Tentang rasa dan tujuan yang tak pernah selaras dengan kenyataan, dimana keduanya bertolak belakang, lalu memilih tak searah. Adella ayu Prasetyo, gadis malang yang terombang-ambing antara keluarga dan cintanya.
Harapan untuk menemukan dalang dalam rencana pembunuhan sang Ayah kandas ketika hatinya berperan dalam pencarian tersebut serta sebagai ajang balas dendam untuk mendapatkan keadilan untuk sosok pahlawan dalam dunianya.
Begitu pula dengan Alaska Regantara, yang mencoba mencari seseorang yang membuat keluarganya hancur lebur, dan bersumpah akan menghancurkan keluarga itu seperti kehancurannya. Kisah ini seperti benang kusut yang sulit dilerai namun memiliki kemungkinan, kedua insan yang terlibat memiliki teka-teki yang sulit ditebak dan dipecahkan.
Akan kah dua orang yang memiliki tujuan balas dendam itu dapat memecahkan perihal hati mereka? Atau justru mereka terfokus untuk tujuan yang sama?
Inilah kisah terumit yang mereka buat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmadila Adelia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka lagi (revisi)
Setelah pertandingan yang melelahkan, Adella memutuskan untuk rehat sejenak di sebuah cafe terdekat. tadinya ia ingin pulang bersama dengan Rafa agar ia dibonceng, karena pertandingan tadi menguras banyak tenaganya, tapi ada satu alasan yang membuatnya mengurungkan niatnya.
Ia sudah dua hari berada di Jakarta, karena sekolahnya di Singapura sedang libur jadi ia memutuskan ke Jakarta sebentar untuk menyapa ayahnya, dan juga teman-temannya sekaligus bertemu dengan Alaska untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah yang belum selesai.
Tapi mungkin ia berubah pikiran untuk alasan yang terakhir, sepertinya Alaska sudah tidak membutuhkan alasan apapun darinya lagi, dia sudah bahagia dengan orang baru di saat hubungan mereka masih gantung.
pertama kali Adella mengetahui keakraban Alaska dengan Fany ketika ia baru tiba di Jakarta, ia langsung mendatangi rumah Alaska saat itu, tapi ternyata Alaska tengah memeluk Fany dengan mesra dan penuh kasih sayang, bahkan mengajaknya masuk dan memperkenalkannya pada keluarga Alaska sebagai seorang kekasih, ia tahu karena ia sempat mengintip, pastinya dengan bantuan satpam yang ia sogok dengan uang.
Lalu, Rafa mengundangnya untuk datang ke pertandingan basket antar sekolah. Ia kembali melihat dengan jelas sikap hangat Alaska pada Fany. ia kira, hanya dirinya yang mendapatkan perlakuan spesial itu, ia kira hanya dirinya satu-satunya perempuan yang bisa merasakan kehangatan Alaska, tapi ternyata perkiraan nya membutakan matanya.
Sebenarnya, alasan balap motor yang ia lakukan dengan salah satu rivalnya adalah sebagai pelampiasan emosinya yang membara di hatinya, ia yang pertama kali mengajak balapan.
"Kita perlu bicara," ujar seseorang yang kini sudah berdiri di hadapannya dengan wajah datar. Adella tersenyum miring, ternyata masih punya muka untuk bertemu dengannya setelah membakar hatinya seperti kertas yang menjadi abu.
"Gua ga punya waktu," kata Adella lalu menikmati minuman yang sudah tiba satu menit sebelum orang itu datang, siapa lagi jika bukan Alaska Regantara.
"Terus Lo punya waktu buat berdiam diri di sini?" tanya Alaska.
Adella tidak memedulikan pertanyaan itu, seolah pertanyaan Alaska hanya angin lalu yang meniup ke wajahnya.
"Kenapa Lo balik lagi? ga pergi selamanya aja?" tanya Alaska lagi, kali ini dengan nada yang sinis. nada yang menyindir dirinya.
"Gua ke sini mau jenguk Papah," jawab Adella. "Dan ya, kalimat selamanya Lo itu terlalu ambigu, maksud Lo maunya gua mati aja gitu?" tanya Adella sinis.
"Lo ga punya rasa malu ya setelah ninggalin gua gitu aja?" Adella menghentikan aktivitasnya, lalu mendongak menatap tajam Alaska yang masih berdiri di sana.
Adella lalu berdiri, melihat ke sekeliling yang ternyata sudah sepi, mungkin karena orang-orang lebih memilih untuk duduk di luar.
ia tersenyum sinis, "Excusme, Terus Lo masih punya muka buat nunjukin di depan gua? kenapa Lo masih nyari alasan gua kalo Lo sendiri ga butuh?" tanya Adella.
Tau rasanya jatuh berkali kali? itu lah yang Adella rasakan, sangat sakit.
"Sebenernya gua udah ga mau jelasin ini ke Lo, tapi kata-kata Lo seolah minta omongan kasar gua buat keluar," ujar Adella yang kini tengah menahan mati-matian air matanya yang sudah menggenang.
"Gua menyempatkan diri untuk kembali meskipun sebentar ke sini karena tujuan utamanya itu Lo, gua mau jelasin semua yang belum sempat gua bicarakan." Alaska diam mematung melihat mata indah Adella sudah memerah dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan.
"Lo bilang apa tadi? gua ninggalin Lo gitu aja? yakin Lo? bukannya emang Lo yang ga bersedia buat dengerin penjelasan gua? terus kenapa lo malah nyalahin gua?"
"Jarak Jakarta ke Singapura itu cuma butuh waktu beberapa jam, dan Lo yang ga bersedia buat jalanin hubungan jarak jauh, apa itu salah gua?" kata Adella. hatinya sungguh berdenyut, api yang telah padam kini kembali lagi dan membakar seluruh tubuhnya.
"Emang Lo pikir gua ga cape terus-terusan nyoba ngejelasin sama orang tak berhati kaya lo? ini ga semudah dan ga gampang yang Lo liat, gua pindah karena gua jadi sasaran pembunuhan orang yang mungkin musuh Abang gua, atau memang musuh gua sendiri, dan dengan egoisnya Lo lebih milih gua mati dibunuh di sini dari pada harus pisah negara, padahal sekarang udah canggih, kita bisa komunikasi via telpon atau gua bisa balik ke Jakarta kalo gua lagi libur, tapi apa yang gua dapat? penolakan mentah-mentah," ujar Adella dengan nada yang meninggi. ia sudah tidak peduli dengan keadaan cafe, ia sungguh tidak peduli lagi dengan apapun.
"Saat pertama kali gua tiba di jakarta, gua langsung minta Rafa buat ke rumah Lo, buat jelasin alasan gua pergi secara detail. tapi yang gua liat Lo ga butuh lagi alasan gua karena Lo udah punya pacar baru di saat hubungan kita masih ga jelas, Lo ga bersedia untuk LDR tapi Lo juga ga menyetujui buat selesai. lebih mengejutkan nya, Lo ngenalin Fany sebagai pacar Lo yang baru ke keluarga Lo, Lo pikir gua boneka ya? di sana gua terus ngerasa bersalah tapi di sini bahkan Lo udah bahagia lagi."
Alaska terkejut mendengar penuturan Adella, dari mana gadis itu tahu mengenai kejadian beberapa hari yang lalu itu.
Adella menarik napasnya dan menghembuskan nya dengan kasar, ia memejamkan matanya sejenak dengan harapan gejolak di dalam hatinya segera mereda.
Ia mengulurkan tangan pada Alaska, "Congrast buat pacar baru Lo, gua cukup tau diri buat minta kejelasan dari Lo, karena kita emang udah selesai. oh iya, selamat ya buat kemenangan tim basket Lo, gua juga liat Fany perhatian sama Lo, jangan Lo sakitin dia juga ya, cukup hati gua aja yang Lo buat hancur lebur." Adella melihat ke arah tangannya yang tak kunjung disambut oleh Alaska, ia mengambil tangan Alaska dan menuntunnya untuk menjabat tangannya.
"Satu lagi, asal lo tahu, Fany itu jadi mata-mata Karel buat mata-matain gua dulu, jadi hati-hati juga ya takutnya dia mata-matain Lo juga buat kasih info ke Karel meskipun laki-laki itu ada di penjara."
setelah itu, Adella berjalan menuju meja kasir untuk membayar pesanannya. sedangkan Alaska masih terdiam mematung di tempatnya.
Ketika berbalik ke arah pintu cafe, ia melihat dua sahabat Alaska yang berdiri seperti penjaga pintu. mereka hanya diam, sepertinya masih terkejut melihat dirinya yang begitu emosi di depan Alaska sehingga berbicara dengan nada yang tinggi.
Adella memberi kode pada Rafa untuk pulang bersamanya, suasana hatinya sangat buruk hingga ia malas untuk mengendarai motor.
***
sukses selalu buat author na 🙏🤗
papaygo😙
oklh sukses selalu buat author 😌