Mohon maaf, Novel dalam proses revisi menjadi bacaan yang jauh lebih baik lagi, baik dari segi penulisan, diksi kata ataupun alur yg akan lebih cepat karena menghilangkan adegan tidak pantas.
---------
Disclaimer : Adult konten.
"Menyesal itu memang selalu datang belakangan, jika di awal namanya pendaftaran," ucap Freya pada Adnan yang menyadari kesalahannya sampai membuat pernikahannya berakhir begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayang aku ga?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Adnan telah berada di apartemen Namira, dia memapah rekan kerjanya sampai di sofa.
“Makasih, Nan…” lirih Namira terdengar menggoda di telinga Adnan.
“Hm!”
Adnan lantas bersiap pulang, namun, cekalan tangan Namira menghentikannya. “Temani aku!”
“Kamu gila!” pekik Adnan berang seketika. “Istriku di rumah sedang menungguku!”
“Ck!” Namira berdecak tidak suka. Dia membuang wajahnya tanpa ingin melepaskan cengkraman tangannya. “Bilang aja ada kerjaan.”
“Gak!” Dengan lantang Adnan melepaskan tangan Namira. “Jika kamu ingin bermain-main, silahkan cari pria lain!” Adnan berbicara menekan di depan wajah gadis di hadapannya. Tak lama dia keluar dari sana.
“Aarggh!” Namira memekik frustasi, rasanya begitu sulit menggoda Adnan untuk bisa jadi miliknya. “Apa kurangnya aku! Fisik aku jelas lebih baik dari istrinya! Aku juga anak petinggi perusahaan, Adnan Arshaka ini pria bodoh yang lahir di Mars!” umpat Namira menumpahkan kekesalannya. “Sialnya, aku jatuh cinta pada pria beristri itu!”
Adnan berlalu cepat dari apartemen Namira, debar jantungnya berdetak tidak karuan. Dia pria normal, dia tahu betapa mulus dan cantik pesona anak pemilik perusahaan. Sayangnya, istrinya tidak kalah jauh cantik dari Namira. Bahkan, Adnan tahu sendiri bagaimana perjuangan istrinya saat melahirkan generasi penerus miliknya. “Aku tidak akan pernah ingin menodai cinta aku ke kamu Freya… Lihat, bagaimana aku setia selama ini Sayang… Lalu— kamu bisa berduaan dengan bosmu! Huh—”
Adnan melajukan kembali mobilnya menuju rumah mantan istri yang sebentar lagi kembali rujuk. Dalam benak Adnan telah menari-nari bagaimana tubuh molek istrinya saat ini memuaskannya. Diantara alasan kenapa dia bertahan dengan istrinya, tentu saja karena Freya paling tahu memuaskannya di ranjang!
“Sayang, bersiaplah… Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan besok!” Senyum Adnan mengembang saat dia berpikir kotor mengenai istrinya sekarang. Semua itu dikarenakan Namira membuat ulah atas gairahnya. Untuk meredamnya, tentu saja Adnan mencari wanitanya.
[ Buna, aku di depan… Aku gak enak kalau ketuk, tar tetangga tau! ]
Freya mengulumkan senyuman saat membaca pesan Adnan, gegas wanita itu memakan kimononya keluar kamar membukakan pintu depan. Suasana memang sunyi senyap, saat ini sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Freya tersenyum menyambut mantan suaminya, Adnan lantas menghambur memeluk dan menciumi wanitanya.
“Aaargh, Baba! Kamu kenapaaa…” Freya mendorong tubuh Adnan yang langsung asal nyosor itu. Dengan cepat Freya menutup dan mengunci lagi pintu rumahnya.
“Kangen sama istri kok gak boleh! Aneh…” Adnan kembali melanjutkan aksinya, dia sudah tidak tahan. Adnan menggendong tubuh mungil Freya dan membawanya ke dalam kamar.
Direbahkannya tubuh Freya dan ditariknya tali kimono tidur Freya dengan kasar. “Aaargh!”
Freya kembali melenguh perlahan atas perlakuan Adnan. Tanpa ada kecurigaan apapun yang mungkin terjadi antara mantan suaminya dengan rekan kerja sebelumnya. Adnan membawa Freya kembali menikmati indahnya puncak nirwana.
***
Di dalam kamarnya, Lusi tengah membaca file yang dikirimkan anak buahnya. Dia meremas kencang dokumen tersebut. “Dasar, ja-lang! Dia bahkan seorang janda dengan dua anak! Bagaimana bisa Bram menyukainya? Pasti dia menggunakan guna-guna!!”
Lusi terus berpikir bagaimana caranya untuk membalaskan rasa sakit hati dan cemburu atas kedekatan Freya dan Bram. “Heh, aku mungkin tidak bisa menyentuhmu Freya, bagaimana jika aku mulai dari putri kecilmu!”
Lusi kembali mencari ponselnya, dia menghubungi anak buahnya. “Aku ada pekerjaan lagi untuk kalian!”
“Aku ingin, kamu bawa putri Freya Anindita, dia bersekolah tak jauh dari rumahnya bukan? Lakukan dengan baik!”
Lusi menutup sambungan setelah selesai dengan titah busuknya. Tawanya kembali menggelegar membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa merinding saat ini juga.
“Freya, kamu salah mencari musuh, Sayang—”
***
Keesokan harinya,
Di rumah Freya kembali ricuh dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua buah hatinya. Tidak hanya mereka, kedua orang tua mereka juga sama saja. Seolah waktu satu tahun yang terlewati adalah waktu untuk menyembuhkan luka dan pada akhirnya kembali bersama.
“Mulai sekarang, Baba yang antar kalian sekolah dan kerja!” Adnan memulai percakapan di saat mereka tengah menikmati sarapan paginya.
“Asiiik!” Aluna memekik girang, sedangkan Freya hanya mengulumkan senyuman.
Freya bangkit dan menyerahkan keperluan Aluna, dia juga sudah menyiapkan kotak bekal makan siang untuk suaminya. Adnan begitu senang, dia memeluk istrinya saat Wulan beranjak menemani Aluna menuju mobil mereka.
“Aku bahagia, akhirnya kita bisa seperti ini lagi…” bisik Adnan memeluk Freya dari belakang.
“Iya, Ba… Ayo, nanti telat!” Freya menoleh dengan senyuman tanpa ingin memperpanjang. Adnan mencuri sebuah ciuman dan terus menyesap dalam, rasanya tidak cukup waktu mereka habiskan untuk menukar setahun kekosongan hatinya selama ini.
Freya terengah, dia menatap lekat mantan suaminya. “Adnan…”
“Iya, Sayang…” Adnan kembali mengecup perlahan bibir wanitanya. “I love you, Freya Anindita…”
“Love you too…” balas Freya berbisik di depan bibir basah prianya.
Mereka bergegas bergabung dengan putrinya, dan menuju tujuan masing-masing. Adnan sendiri kali ini sudah bergabung dengan kantor cabang. Disini dia menyandang jabatan supervisornya.
“Pagi!” Namira mendekat menyapa kedatangan Adnan.
“Pagi… Gimana udah baikan?”
Pertanyaan Adnan membuat raut wajah Namira merona atas perhatian kecilnya. “Ya, lumayan… Sarapan yuk? Temani aku…”
“Aku sudah sarapan!” tolak Adnan menuju ruangannya. Pria itu menaruh kotak bekal yang disiapkan istrinya. Namira sontak bisa melihatnya, perasaannya semakin tidak karuan. Dia dilanda cemburu besar.
‘Kenapa pria setia seperti dia tidak aku temukan duluan!’ batin Namira kesal.
“Siang ini ada inspeksi proyek resort sari ater…” Namira kembali membawa pekerjaan agar bisa lebih lama berbincang dengan Adnan.
“Ya, aku akan kerjakan…” sahut Adnan abai dengan masih memperhatikan berkas di meja kerjanya.
Adnan tersadar, wanita di ruangan itu tidak juga beranjak dari ruangannya. “Ada lagi?”
“Ck, kamu tuh cuek banget sih jadi cowok!” keluh Namira kembali mencari cara berbincang dengan Adnan.
“Ya Tuhaaan, aku pikir kamu mau ngomong apa!” geram Adnan di depan wajah Namira yang merengek tak beralasan. “Kita sedang bekerja, aku tidak suka berbincang saat bekerja!”
“Kita kan emang lagi bahas kerjaan, Adnan? Kamu mikirnya apa?” pancing Namira membuat Adnan kembali mendengus kesal.
“Kamu kenapa gak balik ke ruangan kamu aja?” usir Adnan membuat Namira bangkit tidak senang.
“Nanti jam makan siang kita langsung berangkat.” tukasnya sebelum keluar ruangan.
“Hm!”
Adnan hanya menjawab seperlunya dan kembali bergelut dengan pekerjaannya. Namira menghentakkan kaki kesal keluar ruangan. Setelah wanita itu tidak disana, Adnan menghela nafas panjang. “Aku sungguh menyesal menerima tawaran Namira, dia terlihat punya niatan terselubung!”
Adnan meraih ponselnya dan mengirimi pesan pada wanita pujaannya. Memikirkan wajah Freya saja membuat senyum Adnan otomatis terbit di wajahnya. “Sayang, aku rindu…”
[ Adnan : Sayang, kangeeen… Pengen nganu! ]
Bersambung…
kasian adnan menderita sampai ajal dan dilupakan begitu saja
tapi kenapa freya harus menikah lagi dengan bram
harus nya freya menjaga cintanya hanya untuk adnan
emng dsr ya lu thor /Right Bah!//Right Bah!//Right Bah!//Right Bah!/
gk bosen bosen
sedih aq
tpi sllu aj mewek.
good luck buat author
seht sllu