Zeyn Lein Zong merupakan seorang CEO dari ZLZ Company, perusahan terbesar di Negara A, dia memiliki paras yang sangat tampan dan menawan sehingga banyak wanita yang terpesona olehnya.Dibalik wajah tampan nya Zeyn memiliki sifat yang sombong, arogan, dingin, dan kejam. Sifat yang dimiliki bukanlah sifat aslinya. Hingga dia harus bertemu dengan seorang gadis desa yang yang mempunyai sifat dan karakter berbanding terbalik dengannya.
Arn Crysi Leonard merupakan putri seorang petani dari sebuah desa di Negara A yang sedang melanjutkan pendidikan di salah satu kampus ternama Negara A. Kampus tersebut merupakan kampus bagi orang-orang kalangan atas, Arn bisa masuk ke kampus tersebut berkat kepintaran yang dimilikinya sehingga Ia mendapatkan beasiswa.Pada awalnya kehidupan kampus berjalan seperti biasanya tanpa adanya masalah, hingga tiba pada saat dimana Arn harus bertemu dengan seorang pria yang arogan, sombong, dingin dan kejam. Tanpa Arn ketahui sang ayah menyimpan rahasia darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon agh arn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Ayam berkokok, burung-burung berkicauan, dan sang surya perlahan menampakkan wajahnya. Kedua gadis sedang berperang dengan berbagai peralatan dapur, suara tawa keduanya terdengar di seluruh dapur. Harum masakan mereka tercium sampai ke dalam kamar, membuat penghuni kamar terbangun dari alam mimpi mereka. Setelah di rasa semuanya sudah siap kedua gadis itu meletakkan diatas meja makan, disana terdapat tiga pria yang sudah menunggu.
“Wah..... masak apa ini harum sekali, sampai aku tidak bisa menahan lapar” kedua gadis itu hanya tersenyum.
“Kalian masak banyak sekali, mau kemana ini hari” tanya pria paru baya.
“Kami berencana membantu ayah di sawah, setelah itu sorenya kami akan mandi di sungai” jawab salah satu gadis itu.
“Ayah? sejak kapan paman mempunyai dua putri. Paman, jangan mau menjadikan Violen sebagai anak. Tidak ada untungnya” ejek pria termuda yang ada disitu
“Sejak hari ini. Kenapa? Leon bilang saja kau cemburu tidak bisa memanggil Tuan Leonard dengan sebutan ayah. Lagi pula ayah yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan ayah dan aku sudah mendapat persetujuan dari Arn” balas Violen sengit.
“Aku cemburu buat apa? aku sudah mendapat banyak cinta dari paman sejak aku kecil, biarlah sekarang paman memberikanmu cinta?. Awas saja kalau kau sampai merugikan paman” ancam Leon.
“Eh..eh... merugikan bagaimana maksudmu”
“Kau kan makannya banyak, yang berarti paman harus menyiapkan beras ekstra hanya untukmu”
“Maksudmu aku rakus begitu?”
“Kau yang mengatakan sendiri. Aku tidak”
“Kau, mana ada aku rakus. Kalau aku rakus badanku sudah melar tak karuan”
“Itu buktinya, piringmu penuh”
“LEON”
“APA” tanya Leon sengit. Violen memberikan tatapan membunuhnya.
“Jika kalian bertengkar lagi aku akan---“
“Akan apa” Leon dan Violen bertanya pada Arn.
“Menikahi kalian” jawab Zeyn dan Arn bersamaan.
Leon dan Violen, saling pandang dan tersenyum.
“Cie...cie... Vio yang jawabnya bersamaan”
“Aduh.... jangan-jangan kode ini”
“Kode apa” Zeyn dan Arn berbicara bersama lagi.
Leon dan Violen bertepuk tangan gembira. Tuan Leonard hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Sudah, ayo kita sarapan. Setelah itu Isy dan Vio bersiap kita akan berangkat ke sawah. Kalian berdua akan kemana hari ini” tanya Tuan Leonard pada Zeyn dan Leon.
“Kami akan meninjau perkembangan Vila” jawab Zeyn.
“Bukannya kita kesini untuk liburan, kenapa harus meninjau perkembangan Vila. Itu sama saja kerja” protes Leon.
“Hanya meninjau perkembangan, tidak menyuruhmu untuk mengangkat material” bantah Zeyn.
“Tetap sama saja”
“Terserah kau saja”
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Leon menyetujui untuk menemani Zeyn meninjau perkembangan Vila. Kini tiba saatnya mereka berangkat ke lokasi tujuan masing-masing, Zeyn dan Leon memakai stelan santai yang membuat ketampanan mereka semakin bersinar. Arn dan Violen tidak berkedip melihat anugerah Tuhan di depan mereka.
“Ayo anak-anak kita berangkat” suara Tuan Leonard membuyarkan pikiran Arn dan Violen.
Mereka berjalan bersama-sama karena lokasi Vila dan sawa jaraknya cukup dekat. Tuan Leonard berjalan paling depan, di susul Arn dan Violen yang memegang bekal makan siang mereka. Zeyn dan Leon berjalan paling belakang. Mereka bertiga terlihat seperti body guard bagi Arn dan Violen.
“Cantik kan” pertanyaan Leo mengejutkan Zeyn.
“Siapa?” tanya Zeyn. Leon menunjuk Arn dengan kepalanya, Zeyn hanya mengangkat bahunya.
“Aku melihatnya tadi malam. Kakak benar-benar seperti orang yang kelaparan, tahu tidak” perkataan Leon membuat Zeyn menghentikan langkahnya.
“Aku tahu”
“Apa? kakak tahu. Wah.... apa kakak sengaja memperlihatkan adegan live kepadaku”
“Kau tidak marah?”
“Buat apa marah. Dia milikmu. Aku harap kakak dapat membahagiakannya, jangan membuatnya menangis, dan satu lagi jangan melakukan hal yang lebih dari semalam. Aku berada di pihak Crys”
Zeyn memikirkan kejadian semalam, untung saja dia bisa menahan diri. Jika tidak. Dia akan dibenci oleh Arn dan yang lainnya. Zeyn tersenyum membayangkan wajah marah Arn semalam. Dia benar-benar menggemaskan. Dipandangnya Arn yang sedang tertawa riang bersama Violen. Arn yang sedang tertawa menoleh kebelakang, tepat saat itu pandangan mata mereka bertemu. Saling menatap begitu lama,. Pandangan mata Zeyn seolah-olah menghipnotis Arn untuk masuk kedalamnya. Sekilas banyangan semalam muncul, membuat Arn melepaskan kontak mata mereka.
“Kita berpisah di sini. Jika ada apa-apa kalian bisa menghubungiku” pesan Tuan Leonard kepada Zeyn dan Leon.
Kini mereka mengambil jalan yang berbeda, tapi Zeyn tetap berdiam di tempat menatap punggung ketiga orang itu. Tepatnya punggung Arn.
“Kak, ayo supaya kita cepat selesai. Sebentar saja di rumah baru melihatnya sampai puas” Leon menyeret tangan Zeyn agar mengikuti langkahnya.
Dan di sinilah mereka. Di sebuah bangunan yang hampir selesai. Seseorang menyambut mereka.
“Selamat pagi pak, kami senang anda datang berkunjung kemari’ sapa sang mandor.
“Bagaimana perkembangannya” tanya Zeyn sambil memakai helm pelindung.
“Sudah 80%. Sekitar satu sampai tiga bulan lagi Vila ini akan selesai”
“Satu sampai tiga bulan, ya. Baiklah”
Sementara Leon berkeliling untuk melihat-lihat. Setelah di rasa cukup dia mencari Zeyn dan mandor itu.
“Pak, sepertinya ada beberapa tempat yang harus di rombak ulang. Tadi saya sudah berkeliling dan menemukan, ada beberapa tempat yang dibangun tidak sesuai dengan apa yang di rencanakan. Saya tidak tahu apakah itu sudah di ubah oleh kakak saya, ataukah itu keputusan kalian sendiri. Kakak merubah design di beberapa tempat ya?” jelas Leon.
Zeyn melihat kearah sang mandor.
“Begini pak, saya berpikir kalau design di beberapa tempat tidak terlalu menarik dan terkesan kuno jadi saya menggantinya” jawab sang mandor.
“Anda mengubah designya tanpa sepengetahuan, kak Zeyn. Berani sekali anda. Anda di minta hanya untuk mengawasi, bukan mengubah design yang sudah ada” Leon benar-benar tidak menyangka. Mau cari mati ini orang.
“Ta-tapi pak, jika designnya tetap begitu orang yang akan menginap akan merasa bosan, dan nilai jual untuk Vila ini akan rendah”gugup sang mandor.
“Jadi begitu pikiranmu. ASAL ANDA TAHU VILA INI DI BU BUAT BUKAN UNTUK DI JADIKAN LADANG BISNIS. VILA INI HANYA SEBAGAI TEMPAT PERISTIRAHATAN KAMI” Leon benar-benar geram.
Design Vila ini adalah rancangan mereka bertiga. Mulai dari pemilihan warna sampai bentuk bangunan.
“Saya membayar anda hanya untuk memantau perkembangan Vila ini, bukan untuk merubahnya sesuai dengan keinginan anda. Kau mengerti” sang arsitek menundukkan kepala tidak berani melihat.
“Saya tidak mau tahu, ubah kembali yang sudah kau ubah seperti semula. Dan waktumu hanya tiga bulan” Sang mandor terkejut mendengarnya.
Bagaimana hanya tiga bulan, sedangkan hampir seluruh isi bangunan sudah di ubahnya.
“Bagaimana mungkin Pak, jika kita mengubah lagi maka waktunya di butuhkan sekitar enam sampai delapan bulan, tiga bulan itu sangat mustahil”
“Kami tidak peduli. Tidak ada yang meminta anda untuk merombak designnya. Dan juga biayanya silakan di tanggung sendiri. Ah.... tidak perlu. Biayanya diambil dari gajimu saja. Ayo kak kita pulang. Malas di sini lama-lama”
Zeyn dan Leon meninggalkan sang mandor yang mematung di belakang mereka. Andai saja dia tidak merubah designnya pasti tidak akan mengalami hal seperti ini. Dia sangat bodoh. Satu hal yang harus di pelajarinya, jangan berani merubah apapun yang sudah di buat oleh seorang Zeyn Lein Zong.
Tbc