WARNING!!!
Area 21+🔥🔥
HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN YA.
Martin Williams, seorang pemuda berusia 26 tahun dititipkan seorang anak gadis berusia 05 tahun oleh sahabatnya yang meninggal karena menderita penyakit kanker getah bening stadium akhir.
Martin awalnya akan menyerahkan anak gadis tersebut kepada ayahnya yang keberadaannya belum diketahui. Namun, saat ia mengingat kembali ucapan Larissa, ibu dari gadis tersebut, Martin memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Martin, kumohon jaga putriku, aku percaya kamu akan merawatnya dengan baik. Dan aku mohon, jangan sekalipun kamu menyerahkan Ayu pada ayahnya, dia bukan ayah yang baik, aku tidak bisa mempercayakan Ayu pada ayahnya untuk dirawat olehnya. Ku mohon."
Martin pun mau tidak mau mengiyakan dan memutuskan untuk merawat Ayu juga menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Namun, saat usia Ayu menginjak 18 tahun, Martin malah jatuh cinta pada putri angkatnya tersebut dan bertekad akan menjadikan Ayu sebagai wanitanya. Bagaimanapun caranya. Tidak peduli dengan usianya yang hampir menginjak kepala empat.
Bagaimanakah Ceritanya? Yuk kita ikuti perjalanan cinta Om Martin yang penuh dengan kekonyolan.
IG: @el_gazendra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Gazendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-33
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.10, Martin sudah selesai dengan pertemuannya bersama Tuan Baskoro, kerja sama antar perusahaan mereka pun sudah di sah-kan tentunya dengan membahas keuntungan masing-masing yang sudah ditargetkan oleh kedua pihak.
Tuan Baskoro sudah pamit terlebih dulu karena ada urusan lain katanya, kini tinggallah Martin dan David yang tengah fokus menikmati makan siang sebelum kembali ke tempat tujuan.
Sepertinya pikiran Martin tak bisa jauh dari bayang-bayang Ayu, terbukti dirinya kini tengah memikirkan gadis kecil itu.
Dia sedang apa ya, apa sudah pulang? Lebih baik aku tanyakan saja...
Martin merogoh saku bagian dalam jasnya lalu mengeluarkan handphone berlogo apel miliknya. Tak membuang waktu, Martin langsung menghubungi nomor tujuan.
Selamat siang menjelang sore Tuan.. Sapa Doni dari sebrang telpon.
"Bagaimana tugas kalian? Apa ada yang mencurigakan? Lalu Ayu sedang apa sekarang?" Tanya Martin memberondong karena tidak mau berbasa-basi.
Tenang saja Tuan, kami menjalankan tugas dengan sangat baik, hari ini dari yang kami lihat tidak ada sedikitpun gerak-gerik yang mencurigakan dari Nona manis.. Eh-Nona Ayu maksudnya Tuan...
Trang!!
Martin tiba-tiba meletakkan sendok yang tengah dipegangnya dengan kasar.
"Kamu bilang apa barusan?!" Tanya Martin geram.
Eee- Ma-maaf Tuan, sa-saya hanya mengatakan fakta saja Tuan... Doni semakin mencari masalah.
"Berani-beraninya kamu memuji dia! Sekarang katakan dimana kalian berada?" Tanya Martin membentak sehingga membuat David yang tengah duduk di hadapannya terlonjak, begitupun si kepala pengawal yang menjadi korban sasaran amarah.
"Ka-kami sedang di Mall Ambassador Tuan, No-na Ayu sedang berbelanja bersama teman-temannya...."
Mall Ambassador? Berani-beraninya dia keluyuran lagi, tanpa meminta ijin lagi...Gumam Martin kesal.
"Tunggu saya di sana! Pantau terus pergerakan Ayu! Dan tunggu hukuman kalian!" Titah Martin kemudian dengan tegasnya. Lalu mematikan sambungan secara sepihak.
Di sebrang sana Doni meneguk ludahnya dengan susah payah, habislah sudah dirinya bersama rekan-rekannya. Padahal hanya dirinya yang salah, tapi kenapa si Bos malah membawa-bawa semuanya.
Demi menjadi bos yang bertanggung jawab, aku harus menyelamatkan anak-anak buah ku.. Batinnya.
Martin menyimpan kembali handphonenya ke saku asal, lalu meneguk minumannya sebelum beranjak.
"Vid, kamu sendiri saja kembali ke perusahaan, saya ada urusan lain.." Martin berujar pada David. David yang tahu urusan apa yang dimaksud bosnya, hanya bisa mendengus pelan karena mau bagaimanapun bos selalu yang berkuasa.
"Iya Bos silahkan... Saya ijin untuk makan sebentar lagi.." Jawab David.
"Terserah, saya duluan." Tanpa menunggu respon, Martin langsung beranjak lalu berjalan meninggalkan David seorang diri.
"Kayaknya bener deh si Bos ada sesuatu sama si Ayu, aku harus cari tau." Gumam David sembari menatap kepergian Martin yang sudah berlalu keluar dari ruangan VVIP.
David kembali fokus pada makanannya, hingga beberapa saat kemudian menu miliknya sudah tandas hanya tinggal menyisakan sayur-sayuran yang dijadikan sebagai penghias.
David menghubungi bagian pelayanan melalui telpon untuk memesan menu penutup, setelah sambungan terputus, David kini fokus pada handphonenya.
Tak lama kemudian, pintu di ketuk dan seorang waiters pun masuk sembari membawa nampan berisikan menu penutup yang menjadi menu favorit di restoran tersebut.
Namun kini yang menjadi perhatian David bukan makanannya, tapi seseorang yang membawa menu tersebut. David terkejut karena ia sangat mengenali waiters tersebut. Begitupun sebaliknya, waiters yang bertugas melayani David juga ikut terkejut karena tamu yang ia layani sekarang tak lain adalah seseorang yang pernah ia curi dompetnya dan seseorang yang pernah terkena siraman minuman olehnya.
Bukannya ini pelayan yang pernah menumpahkan minuman padaku?
Ya Tuhan... Kenapa aku bisa ketemu lagi sama dia? Sudah waktunya kah aku harus mengembalikan dompetnya? Atau dia sudah tau kalo aku yang mencuri dompetnya?! Astaga habislah akuu...
Hanna dengan segera memutuskan kontak matanya lebih dulu, rasanya jantungnya ingin loncat saat melihat tatapan intimidasi dari pria yang tengah duduk santai dihadapannya.
"Tu-tuan i-ini menunya.." Hanna meletakkan menu tersebut tepat dihadapan David tanpa menatap David. Sehingga timbul pertanyaan di hati David.
Ada apa dengannya? Tunggu! Aku seperti pernah melihat wajahnya, tapi dimana ya?..
"Kalau begitu saya pamit kembali Tuan, selamat menik-mati..." Hanna ber bungkuk lalu dengan segera membalikkan tubuhnya.
"Tunggu!" Cegah David tiba-tiba, sehingga membuat Hanna terkejut bukan main.
Ya Tuhan, apa dia mengingatnya? Tolong aku.... Cicit Hanna dalam hati.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanya David dengan ekspresi penasarannya sembari menatap punggung Hanna.
Matilah... Gimana ini? Berfikir Hanna ayokk!!!
Tring!
Hanna berbalik setelah mendapat jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan David. Dengan terpaksa Hanna menampilkan senyum ramahnya.
"Ten-tu Tuan, sa-saya pernah menyiram Tuan dengan tidak disengaja beberapa waktu lalu.." Jawab Hanna sedikit gugup karena ia membuka kembali kesalahannya langsung pada korbannya.
David menggeleng pelan, "Bukan yang itu, sebelumnya! Kita sepertinya pernah bertemu sebelum kejadian itu." Tukas David yakin sehingga membuat Hanna terhenyak.
Astaga... Bagaimana ini? Ya Tuhan tolong aku...
"Mu-mungkin itu ha-nya perasaan Tuan saja, ki-kita tidak pernah bertemu sebelumnya." Hanna berkilah dengan ekspresi gugup yang tidak bisa disembunyikan dari David. Sehingga membuat David curiga dan semakin yakin jika ia memang pernah bertemu dengan Hanna sebelumnya.
Davis menatap mengintimidasi pada Hanna, ia berdiri dari duduknya lalu melangkah mendekati Hanna.
Oh God! Tidak! Dia mau ngapain?! Pekik Hanna dalam hati.
Hanna menunduk dalam, rasanya ia sangat susah menelan ludahnya sendiri.
David berdiri tepat dihadapan Hanna, tanpa basa-basi tangan kanannya mengangkat dagu Hanna sehingga membuat kepala Hanna mendongak. Tatapan keduanya langsung beradu dengan ekspresi yang tentunya berbeda.
Hanna lagi-lagi menelan ludahnya saat melihat David menelaah wajahnya. Menatapnya menyisir semua bagian wajah Hanna, hingga kedua matanya berhenti tepat di salah satu objek.
Tahi lalat? Aku seperti pernah melihat tahi lalat ini di wajah seseorang. Tapi siapa ya?...
David terus memutar otaknya mengingat siapa orang itu, dan tiba-tiba memory otaknya berputar pada kejadian 12 tahun lalu..
Ya! Gadis itu! Gadis yang sudah membantu ku membayar bakso beberapa tahun lalu.. Tapi kenapa letak tahi lalatnya bisa sama? Atau jangan-jangan?... WHAT!!! Kenapa aku baru ngeh?!...
"Kamu..." David menelisik wajah Hanna lagi untuk memastikan kemiripan gadis pemulung itu dengan pelayan dihadapannya.
Huaaa tamatlah riwayat ku... Sepertinya dia sudah mengingat ku...
*****
Martin sampai di Mall tujuan dengan membawa ekspresi kesal. Ia masih kesal akan dua hal, yaitu kesal karena Ayu tidak mengindahkan ancamannya dan juga kesal karena pengawal yang ia kerjakan berani memuji miliknya, bagaimanapun hanya ia yang berhak memuji gadis miliknya itu.
Setelah memikirkan mobilnya di Lobby, Martin langsung melangkahkan kakinya masuk ke Mall berbaur dengan pengunjung lain.
"Dimana kalian?" Tanya Martin setelah sambungan telpon terhubung.
"Sudah sampai Tuan?" Doni malah bertanya balik, tanpa sadar ia memasukkan sendiri dirinya pada kubangan lava.
"Siapa yang menyuruhmu bertanya?! Cepat katakan dimana kalian?!" Bentak Martin tidak mempedulikan tempat.
"I-Iya ma-maaf Tuan.. Kami sedang di lantai dua, tepatnya di toko jam tangan Galaxy starwach..."
Toko jam tangan? Untuk siapa Ayu membeli jam tangan? Jangan-jangan Ayu sudah punya pacar? Oh tidak!! Ini tidak bisa dibiarkan...
Martin tidak merespon, ia langsung mematikan sambungan lalu berjalan menaiki eskalator.
Tak butuh waktu lama untuk menemukan toko yang dimaksud karena Martin sudah hafal seluk beluk Mall tersebut, termasuk letak toko jam tangan yang tengah disambangi Ayu dan kawan-kawan.
Martin menatap bawahannya satu persatu dengan tatapan tajam, namun untuk saat ini ia akan menemui Ayu dulu karena itu tujuannya.
Martin lantas masuk dengan ekspresi dinginnya, para penjaga toko yang sedang memberikan pelayanan tentu saja terpesona dengan kedatangan Martin.
Astaga! Hampir saja... Pekik seorang wanita yang kebetulan akan masuk juga, namun saat mendapati keberadaan Martin, wanita tersebut langsung berbalik sambil menarik paksa tangan lelaki yang sedang menggandeng nya.
"Kenapa sayang?" Tanya laki-laki tersebut.
"Gak pa-pa, kita ke toko jam tangan lain aja." Tak ingin lelakinya curiga, wanita tersebut lantas menarik kembali tangan pria tersebut membawanya menjauh dari toko tersebut.
Sedangkan Martin, ia kini tengah berjalan dengan ekspresi galaknya saat mendapati keberadaan Ayu yang tengah asyik tertawa dengan dua gadis lainnya, yang Martin tebak pasti teman-temannya.
Ayu yang tengah fokus melihat-lihat jam tangan sembari tertawa ria tiba-tiba ber aduh sakit saat telinganya tiba-tiba ditarik ke atas oleh seseorang.
"Aduuuh sakit-sakit.. Lepasin ih! Siapa sih?!" Bentak Ayu sembari berusaha melepas tangan orang yang tengah men-jewer-nya.
Tangan ini? Bulu-bulu ini?! I-ni pasti tangannya... Om Martin!!! Oh God!!!!
Ayu tercengang, sedangkan Fani dan Dea yang lebih dulu melihat Martin malah ikut-ikutan terpesona.
Ayu berbalik dengan ekspresi seperti maling ayam yang tengah kepergok.
"Om? Eh- Dad?" Ucap Ayu gelagapan.
Hampir saja...
Martin semakin galak saat menyadari Ayu yang tengah mencoba menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya pada teman-temannya.
"Bagus ya... Main ke Mall gak ijin sama suami, mau dapat dosa kamu?!" Bentak Martin layaknya seorang suami yang benar-benar memergoki istrinya, sehingga membuat Fani dan Dea terbebelak. Begitupun Ayu yang sama-sama terkejut mendengar ucapan frontal Martin.
What?!! Om Martin gilaaa!!
skip..malas gw baca😪