"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elang Kembali
Suasana di kantor Limocom seketika berubah tegang begitu Elang Arrarya Lee melangkah masuk. Aroma parfum mahal dan aura flamboyannya membelah kesibukan pagi itu. Di tangannya, sebuah paper bag dari butik mewah London bergoyang mengikuti langkah kakinya yang penuh percaya diri.
Elang langsung menuju meja Lavanya, mengabaikan kasak-kusuk para staf yang mulai mencium aroma drama pria kalangan atas.
"Vanya! Miss me? Gue bawain sesuatu yang bakal bikin lo makin cantik di kantor," ucap Elang tanpa basa-basi, meletakkan kotak berlogo emas itu di atas tumpukan dokumen Lavanya.
Lavanya bahkan tidak mendongak. Jemarinya tetap menari lincah di atas keyboard. "Taruh saja di situ, Lang. Atau kasih ke Mbak Laila, dia lebih suka barang branded daripada gue," jawabnya datar, sedatar garis horison. Laila yang mendengar mengangguk penuh harap.
"Ayolah, Vanya. Jangan kaku banget. Kita makan siang bareng, ya? Gue yang traktir," bujuk Elang. Ia mencondongkan tubuh, mencoba meraih tangan Lavanya yang tengah memegang tetikus.
Sudah dua minggu dirinya tidak melihat Lavanya. Terakhir saat Leo membawa Lavanya ke Lombok untuk observasi lapangan. Setelah itu malah dirinya yang ditugaskan ke London.
Namun, sebelum jemari Elang sempat menyentuh kulitnya, Lavanya menarik tangannya dengan gerakan halus namun sangat tegas. Ia berdiri, berbalik tepat saat sosok tegap Leo muncul dari lorong ruang pimpinan.
"Pak, berkas yang tadi diminta sudah siap di meja," ucap Lavanya cepat. Matanya memberikan kode tajam yang hanya bisa diterjemahkan oleh satu orang: Tolong bantu aku, adik kamu mulai berulah lagi.
Leo berhenti tepat di samping Lavanya. Alih-alih menyuruh Elang pergi sesuai harapan Lavanya, Leo justru melakukan sesuatu yang membuat napas seisi ruangan tertahan.
Ia mengulurkan tangan, lalu dengan gerakan yang sangat natural—seolah sudah dilakukan ribuan kali—ia merapikan helaian rambut Lavanya yang jatuh di dekat pelipis, lalu menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu.
"Kerja bagus, Vanya. Tapi lain kali, fokus saja pada dokumenmu, jangan terganggu oleh tamu yang tidak diundang," ucap Leo. Suaranya rendah, namun penuh otoritas.
Lavanya melotot, jantungnya berpacu. Ia memberikan tatapan 'jaga profesionalitasmu' yang sangat keras, namun ia tidak menghindar sedikit pun. Tubuhnya justru terlihat rileks di bawah dominasi kehadiran Leo, sebuah respons bawah sadar yang tidak bisa dibohongi.
Elang terpaku. Pemandangan itu bagai tamparan keras yang lebih menyakitkan daripada penolakan verbal apa pun. Selama ini ia mengira Lavanya menolaknya karena sifat gadis itu tidak mudah disentuh. Namun melihat bagaimana Lavanya "terbiasa" dengan sentuhan kakaknya, ia sadar es itu sudah mencair sejak lama, hanya saja bukan untuknya.
Elang terkekeh getir. Sebagai lelaki yang peka terhadap bahasa tubuh, ia tahu kapan harus berhenti bertaruh pada kartu yang mati.
"Gue udah telat," gumam Elang pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Leo menyeringai tipis, sebuah kemenangan maskulin yang ia tunjukkan secara halus. Ia menepuk bahu adiknya dengan gaya persaudaraan yang kuat, namun memberikan tekanan yang bermakna 'dia milikku'.
"Jangan ganggu kakak iparmu, Elang. Dia tidak suka kamu," bisik Leo, cukup keras untuk didengar Elang, namun cukup samar bagi karyawan lain yang hanya menangkap kesan bahwa sang bos sedang memberi nasihat tegas pada adiknya. Ia mendekatkan wajah ke telinga Elang, lalu menyeringai tipis. "Lo mungkin yang pertama nemuin dia, tapi gue yang punya kendali atas hatinya. Jangan lancang!"
Elang tertegun sesaat, merasakan cengkeraman tangan Leo di bahunya menguat. Ia menatap kakaknya, lalu beralih pada Lavanya yang sudah memilih duduk kembali di kursi kerjanya sambil berpura-pura sibuk meski punggung gadis itu tampak kaku.
Elang menarik napas panjang, lalu terkekeh hambar—sebuah tawa yang menyembunyikan rasa sesak.
"Gila..." bisik Elang, cukup pelan agar hanya Leo yang mendengar. Ia melepaskan tangan Leo dari bahunya dengan gerakan santai, mencoba menjaga harga dirinya di depan para karyawan.
"Pantas saja dia susah banget ditaklukkan. Ternyata pawangnya sekelas lo, Mas," Elang menggelengkan kepala, menatap Leo dengan tatapan yang kini lebih menantang namun penuh kekalahan. "Gue akui, strategi lo rapi banget. Main di bawah radar, tapi langsung dapet grand prize"
Elang kemudian meraih kembali tas belanja bermerek dari London yang tadi ia letakkan di meja Lavanya. Ia menatap Lavanya sebentar, kali ini tanpa binar genit, melainkan dengan tatapan penuh penilaian.
"Vanya," panggil Elang, membuat Lavanya terpaksa mendongak.
Elang tersenyum tipis—kali ini senyum yang tulus, meski terlihat pahit. "Kado ini... tadinya buat calon pacar. Tapi karena lo calon kakak ipar, anggap aja ini sogokan supaya lo betah sama sifat kaku Mas Leo. Dia orangnya ngebosenin, kan?"
Elang mengedipkan sebelah mata, lalu berbalik menatap Leo dengan raut wajah yang kembali serius.
"Oke, lo menang kali ini. Tapi ingat, Mas," Elang melangkah mundur, suaranya sedikit meninggi agar terdengar lebih santai di telinga staf lain. "Gue tetap butuh penjelasan detail di ruang kerja lo. Sekarang. Dan jangan harap gue bakal diam aja kalau lo telat bayar utang cerita ini."
Dengan gaya flamboyannya yang masih tersisa, Elang melambaikan tangan ke arah staf kantor yang menonton, lalu berjalan mendahului Leo menuju ruang pimpinan. Di balik punggungnya, Elang mengepalkan tangan di dalam saku celana—sadar bahwa mulai hari ini, ia harus belajar memanggil wanita yang ia sukai dengan sebutan 'Kakak ipar'.
🦁🦁🦁
Pintu ruang kerja Leo tertutup, memutus sisa-sisa keriuhan di luar. Elang tidak langsung duduk; ia berjalan mondar-mandir seperti macan yang terkurung, sementara Leo dengan tenang melangkah ke balik meja jati besarnya, melepas kancing jasnya, dan duduk dengan keanggunan seorang raja yang baru saja mengamankan wilayahnya.
"Jelaskan. Sekarang," tuntut Elang, suaranya tidak lagi santai. Ia melempakan jasnya. "Gue selalu cerita sama lo tentang dia. Setiap progres, setiap penolakan yang gue dapet, gue lari ke lo! Dan lo cuma dengerin sambil pasang wajah datar itu, sementara di belakang gue, lo... lo 'makan' apa yang gue incer?"
Leo menyandarkan punggung, menautkan jemarinya di atas meja. Matanya yang tajam menatap Elang tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. "Duduk, Elang. Lo berisik."
"Gue nggak bisa duduk tenang kalau tahu kakak gue sendiri ternyata pengkhianat!"
Leo mendengus dingin. Seringai tipis muncul di sudut bibirnya—seringai yang menunjukkan dominasi mutlak. "Gue nggak pernah merebut apa pun dari lo, Lang. Karena dari awal, Lavanya nggak pernah jadi milik lo. Lo cuma sibuk mengetuk pintu yang kuncinya bahkan nggak pernah lo pegang."
"Tapi lo tahu gue suka dia!"
"Justru itu masalahnya," potong Leo cepat, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Lo yang bikin gue penasaran. Setiap hari lo rancuni pikiran gue dengan cerita tentang 'Lavanya yang cantik dan pintar', 'Lavanya gadis impian lo yang nggak tersentuh', 'Lavanya yang sulit ditaklukkan'. Lo yang masukin sosok Lavanya ke radar gue, Lang!"
Leo berdiri, berjalan perlahan mendekati adiknya, menciptakan tekanan atmosfer yang membuat Elang terdiam.
"Lo tahu gue laki-laki ambisius. Di otak gue selama ini cuma ada ekspansi bisnis. Gue nggak punya waktu buat cinta-cintaan," Leo berhenti tepat di depan Elang, menatapnya lurus. "Tapi cerita lo bikin gue mulai memperhatikan dia. Puncaknya dia gabung ke tim gue, gue mulai nyari tahu di mana letak 'menarik' yang lo maksud. Setiap hari dia berkembang, gue mulai lihat pesona yang lo agung-agungkan."
Leo menjeda sejenak, tatapannya melembut namun tetap terlihat berbahaya. "Dan saat gue mulai masuk ke dunianya, gue sadar kalau gue terjebak. Gue menikmati setiap detik proses jatuh pada pesonanya. Dan yang paling penting... dia memilih gue, bukan lo. Itu perbedaan mendasarnya."
Elang mendecih, namun amarahnya mulai surut, berganti dengan rasa tak percaya. "Jadi lo nyalahin gue karena gue terlalu banyak curhat?"
"Gue nggak nyalahin lo. Gue justru mau berterima kasih," ucap Leo sambil menepuk dada Elang dengan telapak tangannya. "Kalau lo nggak cerewet soal dia, mungkin gue bakal melewatkan satu-satunya wanita yang bisa bikin gue ngerasa hidup selain dari angka-angka saham."
Leo kembali ke mejanya, mengambil sebuah undangan fisik berwarna midnight blue dengan cetakan emas yang sangat elegan dari laci pribadinya. Ia melemparnya ke arah Elang.
"Baca itu. Persiapannya sudah 70%. Jangan coba-coba bikin ulah di hari pernikahan gue nanti."
Elang membuka undangan itu dengan tangan sedikit gemetar. Nama Leo Arraya Lee dan Lavanya terpampang nyata di sana. Ia menghela napas panjang, menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan lemas.
"Gue ngerasa jadi badut paling tolol sedunia," gumam Elang sambil menutupi matanya dengan lengan.
"Lo bukan badut, Lang," sahut Leo tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitornya, kembali ke mode bos dinginnya. "Lo cuma scout yang baik. Lo nemuin berliannya, tapi cuma penguasa yang tahu cara menyimpannya di brankas pribadi."
"Sialan lo, Mas," maki Elang tanpa tenaga. "Tapi jujur sama gue... lo beneran sayang sama dia? Atau ini cuma soal ambisi lo yang nggak mau kalah saing sama adik sendiri?"
Leo berhenti mengetik. Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab dengan suara yang sangat tulus, sesuatu yang jarang Elang dengar dari kakaknya.
"Gue cinta sama dia, Elang. Sangat cinta. Sampai di titik gue nggak akan ragu buat hancurin siapa pun yang berani bikin dia nangis—termasuk lo."
Elang tertegun. Ia tahu kakaknya tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Ia melirik undangan di tangannya, lalu tersenyum pahit.
"Oke, Mas. Gue kalah. Tapi kalau sekali aja gue denger dia sedih gara-gara lo... gue nggak peduli lo kakak gue, gue bakal bawa dia pergi."
Leo hanya menyeringai tipis. "Coba saja kalau lo sanggup melewati penjagaan gue."
🦁🦁🦁
Ini foto Lavanya saat kuliah ya readers.
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....