Farhan, divonis mandul. Agar bisa mempertahankan Marla, Farhan rela membayar adik tirinya Agustin untuk menikahi Marla selagi Marla dan Farhan bercerai sementara.
Sesuai perjanjian Agustin harus menghamili Marla, setelah mengandung dan melahirkan Marla akan dikembalikan ke Farhan.
Awalnya, Agustin setuju karna bayaran. Tapi lambat-laun berangsur berubah pikiran. Agustin malah berubah haluan, dan ingin menjaga keluarga kecilnya. Anaknya dan Marla istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agustin Yang Egois
Agustin sangat berusaha keras, tentu saja. Hanya untuk tujuan egoisnya, yaitu menahan Marla menjadi istrinya. Setidaknya jangan terlalu cepat Marla lepas darinya, Agustin tidak bisa memperhitungkan angka tahun ke berapa agar dia bisa merelakan keegoisannya tapi untuk saat ini Agustin ingin menahan Marla semampunya, dan sebisanya.
Obat KB cair … sebenarnya saran Rio terlalu meragukan. Karena memperhitungkan itu daripada kelak dia menyesal sendiri, Agustin juga meminum pil KB untuk lelaki. Dan menghindari berhubungan di masa subur Marla. Marla pernah mengajak karena menghitung tanggal subur, Agustin pura-pura sibuk, sakit dan kadang mengaku lembur ke kantor padahal dia hanya berkeluyuran dengan Rio untuk menghindari kemungkinan itu.
Ada lagi yang lebih mujarab, meskipun sedikit beresiko untuk ketahuan. Agustin memakai pengaman diam-diam, lama sebelum mereka berhubungan, sekitar beberapa menit sebelum Agustin mengajak duluan, atau pura-pura pergi ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum memulai. Jika Agustin amati, Marla memiliki sifat yang terlalu pemalu. Saat melihat Agustin menanggali pakaian, dia selalu saja menutup mata dan menolak melihat Agustin. Apalagi mereka memakai selimut, Marla tidak akan mau melihat bagian bawah Agustin dan mengecek.
Jadi Agustin cukup senang dengan apa yang dia rencanakan, tidak buruk ‘kan?
Setelah lelah, Agustin bangkit membawa tubuh Marla dan mendaratkannya ke pangkuan. “Apa lagi, Tin?” Marla mengeluh, menatap cemberut Agustin yang tersenyum geli. Agustin membawa kepala Marla ke sela lehernya, lalu bersamaan dengan tubuhnya membawa Marla berbaring. “Mbak capek? Ngantuk?” Marla mengangguk mengiakan. “Kalau begitu tidur, yuk.” Agustin merebahkan diri di sebelah Marla, mengusap pipi itu dan meminta Marla terlelap duluan.
Setelah Marla yang kelelahan jatuh terlelap, Agustin mendaratkan kecupan ke kelopak matanya. Lalu dengan gerakan hati-hati menyingkirkan diri dan turun dari ranjang, Agustin dengan waspada melirik-lirik Marla takutnya Marla terlonjak bangun. Lalu direnggutnya handuk untuk menutupi pinggang. Dia harus ke kamar mandi, melepas pengaman itu, membersihkannya dan membuangnya. Agustin harus diam-diam seperti ini, agar tidak ketahuan oleh Marla kalau Agustin melakukan kecurangan secara sembunyi-sembunyi.
Dengan handuk yang tergantung di pinggang, Agustin membuka pintu dan menutupnya perlahan. Saat berbalik dia terlonjak kaget melihat Farhan yang tergugu di tempat. Dengan tatapan kosong, tangan mengepal dan wajah suram yang menyiratkan kecemburuan, tepatnya rasa iri--karena Marla bukan miliknya lagi.
“Kak Farhan?”
Agustin menelan ludah. Inilah rasanya jika ketangkap basah. Sekalipun kepergok baru saja memadu kasih istri sendiri. Rasanya seperti ketahuan berselingkuh dengan istri orang, sekalipun Marla memang mantan istri orang dan akan kembali menjadi istri orang.
Farhan tersenyum dipaksakan, “kerja bagus, Tin.” Dia sadar diri, pujian yang memang harus dia lontarkan, bukan mengamuk dan tidak terima.
Sebaliknya, malah semakin membuat Agustin kehilangan kata-kata.
Farhan menyentuh bahunya, tangannya naik menepuk pipinya, “aku menantikan hasilnya.”
Agustin bungkam.
‘Maaf, Kak … aku tidak akan membawakanmu hasil itu.’
“Mandilah,” suruh Farhan, “aku pergi sekarang. Titip salam untuk Marla, maaf jika kehadiranku menganggu. Aku juga tidak ingat kenapa bisa sampai di sini.” Farhan baru saja hendak beranjak, perkataan Agustin mencegat langkahnya.
“Ada apa denganmu, Kak?”
Pertanyaan itu membuat Farhan menoleh, menatap Agustin datar.
“Ada apa denganmu?”
Ulang Farhan, terlihat simpati.
“Emangnya ada apa dengan diriku?”
“Aku seperti tidak mengenalimu.”
Awalnya Farhan diam. Kalimat itu terdengar biasa untuknya, tak apa Agustin merasa dirinya asing asalkan jangan Marla--
“Mungkin Mbak Marla memikirkan hal yang sama.”
Farhan meringis. Siapapun boleh menganggapnya apa dan bagaimana, asalkan jangan Marla yang berpikir Farhan sudah berubah. Marla … Farhan tetaplah Farhan-mu, sekalipun Farhan-mu berubah, tidak harus perasaanmu ikut berubah, ‘kan?
“Emangnya apa yang berubah pada diriku?”
“Sekilas Kakak memang sama saja … tapi inti dari Kakak yang berubah, dan seakan tak bisa dikenali.”
Farhan lemas, “jika aku berubah--seperti apa yang kamu tuduhkan dan kalian pikirkan … emangnya kenapa? Seiring waktu manusia memang akan berubah, ‘kan?”
Mendadak Farhan menyesali kalimatnya sendiri.
‘Seiring waktu manusia memang akan berubah, ‘kan?’
Jadi jika perasaan Marla berubah, beralih ke Agustin … apakah itu memang sebuah tindakan wajar? Yang didakwai oleh waktu? Tidak, tidak. Manusia berubah mendadak itu tidak bisa diterima. Jadi perubahan Farhan … memang tidak bisa diterima.
“Aku hanya berpikir, Kakak tidak perlu berubah. Jadilah seperti Kak Farhan yang aku dan Mbak Marla kenal, itu saja.”
“Oke,” Farhan mengangguk mantap. “Aku tidak akan berubah, tepatnya akan kuusahakan itu.” Agustin terlihat semringah, hingga senyum itu surut saat Farhan menambahkan. “Tapi kamu harus menjanjikan satu hal padaku, Tin … jangan ubah Marla. Jangan ubah perasaannya kepadaku, jangan membuat Marla berhenti mencintaiku dan beralih menyayangimu. Karena Marla … milikku. Ini perjanjian kita yang selanjutnya; aku tidak akan berubah, jadi karena aku tidak akan berubah, jangan ubah Marla.”
Agustin diam. Kebungkaman itu membuat Farhan terbahak sinis. “Kamu keberatan?”
“Maksudku ….” Agustin kehilangan kata-kata. Marla akan berubah? Agustin yang akan merubahnya? Perasaan Marla akan berubah dari mencintai Farhan beralih mencintai Agustin? Jujur saja, apa yang Farhan tuduhkan kepada Agustin sangat terdengar mustahil. Tapi Agustin tidak akan berbohong, sesuatu yang terdengar mustahil, tuduhan Farhan yang terlalu berlebihan itulah yang paling Agustin harapkan.
“Jika kamu ubah Marla,” Farhan mengancam, matanya menyirat banyak kebencian. “Tenang saja, aku akan membunuhmu. Agar tak ada yang perlu diubah lagi.”
Inilah yang Agustin sebut Farhan berubah. Dia menjadi lebih bengal dan egois. Kak Farhan … Agustin tahu, kenyataan ini susah diterima. Tapi bagi Agustin, mengembalikan Marla setelah dia sempat memiliknya, itu lebih tidak adil lagi! Bagaimana mungkin Agustin membuang semua kebahagiaan ini? Yang datang sendiri kepadanya? Dan pergi dengan sendirinya juga. Setidaknya Agustin akan menahannya, secara diam-diam. Karena tidak seperti Farhan yang punya apapun, Agustin tidak memiliki apa-apa.
“Kak,” Agustin menyeringai, mendekatkan bibirnya ke sudut telinga Farhan, “mau mendengar ‘ancaman ala-ku’?” Farhan terkesiap, hingga Agustin melanjutkan bisikannya. “Jika Kakak membunuhku, aku akan membawa Marla bersamaku--ke surga. Usahakanlah membunuh kami disaat kami sedang bermain di atas ranjang, disana aku akan membawa Marla ikut bersamaku.”
“Tidak, tidak.” Agustin langsung menarik kepala, dan terbahak. Melihat raut Farhan yang beringas, seperti hendak membunuhnya. Agustin terlihat santai, “aku bercanda, Kak. Sungguh, aku tidak serius. Jangan menanggapiku terlalu serius, aku memang senang mengerjaimu.”
Perlahan raut Farhan berubah, dari beringas menjadi dingin, “aku tidak main-main untuk membunuhmu, Tin.”
“Dan aku hanya main-main dengan tanggapanku barusan.”
Agustin tersenyum alanya, senyum menyebalkan yang benar-benar memancing kesabaran.
“Jangan ubah Marla,” pinta Farhan seperti memerintah. “Jangan ubah perasaan Marla-ku.”
Agustin tersenyum manis, semanis gulali yang memperdaya. “Dan jangan membunuhku.”
kali ini bersemangat lagi...tank you thoor🙏
penasaran dgn lanjutannya😭😭
plis deh jdi ikut sakit hati...