Renata tidak menyangka pria yang dijodohkan dengannya adalah pria yang pernah ia permainkan cintanya saat SMA.
Ricky menerima perjodohannya setelah tahu kalau calon istrinya adalah yang mempermainkan cintanya saat SMA, dan inilah saatnya dia membalas dendam dengan menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-24 Ricky mencari Renata
Beberapa hari ini Ricky menunggu Alice yang sedang dirawat di Singapure. Beberapa hari ini pula Renata tidak bisa dihubungi. Dia sangat gelisah. Istrinya itu tidak ada kabar, tidak ada berita.
“Kau kenapa?” tanya Alice, yang berbaring ditempat tidur pasien.
“Kau ingat istrimu?” tanya Alice lagi.
“Aku menelponnya handphone-nya tidak aktif, menelpon ke apartemen kata Bu Ani, Renata tinggal dengan orangtuanya lagi, aku cemas,” jawab Ricky.
“Kau ingin pulang?” tanya Alice.
“Tidak, aku hanya…”
“Pulanglah,” kata Alice.
“Tidak, aku…”
“Tidak apa-apa, kau pulang saja, aku ada perawat disini,” kata Alice. Ricky menatap gadis yang tampak sangat pucat itu. Dia tidak tega meninggalkannya.
“Baiklah kalau begitu aku pulang dulu, nanti aku siapkan perawat khusus untukmu,” ucap Ricky. Alice tidak bicara lagi.
Ricky duduk dikursi yang dekat tempat tidur pasien. Menatap wajah Alice yang pucat. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkannya tapi dia juga cemas karena tidak bisa menghubungi Renata. Pihak Bank juga mengatakan kalau transfer dananya tidak bisa dilakukan karena Renata menutup rekeningnya.
Ditatapnya lagi gadis yang berbaring itu, dia tidak mungkin meninggalkan Alice dalam kondisi begini. Disaat dia terpuruk Alice yang selalu menemaninya. Rasanya sangat egois ketika dia bisa mendapatkan wanita yang pernah dicintainya kemudian perhatiannya berpaling dari Alice.
Siang itu Ricky meninggalkan Singapura, langsung menuju kantornya Renata.
Tapi dia sangat terkejut saat receptionis mengatakan kalau Renata sudah resign beberapa hari yang lalu.
“Kalau begitu aku ingin bertemu dnegan Talita,” kata Ricky. Sebenarnya dia bisa langsung menemui Pak Ridwan, tapi dia menjaga wibawanya dari Pak Ridwan, kalau sampai tahu ternyata Renata istrinya dan istrinya resign dia tidak mengetahuinya.
Talita keluar dari lift langsung menuju pria yang sedang duduk di ruang tunggu itu. Talita berdiri menatap tajam pada Ricky yang langsung berdiri menatapnya.
“Kau tahu kemana Renata? Kenapa dia berhenti bekerja?” tanya Ricky. Dia memang meminta Renata untuk berhenti bekerja tapi tidak dengan tidak memberitahunya lebih dulu. Terakhir bertemu Renata istrinya itu akan berangkat bekerja, kenapa sekarang tiba-tiba Resign?
“Dia tidak mau berhubungan denganmu lagi, dia keluar dari tim proyek yang bekerja sama dengan perusahaanmu, kau tidak perlu mencarinya,” jawab Talita.
“Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Ricky.
“Dia sudah tidak kuat dengan perlakuanmu, dia ingin pergi darimu,” jawab Talita lagi dengan ketus.
“Kalau dia tidak bekerja, dia kemana? Aku tidak bisa menghubunginya. Apa dia pulang kerumah orangtuanya?” tanya Ricky.
Talita menatap Ricky.
“Sebaiknya kau tinggalkan saja dia, apa kau tidak kasihan padanya? Kau hanya memberinya penderitaan,” ujar Talita.
“Itu bukan urusanmu,” kata Ricky dengan ketus.
“Kau bertanya dia tinggal dimanapun, itu bukan urusanku!” ucap Talita, lalu membalikkan badannya meninggalkan Ricky.
Ricky kembali duduk di sofa itu dengan kesal.
“Tunggu! Panggil Ricky kemudian dan berlari mengejar Talita.
“Ada apa lagi?” tanya Talita menatap Ricky yang menghalangi jalannya.
“Dimana dia tinggal? Tolong katakan padaku,” pinta Ricky.
“Cari saja sendiri,” jawab Talita, sambil masuk ke dalam lift yang terbuka.
Ricky menghela nafas panjang melihat Talita masuk ke lift dan lift itu kembali menutup.
Akhirnya Ricky mencari kerumah orangtuanya Renata, ternyata kosong. Renata dan orang tuanya tidak tinggal dirumah itu. Diapun mencoba ke rumah sakit menemui ayahnya Renata, ternyata ayahnya sudah keluar dari rumah sakit padahal seharusnya harus masih dirawat.
Akhirnya Ricky kembali ke rumah sederhana yang ditempati Renata saat dia memaksanya kembali. Dia melihat ayahnya Renata di teras bersama ibunya. Diapun menuju rumah itu. Mereka sangat terkejut dengan kedatangannya Ricky.
“Kau, mau apa kau kemari?” tanya Pak Hardi, ayahnya Renata.
“Ayah, kenapa kalian pulang lagi ke rumah ini?” tanya Ricky.
“Apa pedulimu?” tanya Pak Hardi dengan ketus.
“Aku mencari Renata,” ucap Ricky.
“Sebaiknya kau jangan mencarinya lagi, lepaskan putriku!” bentak Bu Arum, ibunya Renata.
“Tapi dia istriku Bu, dia juga sedang hamil,” kata Ricky, dia masih berdiri di teras itu.
“Kau tau dia istrimu , kau tau dia sedang hamil, tapi kau meninggalkanya demi perempuan lain, dimana hatimu?” maki Pak Hardi, kemudan dadanya sudah mulai terasa sesak kerena emosinya meninggi, diapun memelankan suaranya.
“Pak!” Bu Arum segera mendekati suaminya.
“Aku bingung dengan kalian, aku sudah berusaha bersikap baik. Aku sudah mengembalikkan rumah itu, ayah juga bisa berobat di rumah sakit, apa lagi yang kurang?” tanya Ricky, menatap mertuanya.
“Kau memang memberikan itu semua, tapi kau menyakiti putri kami, buat apa semua itu?” jawab Bu Arum.
“Kalian tidak mengerti masalahnya. Aku ingin tahu dimana Renata, aku mau menjemputnya,” kata Ricky.
“Tidak,”jawab Bu Arum.
“Aku tidak memberitahunya,” lanjutnya, membuat Ricky kesal.
“Bu, Renata masih istriku, dia hamil anakku, aku masih berhak padanya, dimana dia? Aku tidak mau dia susah, dia berhenti bekerja, dimana dia?” tanya Ricky, suara mulai meninggi. Orangtuanya tidak menjawab.
“Tolong katakan dimana dia? Aku juga tidak mau dia susah dengan bayiku,” desak Ricky.
Akhirnya Bu Arum menyebutkan sebuah lokasi yang bisa tempat Renata bekerja.
“Dia bekerja sebagai SPG prodak peralatan rumah tangga, dia sedang ada event di alun-alun taman kota,” jawab ibunya Renata.
Ricky tidak menjawab lagi, diapun pergi dari rumah itu, bergegas menuju alun-alun taman kota.
Dilapangan luas itu memang sedang ada pameran berbagai macam prodak, ada elektronik, furniture, dan segala macam. Ricky menyusuri tenda-tenda putih itu, kata ibunya Renata, Renata bekerja sebagai SPG di perusahaan yang menjual peralatan rumahtangga.
Setelah menyusuri jalanan pameran itu yang tampak agak lengang karena bukan hari libur, dia melihat sosok cantik istrinya itu. Dia tertegun melihatnya. Dalam penglihatannya istrinya lebih kurus dari biasanya, dia juga terlihat tidak terawat, padahal baru beberapa hari yang lalu dia meninggalkannya, istrinya juga terlihat sangat pucat.
Renata sedang menyebarkan selebaran brosur perabotan yang dijual perusahan tempatnya bekerja, disebuah tenda yang terdapat tumpukan alat-alat rumah tangga, seperti panci, rice cooker, blender dan segala macam. Dia menawarkan pada setiap pengunjung yang lewat. Melihatnya membuat Ricky tidak tega, walaubagaimanapun dia pernah mencintainya, dia pernah begitu sangat mencintainya. Diapun menghela nafas panjang dan menghampiri Renata.
“Pak, silahkan mampir ke tenda kami, ada banyak promo selama masa pameran ini,” ucap Renata sambil memberikan brosur itu ada sosok pria yang beridiri tegap di depannya, tapi sosok itu hanya diam saja, diapun menatap wajah orang yang berdiri itu. Dia sangat terkejut.
Renata tidak menyangka kalau Ricky sudah ada di depannya.
“Apa-apaan ini?” tanya Ricky, dengan ketus, menatapnya tajam.
“Apa yang kau lakukan?” bentak Ricky dengan keras, membuat orang-orang disekitar menatapnya. Termasuk teman-temannya Renata segera menghampirinya.
“Ada apa Renata?” tanya seorang pria yang mungkin managernya.
“Aku suaminya, jangan ikut campur!” jawab Ricky.
Pria itu tampak kaget menatap Ricky, pria dengan pakaian stelan jasnya yang bisa dilihat itu sangat mahal dengan sepatu bermerknya yang hitam mengkilat, pria yang terlihat sangat gagah dan kaya itu adalah suaminya Renata? Teman-temannya saling berbisik-bisik, mereka tidak menyangka Renata yang bekerja sebagai SPG memiliki suami setajir itu. Sangat mengherankan buat apa Renata bersusah payah menjadi SPG kalau mempunyai suami kaya?
“Kita perlu bicara,” ajak Ricky, tanpa menunggu Renata menjawab, dia langsung menarik tangan Renata, diapun mengambil brosur itu dan melemparnya sampai brosur itu berterbangan di jalanan, perilakunya membuat teman-temannya tidak suka, merekapun mengumpat.
“Aku beli semua barang yang kalian jual! Jangan memperkerjakan istriku!” bentak Ricky dengan sombongnya pada managernya itu, sambil mengeluarkan sebuah kartu nama dan diberikan pada managernya Renata, membuat teman-temannya itu sebal, sedangkan managernya hanya bengong saja terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu.
Renata merasa tidak nyaman dengan perilaku Ricky, pria itu langsung menarik tangannya dengan paksa meninggalkan lokasi pameran itu menuju halaman aprkir tempat dimana mobilnya diparkir.
“Lepaskan!” ucap Renata.
“Lepaskan!” teriak Renata, menarik tangannya dengan keras, sampai tanganya terlepas. Ricky menghentikan langkahnya, menatap Renata, kemudian menarik tangannya Lagi lebih erat menuju mobilnya.
"Aku bilang lepaskan! lepaskan!” teriak Renata kembali menepiskan tangannya.
Setelah dekat mobilnya Ricky, Rickypun melepaskan tangannya Renata. Tangannya membukakan pintu mobilnya.
“Masuk!” perintahnya.
“Aku tidak mau!” jawab Renata.
“Masuk!” bentak Ricky lagi.
“Aku bilang tidak mau tidak mau!” teriak Renata, yang teriakannya membuat beberapa orang yang memarkir kendaraannya menoleh padanya.
Ricky kembali menutup pintu mobilnya.
“Apa apaan kau ini? Kau berhenti bekerja, kau malah menjadi sales dengan gaij yang tidak seberapa? Apa-apaan kau ini?” bentak Ricky.
“Itu bukan urusanmu!” kata Renata.
“Tentu saja urusanku, kau masih istriku!” jawab Ricky dengan kesal.
“Sejak kau pergi dengan wanita itu, kau bukan suamiku lagi, aku tidak mau jadi istrimu lagi!” kata Renata.
“Ingat, kau sedang hamil!” ucap Ricky.
“Aku tidak peduli!” ucap Renata, matanya langsung berkaca-kaca lagi. Melihatnya membuat Ricky merasa kasihan. Terlihat sekali wajah istrinya itu sangat tirus dan pucat, tentu saja disaat hamilnya yang masih sangat muda istrinya itu pasti sedang masa-masa mengidam, mual dan muntah.
“Tolonglah, aku tidak mau bertengkar denganmu, ayo kita pulang,” ajak Ricky, tangannya mengulur tapi Renata menepisnya.
“Sebaiknya kau jangan mencariku lagi, aku tidak mau melihatmu lagi,” ucap Renata menatap Ricky dengan matanya yang memerah.
“Jangan begitu, aku tidak mau kau seperti ini, kau sangat tidak terurus, ayo pulang,” ajak Ricky lagi dengan suara pelan.
“Kau tidak perlu memperdulikanku lagi, kau urus saja wanita itu! Aku juga sudah tidak peduli denganmu!” ucap Renata.
“Kau marah karena aku pergi dengan Alice?” tanya Ricky menatap Renata. Istrinya itu tidak menjawab.
“Apa kau tidak sadar? Semua ini tidak akan terjadi kalau kau dulu tidak menyakitiku, tidak akan ada Alice dalam hidupku. Semua ini karenamu, apa kau tidak sadar, ini semua konsekuensi karena perilakumu sendiri, aku tidak bisa meningalkan Alice dalam keadaan sakit seperti itu,” ucap Ricky.
“Kalau begitu lepaskan aku. Aku sudah mencoba pergi darimu, aku sudah keluar dari tim proyekmu, keluargaku juga sudah keluar dari rumah itu, ayahku juga sudah keluar dari rumah sakit, aku juga…” Renata tidak melanjutkan kata-katanya.
“Aku juga…” belum juga selesai Renata bicara, pandangannya sudah menggelap, dia merasa pusing dan hampir terjatuh kalau Ricky tidak menangkapnya.
“Renata! Renata! Kau kenapa?” tanya Ricky, memeluk istrinya, menepuk-nepuk pipinya. Ternyata Renata pingsan, diapun membuka pintu mobilnya memasukkan Renata ke dalam mobil membawanya ke rumah sakit terdekat.
***********
Maaf ya tiba-tiba menulis novel ini, authornya sedang bersedih jadi nulis yang ini.