Pernikahan yang di dasarkan oleh perjodohan, membuat Max tak pernah menganggap Monica sebagai istrinya. Ia selalu memperlakukan Monica dengan begitu kasar. Bahkan, tak tanggung-tanggung Max selalu membawa wanita bayaran nya ke apartemen nya dan Monica untuk memuaskan nya.
Suara desahan dari dalam kamar Max, membuat Monica terisak. Ia benar-benar merasa tak di hargai sebagai seorang istri. Sudah hampir setahun pernikahan mereka, namun Max masih belum juga berubah.
"Ceraikan putri ku sekarang juga!" ucap Juan.
Bagai tersambar petir di siang bolong, Max merasa tubuhnya begitu lemas saat mendengar ucapan Juan barusan. Kenapa di saat ia sudah mencintai Monica, Juan malah menyuruh nya untuk menceraikan Monica.
"Dad, ku mohon. Jangan pisahkan aku dengan Monica. Aku mencintai nya Dad. Aku sangat mencintai nya" ucap Max. Berlutut di hadapan ayah mertua nya. Namun, bukannya merasa iba, Juan malah menatap Max dengan sinis.
Bagaimana kah kisah nya? Akankah Max bisa mempertahankan pernikahan nya dengan Monica?
Yuk, simak ceritanya.
Update setiap hari senin-jumat!
Sabtu dan minggu libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 33
Berikan vote, coment dan like ~
"Daddy, ku mohon jangan. Dia tidak bersalah!" ucap Cindy. Yang berusaha melepaskan diri dari Daddy nya.
"Daddy tidak sudi kau mengandung benih dari pria biasa itu!" ucap David. Terus menarik tangan Cindy dengan paksa. "Aku ingin kandungan nya di aborsi!" ucap David lagi. Saat mereka sudah di dalam ruangan yang ada di mansion nya itu.
"Tidak! Aku tidak mau!" ucap Cindy.
"CINDY....."
"BERHENTI MENCAMPURI URUSAN KU DAD! AKU SUDAH DEWASA! AKU TAU MANA YANG BENAR DAN MANA YANG SALAH!" ucap Cindy. "Kau tega ingin membunuh cucu mu sendiri Dad? Bagaimana pun ada darah mu yang mengalir didalam nya. Biarkan aku yang membesarkan nya! " ucap Cindy lagi. Setelah itu ia keluar dari ruangan itu dan pergi dari mansion David.
"Sayang" ucap seorang pria. Menarik tangan Cindy saat wanita itu keluar dari mansion. Ia membawa Cindy ke belakang mansion dimana tidak ada orang disitu.
"Joy" ucap Cindy lirih. Dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan membantah Daddy mu" ucap pria yang bernama Joy itu.
"Kau juga ingin aku menggugurkan kandungan ku?" ucap Cindy. Menatap kekasih nya dengan sendu.
"Bukan seperti itu..... Maksud ku..... Benar kata Daddy mu, kita berbeda" ucap Joy. "Aku hanya seorang sopir. Yang gaji nya tidak seberapa untuk wanita seperti mu" ucap Joy lagi.
"Aku tidak peduli Joy! Aku hanya ingin bersama mu. Kau, aku dan anak kita" ucap Cindy. Memeluk tubuh kekasih nya dengan erat.
"Kau harus patuh dengan Daddy mu, kau putri nya. Jangan karena diriku kau membantah nya" ucap Joy. Membuat Cindy melepaskan pelukan nya.
"Kau tidak mencintai ku Joy?" ucap Cindy.
"Bukan seperti itu ma....."
"Mungkin kau memang tidak mencintai ku selama ini. Itu sebabnya kau juga ingin aku menggugurkan kandungan ku" ucap Cindy. Memotong ucapan Joy.
"Tidak Sayang. Bukan seperti itu maksud ku" ucap Joy. Menggeleng-gelengkan kepalanya dan memegang tangan Cindy. "Aku hanya tidak ingin hubungan mu dengan Daddy mu rusak" ucap Joy lagi.
"Hubungan ku dengan Daddy memang dari dulu sudah rusak. Dulu aku dan kak Regand selalu di siksa oleh Daddy. Daddy selalu memperlakukan aku dan kak Regand dengan kasar. Bahkan, dulu Daddy tega menjual ku dengan rekan bisnis nya. Hingga aku harus kehilangan sesuatu yang berharga di hidup ku dengan paksa" ucap Cindy. Membuat Joy terdiam. "Dan sekarang kau meminta ku untuk tidak membantah Daddy? Bukankah itu artinya kau juga ingin membunuh darah daging mu sendiri?" ucap Cindy lagi.
"Sayang....."
"Oke Joy, jika itu yang kau inginkan. Hubungan kita cukup sampai disini! Aku akan membesarkan anak ku sendiri tanpa campur tangan mu ataupun Daddy dan kak Regand" ucap Cindy. Yang siap melangkahkan kakinya. Namun, Joy segera menahan tangan nya.
"Baiklah. Ayo, aku akan bicara pada Daddy mu" ucap Joy. Dengan malas Cindy pun menurut dan masuk kembali kedalam mansion bersama dengan Joy yang berada di samping nya.
...*****...
Di villa.....
Max dan Regand saat ini sedang duduk di sofa ruang tengah dengan menatap tajam satu sama lainnya. Nafas keduanya memburu.
"Ku pikir kau bisa menjelaskan nya sekarang" ucap Regand.
"Kau ingin membalas dendam padaku hanya karena sebuah kesalahpahaman? Lalu, bagaimana dengan Mommy ku yang juga sudah meninggal karena kesalahpahaman? Dan itu semua karena Mommy!" ucap Max. Masih menatap Regand dengan tajam. Begitupun dengan Regand. "Seharusnya saat itu Mommy mu menjaga martabatnya sebagai seorang istri juga seorang ibu. Dia sudah memiliki seorang suami, tapi dia masih tetap ingin bertemu dengan pria lain yang tak lain adalah suami dari sahabat nya sendiri! Aku tau, ini tidak sepenuhnya salah aunty Ellena. Karena Daddy ku yang meminta nya untuk datang. Tapi, jika Mommy mu saat itu memang ingin mengatakan sesuatu. Untuk apa dia berbisik pada Daddy hingga membuat Mommy ku salah paham dan akhirnya meninggalkan ku untuk selamanya. Padahal didalam ruangan itu hanya ada aunty Ellena dan Daddy ku. Untuk apa ia berbisik jika di ruangan itu hanya ada mereka berdua? Apakah itu masuk akal menurut mu?" ucap Max lagi. Panjang lebar. Membuat Regand terdiam.
"Dan karena kesalahpahaman itu. Hubungan ku dengan Monica yang saat itu akan membaik, malah hancur karena dirimu! Kau yang menyuruh Cindy untuk menjebak ku karena ingin aku bercerai dengan Monica bukan? Walaupun aku harus terpaksa mengakuinya, bahwa saat itu aku benar-benar bodoh. Karena mengajak Cindy makan malam bersama ku" ucap Max. "Bagaimana jika aku juga menjebak Amber agar dia tidur dengan pria lain?" ucap Max lagi. Membuat Regand semakin menatap nya dengan tajam.
"Aku akan membunuh mu!" ucap Regand. Membuat Max terkekeh.
"Cih! Seharusnya aku juga membunuh setelah tau bahwa kau lah dalang di balik kehancuran rumah tangga ku dengan Monica. Tapi, aku tidak melakukannya karena kau adalah anak dari sahabat Mommy ku" ucap Max. "Aku tidak menyukai yang namanya permusuhan. Itu sebabnya aku tidak ingin memperbesarkan masalah ini. Ku harap kita bisa berdamai Regand. Karena aku tidak ingin mempunyai musuh" ucap Max lagi.
"Aku ti....."
Ucapan Regand terhenti saat ponsel nya yang berada di dalam saku celana nya berdering. Regand mengambil ponsel nya dan mengangkat panggilan yang ternyata adalah dari istri nya.
"Halo, ada apa Sayang" udah Regand lembut. Membuat Max berdecak kesal. Ha! Ia jadi merindukan Monica.
"Kapan kau pulang?" ucap Amber. Di seberang sana dengan manja.
"Kenapa? Apa kau merindukan ku?" ucap Regand. Menaikturunkan alisnya. Di seberang sana, Amber menggigit bibir bawah nya dengan sensual.
"Aku..... Aku ingin itu" ucap Amber ragu. Membuat Regand mengerutkan keningnya bingung. Namun, kemudian ia tersenyum saat menyadari keinginan istri nya.
"Ingin apa Sayang?" ucap Regand. Menggoda istri nya.
"Ingin itu..... Ha! Tidak mungkin kau tidak tau" ucap Amber kesal. Membuat Regand terkekeh. "Cepat pulang" ucap Amber lagi.
"Oke Sayang" ucap Regand. Ia segera mengakhiri panggilan nya dengan Amber, dan bangkit berdiri.
"Hei, kau ingin kemana! Kita masih harus bicara!" ucap Max. Saat Regand ingin melangkahkan kakinya.
"Itu tidak penting! Menjenguk anak ku lebih penting" ucap Regand. Meninggalkan Max yang masih terdiam mencerna ucapan Regand barusan.
"Ha iya, aku tau. Tenang, kau juga akan segera menjenguk anak mu nanti" ucap Max. Mengelus milik nya yang tiba-tiba mengeras di balik celana nya, saat mengingat tubuh polos Monica yang begitu menggoda.
...*****...
Dua bulan kemudian.....
"Kak bukankah kau tidak menyukai keju? Lalu mengapa kau memakan roti ku yang berisi keju itu" ucap Marvel kesal. Sekaligus bingung.
"Hanya ingin saja" ucap Monica santai. "Kenapa? Kau mau?" ucap Monica lagi. Marvel menggelengkan kepalanya.
"Kakak sudah menghabiskan nya" ucap Marvel sendu. Monica bangkit berdiri dan menepuk bahu adiknya itu.
"Maafkan aku Marvel. Aku lapar, jadi aku memakan roti mu" ucap Monica.
"Tidak seperti biasanya. Jika kakak lapar, kakak akan memasak sendiri. Tapi kenapa kakak....."
"Kau ini kenapa banyak bicara sekali! Aku sedang malas untuk memasak" ucap Monica. "Aku ingin tidur dulu. Oke?!" ucap Monica lagi. Ia pun segera pergi meninggalkan Marvel yang masih menatap nya dengan bingung.
saya mampir lg thor
menang dasar,,,,, cerita ini Tdk ada mencerminkan adab yg baik.