Seorang wanita bernama Tiara Indah Soraya yang merupakan wanita yang sukses dengan kariernya sebagai desainer dan pemilik butik terkenal.
Tapi dibalik kesuksesannya tidak sebanding dengan kisah cintanya. Diusianya yang sudah dipenghujung kepala 2 membuatnya selalu diteror oleh ibunya untuk segera menikah.
Setiap hari ibunya selalu bertanya tentang laki laki bahkan dia juga sering menjodohkannya dengan banyak laki laki tapi semuanya selalu berakhir dengan ketidakcocokan.
Hal itu membuat ibunya sangat frustasi karena di usianya yang sudah tua dia ingin sekali menimang cucu dari putri tunggalnya.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan Rivan dan besoknya langsung diajak menikah tanpa mengetahui asal usul dari pria tersebut.
Bagaimana kehidupan Tiara setelah menikah dengan Rivan? apakah rumah tangga mereka akan bahagia atau malah sebaliknya.
yuk ikuti dan baca novel keduaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baik Baik saja
Akhirnya mereka sudah sampai di ruang perawatan untuk pasien korban tabrak lari yang sudah dipesan dan dibayar oleh Rivan. Rivan ikut masuk ke dalam untuk melihat kondisi pasien. Para perawat memindahkan pasien ke brankar yang ada di ruangan perawatan. Kemudian mereka pamit undur diri untuk kembali ke tempat kerja mereka.
Dan terlihat pasien yang sudah sadar dan sudah membuka mata dengan beberapa bekas memar dan goresan kecil di wajah dan tangannya karena berbenturan dengan aspal yang kasar. Kondisinya masih lemas dan belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya. "Bagaimana keadaan bapak?" tanya Rivan yang kini berdiri di samping pasien dengan tersenyum tipis.
Pasien hanya bisa mengangguk pelan sambil mengedipkan matanya untuk menjawab pertanyaan Rivan. Dan saat ini sang istri sedang duduk di kursi tunggu di sebelah pasien yang berseberangan dengan Rivan.
" Pak... beliau ini yang membantu membawa bapak kesini dan semua biaya rumah sakit sudah di urus sama beliau sampai bapak sehat kembali" kata sang istri sambil memegang lengan pasien berusaha untuk kuat di hadapan suaminya.
Pasien hanya bisa menganggukkan kepalanya tipis dan tersenyum tipis,bahkan dia juga meneteskan air matanya saat dia mengedipkan matanya. Terlihat dia sangat bersyukur dan dan ingin berterima kasih pada Rivan. Tapi Rivan memegang bahu pasien dan menenangkan pasien agar tidak banyak pikiran.
" Tidak apa pa bu.. itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai manusia untuk saling membantu dan hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membantu bapak" sahut Rivan dengan senyuman tipisnya. " Baiklah.... karena sudah sore sebaiknya saya pulang dulu, semoga bapak lekas sembuh dan bisa beraktivitas seperti sebelumnya, dan buat ibu jaga kesehatan jangan terlalu kecapean dan kelelahan" pamit Rivan dan memberikan beberapa nasihat untuk kedua pasangan suami istri tersebut.
" Iya pak sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih atas semua bantuannya, semoga Allah yang membalas semua kebaikan bapak" ucap sang istri pasien dengan berterima kasih dengan penuh syukur.
" Iya bu sama sama, kalau begitu saya pulang dulu" kata Rivan lalu beranjak keluar dari ruangan tersebut.
Rivan terus berjalan keluar dari rumah sakit dan dia melihat jam di tangannya sudah menunjukkan angka setengah 4. Untungnya tadi dia sudah memberitahu temannya bahwa dia ijin tidak kembali ke kantor karena harus membantu mengurus pasien korban kecelakaan. Jadi dia bisa tenang dan langsung pulang ke rumah karena tersisa waktu setengah jam lagi, jam kerja kantor pulang.
Rivan memasuki mobilnya lalu mengemudikannya keluar dari rumah sakit tersebut. Dia langsung mengarahkan mobil menuju rumahnya yang terletak lumayan jauh dari rumah sakit. Dengan santai dia mengemudikan mobilnya karena jalanan yang ramai karena bersamaan dengan pulangnya beberapa karyawan di pabrik dan kantor yang sudah pulang.
Begitu dia sampai di rumahnya dia langsung memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk rumahnya. Lalu dia masuk ke dalam rumahnya langsung menuju ke dapur untuk mengambil air putih dari kulkas. Sejenak dia mendudukkan tubuhnya di kursi mini bar yang ada di ruang dapur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa melelahkan seharian ini.
Di rumahnya terlihat sepi tidak ada siapapun yang berada di sana. Seperti biasa asistennya sudah pulang dari jam 4 tadi setelah menyiapkan makan malam untuk majikannya tersebut. Karena memang Rivan mencari asisten rumah tangga yang tidak menginap di rumahnya. Bahkan dia hanya mempekerjakan satu asisten rumah tangga bahkan untuk sopir saja dia tidak punya.
Rivan naik ke atas menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. Begitu masuk ke dalam kamarnya dia langsung meletakkan jam tangan, dompet serta ponselnya di meja nakas yang ada di sebelah ranjangnya. Lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat di bathtub untuk dia berendam. Seperti biasa dia akan mandi air hangat di bathtub jika dia merasakan tubuhnya sangat kelelahan. Setelah melepas semua baju kotornya dia langsung berendam di bathtub.
*
*
*
Sementara itu saat di rumah sakit Tiara sudah masuk ke dalam ruangan UGD, dimana ibunya yang sudah duduk di brankar dengan ayahnya yang duduk di kursi sebelah ranjang ibunya. Tiara masuk dan langsung menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berbincang.
Begitu melihat anaknya yang berjalan menghampiri mereka berdua, orang tua Tiara langsung terdiam. Sambil memandang kedua orang tuanya bergantian lalu tatapannya kini kembali fokus pada ibunya yang sudah duduk di atas brankar dengan tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihannya di depan dirinya.
" Bagaimana keadaan ibu?" tanya Tiara berusaha kuat tidak menunjukkan kesedihannya di depan ibunya. Karena dia tahu kedua orang tuanya saat ini juga berusaha menyembunyikan kesedihan mereka pada dirinya.
" Ibu baik baik saja, kamu gak perlu khawatir" jawab bu Suci sambil merentangkan kedua tangannya untuk meminta Tiara mendekat dan memeluknya.
Mengerti ibunya yang meminta dirinya mendekat dan memeluknya Tiara langsung memeluk ibunya dengan erat dan tetap berusaha untuk terlihat kuat tidak menangis di hadapan orang tuanya. Lalu tidak lama kemudian mereka melepaskan pelukannya.
" Bagaimana nak? apa kamu sudah mengurus semua administrasi untuk kepulangan ibumu?" kini pak Hendra yang bertanya pada Tiara.
" Sudah yah, Tiara sudah mengurus semuanya" jawab Tiara. " Ibu sudah boleh pulang, dokter bilang ibu bisa dirawat di rumah saja tapi dokter bilang ibu tidak boleh terlalu banyak pikiran, nanti penyakit ibu kumat lagi" lanjut Tiara panjang lebar dan menasehati ibunya untuk tidak terlalu banyak pikiran.
" Tuh kan bapak bilang apa tadi, ibu gak percaya sih dengan bapak" sahut pak Hendra agar suasananya tidak menegangkan lagi karena istrinya pasti mau membantah ucapan Tiara. Dan bu Suci hanya bisa mengangguk mengiyakan dengan wajah cemberutnya yang terlihat seperti anak kecil.
" Aku ambilkan kursi roda dulu di luar" ucap Tiara sambil memberikan plastik berisi obat dan berkas surat perawatan dan kontrol ibunya pada pak Hendra.
" Tidak usah Ra... ibu gak apa apa pa, ibu masih bisa jalan sendiri" tolak bu Suci tapi tak dihiraukan penolakan ibunya.
Tiara tetap keluar dari ruangan tersebut dan berjalan ke depan dimana ada banyak kursi roda yang tersedia di sana. Tiara mengambil satu kursi roda dan mendorongnya menuju ke ruangan UGD yang terletak tidak jauh dari sana.
Tidak lama bu Suci keluar dari ruangan UGD dengan memakai kursi roda sambil didorong oleh suaminya. Mereka berjalan keluar dari rumah sakit dan kini mereka di lobi rumah sakit untuk menunggu mobil online yang sudah dipesan oleh Tiara sebelumnya.
Begitu mobil datang mereka masuk ke dalam mobil dan pulang menuju rumah mereka yang ada di komplek perumahan. Dan saat mereka sudah sampai di depan rumah mereka kebetulan waktu sudah menjelang sore. Ibu ibu komplek yang mengetahui kedatangan kami langsung berjalan mendekati kami yang sudah turun di depan rumah.
Mereka semua menanyakan tentang keadaan ibu yang sudah diperbolehkan pulang. Mereka semua juga senang melihat ibu yang sudah sehat seperti sebelumnya. Mekipun ibu ibu komplek yang biasanya terlalu mengurusi urusan orang lain , tapi bagaimanpun juga mereka masih ada rasa kepedulian terhadap sesama.