Arum memutuskan berhijrah, hidup dengan syari'at agamanya. Namun bukan hijrah namanya bila tanpa rintangan, suami yang dicintainya pergi untuk selamanya, berjuang keras menghidupi anaknya. Dan suatu ketika dia dikhitbah untuk menjadi madu. Bagaimakah ceritanya? Sanggupkah Arum menjadi madu?
Ini hanya fiksi ya, tidak ada kaitannya dengan cerita hidup siapapun. Happy reading 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan ke luar kota
Di dalam kereta agak penuh penumpang, namun karena itu kereta eksekutif, tetap terlihat bersih dan mereka tetap mendapatkan tempat duduk sesuai dengan tiket mereka. Arum telah menemukan tempat duduk mereka, Ammar memasukkan koper di bagasi atas tempat duduknya, dan segera duduk di samping Arum.
"Dingin Dik?" tanya Ammar sambil menarik ke atas resleting jaketnya. AC di dalam gerbong kereta itu sangat dingin rasanya.
"Lumayan Mas," jawab Arum sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam jilbabnya yang panjang selutut.
"Kamu sih, gak pakai jaket, tunggu sebentar lagi, ada petugas yang membagikan selimut," kata Ammar.
"Iya Mas," jawab Arum singkat, sambil menahan dingin.
Tak lama kemudian datang petugas kereta api yang membagikan selimut, Ammar pun menerimanya dan segera menyelimuti Arum.
"Hmm.. Jazaakallahu khayran Mas," kata Arum mengucapkan terima kasih dengan doa.
"Wa anty fajazaakillahu khayran," jawab Ammar kembali mendoakan Arum.
"Perjalanan keretanya berapa lama ya Mas?" tanya Arum.
"Ehm, sekitar tiga jam an lah Dik," jawab Ammar.
"Jadi nanti Maghrib kita masih di kereta?" tanya Arum lagi.
"Iya sayang, nanti kita sholat Maghrib di kereta," jawab Ammar.
"Kalau gitu Mas istirahat dulu aja, tidur dulu, dari tadi belum istirahat kan, nanti kalau Maghrib aku bangunin," kata Arum.
"Baik, Mas tidur ya, boleh pinjam tanganmu?" tanya Ammar. Arum menyerahkan tangan kanannya pada Ammar, dan tangan kiri Ammar menarik tangan Arum itu ke saku kiri jaketnya, kemudian ia memejamkan mata mencoba untuk tidur sebentar.
Arum yang duduk di sebelah jendela, menikmati pemandangan dari kaca jendela di sebelahnya. Matanya dimanjakan dengan indahnya pemandangan, dari sawah yang hijau, kemudian melewati jembatan kokoh di atas sungai yang besar, rumah-rumah. Hatinya sangat bahagia, bisa pergi bersama suami yang mencintainya.
Fabiayyi Alaa 'i Rabbikummaa tukadzdzibaan ( maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ).
Adzan Maghrib terdengar dari HP Arum, ia segera mematikannya dan membangunkan Ammar.
"Mas, bangun, Mas, sudah Maghrib ini," kata Arum sambil membelai pipi Ammar dengan tangan kanannya. Ammar pun terbangun.
"Dik, Mas mau minum," kata Ammar.
"Iya Mas, ini," kata Arum sambil menyerahkan botol air mineral kepada Ammar, yang ia ambil dari tasnya.
Setelah minum, mereka menunaikan sholat Maghrib di kereta.
"Mas, masih lama ya nyampenya?" tanya Arum.
"Iya, in syaa Allah sejam lagi, kamu lapar?" tanya Ammar balik.
"Hmm iya Mas," jawab Arum.
"Kita makan nasi goreng aja ya," kata Ammar.
"Iya Mas," jawab Arum setuju.
"Oke kita pesan kalau petugasnya lewat," kata Ammar. Tak lama kemudian, ada petugas yang lewat, dan Ammar memesan dua porsi nasi goreng.
Setelah pesanannya datang, Ammar dan Arum segera melahap nasi goreng itu.
"Hmm lumayan enak ya Mas," kata Arum.
"Iya, ini karena kita laper apa memang benar-benar enak ya?" tanya Ammar sambil tertawa.
"Hahaha iya sih," kata Arum ikut tertawa.
Setelah selesai makan, tak lama kemudian mereka hampir sampai ke stasiun tujuan mereka. Ammar mengambil koper dari bagasi, setelah kereta berhenti, mereka segera turun.
Mereka menunggu taksi di depan stasiun, di dekat tempat mereka menunggu ada penjual dimsum gerobak, yang terlihat enak menurut Arum.
"Mas, aku boleh beli dimsum itu?" tanya Arum.
"Iya," jawab Ammar mengiyakan. Arum berjalan menuju penjual dimsum itu, sedangkan Ammar menunggunya di tepi pintu stasiun.
Tak lama kemudian, Arum berjalan ke arah Ammar dengan menenteng tas plastik berisi dimsum itu.
"Sudah?" tanya Ammar.
"Sudah Mas," jawab Arum.
"Itu, taksi kita datang," kata Ammar. Dan mereka masuk ke dalam taksi.
"Selamat malam Pak, Bu, mau kemana tujuannya?" tanya sopir taksi itu dengan sopan.
"Ke hotel Y di jalan S," jawab Ammar.
"Baik Pak," kata sopir taksi itu dan segera mengantar mereka ke hotel tujuannya.
Tak lama kemudian mereka sampai ke hotel tujuannya. Di pintu masuk mereka sudah disambut oleh bell boy, yang menerima koper mereka. Lalu mereka menuju meja resepsionis.
"Selamat malam Pak, Bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas resepsionis itu.
"Iya Mas, saya sudah booking secara online kemarin,"kata Ammar.
"Mohon maaf atas nama siapa Bapak?" tanya petugas itu.
"Ammar Bachtiar," jawab Ammar.
"Oh iya, kami cek sebentar ya," kata petugas itu.
"Iya Bapak, ini sudah kami konfirmasi pesanannya, dan sudah lunas ya Bapak pembayarannya, mohon maaf ini dengan Bapak Ammar Bachtiar sendiri?" tanya petugas itu kemudian.
"Iya Mas," jawab Ammar.
"Boleh kami pinjam kartu identitasnya Bapak? Untuk kami fotokopi," tanya petugas itu.
"Oh iya," jawab Ammar sambil menyerahkan KTP nya juga KTP Arum.
" Yang ini punya istri saya, mungkin diperlukan," kata Ammar.
"Oh iya Pak, tunggu sebentar kami fotokopi kan dulu,"
"Ini Pak, ada yang ditanyakan lagi?" tanya petugas itu sambil mengembalikan KTP mereka.
"Ehm, room service nya jam berapa ya?" tanya Ammar.
"Biasanya jam sembilan sampai jam sepuluh pagi Pak," jawab petugas resepsionis itu.
"Misal kami minta lebih pagi bisa ya?" tanya Ammar.
"Oh, bisa Pak jam berapa kira-kira?"
"Antara jam tujuh sampai jam delapan bisa?"
"Bisa Pak, akan kami sampaikan ke petugasnya," kata Mas resepsionis itu.
"Ini karena istri saya akan berada di kamar dari pagi sampai sore, jadi saya kurang nyaman kalau ada yang masuk kamar, sementara ada istri saya di dalam, kalau jam segitu kan kita masih sarapan jadi kamarnya kosong dan bisa dibersihkan, terimakasih ya Mas," kata Ammar.
"Oh iya Pak, kalau tidak ada lagi yang perlu ditanyakan, petugas kami bisa mengantarkan anda sekalian ke kamar di lantai tujuh, kamar tujuh dua lima, ini kartu kuncinya," kata Mas resepsionis sambil menyerahkan kartu pada Ammar.
Ammar dan Arum diantar bell boy ke kamar mereka. Dan mereka segera masuk kamar.
"Hufh, Alhamdulillah nyampe kamar juga, aku mandi dulu ya Dik, kebelet pipis ini," kata Ammar sambil berlari ke kamar mandi.
Arum menyiapkan piyama dan pakaian dalam Ammar dan menaruhnya di atas tempat tidur. Lalu ia memindahkan pakaian dinas Ammar juga jilbab serta gamisnya dari dalam koper ke gantungan dalam lemari, sebelum semuanya bertambah kusut di dalam koper. Juga memanaskan air dan membuat teh untuk mereka.
Ammar keluar kamar mandi memakai handuk menutup bagian bawah tubuhnya.
"Ini piyama Dik, aku mau pakai kurta dulu untuk sholat, kita belum sholat Isya kan," kata Ammar.
"Oh iya Mas, maaf lupa tadi mau ambil kurta dulu, ini Mas," kata Arum sambil menyerahkan kurta kepada Ammar, yang dia ambil dari koper.
"Tunggu aku ya Mas, aku mandi sebentar," pinta Arum sambil masuk kamar mandi dan segera mandi.
Ammar segera berpakaian karena mulai kedinginan, kota itu memang terletak di dataran tinggi yang suhunya lumayan dingin. Ammar juga mematikan AC di kamar. Lalu duduk di atas tempat tidur menunggu Arum yang masih di kamar mandi.
jangan lupa mampir ya ukh di karyaku juga ya, dan beri dukungan. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman/Smile/
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bisa berbagi....
sukses
semangat
mksh
mantap