Akia tengah lari dari Ayahnya, yang menikah lagi pasca kepergian Ibunya. Kia bersembunyi dan bekerja di sebuah Rumah sakit sebagai seorang perawat disana. Akia dipertemukan oleh seorang pasien dengan trauma kecelakaan yang menyebab kan pengelihatan nya hilang.
Bisma Guntur Prayoga. Seorang pria yang harusnya menjadi ahli waris untuk hotel besar milik Ayahnya, justru memiliki nasib tragis dengan harus kehilangan cahaya dari matanya.
Kedua dipertemukan dalam sebuah instiden, ketika Kia dituduh akan mencelakai Bisma. Padahal, itulah yang membuat Bisma sadar dari tidur panjangnya selama ini.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akan kan mereka akan bersatu, dan Kia menerima Bisma sebagai pengisi cahaya dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hallo, Akia?
"Aku belum bertemu lagi dengan pak Arman. Jadi, kau tunggu saja sejenak. tak usah terburu-buru dengan apa yang kau inginkan." ucap Daksa, yang tengah memberikan vitamin pada sahabat nya itu. Bisma hanya mengangguk dengan sedikit senyum terulas dari bibirnya.
"Dan ngomong-ngomong, Nining kemana? Kenapa dia pergi?" Daksa mempertanyakan itu, atas permintaan Oma sekar. Oma tak mau ada kesalah pahman nantinya, hingga akan menjadi masalah besar di kemudian hari. Dan saat itu, Bisma menceritakan semuanya apa yang dikatakan Nining sebelum ia pergi. bahkan dengan ucapan, bahwa Ia hanya ingin menjaga perasaan nya sendiri saat itu.
"Entah, aku juga tak tahu maksudnya bagaimana." jawab Bisma, datar. Ia sebenarnya tahu apa yang Nining maksud, tapi memilih mengacuhkan nya.
"Baiklah... Aku mengerti maksudnya. Dan setelah ini aku tak akan pernah memberikan hak pada siapapun untuk merawatmu. Oma yang akan melakukan nya."
Daksa pun mengambilkan Eye massager untuknya, lalu di pasang dengan baik sebari Bisma berbaring mendengar kan semua laporan yang Daksa berikan padanya. Bisma pun mendenagrkan dengan tenang, mencermati semua laporan yang di bacakan Daksa padanya. tak ada yang ganjal sedikitpun karena Ia yakin jika Daksa sudah memperbaiki semuanya sesuai dengan apa yang Ia minta.
"Tak ada yang kau tanyakan?" tanya Daksa, menutup berkas yang ada di tangan nya.
"Tidak... Semuanya terdengar begitu jelas di telingaku. Bisa kau lepaskan alat ini? Rasanya pegal." pinta Bisma, dan Daksa pun segera menuruti apa yang ia pinta saat itu juga.
"Kau dapat kan nomornya?"
"Akia?"
"Ya, siapa lagi yang tengah aku fikirkan saat ini. Apalagi rasa bersalah ku karena telah menyinggung Ayahnya tadi siang." sesal Bisma.
Daksa meraih ponselnya. Ia memasuk kan nomor Kia yang Ia dapat dari beberapa rekan karib nya di Rumah sakit, lalu menyimpan nya di ponsel milik Bisma. Ada Tiga nomor utama disana. Nomor Daksa, oma, dan Akia yang baru saja di bubuhkan di nomor Tiga agar Bisma bisa dengan mudah mencarinya..
"Kau ingin menghubunginya? Serius?" tanya Daksa berurutan, ketika Bisma membalas dengan anggukan seperti biasa. Dan Daksa pamit, ketika Bisma mengodenya agar memberi ruang untuk obrolan nya berdua dengan Kia.
Tuuuuuttt... Tuuuut...! Beberapa kali panggiln, namun Akia belum juga menjawabnya. Bisma merasa ini belum tertlalu mlam, hingga belum mungkin jika Akia tidur di jam segini.
"Haloo?" akhirnya Akia menjawab. Bisma pun langsung tersenyum dengan begitu semringah, ketika mendenagr memang suara Kia lah yang menjawab nya saat ini.
"Halooo?? Siapa ini? Kalau ngga jelas, nanti saya..."
"Hay, Akia..." sapa Bisma.
Dengan helaan napas panjang, Kia mengenali suara pria itu di telinganya. Pria yang baru Ia temui tadi siang untuk meminta sebuah perjodohan padanya.
"Ya... Ada apa?" tanya Kia lesu. Sejenak teringat akan ucapan Bisma tadi siang yang cukup menyesak kan dadanya.
"Aku hanya ingin menyapamu. Dan...."
"Dan apa? Ini sudah malam. Jam, Sembilan." Kia menunjuk kan tanda di jam dindingnya pada Bisma.
"Ya, Daksa sudah memberitahu ku. Apa kau lelah? Kau ingin tidur?" Bisma tampak kebingungan, ingin memulai obrolan yang bagaimana dengan gadis itu. Demi apapun, Ia tak pernah punya pegalaman untuk menggoda seorang gadis dengan cara apapun. Ia menyesal telah mengusir Daksa dari kamarnya.
"Kau yang lelah, Tuan. Harusnya kau lah yang banyak istirahat, bukan aku." ucap Kia.
Tampak nya mereka mulai nyaman. Apalagi ketika Bisma dengan segenap hati dan ketulusannya, mau meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan siang tadi. Kia pun luluh, dan mau membalas apapun yang Bisma ucapkan dan tanyakan padanya. Hanya saja, Bisma belum lagi berani membahas mengenai pertemuan itu lag. Dan Ia takut kembali merusak mood Kia untuk yang kesekian kalinya.
koq rubah² mulu