bimo biasanya duduk disitu menunggu Senja.
"Huh!!" Langit mendengus kesal. "udah jauh-jauh nganter kesini, gue ditinggal disini"
"Enggak gitu pak, nanti saya kesini lagi." kata Senja.
"Ya pastilah lo kesini, gimana lo mau pulang kalo gak sama gue." Langit menuruti Senja. duduk di batang pohon bakau.
Senja tersenyum, kemudian ia meninggalkan Langit dan berjalan ke pantai.
Langit memandangi Senja dari belakang, rambut panjangnya bergoyang indah diterpa angin pantai.
"Gila. gue jadi cowok baek banget. nganterin istri gue mengenang mantannya, gue tungguin pula!!"
Cuaca di pantai tak terlalu panas, Karena banyak awan mendung disana. membuat Senja dengan nyaman duduk di tepi pantai, melepaskan Sandal japit hitamnya dan membiarkan ujung kakinya terkena air pantai.
Matanya menatap kosong ke tengah laut, memikirkan tentang Farhan dan kejadian kecelakaan yang ia alami kemarin.
"Begitukah paniknya kamu mas ketika itu?? pasti kamu berusaha sangat keras untuk menyelamatkan diri." Senja berbisik sendiri.
Ia terdiam lagi, tatapannya masih di tengah laut dan mengenang wajah Farhan. Dalam hati kecilnya, ia selalu berharap Farhan akan segera datang.
Tetesan air hujan mulai turun, pengunjung pantai yang tak seberapa itu buru-buru meninggalkan pantai mencari tempat berteduh. Namun tidak dengan Senja.
Senja membiarkan tubuhnya basah karena hujan, ia hanya malas untuk beranjak pergi. Hingga ia melihat seseorang mengulurkan tangan didepannya. ia mendongak keatas, mencari tau pemilik tangan itu.
itu Langit.
Senja kembali melihat tangan di depannya yang sudah basah, lalu memegangnya. Langit membantu menarik Senja untuk berdiri.
Senja memakai Sandalnya dan Langit mengajaknya berlari menjauh dari pantai.
Senja menatap punggung pria yang di depannya itu, "Kenapa dia begitu baik padaku akhir-akhir ini?? ini membuatku takut." Senja kembali menoleh ke belakang, lalu melihat kedepan lagi.
Langit dan Senja berteduh di warung warung kecil bersama pengunjung lain yang juga berteduh.
Lama mereka menunggu hujan, Langit semakin risih karena beberapa orang yang berdiri disana menatap ke arahnya dan Senja. Awalnya Langit biasa saja karena pasti mereka sedang mengagumi kegantengannya. Tapi semakin lama Langit menjadi risih.
Langit menoleh ke belakang, mencoba mencari tahu. beberapa pria di belakang menatap Senja. Langit pun melihat Senja, dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati kemeja Senja yang basah menempel dikulitnya, membuat bra yang dikenakannya terlihat jelas. Ia ingin menutupi tapi bingung pakai apa, karena ia tak membawa jaket.
"Ayo ke mobil aja." ajak Langit.
"Tapi kan basah pak, nanti mobilnya kotor." kata Senja
"Lo mau orang-orang nikmatin badan lo cuma-cuma?" Langit menatap dada Senja.
Senja menunduk, ia terkejut melihat bra warna biru mudanya terlihat jelas. ia langsung menutupinya dengan tangannya.
"Jangan dilihat!!" Senja menutup mata Langit dengan tangannya.
Langit menepis tangan Senja. "Gue yang baru lihat lo marahin, tuh orang lain yang udah nikmatin dari tadi. Bunuh aja mereka!!"
Langit menarik tangan Senja dan berlari diantara rintikan hujan menuju tempat parkir mobil dan buru buru masuk mobil.
"Langsung balik aja ya?" ajak Langit.
Senja mengangguk, ia menutup dadanya dengan tasnya.
Langit menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan pantai.
Hujan turun terlalu deras, membuat pandangan Langit kedepan terbatas.
"Kita berhenti dulu aja pak, bahaya juga. Terlalu deras hujannya." kata Senja "di depan sudah ada beberapa rumah warga pak, kita berhenti disana aja. Kalo disini serem."
"Iya."
Langit terus menjalankan mobilnya hingga memasuki perkampungan. $a menghentikan mobilnya di sebuah toko yang sudah tutup.
Langit membuka laci dashboard, mengambil sebuah selimut tipis disana. "nih, pake ini." kata Langit. "lepas bajumu dibelakang, bungkus pake ini biar gak masuk angin."
"hah?? lepas??" Senja kaget
"Udah sana. Gue gak mau lo sakit. Bikin ribet!!"
Dengan terpaksa Senja menurut, ia merangkak kebelakang. Melepas semua pakaiannya dan menyelimuti badannya dengan selimut yang diberikan Langit. Tidak terlalu tebal, tapi cukup hangat.
"Maaf ya pak, anda jadi kerepotan karena saya." kata Senja, ia sangat menyesal membuat Langit terjebak disituasi seperti ini.
Langit tidak menjawab, dia hanya sibuk menatap layar ponselnya.
"Saya janji kedepannya tidak akan merepotkan anda" kata Senja.
"gak usah janji yang enggak-enggak. Mustahil lo gak ngrepotin gue." balas Langit.
Senja memanyunkan bibirnya. 'nyesel aku tadi ngomong gitu.'
Langit merebahkan sandaran kursinya.
"Gue mau tidur bentar, bangunin gue kalo hujannya udah agak reda." pinta Langit. Ia membuka Kaosnya yang basah dan ia jemur di setir mobilnya.
Senja mengangguk saja, ia kasihan melihat Langit tidur meringkuk menghadap kiri. 'pasti dingin banget.' batin Senja.
Ia mencari-cari dibagian belakang mobil, barangkali ada kain untuk menyelimuti badan Langit. namun ia tak menemukan apa-apa. Senja melihat selimutnya memang lumayan lebar. akhirnya ia memutuskan untuk memotongnya saja.
Senja mengambil gunting kecil di tasnya. ia membelakangi Langit. Ia membuka perlahan selimutnya, dan memasangnya seperti handuk membelit dari dada hingga kebawah. Sisanya baru ia potong dan ia selimutkan ke badan Langit.
Setelah badan Langit tertutup, Senja kembali ke sudut kursi mobil belakang sebelah kiri. Senja merasa risih dengan rambut basahnya yang menempel-nempel di kulit tubuhnya.
Ia menghadapkan badanya ke cendela, ia takut jika ia mengangkat tangannya tiba-tiba ikatan selimut didadanya lepas lalu dilihat Langit, bisa menggila dia.
Senja merapikan rambutnya dengan jari-jari. mengumpulkan jadi satu keatas dan menggelungnya.
Namun, ia merasakan suatu jari yang dingin menyentuh tengkuknya hingga berhenti di punggung. Membuatnya mematung tak bisa bergerak.
"Kau sengaja mau menggodaku?"
tiba-tiba ia mendengar suara Langit, Senja langsung membalikkan badannya. Ia melihat Langi masih dalam posisi tidur, namun matanya tajam menatap Senja.
Senja terdiam, tak bisa berkata apa-apa ketika Langit menatapnya begitu tajam dan dalam.
-bersambung-
aku sih yes SM langit
jgn² di suruh si lea muncul ini