Tidak pernah terbayang kan jika wanita yang beberapa hari ini aku kenal dan aku suka adalah sosok hantu yang gentayangan.
Bagaimana akhir hidupnya dulu, hingga ia menjadi sesosok hantu yang bergentayangan?
Warning!
Isi nya hanya ke haluan dari author gabut 😊 no komen julid nyelekit 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beda generasi
...👻👻👻...
"Bukan itu ka, maksud ku bagai mana kehidupan ka Melati saat berada di desa, apa sulit untuk mendapatkan pria tampan?" Tanya Momo.
Melati mengerutkan keningnya, bingung dengan pertanya yang di lontarkan oleh Momo.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Momo?" Tanya Melati.
"Habisnya ka Melati bisa kecantol sama bang Bimo. Setahu ku kalo liet di sinetron sinetron, pemuda desa itu jauh lebih cakep dari pada pemuda kota, ka!" Oceh Momo.
"Ihs, ada ada saja kamu itu. Mau itu pemuda desa atau kota, kalo akhlak nya buruk. Lah ya sama aja Momo!" Ucap Melati, aku pikir bang Bimo jauh lebih baik dari pria mana pun, beruntung jika aku lebih dulu mengenal bang Bimo, andai nasib ku tidak seburuk ini, mati di usia muda dan menjadi hantu gentayangan.
Jendela kamar Momo yang tertutup tiba tiba tertiup angin kecang dan terbuka.
Prak prak.
Ke dua jendela itu berbenturan hingga mengagetkan Momo dan Melati.
Wuuuuuussssss.
Angin berhembus kencang melewati kaca jendela yang terbuka.
"Akkkhhhhh! Apa itu!" Seru Momo dengan tangannya yang semakin erat melingkar pada perut Melati.
"Itu hanya angin Momo." Ucap Melati mencoba memberikan ketenangan pada Momo dengan membelai kepalanya.
Prak prak.
"Biar aku tutup dulu jendelanya, ya!" Seru Melati yang merasakan hawa aneh menyeruak pada tubuhnya, ulah siapa ini? Bisa bisanya ia mengganggu ketenangan keluarga ini!
Melati beranjak melangkah menjauh dari ranjang dan berjalan mendekat ke arah jenda.
Sedangkan Momo kini memeluk bantal guling dengan erat.
Wuuuuusss.
Momo merasakan hembusan angin di wajahnya yang, "Siapa itu?" Tanya Momo.
Melati yang tinggal selangkah lagi menuju jendela, menoleh ke arah Momo, "Ada apa, Mo----"
Melati tercengang mendapati sosok makhluk halus seperti dirinya tengah berbaring di samping tubuh Momo dengan menghembuskan nafasnya pada wajah Momo.
Dengan batinnya Melati bertanya pada makhluk halus itu, 'Apa yang sedang kau lakukan di sini? Jauhi tubuh mu dari Momo!' Ujar Melati.
Makhluk itu menyeringai dengan wajahnya yang tampak menyeramkan, mahkluk dengan jubah merahnya, matanya menyala dengan lingkar hitam di sekitar matanya, ke dua matanya menatap tajam pada Melati.
'Harusnya aku yang bertanya pada mu, sedang apa kau di sini? Mengganggu rumah ku!' Oceh makhluk kuntilanak merah dengan suaranya yang menyeramkan yang membuat diri Melati menciut meski hanya Melati yang bisa mendengarnya sedangkan Momo hanya bisa merasakannya.
Momo bertanya pada Melati yang nampak pucat diam mematung di dekat sisi ranjangnya Momo.
"Ka Melati? Ka Melati lihat apa? Kenapa jendelanya tidak jadi di tutup ka?" Tanya Momo dengan mengucek ke dua matanya begitu saat merasakan ada hembusan angin yang meniup matanya.
Hembusan angin yang berasal dari tiupan bibir dari makhluk yang tidak bisa di lihat oleh Momo, makhluk yang tidak berniat menampakkan dirinya kini hanya berbuat usil pada Momo saat ia menyadari kehadiran Melati di rumah yang ia tempati lebih dulu.
"Tidak apa Momo, kau tidur lah! Aku akan menutup jendelanya." Ucap Melati dengan melangkah kembali ke arah jendela dan menutup rapat jendela kamar Momo, mengunci jendela itu hingga tidak membiarkan angin berhembus kembali menerobos kamar Momo.
Melati kembali berjalan ke arah ranjang dengan mendapati Momo yang sudah terlelap.
Melati berbicara pada mahkluk yang sejenis dengannya itu namun beda generasi dengannya. Jika Melati nekat melawannya hanya akan kalah dan gagal yang akan Melati peroleh, jelas sudah Melati yang sudah di ajari oleh Buto jika mahkluk kuntilanak merah adalah makhluk paling tua di kalangan Melati.
Melati berbicara dengan sesopan mungkin, agar mahkluk itu tidak tersinggung dengan dirinya.
'Maaf ka, jika aku terlalu lancang meninggali tempat kaka ini tanpa meminta izin mu terlebih dahulu. Tapi aku hanya mengikuti kamana pria yang aku suka, pria itu juga menyayangi ku ka!' Oceh Melati yang berdiri menatap sendu pada makhluk yang usianya sudah ratusan tahun itu.
'Jadi kau mencintai Bimo?'
bersambung...
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Jangan lupa jempol nya ya 🤭
Janga lupa komentarnya buat pemasukan ide untuk author gabut 🤭
-Traces Of The Sun