Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Tragedi Pagi Hari
Keesokan Pagi
Di atas ranjang, kelopak mata Arnold bergerak pelan. Kepalanya masih terasa agak pening, tapi hal pertama yang disadari indra perasanya adalah sebuah kehangatan yang menempel erat di dadanya.
Arnold menundukkan kepala. Matanya melotot sempurna saat melihat Lova tertidur pulas dengan posisi menjadikan dadanya sebagai bantal, lengkap dengan tangan kecil Lova yang memeluk erat pinggangnya.
Bukannya terharu melihat Lova menemaninya, Arnold yang tak pernah ditemani siapa pun saat tidur, mulai meronta-ronta.
Dengan gerakan dramatis, Arnold menarik dirinya mundur sampai menempel ke kepala ranjang, membuat Lova seketika tersentak bangun karena guncangan itu. Lova mengucek matanya yang masih sembap, berusaha mengumpulkan nyawa yang belum penuh.
Namun, belum sempat Lova membuka suara, Arnold sudah menarik selimut tebal sampai sebatas dada, memeluk dirinya sendiri layaknya korban yang ketakutan setengah mati.
"AAAUUW ... AUUWW ... TOLONG ... KEPERJAKAANKU TERENGGUT ...!" jerit Arnold heboh, suaranya yang melengking parau memenuhi seluruh sudut kamar.
Lova langsung melongo, nyawanya yang baru kumpul 50% seketika berpikir dengan keras. Ia mulai bangkit melirik kiri dan kanan. "Si-siapa K-Kak? Apa yang terenggut—" bisiknya mulai duduk, tetapi masih tergambar jelas wajahnya yang masih linglung.
"Zarisha! Kamu ... kamu tega ya!" potong Arnold dengan mata berkaca-kaca, bibir bergetar yang dipaksakan, tangannya menunjuk Lova dengan jari yang bergetar dramatis.
"Tadi malam aku lagi lemas, sakit, tidak berdaya ... dan kamu aku tak menyangka kamu memanfaatkan kesempitan dalam kesakitanku. Kamu sudah menodai kesucianku ... Tega kamu, Zarisha! Mahkota berhargaku telah ... Aaauuhh ...." Arnold memasang muka bebek menangis di hadapan Lova.
Lova mengerjapkan mata, menatap Arnold yang wajahnya masih agak pucat tapi sudah bisa akting selevel aktris bollywood. Rasa haru dan sesak yang Lova rasakan semalam karena mendengar kepiluan masa lalu Arnold, menguap begitu saja dalam hitungan detik. Digantikan oleh rasa ingin melempar suaminya itu pakai baskom kompresan yang masih terletak di atas meja nakas.
"A-aku tidak begitu!" Lova menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Semalam itu Kakak drop, pingsan di ruang tengah!" seru Lova dengan wajah yang mulai merah padam, antara malu dan mungkin kecewa.
"Aku hanya mencoba membantu mengobati Kakak, tapi Kakak yang ...." Lova tak sanggup lagi menjelaskan. Entah kenapa ia yang dituduh sebagai penjahat di sini, dan akhirnya ia menggigit bibirnya.
"Alasan! Semua penjahat k3l4min pasti bilangnya begitu!" Arnold makin histeris, merapatkan kaki ke dada terisak tanpa air mata.
"Lihat ini! Kemejaku sampai kusut begini! Kamu pasti sudah mengerayapiku semalaman, kan? Ngaku kamu! Tanggung jawab gak mau tahu, pokoknya nikahi aku seumur hidup!"
Plak!
Handuk kecil untuk kompresnya tadi malam mendarat tepat di wajah Arnold. Hal ini membuat jeritan drama Arnold terhenti seketika dan melepaskan handuk kecil itu.
"Kak Arnoldy Darmawan, bukan kah kita SUDAH menikah? Kamu sendiri yang mengajakku menikah untuk terapi," ketus Lova, napasnya naik turun menahan gemas.
Arnold terdiam sejenak, mengerjapkan matanya yang bulat. "Oh, iya ya? Sudah sah ya?" Arnold langsung menurunkan selimutnya, mengubah posisinya duduk bersila dengan santai, lalu cengengesan tanpa dosa.
"Ya sudah kalau begitu. Berarti, ayo kita lanjutkan saja gelombang kedua pagi ini ya, Istriku?"
Lova menarik napas dalam-dalam, mengelus dadanya sendiri untuk meredakan serangan darah tinggi mendadak di pagi hari. ‘Tuhan, kembalikan saja Arnold versi dingin yang semalam di rumah keluarganya. Arnold yang ini keanehannya semakin meningkat dan mungkin sudah stadium akhir!’ batin Lova frustrasi.
Setelah Lova beranjak pergi ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan, Arnold berniat mengambil ponselnya sendiri di atas nakas untuk memeriksa CCTV kamarnya. Kenapa pasiennya ini bisa menemaninya semalaman?
Dengan gerakan asal karena nyawanya belum kumpul seratus persen, jemari panjang itu menyambar benda pipih ber-casing bening itu.
"Eh? Kok wallpaper-nya muka Zarisha yang selalu cemberut, sih? Sejak kapan aku ganti—oh, salah HP," gumam Arnold menyadari itu ponsel milik Lova.
Baru saja ia hendak meletakkan kembali ponsel milik istrinya itu, layar di genggamannya mendadak menyala terus-menerus. Arnold mengernyitkan dahi. Di sana terpampang deretan baris pemberitahuan yang luar biasa ramai.
25 Panggilan Tidak Terjawab.
12 Pesan Belum Dibaca.
Dan semuanya berasal dari satu nama kontak yang sama: Teddy.
"Kenapa dia masih menghubungi pasienku ini?" Arnold merasakan ada yang panas muncul di dalam dadanya. Matanya pun menyipit.
"Jelas-jelas Zarisha sudah menjadi istriku. Namun, kenapa dia belum menyerah? Meski Zarisha dan aku hanya memiliki status sebagai pasien dan psikiater, tak akan aku berikan kesempatan sedikit pun untuk mendekatinya," desis Arnold, sudut bibirnya berkedut menahan kesal.
Arnold sedikit melirik situasi, memastikan keadaan aman. Dari arah dapur, terdengar suara dentingan sendok dan tawa kecil Lova yang sedang mengobrol bersama ibunya. Setelah merasa aman, dengan gerakan cepat dan lihai, Arnold membuka pola kunci ponsel Lova, yang entah kenapa berhasil ia tebak, lalu langsung menekan aplikasi pesan yang banyak itu.
Matanya menyipit tajam begitu membaca deretan gelembung pesan dari Teddy.
[Teddy]: Lova, tolong angkat telponku! Aku baru saja bertemu wanita bernama Tania dan anaknya Leticya. Mereka punya bukti kalau Arnold itu punya kelainan jiwa yang tersembunyi! Dia itu sebenarnya tidak menyukai wanita, termasuk kamu. Dia menikahimu hanya sebagai alat untuk mendapatkan harta warisan keluarga Darmawan! Kamu hanya dimanfaatkan, Lova! Tolong percaya padaku. Sebelum dia meninggalkanmu, lebih baik kamu pergi tinggalkan dia, sekarang!"
Napas Arnold mendadak tertahan di tenggorokan. Kamar yang tadinya terasa hangat oleh sisa candaan mereka, seketika berubah mencekam. Cengkeraman jemari panjangnya pada ponsel Lova semakin erat hingga urat-urat di punggung tangannya menyembul tegas.
Aura kelam yang pekat dan sedingin es kembali merayap, mengusir penuh paksa sosok Arnold yang pecicilan beberapa menit lalu. Rahangnya mengeras dengan tatapan mata yang menghunus tajam ke arah layar. Kedua ular itu memanfaatkan Teddy untuk membongkar luka tergelapnya di hadapan Lova.
Belum sempat Arnold mencerna seluruh amarahnya, terdengar suara derap langkah kaki mendekat dari arah luar.
Klek.
Gagang pintu kamar bergerak turun, dan sosok Zarisha muncul di ambang pintu sambil membawa nampan berisi bubur hangat. Sepasang mata polos wanita itu langsung tertuju pada ponsel di tangan Arnold.
"Kak Arnold ... itu kan HP-ku?"
*bersambung*
"Eiihh, gimana ini Cyiiin? Kalau dibaca Zarisha, nasib Eikeh gimana dong? Bagi Vote dan Gift untuk Eikeh ya Cyiin, dukung aku terus yaaaa.. Terima kasih."
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣