Kekuatan besar merupakan berkah sekaligus tanggung jawab yang begitu besar, namun apakah dengan membantu mereka kau akan mendapatkan kembali kebaikan yang telah kau berikan? "Hahaha, naif sekali." Kalau kau masih berfikir demikian maka kematian yang akan menantimu di depan sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fisher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Sadis
7 Tahun kemudian
Saat ini aku telah mengajak di bangku SMA, namun hari-hari ku terasa hampa sejak hari itu, aku merindukan Alex, beberapa kali aku mencoba menghubungi keluarganya tapi sampai saat ini keluarganya sama sekali tak merespon panggilanku.
Kudengar keluarganya telah meninggalkan rumah mereka yang berada di kota ini, dan tampak kosong tak berpenghuni.
Saat ini aku sedang menjalankan rutinitas harian ku yaitu seperti yang kalian lihat, saat ini aku sedang menolak ajakan untuk berpacaran oleh orang ini.
"Mizuru-san, maukah kau berpacaran dengan ku!" Ucapnya sambil membungkuk.
"Maaf aku harus menolaknya." Ucapku.
"Apa! tapi kenapa kau menolaku, apa kau sudah memiliki orang yang kau suka!" Ucapnya.
"Ya, begitulah." Jawabku.
"Siapa dia! Apa dia kaya! Kalau tidak ia tak akan cocok bersanding denganmu! Lebih baik bersamaku karena ayahku salah satu anggota parlemen, dan keluargaku juga memiliki beberapa perusahaan besar, jadi apa kau ingin memikirkan nya kembali? Tanya nya.
"Apa hanya dengan kekayaan dari keluargamu, kau pikir bisa lebih baik darinya? Tentu saja jawabannya tidak, uangmu tak akan cukup untuk membeli perasaan miliku, dan jika kau masih menggangu ku, aku tak akan segan melaporkan ini pada ayahku, dan menghancurkan keluargamu sampai ke akarnya!" Ancamku.
"K-kau.." Ucapnya ketakutan.
"Pergi!!" Usirku.
Setelah aku mengusirnya barusan terlihat ia berlari ketakutan meninggalkanku.
"Hah, Alex dimana kau saat ini." Ucapku melihat ke awan di atasku.
Aku lekas kembali kedalam kelas sebelum pelajaran dimulai, ya kalian bisa melihat semua pandangan setiap orang tertuju padaku, aku memiliki julukan 'putri es' di sekolah.
Entah kenapa mereka memanggilku seperti itu tapi aku tak memperdulikan mereka sama sekali, dan terus berjalan melewati setiap koridor sebelum akhirnya sampai pada kelasku.
Semua siswa telah duduk pada tempatnya masing-masing, dan sepertinya kelasku akan kedatangan murid baru, yah aku tak akan memperdulikan itu dan terus memperhatikan buku pelajaran miliku.
"Anak-anak kita akan kedatangan murid baru dikelas kita!" Seru Bu Guru.
"Siapa? Apa dia pria atau wanita." Gosip para siswa.
"Semoga ia tampan." Gosip para wanita.
"Kuharap ia cantik dan dengan begitu kita memiliki dua kembang bunga di sekolah ini." Gosip para pria sambil membayangkan hal yang tak jelas.
"Harap tenang, Nak sini silahkan masuk dan perkenalkan dirimu." Ucap Bu Guru.
Murid tersebut kemudian masuk dengan sopan dan memberi hormat.
"Kya~ tampan sekali." Sorak para wanita.
"Cih.. ternyata pria." Balas para lelaki.
"Mau setampan apapun aku tak akan peduli dengan itu." aku masih fokus pada buku ditanganku.
"Perkenalkan namaku Alex, kebetulan aku baru pulang ke negara ini, jadi kuharap kalian dapat membimbingku saat aku berada disni, mohon bantuannya." Sambil membungkuk.
Hum namanya Alex kah dan dia baru datang dari luar negeri
"Tunggu! apa! Alex." Ucapku tersentak dan berdiri.
Semua orang melihat kearah ku, sepertinya tadi aku terlalu keras mengucapkan nya.
"Ada apa Mizuru, apa ada masalah." Ucap Bu Guru.
"Ti-tidak." Jawabku sambil kembali duduk.
"Nah Alex, kau bisa duduk di samping meja Mizuru.
"Baik Bu." Balas Alex.
Saat ia berjalan sampai ia duduk di kursinya aku masih saja memandanginya.
Pria kecil yang dulunya sering bermain bersamaku, kini telah menjadi sosok pria dewasa yang tampan.
"Hah.." Desahku.
"Hum? apa ada masalah?" Tanya Alex.
"Tidak, hanya saja apa kau mengingatku atau mengenalku?" Ucapku.
"Sebelumnya orangtuaku mengatakan padaku bahwa aku mendapat benturan cukup keras pada kepalaku, jadi maaf aku sama sekali tak bisa mengingat siapa kau." Ucapnya.
"Apa! ini aku Mizuru teman masa kecilmu!" Ucapku.
"Hum, coba kuingat." Ucapnya sambil memikirkan sesuatu.
"Argh.." Ucapnya kesakitan.
"Apa kau tak apa?" Tanyaku khawatir.
"Maaf, tapi setiap aku berusaha mengingat masa lalu, kepalaku terasa begitu sakit." Jawabnya.
"Hum, kalau begitu aku tak akan memaksamu untuk mengingatnya, aku akan menunggu sampai kau pilih dengan sendirinya." Ucapku.
"Terimakasih." Ucapnya mengangguk.
"Kalian berdua kenapa berisik sekali!" Seru Bu Guru.
"Maaf Bu." jawab kami berdua.
Kamipun melanjutkan kembali kelas dengan tenang, dan juga entah kenapa hari ini terasa sangat spesial untukku.
Berminggu-minggu aku akhirnya bisa bersama dengan Alex, namun setiap kali aku ingin mengajaknya ngobrol, dia selalu saja dikerumuni oleh para wanita dikelas bahkan tak jarang siswi dari kelas lain juga datang untuk menemuinya.
Aku mulai kesal dengan hal ini, Alex hanyalah miliku, aku orang pertama yang mengenal sekaligus tau tentang masa kelamnya, dia milikku! kalau kalian ingin mengambilnya dariku, aku tak akan segan-segan untuk mencari dan membunuh kalian dengan tanganku sendiri.
Satu demi persatu wanita yang ada mendekati Alex di sekolah ini aku mengancam mereka dengan pengalaman yang tak akan mereka lupakan sampai kapanpun.
Aku mengajak mereka kesalahan satu rumah yang kusewa khusus untuk ini, pertama aku mengajak mereka untuk datang ke tempat ku dan menyuguhkan teh yang tentu saja terdapat obat pelumpuh disana.
Lalu aku akan menyeret kepalanya menuju ruangan bawah tanah dan mengikatnya pada sebuah kursi listrik bertegangan tinggi.
Pertama aku akan menanyakan pada mereka tujuan mereka mendekati Alex.
Yeah kebanyakan dari mereka akan mengatakan "dia tampan, aku mencintainya, dia orang terpandang." Setiap kali mendengar hal itu aku langsung menyalakan kursi listrik yang setiap waktunya akan meningkat aliran listriknya.
Tak jarang aku melakukannya dengan berlebihan seperti menyiram mereka dengan air maupun pasir panas, dan juga meneteskan tetesan lilin pada tubuh mereka.
Aku memilih metode ini karena yang paling mudah untuk mereka, sebagai kemurahan hatiku aku hanya melukai mereka tanpa meninggalkan bekas serius pada tubuh mereka.
Sementara untuk para pria yang telah menyakitinya saat ia berada di toilet, aku membalas mereka dengan sepuluh kali lipat perbuatan mereka.
Aku menyukai salah satu alat yang kupesan pada salah satu museum yaitu The brazen bull, hm, aku suka mendengar triakan putus asa dari mereka yang keluar dari mulut alat itu.
Tak jarang aku tak sengaja malah membunuh mereka karena terlalu lama berada di dalam sana, aku juga sering menguliti punggung dari para pria pembuli itu.
Hah.. Aku suka triakan saat kulit mereka yang perlahan terlepas dari badan mereka dan setelah selesai melakukannya aku mengakhirinya dengan menyiram luka mereka dengan oli panas, HAHAHA!!!
Aku bahkan sudah tak tau apa itu arti perikemanusiaan, bahkan aku menyiksa hewan yang pernah disentuh oleh Alex.
Meskipun ia menghentikan ku saat itu setelah ia pulang aku langsung melemparkan hewan tersebut dengan tinggi.
Saat menstalker dia saat berjalan malam hari aku tak sengaja digoda oleh beberapa pria tak dikenal, aku mengajak mereka untuk datang kerumah sewaan ku dan menyuruh mereka menunggu di salah satu ruangan.
Setelah keluar ruangan tersebut aku menguncinya rapat-rapat kemudian mengaktifkan gas beracun di ruangan tersebut, triakan dan suara para pria yang terdesak gas tersebut semakin membuatku merasakan kesenangan tiada Tara.
*Bersambung*