"Terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah tapi mengerti bahwa ada hal yg tidak bisa dipaksakan."
Itulah yang dipikirkan Devinta Dwi Suseno saat mengetahui pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya ternyata kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya .
Namun setelah 5 tahun menghindar , takdir berkata lain . Ia kembali di pertemukan dengan Arnold Prayoga , pria yang paling tidak ingin Ia temui .
Bagaimana kelanjutan lika liku hubungan Devi dan Arnold ? Bisakah Devi keluar dari bayang bayang penghianatan Arnold di masa lalu ? Apakah kisah mereka akan berakhir bahagia bersama ?
" Sebab sepanjang kita berjalan, menghindar, berpura-pura tidak mengetahui atau apapun itu, kita akan tetap akan bertemu apa yang ditakdirkan untuk bertemu . "
"Karena pada waktunya, tanpa kau rencanakan pun, jodoh tak akan pernah tertukar."
( Inilah karya pertamaku , Karena Kamu Jodohku )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Memulai dari awal
DEVI Pov
Kulirik jam diatas nakas sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
Mataku belum dapat terpejam sedikitpun .
Aku tidak merasa ngantuk sama sekali .
Sebagai seorang dokter bedah memiliki waktu tidur yang cukup adalah salah satu hal yang sangat penting.
Karena saat mengoperasi pasien , ketelitian dan kecermatan sangat diutamakan. Jangan sampai rasa lelah atau rasa kantuk menhilangkan fokus kami . Hal itu sangat berbahaya.
Ku raih ponselku yang keletakkan di atas nakas. Ku buka catatan jadwalku untuk besok, beruntunglah karena besok aku tidak memiliki jadwal operasi. Hanya jadwal visite dan praktek saja. Harapanku semoga besok pasien tidak terlalu banyak .
Tanpa ku sadari tanganku membuka salah satu aplikasi obrolan yang ada di ponselku.
Aku melihat-lihat kembali isi chat dengan Arnold.
Pesan terakhir darinya adalah sekitar 4 jam yang lalu.
Ia mengucapkan selamat tidur dan mengingatkan agar aku menepati janji untuk tak menghindarinya lagi .
" Selamat tidur " , gumamku membaca isi pesan Arnold.
" Selamat tidur apaan. Malah karena pesan itu aku jadi gak bisa tidur ", gerutuku pada diri sendiri .
Lima tahun aku pergi meninggalkan kehidupanku di Indonesia.
Mencoba untuk melupakan Arnold .
Namun siapa sangka, belum genap sebulan aku kembali Aku bahkan sudah kembali bertemu dengannya.
Bahkan dengan mudahnya aku membiarkan dia yang ingin kembali memasuki hatiku .
Hati sessorang siapa yang bisa tahu. Aku sendiri bahkan tidak bisa melakukan apapun pada hatiku .
Dulu aku mengira dengan mencintai Arnold hatiku akan bahagia, namun yang ku dapat malah rasa sakit.
Aku berangkat ke London dengan harapan agar dapat menyembuhkan luka hatiku, namun yang terjadi aku hanya menyembunyikan luka itu saja.
Sekarang saat memilih kembali , ku ingin hatiku agar kuat dan tidak mudah untuk menerima Arnold kembali.
Namun hatiku seolah tahu siapa yang masih memilikinya.
Sang surya akhirnya mulai menampakkan sinarnya.
Aku terbangun dari tidurku yang mungkin hanya sekitar 2 jam saja .
Aku bergegas mandi dan bersiap untuk pergi bekerja.
Ku lihat wajahku di cermin, kantung mata tak dapat kuhindari lagi.
Makeup tipis yang selalu kugunakan bahkan tak dapat menyamarkannya.
Jangan memintaku memoles wajah berlebihan, itu sangat bukan gayaku.
" Morning Pa... Morning Ma... Morning Bang ", sapaku sambil mencium pipi mereka satu per satu .
" Apaan sih Lu Dek. Jangan Cium cium lagi. Gue bentar lagi mau nikah nih. Kalau calon istri Gue cemburu terus kabur gimana ? "
Bang Devan protes.
" Mbak Rosi gak cemburuan seperti abang yah. Lagian bucin banget sih.. takut banget ditinggalin ", balasku mengejek Bang Devan .
" Siapa yang bucin. Gak ada istilah itu dikamus abang. Lagian gaya banget Lu morning.. morning.. morning.. sok bule banget Lu ."
Bang devan balas mengejekku tak terima dirinya dituduh sebagai kaum Bucin.
" Udah.. udah.. sarapan dulu ", ucap Mama menghentikan perdebatanku dengan Bang Devan.
Aku menuruti ucapan Mama. Ku sendokkan nasi goreng keatas piring yang ada dihadapanku .
Inilah yang kusukai , aku bisa sarapan dengan nasi di sini. Sedangkan di London sarapanku kebanyakan dengan buah , sereal, atau roti.
" Kamu lagi banyak kerjaan Dek ? Kantung mata kamu itu , astaga.... "
Mama membahas secara berlebihan perihal kantung mata yang ada di wajahku .
" Kalau kita sedang jalan berdua jangan marah kalau orang lain mengira mama adalah adikmu setelah melihat wajah kusutmu itu ."
Mama lalu tertawa penuh kemenangan karena ucapannya sendiri . Diikuti bang devan yang akhirnya juga ikut mengejekku .
Papa hanya bisa menggeleng melihat tingkah istrinya. Wanita yang memang terlihat masih sangat cantik diusianya yang tidak muda lagi .
Sudah pukul delapan pagi saat aku melajukan mobilku keluar dari halaman rumah.
Walaupun sering berdebat dengan Bang Devan, dia sangat menyayangiku. Bahkan mobil yang ku kendarai saat ini adalah hadiah darinya karena aku akhirnya memutuskan untuk pulang .
Ku lajukan mobilku dengan perlahan .
Aku menyusuri salah satu jalan yang di salah satu sisinya merupakan sebuah kompleks pertokoan.
Aku mendengar dari salah satu perawat bahwa disini ada kedai kopi yang menjual kopi yang enak .
" Sepertinya ini kedai kopinya ", ucapku .
Aku turun dari mobil lalu masuk kedalam kedai kopi. Belum terlihat banyak orang di kedai kopi itu. Aku akhirnya memesan beberapa cup kopi untuk diriku juga untuk perawat di rumah sakit .
Setelah membayar pesananku aku duduk di salah satu kursi untuk menunggu .
Ponselku yang masih dalam mode silent terasa bergetar.
Ada panggilan masuk dari nomor yang tak tersimpan di ponselku.
" Halo ", sapaku
" Devi. Ini benar dengan dokter Devi " tanya seorang pria .
" iya benar . Ini dengan siapa yah? Apa ada yang bisa saya bantu ? " tanyaku pada pria yang menelepon .
" Syukurlah Dev aku bisa menghubungimu . Ini aku Thomas ." Suara Thomas terdengar lega lalu kemudian panik .
" Ada apa ? ", tanyaku .
" Bisakah kamu datang kekantor Arnold sekarang ? " tanya Thomas.
Belum sempat aku menjawab , thomas sudah melanjutkan ucapannya.
" Saat ini aku dikantor. Namun baru saja aku menerima telepon dari Arnold. Ia terdengar sangat marah pada Dasha. Dia memintaku agar memastikan Dasha tidak pergi kemana-mana. Katanya dia akan membuat perhitungan pada Dasha yang hampir saja merusak hubungan kalian ." Thomas menjelaskan permasalahannya .
Astaga , tak kusangka Arnold akan semarah itu dan benar-benar akan membuat perhitungan pada Dasha.
Aku menjadi merasa bersalah, seharusnya tak kuceritakan pada Arnold soal Dasha.
Bagaimana kalau Arnold melakukan kekerasan padanya .
Aku mulai ikut-ikutan panik.
" Memangnya aku harus berbuat apa jika kesana ? " tanyaku pada Thomas .
" kamu saja takut , apalagi aku " lanjutku .
" Setidaknya Arnold akan mendengarkanmu , Ia juga tak akan mungkin melakukan hal diluar batas jika ada dirimu ." Ucap Thomas.
" Baiklah aku segera kesana ", jawabku akhirnya .
Aku lalu pergi meninggalkan kedai kopi itu.
Kudengar pegawai kedai kopi memanggil manggil namaku , Aku sudah tak mempedulikan lagi kopi yang kupesan. Tujuanku saat ini adalah sampai di kantor Arnold lebih dulu dari dirinya. Agar aku bisa mencegahnya berbuat hal yang tidak-tidak. Seperti kata Thomas , walaupun aku tidak yakin aku mampu mencegahnya .
Setelah 20 menit kuhabiskan waktu dijalan , aku akhirnya tiba di kantor Arnold.
Kalau dulu biasanya sekuriti akan membantu memarkirkan mobilku, namun tidak untuk kali ini.
Aku bergegas masuk ke dalam kantor Arnold, menekan angka 10 pada lift dengan harapan semoga ruangan Arnold belum berpindah.
Pintu lift terbuka menampakkan wajah cemas Thomas.
" Akhirnya kamu datang juga. Ayo cepat, Arnold sudah mengamuk pada Dasha diruangannya ."
Melihat Thomas yang panik, aku mempercepat langkahku. Ku sesali mengapa hari ini aku menggunakan sepatu dengan hak yang tinggi membuatku jadi sulit berjalan dengan langkah yang cepat .
Aku membuka pintu ruangan Arnold. Ku lihat Dasha duduk dengan menundukkan kepalanya. Lalu Arnold berdiri di hadapan Dasha dan sedang membentak wanita itu .
" Apa-apaan kau Arnold . Mengapa kamu membentak seorang wanita seperti itu . "
Teriakku tak mau kalah dengan besarnya suara Arnold saat ini .
" Devi ." Arnold terkejut dengan kehadiranku .
" Aku harus beri pelajaran pada wanita ini ." Ucapnya masih dengan amarah , namun Ia sudah tidak membentak lagi .
" Maafkanlah Dia.. walaupun katamu kamu tak mencintainya tapi dia melakukan itu semua karena mencintaimu. Bukan keinginannya untuk Ia jatuh cinta padamu ", ucapku mencoba menenangkan Arnold .
" Tapi wanita ini sudah berani mengancammu dan membuatmu menghindariku ", bantah Arnold .
" Lebih baik dia seperti itu. Setidaknya dia tak berbohong dibelakangku ."
Aku sengaja menyindir Arnold. Jujur saja aku sudah kesal dengan sikap keras kepalanya .
Arnold terdiam. Kini Dasha tidak menunduk lagi.
" Bisakah kamu keluar Dasha , aku ingin bicara berdua dengan Arnold ", ucapku .
Dasha masih tak bergeming dari tempatnya.
Aku heran padanya , aku sudah datang membantunya namun yang kudapat malah tatapan permusuhan darinya .
" Keluarlah ", perintah Arnold.
Dasha dengan malas akhirnya beranjak dari tempatnya.
Setelah Dasha keluar aku mendudukkan diriku di sofa.
Arnold ikut duduk disampingku.
" Maafkan kamu harus melihat ini semua ."
" Tak perlu minta maaf, tapi berterima kasihlah padaku karena telah mencegahmu berbuat yang tak seharusnya ."
" Wanita seperti Dasha memang harus dikerasi baru dia akan mengerti ."
Arnold terlihat menahan amarahnya .
" Syukurlah kalau kamu masih menganggapnya wanita. Dan perlu kamu tahu semua wanita tidak terima jika Ia diperlakukan secara kasar ."
Aku terpancing emosi karena keras kepalanya Arnold.
Aku berdiri hendak pergi namun Arnold menahan tanganku.
" Oke.. baiklah aku berterimakasih padamu ", ucapnya mencegahku pergi .
Lalu aku duduk kembali , " kalau kamu padaku berterimakasih , maka berjanjilah padaku untuk memaafkan Dasha . Jangan pecat dia. Beri dia kesempatan sekali lagi ."
" Aku akan memaafkannya. Karena kamu yang minta. Tapi untuk tetap menjadi sekertarisku lagi, kurasa aku tak bisa. Aku tak mau dia berusaha mendekatiku lagi. Aku tak ingin nantinya kita berdua akan salah paham lagi ."
Aku menghela napas kasar. Sungguh Arnold sangatlah keras kepala , " Kamu tidak perlu hawatir aku akan salah paham atau tidak. Hubungan kita tidak sedekat itu untuk aku mempermasalahkan soal wanita . Dan juga Dasha tidak akan mendekatimu lebih jauh jika kamu tidak membalas atau memberi celah padanya ."
Arnold terdiam cukup lama.
Sepertinya ada perkataanku yang menyinggungnya . Akhirnya Arnold kembali bersuara, " Baiklah aku akan mengikuti semua mau mu . Tapi aku juga punya permintaan ."
" Baiklah. Apa permintaanmu ? "
ika tidak kuingat bahwa akulah yang memberitahu Arnold soal kelakuan Dasha , aku tak akan mau mengabulkan permintaan Arnold.
Arnold tersenyum, " Yang pertama aku ingin kita mulai semuanya dari awal lagi. Lupakan masa lalu kita. Coba bukalah hatimu untukku lagi. Kali ini biarkan aku yang berusaha mendapatkanmu kembali ."
Aku tidak menyela atau menjawab ucapan Arnold.
" Yang kedua. Weekend besok aku ingin mengajakmu pergi berdua ", lanjut Arnold .
Aku mengangguk tanda mengerti apa yang diinginkannya .
Aku membenarkan posisi dudukku untuk berhadapan dengan Arnold.
Mata kami saling bertatapan , " Baiklah... kukabulkan permintaanmu ."
Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan,
" Hai... kenalkan aku Devi ."
Arnold tertawa namun Ia tetap menyambut uluran tanganku,
" Aku Arnold. Senang berkenalan denganmu . Maukah besok kamu menemaniku pergi ke pameran? "
" Oke. Aku akan pergi denganmu . Dan ku anggap itu termasuk permintaan keduamu ."
Setelah berbincang dengan Arnold aku pamit untuk pergi ke rumah sakit. Sepertinya aku akan pulang malam hari ini. Karena jam praktekku di klinik telah ku undurkan ke sore hari .
Arnold tidak bisa mengantarku keluar karena saat itu bertepatan dengan kliennya yang datang untuk meeting.
Saat keluar dari ruangan Arnold aku berpapasan dengan Dasha.
" Jangan kira aku akan menyerah mendapatkan Arnold. Asal kamu tahu aku tak pernah minta pertolonganmu tadi ", ucapnya dengan suara yang sangat pelan .
" Dasha, aku kemari bukan karena mau menolongmu. Tapi karena aku tak ingin Arnold berbuat kesalahan karena emosinya . "
" Dan satu lagi , terserah jika kamu akan terus berusaha namun saranku sebaiknya kamu sadari apakah kesempatan itu ada. Aku pernah di posisimu , mencintai pria yang hatinya milik orang lain. Yang kudapatkan hanya kekecewaan dan rasa sakit ." Lanjutku menasihatinya.
Aku kemudian berlalu meninggalkan dasha.
Jujur saja aku tak marah pada Dasha atas perbuatannya. Aku malah kasihan padanya yang ingin memaksakan cintanya pada seorang pria .
.
.
.
.
.
"*Meski tidak ada yang bisa kembali dan membuat awal yang baru, siapa pun dapat memulai dari sekarang dan membuat akhir yang benar-benar baru." - Carl Bard*
.
.
.
.
.
.
To be continue
Semoga Willi dapat rumah ya