NovelToon NovelToon
Playing Victim

Playing Victim

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Pemain Terhebat / Tamat
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Irene Puspitasari

Thalita Adelia, seorang gadis remaja menjadi korban bully dan sakit hati seorang wanita setengah baya, karena dituduh merebut simpati seorang pemuda.

Thalita sudah mempunyai seorang kekasih, tapi akhirnya hubungan mereka putus karena hasutan sang Tante. Dan hal yang membuat Thalita kesal, sang Kekasih bersekutu dengan sang Tante untuk merongrongnya.

Thalita yang menjadi korban, seolah sebagai tersangka, karena sang Tante memutar balikkan fakta. Sang Tante bersikap seperti orang yang menderita, mengadukan perbuatan Thalita pada orang-orang yang mengenal mereka.

Thalita yang tegar dan tak cengeng, berbanding terbalik dengan Tante yang berpura-pura lemah, dan menjual air mata untuk menarik simpati. Akankah Thalita dapat terlepas dari fitnah sang Tante? Semoga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irene Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 33 : Racun Baru

Clara sedang menampakkan wajah sedih, ketika Rikka dan Dinda, dua orang sahabatnya datang ke rumah. Clara sengaja mengundang mereka berdua untuk datang. Pengen curhat, itu alasan yang dikatakan Clara.

Clara hanya tinggal sendiri di rumah itu. Ibunya yang sedang tidak sehat, memutuskan untuk tinggal bersama anaknya yang lain, adik Clara, yang telah menjadi seorang duda. Kebiasaan Clara yang suka keluyuran dan kadang tak pulang, membuat ibunya kesepian dan tak terurus.

"Sepi amat rumahmu, Mbak. Ibu kemana?" tanya Dinda.

"Ibu tinggal sama adikku. Kasihan dia, kan baru saja cerai sama istrinya. Istrinya selingkuh. Jadi Ibu memutuskan tinggal sama dia."

"Wah, berarti adiknya Mbak Clara sekarang duda? Mau dong dikenalin sama aku!" kata Rikka.

"Gampang lah itu, Rik! Bisa diatur, nanti aku kenalin. Yang penting sekarang, kalian bantuin aku dulu."

"Bantu apa, Mbak?" tanya Rikka.

"Bantu aku ngasih pelajaran ke si Cabe. Dia udah bikin aku gedeg. Mulut kotornya udah bikin fitnah kejam ke aku."

"Fitnah apaan, Mbak?" tanya Dinda kepo.

"Masa dia bilang ke Vano, kalau aku tuh selingkuh sama Gideon. Dia nyebar racun juga, katanya aku sudah sering tidur sama Gideon, kan kurang ajar tuh."

"Hah? Masa sih mulut si Cabe setajam itu? Emang perlu dikasih pelajaran tuh, berarti. Udah kurang ajar banget, Mbak!" kata Rikka geram.

"Itulah, makanya aku minta bantuan kalian. Kan kalian tau, aku orangnya suka gak tega. Jadi itu dimanfaatkan si Cabe buat injak harga diriku."

"Emang Bang Vano percaya, sama omongan Thalita?" tanya Dinda sangsi.

"Sepertinya sih percaya, Din. Si Cabe itu pinter memutar balikkan fakta. Juga pinter ngibul. Makanya banyak orang yang termakan sama omongan dia. Dia juga menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya."

"Astaga! Aku gak nyangka kalau si Cabe selicik itu, Mbak. Kelihatannya dia cewek baik-baik, polos, ternyata licik," tukas Rikka emosi.

Rikka memang teman Clara yang paling mudah dipengaruhi. Dia menelan saja semua omongan Clara, tanpa menyelidiki kebenarannya. Karena itu, Clara sangat menyukai Rikka. Berbeda dengan Dinda. Gadis itu sangat kalem. Tak grusa-grusu dalam bertindak. Semua dipertimbangkan terlebih dulu. Dicari kebenarannya, barulah dia akan percaya.

Clara kurang menyukai Dinda. Karena Dinda lebih sering menegur Clara, bila wanita itu sudah bertindak yang tidak semestinya. Dinda juga pernah ketahuan Clara, saat gadis itu memberi peringatan pada Thalita, untuk berhati-hati terhadap Clara.

"Hem, Bang Vano itu bukan orang bego, Mbak. Masa sih percaya saja sama hasutan Thalita? Pastilah dia cari bukti dulu, baru percaya," Dinda meragukan omongan Clara.

"Terserah kamu, mau percaya atau enggak, Din! Yang penting aku sudah berkata jujur. Aku juga tau kok, kamu itu sebenarnya membelot dari aku, terus berpihak pada si Cabe. Emang kamu dibayar berapa sama dia?" Clara mulai merasa emosi, racunnya belum bisa mempengaruhi Dinda.

"Astaga, Mbak! Kok ngomongnya gitu, sih? Katanya pengemar cerita detektif? Malah ikutan group riddle juga, lho. Kok cara berpikirnya kayak cara berpikir emak-emak pengemar sinetron sih? Kalau ngomong itu harus ada buktinya, baru bisa dipercaya!" Dinda merasa kesal.

"Terserah kamu aja! Mau percaya ya monggo! Enggak juga gapapa. Gak bakal ngaruh juga buat aku. Tunggu aja sampai kamu kena batunya, karena bela si Cabe terus!" kata Clara kesal.

"Aku cuma pakai logika aja. Hari gini banyak berita hoax berkedok fakta. Tergantung kita menyikapinya. Banyak pelaku yang ngaku sebagai korban. Berpura-pura merasa tersakiti padahal yang menyakiti. Semuanya hanya untuk meraih simpati, playing victim."

"Udah ngomongnya? Udah merasa paling bener dan pinter, mangkanya ngajarin aku? Tunggu aja, Din, tunggu! Pasti kamu akan merasakan akibatnya. Membela seorang toxic macam si Cabe."

"Terserah deh, Mbak. Aku cuma mengingatkan, terserah Mbak Clara aja, maunya gimana."

"Hem, aku tuh heran sama kamu, Din! Kamu tuh gak punya pendirian. Ibarat kata, Belanda menang kamu di pihak Belanda. Jepang menang kamu di pihak Jepang. Labil!" Rikka ikut bicara.

"Terserah kalian berdua, mau anggap apa. Yang penting, aku berpegang pada keyakinan yang ku yakini. Di sini, aku merasa yakin, Thalita itu korban, bukan pelaku!"

Clara mendengkus kesal, usahanya menebar racun baru pada Dinda, tampaknya akan gagal. Dinda tidak seperti Rikka yang sangat gampang dipengaruhi. Dinda lebih punya prinsip, keyakinannya juga teguh. Clara harus punya cara lain, kalau mau Dinda tetap berpihak padanya.

"Biarkan saja, Rik! Dinda berhak punya prinsip. Aku juga gak memaksa dia untuk meyakini omonganku kok. Tinggal tunggu waktu aja, siapa nanti yang emang benar omongannya, aku atau Dinda!" Clara mulai merubah taktik.

Dinda menghela napas, gadis itu tau, maksud tersembunyi yang sedang ditampilkan Clara. Clara the real playing victim, harus hati-hati menghadapinya. Jangan sampai terjerumus dalam kebohongan yang diciptakan wanita itu.

Dinda juga menebak, memang ada sesuatu antara Clara dan Gideon. Bisa jadi antara keduanya memang terjalin suatu affair, tapi Dinda belum punya bukti.

'Sepertinya Bang Vano tau sesuatu, nih. Bukan mustahil juga dia punya bukti untuk membuktikan omongan Clara. Tapi, susah banget buat dekat dengan orang kayak Bang Vano. Tapi aku akan mencoba,' batin Dinda.

"Udah biarin aja tuh si Dinda, Mbak! Dia kan belum tau gimana busuknya si Cabe. Nanti kalau kena batunya, terus ngeluh ke kita, yo tinggal ketawain aja!" kata Rikka.

Meski tersinggung dengan omongan Rikka, Dinda tetap diam. Gadis itu paham dengan sifat temannya. Rikka hanya memanfaatkan sifat Clara yang royal. Clara tak pernah sayang dengan duitnya, asal bisa dapat teman. Teman bayaran yang tak mungkin tulus, pasti ada udang di balik rempeyek.

"Kalau begitu, aku pamit aja, deh! Toh kehadiranku di sini udah gak dibutuhkan lagi."

Dinda segera berdiri, dan beranjak pergi. Dua temannya cuma menatap dengan pandangan sinis, tak menjawab sepatah katapun, saat Dinda berpamitan.

"Udah, Mbak! Jangan hiraukan Dinda! Sekarang kita bahas aja, mau diapakan tuh si Cabe?" Rikka bertanya setelah beberapa lama keduanya diam.

"Rencanaku, tentu saja membuat semua orang jauh dari si Cabe! Tapi aku belum dapat ide, bagaimana caranya," keluh Clara.

"Tenang saja, Mbak! Aku punya ide brilian nih. Kita manfaatkan saja tuh si Gideon untuk membuat si Cabe kapok!"

"Caranya, Rik?"

"Buat si Cabe benar-benar bucin sama Gideon. Habis itu, putusin dan tinggalkan. Pasti dah ngenes tuh Cabe. Tinggal bisa-bisanya Mbak aja, gimana caranya mengendalikan Gideon. Dengan duit, cara yang paling gampang!"

Clara tersenyum, wanita itu sudah mendapatkan cara, untuk menjatuhkan Thalita.

1
kavena ayunda
novel koo berbelit2 terlalu banyak omong si thalita kesannya bkn pinter tp.bloon
Irene Puspitasari: ya maaf, masih pemula kak
total 1 replies
Ririn Santi
bagus ceritanya. ditunggu karya2 berikutnya ya thor💞💕
Irene Puspitasari: udah ada lho, kak 🤭🤭
yang ongoing ada 'Pacar Antik' sama 'Misteri Bunga Lily' coba dicari ya, Kak 😁😁

trimakasih atas dukungannya 🙏🙏
total 1 replies
Ririn Santi
btw novelnya bagus thor. thanks ya thor😘
ceritanya jg gak lebay. karena menceritakan kondisi kebanyakan dr masyarakat kita. cari kerja, binggung dg urusan isi perut, ketemu teman yg julid dsb
Ririn Santi
wah jadi kerja keras vano belum berakhir deh
Ririn Santi
yah kenapa cuma kejepit pintu thor? gak sekalian kejepit senso gitu?
Ririn Santi
mmg ternyata penyakit hati itu mengerikan ya. bikin pusing sendiri
Ririn Santi
somplak nih sepasang sahabat, bikin ngakak aja, apalagi dialog sama para cacing
Irene Puspitasari: terinspirasi dari film man in black, kak 🤭
total 1 replies
Ririn Santi
wah parah nih cowok
Ririn Santi
pinteeer...
Fitri Dwi
lanjut update kak author semangat
Fitri Dwi
update lebih banyak lagi semangat
Fitri Dwi
update lebih banyak lagi hehe semangat
Fitri Dwi
semangat up
Wijaya A
cowok kok gitu sih gideon?
Fitri Dwi
ayo semangat update kakak
Fitri Dwi
update
Fitri Dwi
update lebih banyak sampai ending semangat
Fitri Dwi
update lebih banyak lagi dong
sampai ending semangat update kak
Fitri Dwi
semangat update sampai ending
Fitri Dwi
up sampai ending
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!