~Novel ke 13~
Ghullian.. Mereka adalah makhluk bayangan dari Dunia Kegelapan. Hidup untuk membenci cahaya dan juga eksistensi manusia.
Bagaimana jadinya jika seorang Ghullian Penguasa jatuh hati pada manusia?
Bisakah ia menghalau rintangan yang ada di antara takdirnya dengan takdir manusia biasa tersebut?
Sementara ia pun masih harus menghadapi polemik dalam perebutan tahta kekuasaan di kerajaan para Ghullian.
Mari kita simak kisah cinta beda dunia ini bersama-sama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melarikan Diri
"..Nama Ao sebenarnya adalah King Amman Orghlast. Dia adalah pewaris sah dari tahta kerajaan Ghullian berikutnya," terang Flo memberitahu identitas Ao sebenarnya kepada Tiara.
Tiara tertegun demi mengingat nama yang terdengar asing di mulutnya itu. Terlebih lagi saat ia mencermati gelar yang menyertai nama asli nya Ao.
"King..Amman..? Pewaris Tahta?! Apa maksud mu Ao berarti seorang pa..pangeran, Flo?!" cecar Tiara yang masih begitu terkejut dengan informasi yang baru saja diketahuinya itu.
"Ya.. bisa dibilang begitu.." sahut Flo cukup singkat.
Belum selesai pikiran Tiara mencermati semua informasi itu, tiba-tiba saja selubung perisai hitam yang menaunginya sesaat tadi raib tak bersisa.
Secara spontan pandangan Tiara pun langsung tertuju pada sosok Ao, aka. King Amman yang kini sedang berdiri sekitar tiga langkah di depannya.
Tak ada yang berbeda dari sosok Ao yang dikenal Tiara dengan sosok King Amman saat ini. Terkecuali di bagian lengan kanan King Amman yang kini terjulur ke depan dengan posisi telapak tangan yang terbuka dan mengarah kepada Army Bhol.
Tangan King Amman tak lagi terdiri dari lima jari. Melainkan berbentuk seperti bonggol seukuran gurita besar dengan sulur-sulurnya yang berjumlah sekitar belasan. Di mana sulur-sulur tersebut terus bergerak-gerak layaknya kaki-kaki gurita yang bergerak di dalam air.
Tiara tercengang menyaksikan pemandangan tak lazim itu. Sehingga ia pun refleks menoleh ke arah Flo untuk menanyakan tentang hal itu.
"A..Ap..Apa yang terjadi dengan tangan Ao, Flo?! Kenapa tangan nya jadi seperti itu?!" cecar Tiara penuh tanya.
"Kami sebagai kaum ghullian, umumnya hanyalah makhluk bayangan yang bisa menyerupai bentuk apapun, Ra. Jadi, bentuk yang sedang kita lihat saat ini adalah bentuk normal nya kami,"
***
"Kau sepertinya sudah menyerah untuk menyembunyikan rupa mu di hadapan manusia itu Yang Mulia?" tanya Army Bhol sambil tersenyum sinis.
"Kau yang memaksa ku melakukan ini, Bhol. Tapi tenang saja, aku akan memberi mu hadiah atas dorongan mu itu! Rasakan ini!"
Sulur-sulur panjang terus menyerang Army Bhol. Namun sang Panglima hanya menghindar dengan melompat dan berguling ke sana kemari. Sesekali dua abdi setia nya merelakan diri menjadi tameng bagi setiap serangan King Amman.
Hingga ketika sampai pada suatu waktu, Amman mengeluarkan titahnya kepada Flo.
"Flo! Bawa Tiara jauh dari tempat ini!"
" Baik Yang Mulia! Hamba akan membawa nona Tiara ke tempat yang aman!"
"Tunggu dulu!"
Belum selesai Tiara berkata, ketika ia merasa tubuhnya diangkat dengan begitu mudahnya oleh Flo yang telah merubah wujud menjadi bayangan.
"Ara, pegang leher ku erat-erat! Aku akan berlari sedikit lebih kencang dari biasanya!" titah Flo sebelum akhirnya berlari secepat kilat.
Tiara bahkan tak sempat untuk menjawab kalimat Flo tadi. Karena ia sudah langsung dibuat terkejut dengan kecepatan di luar batas kemampuan manusia milik Flo.
'Ini sih bukan sedikit! Ini tuh jelas kencang banget!!' pekik Tiara dalam hati.
Mata Tiara terasa pusing melihat pergerakan di sekitarnya yang terlampau cepat. Karena itulah ia memutuskan untuk memejamkan kedua matanya saat itu juga.
Meski begitu, mulutnya masih bisa untuk bertanya kepada Flo.
"Tapi Flo! Bagaimana dengan Ao..maksud ku King..King.."
Tiara lupa dengan nama Ao yang asli. Syukurlah Flo berbaik hati untuk mengingatkannya lagi.
"King Amman?" sambung Flo.
"Ya.. Bagaimana dengannya dan juga San? Apa mereka juga mengikuti kita untuk pergi?"
"Itu.. sayangnya tidak, Ra. Tapi tenang saja. Yang Mulia dan juga San akan baik-baik saja. Mereka akan bisa mengatasi Army Bhol. Ee..Ara? bisakah kita lanjut bicara lagi nanti?"
"Memangnya kenapa?"
"Karena menggendong mu sambil berlari dan berbicara itu cukup.."
Tiara langsung mengerti maksud Flo. Wajah nya pun seketika merah padam menahan malu. Sehingga detik berikutnya ia tak lagi bertanya apapun kepada Flo.
'Dasar Ara! Jelas Flo bakal keberatan gendong kamu! Segala diajak ngobrol lagi!' tegur Tiara pada dirinya sendiri.
Dan akhirnya, beberapa menit berikutnya dilalui Ara dan Flo tanpa suara lagi.
Tiara masih terus memejamkan mata. Namun telinga nya masih menangkap bunyi desau angin di udara. Pertanda begitu cepatnya Flo berlari saat ini.
Sekitar lima belas menit kemudian, Flo akhirnya berhenti lari. Dan Tiara tampak terkejut saat mendapati kalau keduanya kini sudah berada di depan jalan setapak kecil yang terisolir.
"Di mana kita, Flo?"
Flo tak menjawab pertanyaan Tiara. Setelah menurunkan gadis itu, Flo langsung mendekati semak perdu di pinggir jalan setapak.
Selanjutnya Flo membuat garis melingkar di udara dengan tangannya. Dan ajaib! Semak perdu itu tiba-tiba saja membelah terbuka. Sebuah jalan rahasia pun kini terlihat oleh mereka.
Selanjutnya Flo meraih pergelangan tangan Tiara dan mengajaknya memasuki jalan rahasia tersebut. Dengan perasaan takut, Tiara akhirnya mengikuti langkah Flo dalam diam.
Begitu kakinya menapaki jalan rahasia itu, penglihatan Tiara langsung disuguhi oleh kegelapan. Ia pun terkejut bukan main. Spontan ia menoleh ke belakang, dan hatinya berdesir takjub kala melihat jejak cahaya siang yang baru saja ditinggalkannya.
Tapi Tiara tak berani berkata-kata lagi. Ia terus mengikuti langkah Flo dalam diam. Hingga akhirnya mereka tiba juga di ujung jalan ajaib tersebut.
Sebuah rumah berbentuk jamur terpampang di hadapan mereka kini.
"Rumah siapa ini, Flo?" tanya Tiara.
"Untuk sementara waktu, ini adalah tenpat teraman untukmu, Ra. Kamu tak bisa pulang ke rumah mu terlebih dulu," ujar Flo tanpa menjawab pertanyaan Tiara tadi.
"Kenapa begitu?"
"Kita harus memastikan terlebih dahulu. Sejauh mana Army Bhol tahu tentang mu. Kita tak mau menjumpai anak buahnya kan menunggu di rumah mu?" jawab Flo sambil terus mendekati pintu rumah jamur tersebut.
"Maksudmu, di rumah ku juga ada.. Ada makhluk jahat tadi?!"
"Aku tak tahu, Ra. Aku akan memastikannya terlebih dahulu. Tapi sementara waktu, kau sebaiknya menunggu di sini dulu. Oke?"
"Enggak! Aku gak mau nunggu di sini, Flo! Aku mau pulang!" Tiara mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman tangan Flo. Sayangnya usahanya itu berujung gagal.
"Jangan gegabah, Ra. Kamu harus menunggu di sini dulu. Sementara aku akan mrmastikan semuanya. Oke?"
"Tapi.. Tapi bagaimana dengan Emak? Dan juga adik ku, Flo? Bagaimana jika mereka dalam bahaya?!"
"Karena itulah, Ra. Biarkan aku yang mengecek situasinya terlebih dulu, oke? Prioritas utama ku adalah keamanan mu terlebih dulu, Ra. Itulah perintah King Amman kepada ku,"
"Tapi.."
Ucapan Tiara langsung terhenti, manakala pintu rumah jamur di hadapan mereka mendadak terbuka. Pandangan Tiara langsung tertuju pada sepasang mata cantik milik seorang wanita yang kini menatap balik padanya.
Srr...
Sebuah perasaan deja vu tiba-tiba saja hinggap di hati Tiara kala ia bertatapan dengan sang pemilik rumah. Seolah-olah ia telah mengenal lama wanita cantik berambut panjang tersebut.
"Nona, maafkan kedatangan kami yang begitu tiba-tiba ini. Tapi situasi nya darurat. Army--"
Belum selesai Flo berkata, wanita itu langsung menyela ucapannya.
"Diamlah! Sebaiknya kita lanjut bicara di dalam saja!" ucap wanita itu.
Akhirnya dengan tarikan paksa dari tangan Flo, Tiara pun mengikuti langkah keduanya memasuki rumah. Sementara itu pikirannya masih bercabang pada kondisi Ao saat ini, dan juga keluarganya di rumah kini.
***