Dia Kyara Anna, perempuan berusia 28 tahun. Seorang single parent dengan satu putri cantik berusia 4 tahun yang ia besarkan sendiri.
Namun lagi-lagi ia harus berdamai dengan ke adaan, ketika pria yang selalu di hindarinya kini kembali datang, dan menginginkan putri mereka.
"Kumohon jangan menghindar Ann!" David berkata penuh permohonan.
Penasaran sama cerita Anna! Yuk mampir.
Jangan lupa untuk selalu memberi dukungan.
Berupa like, komen, dan vote.
~Alur ceritanya maju-mundur ya guys~
Kadang suka ada yang bingung kalo nggak di kasih tau dulu...
Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggika15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bohong dosa!
...•••••...
Sebuah mobil taksi tampak berbelok, memasuki area lobby sebuah perkakantoran yang terlihat sangat ramai. Mobil taksi itu benar-benar berhenti tepat di depan pintu lobby, setelah beberapa saat pintu mobil taksi itu terbuka, tampaklah seorang prempuan cantik keluar dari dalam sana.
"Terimakasih, Pak!" prempuan itu berucap, kemudian segera menutup pintu mobil dan berjalan ke arah dalam, dengan sebuah tas berisi kotak makan berukuran kecil yang dibawa ditangan sebelah kirinya.
Seluruh petugas security yang berjaga tampak menganggukan kepala, tersenyum ramah ketika nyonya sang pemilik perusahaan datang.
"Selamat siang, Ibu?" seorang prempuan berpenampilan rapih menyapanya.
Mika tersenyum, kemudian mendekat kearah prempuan yang saat ini berdiri di belakang meja resepsionis.
"Bapak ada?" tanya Mikaila.
"Tadi setelah meeting selesai, Bapak langsung keluar Bu!" prempuan itu terus tersenyum ramah.
Mika terdiam mematung di depan meja resepsionis itu.
"Emm .. apa mbak Ayu tau suami saya kemana!?" ucap Mika seraya menatap papan nama yang tertera.
Prempuan itu menggelengkan kepala, dengan raut wajah yang tampak sumringah.
"Saya tidak tahu, tapi mungkin kalau Ibu tanya Pak Alvaro beliaw tau," jelasnya kembali.
"Apa dia ada disini?"
"Ada di atas, Bu." katanya.
"Baiklah, kalau begitu saya keatas!" tukas Mikaila, kemudian beranjak meninggalkan tempat itu ke arah pintu lift.
Mika berdiri didepan pintu lift, menekan salah satu tombol dan menunggu nya dengan perasaan yang sedikit tidak karuan. Pikiran nya melayang kemana-mana, memikirkan banyakhal namun Mika berusaha tenang.
Ting!
Denting suara pintu lift itu terdengar, kemudian terbuka. Segera Mikaila masuk, lalu menekan tombol hingga pintu itu kembali tertutup.
Beberapa detika Mikaila berdiri didalam kotak besi yang terasa bergerak, akhirnya suara dentingan itu kembali terdengar berbarengan dengan pintu yang kembali terbuka.
Langkah prempuan itu sedikit tergesa-gesa, namun terhenti ketika ia sampai dimeja sang Asisten pribadi suaminya.
"Alvaro?"
Pria yang tengah fokus pada layar laptop pun mengalihkan pandangannya kepada Mikaila yang saat ini berdiri tepat di sampingnya.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" Alvaro tersenyum ramah.
"Dimana David?" tanya Mikaila tampa berbasa-basi terlebih dulu.
Pria itu membisu, ia tidak tahu harus menjawab apa kepada istri dari bosnya itu.
"Mu-mungkin sedang ada pertemuan diluar, jadi Ibu bisa menunggu didalam!" pria itu tersenyum gugup.
"Kau berbohong, kau tau sesuatu hanya saja kau sedang menyembunyikannya dari ku!" Mikaila mulai tersulut emosi.
Alvaro menghela nafasnya.
"Tenanglah, saya akan menghubunginya agar segera kembali." jelas Alvaro.
Dengan keadaan sedikit panik, Alvaro merogoh saku celana untuk mengambil ponsel miliknya.
"Jangan! jangan suruh dia kembali kesini, ... tapi tanya dia sedang ada dimana!" Mikaila menahan tangan Alvaro yang hendak menghubungi David.
"Ta-tapi, ...
"Cepat, atau aku akan membuat kegaduhan disini!" ucapnya penuh penekanan.
Alvaro mengangguk, menuruti perintah Mikaila dengan dada yang terus bedebar lebih kencang.
Perang dunia akan terjadi! Alvaro berbicara dalam hati.
—Hallo?
Suara David jelas terdengar ketika panggilan itu sudah terhubung. Sesaat pria itu diam, melihat Mikaila yang sedang menatapnya dengan sangat teliti.
—Al, ada apa?
David kembali berbicara.
Ehemm! Alvaro mencoba menetralkan persaannya.
"Ba-bapa dimana?" pria itu berbicara, namun sorotmatanya terus beradu dengan prempuan yang saat ini berdiri tidak jauh darinya.
—Saya baru sampai dirumah Anna.
Deg!
Dada Mikaila bergemuruh, matanya tampak memerah, dengan rasa sesak yang mulai mendominasi, hingga nafas nya terdengar menderu-deru.
"Tutup telfon nya!" prempuan itu berbisik.
Alvaro diam.
—Hallo? apa di kantor ada masalah Al!?
"Matikan!?" ucap Mikaila kembali, dengan penuh penekanan.
Papah, ayok! suara Balqis berteriak terdengar.
—Baiklah, tunggu sebentar!
"Tidak ada, hanya memastikan Bapak baik-baik saja!" tukas Alvaro.
—Oke, kalau begitu saya tutup. Balqis sudah memanggil saya untuk menemaninya bermain!
"Baik, Pak!" Alvaro mengangguk.
Sambungan telfon mereka berakhir, lalu Alvaro memasukan ponselnya kembali kedalam saku celakan.
"Jadi, dimana suamiku!?" Mikaila masih bertanya, meski sesungguhnya dia sudah mendengar perkataan suaminya tadi.
"Pak David baru sampai mengantar Balqis, ..
Belum selesai ia berbicara, Mikaila terlihat berbalik arah dan segera meninggalkan Alvaro yang masih terlihat kebingungan.
"Bu!" pria itu berlari.
"Diam, jangan mengerjarku!" cicit Mikaila.
"Tunggulah di ruangan milik Bapak." ajak Alvaro dengan suara yang sangat pelan, bahkan tangan nya menggenggam erat pergelangan tangan prempuan itu.
Mikaila menatap Alvaro sendu, bahkan matanya sudah mulai terlihat berkaca-kaca dengan bibir bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Mikailaa!?" Alvaro menatap nanar prempuan di hadapannya. "Duduklah sebentar, tenangkan dirimu!" pria itu kembali berucap.
"Suamiku Al, ... suamiku!" akhirnya Mika menangis, kemudian memeluk tubuh Asiten pribadi suaminya itu.
"Ya aku tahu!" Alvaro berujar, kemudian menarik Mikaila kearah meja kerjanya.
"Tunggu, aku akan membawa air dulu," katanya.
Prempuan itu mengangguk, dengan suara isak tangis yang terus terdengar lirih.
...••••...
Anna duduk di kursi meja makan, menyantap Waffel saus madu dengan pandangan mata yang terus tertuju ke arah sofa ruang tengah dimana David dan putri mereka berada.
Suara tawa Balqis terus menggema, ketika David terus melontarkan candaan kepada gadis kecil itu.
"Dek? waffelnya mau?" Anna memanggil.
"No, Aqis kenyang!" sahut Balqis, kemduain tertawa lagi.
"Sudah dulu mainnya, biar Papah minum kopi nya dulu ... keburu dingin nanti." Anna kembali berbicara.
"Ish, .. Maa! Papa gelitikin aku mulu!" Balqis merengek di iringi suara tawa keduanya yang terus terdengar.
"Mas, kopinya diminum dulu!"
David berhenti, lalu bangkit dan segera berjalan kearah Anna yang sedang menikmati Waffelnya.
"Maama suka waffelnya?" gadis kecil itu bertanya seraya berlari kearah Anna.
"Suka, makasih ya udah beliin Mama Waffel!" katanya lalu mencium pipi putrinya.
"Itu Papah yang beli, bukan aku!" pernyataan itu sontak membuat David tersentak, hingga hampir menyemburkan kopi hitam yang baru saja diminumnya.
Uhuk .. uhuk .. uhuk ...
David menyusut bibirnya, lalu pandangan mereka bertemu.
"I-itu Balqis yang pesan, bukan aku." sergah David.
Anna menoleh, menatap Balqis penuh tanya.
"Bohong dosa loh, Paah!" Balqis menunjuk ayahnya.
Ngg!
David bingung.
Kenapa aku lupa berkompromi dengannya tadi!
Tok ... tok ...
Mereka terdiam ketika suara ketukan pintu terdengar.
"Sil, tolong bukain!" Anna berteriak.
"Iya Bu." prempuan itu berlari dari arah dapur menuju pintu depan.
"Selamat siang?"
Anna mendongak, menatap sosok wanita yang masuk dan berjalan kearah mereka.
"Apaka kabar Ann?!" tanya Rosa yang langsung menghambur kedalam pelukan Anna.
"Aku baik Bu." tukas Anna seraya membalas pelukan ibu kandung dari mantan suaminya itu.
"Maaf tidak mengabari terlebih dulu, tapi ayah menunggu mu didalam mobil, katanya dia sangat ingin bertemu dengan mu!" raut wajah Anna terlihat bingung, apalagi ketika melihat David yang seolah diabaikan ibunya begitu saja.
"Ann, ayok!" Rosa membuyarkan lamunannya.
Anna mengangguk, ia bangkit lalu mengikuti langkah Rosa yang berjalan ke arah luar.
...•••••...
Balqis nggak bisa diajak kompromi ya Bun😂
Instagram: @_anggika15
Seperti biasa, like, komen, hadiah dan votenya!
Jangan lupa di klik tombol favorite nya❤️
jd gga sabar
tapi pak Irwan sayang banget Ama Sisil...melebihi anak kandung